FirstFlag
AYO MANFAATKAN JASA DOKTER KELUARGA

Banyak keuntungan bisa diperoleh dengan memiliki dokter keluarga. Hanya saja belum banyak orang yang menggunakan jasanya.

Sering terjadi ketika seseorang berobat ke dokter dan merasa dirinya tidak sembuh

Sering terjadi ketika seseorang berobat ke dokter dan merasa dirinya tidak sembuh-sembuh, ia pun lantas berganti dokter. Status atau rekam medis yang merupakan catatan riwayat kesehatannya pun dibuat baru lagi.

Ada lagi kebiasaan lainnya, yaitu saat sakit batuk-pilek saja orang langsung berobat ke dokter spesialis THT, karena dianggap lebih ahli. Dipikirnya, kalau ke dokter umum dulu, toh nantinya akan dirujuk lagi ke spesialis. Begitu pun bila anak sakit, umumnya orang tua langsung membawanya ke dokter spesialis anak. Anggapannya karena dokter tersebut memang ahli dalam menangani masalah kesehatan anak. Umumnya, terutama di kota-kota besar, orang tua tidak percaya bila anaknya dapat ditangani dokter umum.

"Memang banyak hal seperti itu terjadi pada masyarakat kita yang sebetulnya salah kaprah. Mungkin kesalahkaprahan itu tidak terjadi bila setiap orang mempunyai dokter keluarga," ujar dr. Sugito Wonodirekso, MS, PHK, PKK, dari Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

DOKTER KELUARGA, DOKTER UMUM

"Dokter keluarga bukanlah sekadar dokter yang menangani sebuah keluarga, tapi lebih dari itu," kata Sugito. Letak kelebihannya diterangkan dalam definisi dokter keluarga, yaitu dokter yang berprofesi sebagai dokter praktek umum dan menjalankan tugasnya di tempat-tempat pelayanan primer dengan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga.

Jadi, dokter keluarga sebetulnya adalah dokter praktek umum. Di Inggris, dokter keluarga disebut general practitioner, sementara di Amerika dan Filipina disebut family physician dan di sebagian negara Eropa lainnya disebut family doctor.

Menurut Sugito, dokter keluarga sebenarnya bukanlah suatu sistem ataupun bentuk pelayanan baru. Di Amerika, praktek seperti itu sudah ada sejak tahun 50-an. Sementara di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 80-an. Di negara yang sudah maju, pelayanan kesehatan pertama kali harus diberikan oleh dokter praktek umum. Dialah pihak pertama yang harus dihubungi oleh si sakit, jadi bukan langsung dokter spesialis.

Sebetulnya, lanjut Sugito, dokter-dokter di Indonesia, baik dokter umum maupun spesialis sudah menjalankan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga. Hanya saja bentuk pelayanannya belum diformulasikan. Pun, berhubung dokter keluarga bukan merupakan hal baru, maka yang dilakukan adalah pembenahan di sana-sini agar lebih jelas lagi strata pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada masyarakat.

PUNYA REKAM MEDIS SENDIRI

Secara makro adanya dokter keluarga mengefisienkan penggunaan dana masyarakat di sektor kesehatan. Sekitar 85 persen masalah kesehatan pasien dapat diselesaikan pada pelayanan tingkat primer atau oleh dokter praktek umum. Hanya 15 persen saja yang memerlukan pelayanan spesialis. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan pasien pun dapat lebih ditekan.

Selain itu, bila seseorang pergi ke satu dokter, rekam medisnya bisa disimpan oleh klinik yang bersangkutan, semisal di puskesmas atau di klinik pribadi sang dokter. Kalaupun pasien perlu pelayanan sekunder atau rujukan ke dokter spesialis, maka rekam medis itu akan tetap dipakai untuk sesudahnya dikembalikan lagi pada dokter keluarga. Jadi perjalanan pengobatan penyakitnya tetap tercatat pada satu buku yang sama.

Bilapun pasien harus pindah tempat tinggal, misalnya ke luar kota, maka dokter keluarga wajib membekali dengan surat rujuk pindah rekam medis pasiennya ke dokter di tempat tujuan. Kelak bila si pasien berobat, dokter di tempat baru dapat lebih mudah menelusuri riwayat penyakit dan menangani keluhannya. Misalnya, dalam hal kemudahan pemberian obat, sehingga pengobatan dapat dilakukan dengan tepat.

Begitu pun bila dokter di tempat baru ingin menanyakan masalah kesehatan pasiennya, dia bisa mengontak dokter keluarga di tempat asal. Keuntungan lain, pasien pun bisa dengan mudah menghubungi dokternya bila ia ingin menanyakan sesuatu, seperti masalah obat. Bahkan jika pasien berada pada stadium terminal yang sudah tak mungkin dirawat di rumah sakit, maka dokter keluarga atau staf kliniknya bisa datang ke rumah si pasien bila perlu.

DIDIDIK SECARA KHUSUS

Bagaimana cara memilih dokter keluarga yang cocok? Menurut Sugito, sejauh ini memang belum ada rekomendasi atau kriteria tertentu. Hanya saja, perlu diketahui bahwa untuk menjadi seorang dokter keluarga diperlukan syarat yang cukup berat berupa pemenuhan kurikulum tertentu. Di Amerika, dokter keluarga merupakan bidang yang spesifik. Untuk itu seorang dokter harus menjalani studi tersendiri yang lamanya tak kurang dari 4 tahun. Sementara di Indonesia, dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang ditingkatkan mutunya dan menerapkan prinsip pelayanan dokter keluarga.

Dokter umum ini pada dasarnya dididik secara khusus untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat primer yang mencakup vaksinasi, penanganan masalah tumbuh kembang anak, dan pengobatan penyakit-penyakit ringan. Bahkan, untuk menjadi seorang dokter praktek umum paling tidak ia harus sudah menolong persalinan normal minimal 20 kali. Apalagi bila akan ditugaskan ke daerah, ia akan dibekali pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat darurat, misalnya menolong persalinan dengan tindakan bedah sesar. Namun tindakan ini hanya boleh dilakukan oleh dokter praktek umum yang sudah memperoleh pelatihan khusus untuk kedaruratan itu.

DEMI PERLINDUNGAN PASIEN

Dengan adanya dokter keluarga maka para dokter spesialis tidak perlu menagani hal-hal yang seharusnya dapat diselesaikan dokter umum. Jadi, misalnya, dokter kandungan tidak perlu lagi mengurusi pemasangan KB, atau dokter jantung tidak usah lagi terlibat dalam tindakan skrining. Dengan begitu dokter spesialis akan punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan ilmu dalam bidangnya. Nantinya, bidang-bidang yang ditangani spesialis ini akan sangat berkembang sehingga muncullah centre of excellent. Dari situ akan bermunculan dokter-dokter yang ahli di bidangnya. Keuntungannya, begitu era pasar bebas berlaku dan banyak dokter asing berpraktek di sini, dokter Indonesia pun bisa bersaing. Termasuk dokter keluarga yang sudah mempunyai akar kuat di masyarakat.

TIGA TAHAP PELAYANAN KESEHATAN

Sekarang ini, kata Sugito, pelayanan kesehatan di masyarakat dibagi dalam tiga tahap atau bila menurut istilah Depkes ada tiga strata yaitu I, II, III atau primer, sekunder, dan tersier.

Untuk pelayanan primer artinya, kontak pertama seorang pasien dengan dokter yang biasanya bertempat di klinik pribadi, klinik dokter bersama, puskesmas, klinik perusahaan, poliklinik rumah sakit, dan sebagainya. Pelayanan ini dilakukan oleh dokter praktek umum yang biasa disebutnya dokter umum.

"Jika masalah kesehatan pasien tak dapat ditangani, maka akan dirujuk ke pelayanan tingkat sekunder. Pasien akan dilayani oleh dokter spesialis. Sebagian besar praktek di rumah sakit, klinik spesialis atau klinik pribadi."

Bila pada tingkat sekunder tak dapat ditangani pula maka pasien dikirim ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Biasanya pasien akan dilayani oleh tim dokter spesialis khusus yang biasanya bertempat di rumah sakit pendidikan atau rumah sakit besar yang mempunyai berbagai pusat riset yang mapan.

PRINSIP-PRINSIP DOKTER KELUARGA

Dalam cara menjalankan praktek dokter keluarga, menurut Sugito ada prinsip-prinsip yang dijalankan antara lain;

1. Komprehensif: Dokter keluarga harus memperhatikan semua kebutuhan pasien dengan mengerahkan seluruh kepiawaiannya. Misal, awalnya pasien datang dengan keluhan sakit kepala. Nah, dokter tak langsung main tulis resep saja tapi juga bisa mengetahui latar belakangnya, mungkin karena suaminya menikah lagi, anaknya korban narkoba, karena mau menstruasi atau menopause, dan lainnya. Semua itu harus jadi pemikirannya.

Bila kejadiannya berulang dan tak sembuh maka patut dicurigai ada hal lain seperti misalnya tumor. Lalu dokter memberikan tawaran untuk dilakukan tindakan, misal rontgen atau CT Scan. Di sini dokter harus menjelaskan sampai pasien mengerti dan mau mematuhi saran dokter.

2. Ada kontinuitas: berkesinambungan dan pasien selalu dalam pantauannya.

Adakalanya orang berobat ke dokter dan tak sembuh lalu ganti dokter. Akibatnya bisa terjadi pengulangan pemeriksaan dan pengulangan pemberian obat. Ini merugikan pasien. Lain hal bila yang menanganinya satu dokter. Dokter bisa melakukan evaluasi dalam hal pemberian obat misalnya dan dapat melakukan pemeriksaan dengan lebih saksama.

3. Koordinasi dan kolaborasi: bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengatur seefisien mungkin keperluan pasien. Misal, pasien dengan diabetes. Ia perlu pelayanan sekunder seperti ke opthalmolog (spesialis mata) atau ke dokter bagian endokrin. Maka dokter keluarga yang mengatur koordinasinya seperti mana dulu yang lebih penting. Dengan demikian terjadi kerja sama profesional dengan berbagai pihak.

4. Mengutamakan pencegahan dalam segala hal, dengan tindakan promotif dan preventif. Misal, menganjurkan olahraga, diet seimbang, dan lainnya agar kesehatannya meningkat dan mencegah sakit.

5. Tetap memandang pasien sebagai bagian dari keluarganya. Sekalipun pasien datang sebagai individu, dalam meresepkan obat dokter harus mengukur kemampuan si pasien.

Dedeh Kurniasih. Foto: Iman/nakita

Topik Lepas edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari