|
Tidak
jarang kan kita lupa di mana menaruh benda kesayangan, tak ingat nama
seseorang meski wajahnya cukup familiar dan sebagainya. Boleh dibilang
lupa memang hal yang wajar dialami setiap individu. Mungkin karena terlalu
banyak masukan yang diterima hingga tak terekam semuanya dalam memori
ingatan yang bersangkutan. Kendati sering dikait-kaitkan, lupa tak identik
dengan pikun yang dikenal dengan istilah demensia karena parameternya
memang berbeda.
Pikun didefinisikan sebagai suatu keadaan
khas dimana kemampuan intelektual seseorang mengalami penurunan dari
kondisi sebelumnya yang normal. Seperti halnya kemampuan berbicara,
kemampuan memori untuk mengingat maupun kemampuan nalarnya menurun. Secara
mendasar pikun menggambarkan kemunduran secara progresif dalam hal
kekuatan mental yang disertai dengan perubahan perilaku.
PENANGANAN
DAN PENGOBATAN
Untuk memastikan seseorang terkena
demensia atau tidak, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:
*
Riwayat penyakit yang pernah diderita.
*
Pemeriksaan fisik dan sistem saraf.
*
Pemeriksaan penunjang jika diperlukan, seperti dengan EEG, CT scan otak
dan sebagainya.
*
Penanganan secara terpadu oleh beberapa ahli, termasuk bantuan psikolog
atau psikiater bila dianggap perlu.
Sekali lagi, penanganan demensia
tergantung pada penyebabnya, ada yang bisa ditangani dan ada juga yang
tidak. Contohnya adalah kasus Alzheimer yang meski sudah diterapi tetap
saja akan berakhir pada gangguan demensia berat. Sementara demensia akibat
faktor risiko sebetulnya dapat dicegah atau setidaknya diperlambat
kejadiannya. Pada perokok dengan berhenti merokok, misalnya. Jika mengidap
diabetes atau hipertensi amat dianjurkan untuk teratur mengatur kadar gula
darah maupun tekanan darahnya. Dengan kata lain, kendalikan faktor
risikonya.
KENALI
GEJALA DAN PENYEBAB
Secara umum, demensia memperlihatkan
ciri-ciri sebagai berikut:
*
Kehilangan daya ingat seperti lupa nama orang maupun kejadian.
*
Disorientasi mengenai waktu dan tempat seperti lupa taruh barang.
*
Kesulitan berkomunikasi seperti berbicara berputar-putar.
*
Kehilangan kemampuan praktis semisal saat menyetir mobil tak tahu arah.
*
Perubahan kepribadian dan perilaku semisal yang tadinya sudah bisa pakai
baju sendiri kini tidak bisa lagi.
Mengenai berat-ringannya keluhan demensia
tergantung pada jenis dan penyebabnya, apakah karena faktor genetik atau
faktor risiko.
*
Yang disebabkan oleh faktor genetik antara lain penyakit Alzheimer yang
tergolong sulit ditangani dan belum ada obatnya.
*
Sedangkan yang disebabkan oleh faktor risiko di antaranya:
- Demensia vascular karena adanya
gangguan pembuluh darah seperti stroke, radang pembuluh darah, dan
sebagainya.
- Demensia karena gangguan sistemik/metabolik
semisal akibat gangguan hormon/endokrin, kekurangan vitamin B 12,
kekurangan asam folat, konsumsi obat-obat penenang di luar kewenangan
dokter atau minum minuman beralkohol.
- Demensia karena adanya massa pada otak,
entah berupa tumor atau cedera pada kepala yang menyebabkan perdarahan.
- Demensia karena infeksi virus, jamur
dan bakteri.
KIAT
MEMPERLAMBAT DEMENSIA
Demensia umumnya ditemukan pada wanita
maupun pria yang telah berusia 60 tahun ke atas. Bisa dimaklumi karena
dengan bertambahnya usia, pembuluh darah pun akan semakin menyempit.
Kendati tidak menutup kemungkinan demensia terjadi di usia yang lebih muda,
yakni bila yang bersangkutan memiliki beberapa faktor risiko. Namun tak
perlu berkecil hati karena meski tidak dapat dicegah, demensia dapat
diperlambat dengan beberapa cara berikut:
*
Perbanyak aktivitas yang berhubungan dengan fungsi otak, di antaranya
membaca.
*
Senantiasa konsumsi makanan yang sehat dan bergizi.
*
Lakukan kontrol kesehatan mental dan fisik secara teratur.
*
Jalani pengobatan sedini mungkin bila ada penyakit.
Sedangkan untuk meningkatkan daya ingat,
tak perlu ragu memanfaatkan alat bantu untuk membuat pengaturan yang baik,
seperti dengan catatan, buku harian, kalender, daftar maupun latihan
mengingat nama-nama yang sering terlupakan.
Dedeh Kurniasih. ilustrator Pugoeh
Konsultan
Ahli:
dr.
Tuti Suwirno Zacharia, Sp.S dan
dr.
T. Bahdar Johan, Sp.PD dari RS Internasional Bintaro |