FirstFlag
TIDAK BERANI LAGI BOHONG SAMA ANAK

Lovitasari, ibu dari Vicha (4 tahun)

Sejak Vicha berusia 2 tahun, saya sudah mengajarkan banyak hal pada Vicha, seperti cara merwarnai, berhitung, bahasa Inggris dan bernyanyi. Dan yang paling penting saya tanamkan setiap hari padanya mengenai etika dan kedisiplinan, seperti mengajarinya untuk tidak nakal, menghormati orang yang lebih tua dan tidak berbohong. Hasilnya Alhamdulillah sekarang Vicha menjadi anak yang mudah diatur dan sudah banyak hafal perbendaharaan kata dalam bahasa Inggris, bisa berhitung meski masih terbatas dan juga pandai bernyanyi. Kalau melihat perkembangan Vicha sekarang, saya jadi tidak menyesal karena dahulu berhenti bekerja. Saya memang berprinsip, anak harus dekat dengan ibunya.

Pada suatu hari saya mendapat undangan dari teman kuliah dulu untuk menghadiri suatu acara seminar. Karena acaranya formal, saya berniat tidak membawa Vicha, meskipun biasanya, kemana pun saya pergi, saya selalu membawanya. Tiba saatnya waktu undangan tersebut, saya mempersiapkan diri dan karena takut Vicha ikut, saya terpaksa membohongi Vicha, saya akan pergi ke dokter karena sakit. Vicha sangat takut kalau sudah mendengar kata dokter karena takut disuntik. Sementara saya berdandan, Vicha terus memperhatikan saya dan bertanya, "emangnya Mama sakit?" "Iya... nanti kalau Vicha ikut disuntik sama dokter," jawab saya.

Setelah saya selesai berdandan, saya langsung pamit pada Vicha dan berjanji tidak akan lama. Tapi Vicha tidak menyahut dan malah berkata, "Mama bohong sama Vicha, ya.... Awas, lo, nanti Tuhan marah sama Mama!" Saya sebetulnya kaget mendengar ucapannya, tapi saya malah membalas, "Memangnya, Mama berbohong gitu?" Dengan lantang, Vicha menjawab, "Iya... kan, kalau Mama ke dokter, Mama suka pakai mantel. Kok sekarang Mama enggak pakai mantel sih?" Mendengar hal tersebut saya luar biasa kagetnya karena tidak menyangka kalau selama ini Vicha sangat memperhatikan dan tahu kebiasaan-kebiasaan saya. Sesaat saya termenung dan langsung bilang, "Oh iya... Mama lupa, terima kasih sayang, sudah mengingatkan Mama. Vicha pintar, deh!"

Dengan perasaan malu, pada Vicha dan diri sendiri, saya cepat-cepat mengambil mantel dan langsung pergi. Selama di perjalanan saya masih teringat dengan ucapan Vicha tadi dan rasanya saya jadi malu pada diri sendiri. Tapi di balik semua perasaan itu saya sangat bangga pada Vicha karena apa yang saya ajarkan selama ini untuk tidak berbohong selalu diingatnya. Saya jadi sadar, bahwa anak tidak boleh dibohongi, tapi sebaliknya harus diberi pelajaran dan pengertian. Kejadian tersebut buat saya merupakan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga.

MATA BERSIH KARENA KUNYIT DAN KAPUR SIRIH

Atananti, ibu dari Nabila Afifah ( 7 bulan)

Menjadi seorang ibu membuat aku bahagia sekaligus bersyukur atas karunia Ilahi yang telah memberikan aku seorang putri yang sehat dan cantik. Selama 5 hari di rumah sakit, aku tak begitu memperhatikan Ofi, nama kecil anakku, karena kondisiku sendiri yang kurang sehat akibat letak bayiku sungsang sehingga persalinan yang kualami harus melalui bedah sesar.

Minggu-minggu pertama berada di rumah, aku melihat ada yang tak beres di kedua mata anakku. Matanya selalu basah dan bertahi mata banyak sekali. Padahal aku sudah memakaikan pilis di dahi dan parem di seluruh tubuhnya. Itulah salah satu tradisi Jawa yang selalu dianjurkan oleh orang tuaku sehabis persalinan. Terus terang aku langsung cemas dan tanpa buang waktu kutanya pada ibuku. Dengan tenang ibu menjawab, "tidak apa-apa, kita beri saja kunyit dan tahi burung (sebutan untuk kapur sirih yang digunakan sebagai obat)." Sore itu ibu langsung memberikan pilis di kening cucunya dan kuperhatikan betul bagaimana caranya. Kulihat ibu mengambil kunyit tua, lalu ujung kunyit itu ditusuk-tusuknya dengan lidi/garpu kecil yang dicampur dengan sedikit kapur sirih supaya tidak terlalu panas. Lalu dengan membaca Bismillah, ibu memakaikannya di kening Ofi, dari kanan ke kiri, seperti memakai pilis.

Setelah itu, setiap sore menjelang magrib, aku menirukan cara ibu memberikan kunyit dan kapur sirih pada Ofi. Aku tak tahu apa pengaruh ramuan tradisional itu pada Ofi. Tapi yang pasti, perlahan-lahan basah dan tahi mata di Ofi-ku hilang.

Hal ini aku lakukan rutin selama 40 hari usia Ofi. Alhamdulillah, hingga kini mata kecil Ofi selalu bersih dan bening. Kadang aku berpikir, ternyata masih ada juga kegunaan dari ramuan kuno ini. Mudah-mudahan pengalamanku ini bisa berguna buat ibu-ibu yang lain bila menghadapi kasus serupa Ofi.

Surat Ayah Ibu edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari