FirstFlag
DIVA SERING SAYA "TANTANG"

Okky Asokawati, ibu dari Tania Diva Siti Murbarani (4 tahun).

Banyak orang bilang, latar belakang pendidikan seseorang berpengaruh pada cara mengasuh dan mendidik anak. Kebetulan latar belakang pendidikan saya psikologi, yang selalu mempelajari tentang kejiwaan. Anak-anak, orang dewasa dan orang tua, merupakan "objek" yang dipelajari. Psikologi tentang anak pun, pernah saya pelajari juga. Bekal-bekal inilah yang saya gunakan untuk mengasuh Diva. Bahkan sejak dia dalam kandungan. Sampai sekarang, setiap kali hendak mengajarkan sesuatu, pasti acuannya tidak jauh dari apa yang pernah saya pelajari di bangku kuliah.

Sebagai contoh, dari buku-buku yang saya baca mengenai tipe kepribadian, saya jadi tahu bahwa tipe kepribadian Diva, Kolelis, yaitu orang yang selalu mematok target untuk sesuatu yang dia maui. Dia juga mudah tertantang. Misalnya, kalau ditanya orang diam saja, saya tidak pernah menyuruh atau memaksanya bicara. Saya tantang dia dengan berkata, "Wah, nanti orang itu akan cerita ke teman-temannya bahwa Diva tidak bisa omong." Nah, langsung Diva akan bicara karena dia tak mau orang mengenalnya sebagai Diva yang tidak bisa bicara.

Buat saya, anak dengan tipe seperti Diva lebih menyenangkan karena untuk tumbuh kembangnya lebih mudah. Menurut saya, sangat penting setiap ibu mengetahui kepribadian anaknya sehingga anak bisa berprestasi secara maksimal. Daripada kita hanya memaksa kehendak kita sebagai orangtua.

Pada usia 2 tahun, Diva juga saya "tantang" untuk belajar bahasa Inggris. Saya katakan kepadanya, orang yang bisa bahasa Inggris pasti banyak teman karena ia bisa mengobrol dengan orang dari seluruh dunia. Diva antusias sekali. Apalagi di pre-school-nya sekarang, banyak orang asingnya. Diva sudah terbiasa menggunakan kata- kata dalam bahasa Inggris.

Baru-baru ini Diva juga ingin dibelikan jam. Saya tidak mau membelikannya langsung. Saya ingin mendidiknya bahwa kalau ingin reward sesuatu, harus ada usaha atau jerih payah yang harus dijalaninya dulu. Waktu kuliah psikologi anak, saya sempat diberikan pelajaran metode Bintang untuk merangsang anak mencapai goal yang diinginkannya. Saya katakan padanya, "Oke, Mama akan belikan jam untuk Mbak Diva tapi ada Bintang yang harus dicapai. Kalau tiap bangun tidur Mbak Diva langsung gosok gigi dan minum susu, Mama kasih Bintang warna kuning. Kalau tidak, dapat bintang merah."

Selama dua minggu program itu kami jalani. Ternyata, pada akhir minggu kedua, Diva lebih banyak mengumpulkan bintang kuning. Nah, usahanya itu membuahkan hadiah jam tangan buatnya.

Kini saya sedang terlibat proyek Leadership Training dengan beberapa rekan dan lembaga asing. Jadinya asyik dengan buku-buku mengenai kepemimpinan. Pelan-pelan, saya masukkan konsep tentang kepemimpinan pada Diva. Juga gaya yang pantas ia tiru. Mas Firman, suami saya, tidak keberatan dengan "eksperimen" psikologi saya. Dia itu seperti pupuk, sifatnya selalu menyiram dan tak pernah mengekang sehingga kami tak pernah ragu berekspresi.

Kalau soal mengasah cita rasa dan berkesenian, Mas Firmanlah tumpuan Diva. Dalam hal pengasuhan, walaupun Mas Firman lebih banyak punya waktu untuk Diva, tapi tak ada istilah dominasi. Diva tahu persis, ke arah mana dia akan pergi kalau ingin bertanya sesuatu atau punya problem.

Saya tak tahu apakah cara yang saya terapkan ke Diva, bisa berguna buat ibu-ibu lain. Karena kepribadian setiap anak berbeda dan tidak setiap anak suka ditantang. Tapi saya dan Diva amat menikmati permainan "tantangan" ini.

DUDUK KHUSUK BEGITU SUARA ADZAN

Sutanto, ayah dari Adani Julian Perdana (10 bulan)

Putra pertama kami, Ian, sejak usia 3 bulan sudah mempunyai kebiasaan mendengarkan dengan hikmad bila terdengar suara adzan di radio atau televisi. Yang lucu, walaupun sedang menangis kencang, ia akan langsung diam bergitu mendengar adzan berkumandang. Padahal, sebelumnya kami sudah berusaha dengan berbagai cara untuk meredakan tangisnya.

Sekarang Ian sudah berumur 10 bulan. Sudah pandai tertawa dan ngoceh sendiri. Nah, yang paling nggak tahan, kami harus selalu menuntun ke mana saja Ian mengajak jalan. Maklum, ia belum bisa berjalan sendiri. Pokoknya, selagi belum tidur, jangan harap Ian mau menghentikan acara ngoceh dan jalan-jalannya. Kami gemas sekaligus capek alias kewalahan mengikuti kemauannya. Kalau tak dituruti, ia akan "menjerit" keras.

Lucunya, begitu menjelang magrib, Ian akan langsung duduk manis di depan layar televisi. Ya, apalagi kalau bukan menunggu adzan magrib. Setelah adzan berlalu, Ian kembali melanjutkan aktivitasnya yang tadi terhenti sejenak.

Suasana seperti ini selalu kami alami setiap hari. Walaupun "lelah" mengurus Ian, kami semakin kagum akan ciptaan-Nya. Ianku, makhluk yang mungil dan begitu polos, sudah dapat mengagumi suara-suara indah, yang memanggil kami untuk melepaskan sejenak segala aktivitas dan cepat-cepat bersujud kepada-Nya.

Saya memang selalu memperdengarkan Ian suara-suara ayat-ayat suci Al-Quran sejak ia berada di perut ibunya. Insya Allah, sampai nanti, Ian betul-betul mengerti makna dan arti dari ayat-ayat suci ini.

Surat Ayah Ibu edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari