Ainul Barkah, ibu dari Zahra Sabrina (9 bulan)
Zahra Sabrina, anak tercinta kami adalah anak periang, jarang menangis ataupun rewel, jarang sakit dan selalu murah senyum seperti ayahnya. Tapi, senyumnya mendadak lenyap setelah imunisasi campak. Badannya panas tinggi, lemas dan tidak bergairah. Sorot wajah dan matanya padam. Rengekannya selalu menghiasi malam-malam kami. Meski dokter sudah memberitahukan keadaan seperti itu sebelumnya, kami berdua tetap gelisah. Inilah kali pertama kami mengalami situasi tak mengenakkan sejak kelahirannya.
Suatu pagi badan Zahra panas tinggi, lemas dan amat rewel. Matanya sendu dan wajahnya tidak memancarkan sinar. Saya sendiri rasanya lelah, kecapaian karena kurang tidur. Saat itulah ayah Zahra masuk kamar sebelum pamit berangkat kerja. Dia menyodorkan tape kecil. "Bu, coba rekam saja tangis Zahra, sampai kasetnya habis bolak-balik. Rekaman ini kita akan jadikan kenang-kenangan nanti kalau sudah besar. Kita perdengarkan lagi biar dia malu," katanya.
Sebenarnya saya keberatan. Tapi, akhirnya saya ikuti saja. Setelah selesai rekaman saya coba untuk mendengarkan kembali. Saat itulah Zahra tersentak dan menghentikan tangisnya. Dia mencari sumber suara lalu diambilnya tape tadi. Saya kaget dan saya ulangi lagi untuk memastikan ada hubungannya antara rekaman tadi dengan berhenti menangisnya. Melihat gelagat bagus ini saya coba rekam beberapa lagu, ditambah nasehat yang menenangkannya. Lagi-lagi responsnya positif. Zahra menebarkan senyum.
Ternyata rekaman tersebut juga efektif untuk menghentikan kebiasaan Zahra mengisap jempol. Di kemudian hari setiap kali rekaman lagu atau cerita ayahnya disetel, Zahra langsung melepaskan isapannya. Kelihatan sekali Zahra mengenali dan merespons suara ayahnya. Sejak itulah ayahnya menyediakan tape khusus untuk merekam lagu, cerita dan lain-lain. Zahra pun jadi anak murah senyum lagi terutama tiap kali mendengar rekaman. Semoga pengalaman kami jadi alternatif "mengatasi anak rewel" bagi ayah-ibu lain.