FirstFlag
HAMIL KEMBALI SETELAH KEGUGURAN

Sering, kan, kita menjadi ragu untuk hamil kembali setelah mengalami keguguran. Padahal, jika penyebab keguguran sudah teratasi, bisa, kok, segera hamil.

Pada kehamilan terdahulu, karena terdapat kecacatan janin yang tidak memungkinkan hidup bila dilahirkan, maka janin Ny. Dina pun digugurkan. Kini, setahun telah berlalu, tapi ia tak kunjung hamil. Yang juga menggelisahkannya, ia belum mengalami menstruasi setelah tindakan kuret saat pengguguran kandungan tersebut. Prihatin dengan keadaannya, ia pun memutuskan berkonsultasi dengan dokter kandungan.

Tindakan abortus memang bisa menjadi penyulit kehamilan berikutnya bila terjadi infeksi atau komplikasi. Sebenarnya, terang dr. Judi J. Endjun, SpOG dari RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, asalkan abortus dilakukan atas indikasi medis dan oleh ahlinya, tanpa ada infeksi atau komplikasi, maka kehamilan berikutnya bisa berlangsung segera. Nah, apa yang harus dilakukan Ny. Dina atau ibu-ibu lain yang mengalami hal sama? Mari kita ikuti pemaparan dokter konsultan rubrik Tanya Jawab Kebidanan & Kandungan tabloid nakita, ini.

ABORTUS DENGAN ALASAN MEDIS

Penting diketahui, Bu-Pak, yang dimaksud abortus jika kehamilan terjadi di bawah usia 22 minggu dengan berat tak lebih dari 500 gr. Nah, bila lebih dari itu disebut kelahiran dini.

Abortus bisa terjadi oleh dua hal: spontan/sebab-sebab alamiah dan kesengajaan (provokatus). Provokatus bisa saja terjadi karena alasan medis (abortus medisinalis) atau bisa juga terjadi bukan dengan indikasi medis (abortus kriminalis). "Kalau bukan karena alasan medis, maka tindakan aborsi dilarang UU Kesehatan."

Abortus dengan alasan medis bila kehamilan membahayakan nyawa ibu dan atau janinnya mengalami cacat berat yang tak mungkin hidup. Dari faktor ibu, semisal ibu mengidap jantung berat atau gagal ginjal. Dari faktor bayi, misalnya, diketahui tak akan mungkin bisa hidup kalau dilahirkan (janin cacat tak punya kepala) sehingga kehamilan pun terpaksa harus diakhiri. "Saat mengakhiri kehamilan pada kasus yang sulit ini tak bisa diputuskan sendiri oleh dokter kandungannya, lo. Tapi sebaiknya atas persetujuan 2-3 dokter kandungan plus psikiater atau psikolog."

Sementara yang termasuk abortus spontan: abortus kompletus/keguguran lengkap, abortus inkompletus/keguguran bersisa, abortus insipiens/keguguran sedang berlangsung, abortus iminens/keguguran membakat, missed abortion/janin mati dalam rahim, abortus habitualis/keguguran berulang, serta abortus infeksiosus dan abortus septik.

DAMPAK KURATASE

Nah, Bu-Pak, baik pada abortus yang dilakukan dengan alasan medis ataupun terjadi spontan, dokter biasanya melakukan suatu tindakan kuretase (kuret) untuk mengeluarkan hasil konsepsi (pembuahan). "Terkecuali abortus spontan yang lengkap atau pada abortus membakat yang tak memerlukan tindakan tersebut."

Tindakan kuret, sangat berisiko menjadi penyulit kehamilan selanjutnya. Terutama bila terjadi infeksi atau komplikasi. Bila kuret yang dilakukan dalam proses abortus tidak dilakukan ahlinya, maka risiko bagi kehamilan selanjutnya semakin besar. Dampak yang kerap terjadi adalah perdarahan, infeksi kandungan, perlengketan rahim, atau alergi obat bius.

Perdarahan timbul akibat kerokan alat kuret pada rahim yang terlalu dalam. "Kuret yang terlalu dalam mengakibatkan selaput lendir rahim atau lapisan endometriumnya menjadi gundul. Akibatnya, rongga rahim bisa menempel atau terjadi perlengketan. Kalau sudah begitu, sperma pun tak bisa bertemu sel telur sehingga susah untuk hamil." Bukan itu saja, haid pun jadi tak keluar.

Dengan demikian, harus dilakukan kuret ulang untuk membuka rahim yang lengket. Selanjutnya dipasang spiral selama 3 bulan agar tak lengket lagi.

Selain itu, akibat lapisan endometrium yang gundul tadi, pertumbuhan plasenta saat kehamilan selanjutnya bisa jadi abnormal. "Plasenta bisa masuk ke dalam otot, sehingga jadi plasenta akreta. Kalau sudah terjadi demikian, maka saat persalinan, plasenta tidak bisa lepas, sehingga mau tak mau rahim harus juga diangkat dan dibuang."

Tindakan kuret yang terlalu keras dan kasar juga bisa mengkoyakkan leher rahim atau malah menjebol dinding rahim, lo. Ingat, semakin tua usia kehamilan, dinding rahim semakin tipis sehingga alat kuret bisa saja menjebol dinding rahim yang sudah tipis. "Karena itu, dokter biasanya melakukan tindakan kuret dengan alat isap, sehingga tak perlu mengkerok satu-satu yang kerap bikin trauma."

Persoalan berikutnya, saat tindakan kuret berlangsung, otomatis rahim dalam keadaan membuka. Saat itulah, kuman dari vagina bisa masuk ke dalam, sehingga menyebabkan infeksi kandungan. "Bila kita terkena infeksi, maka gejala yang tampak adalah: demam, nadi cepat, perdarahan berbau busuk, mual dan muntah."

LAKUKAN PEMERIKSAAN

Mengingat dampak alat kuret pada tindakan abortus cukup serius, disarankan setelah kuret sebaiknya lakukan pemeriksaan ulang. "Jadi, jangan langsung melakukan program hamil. Program hamil sebaiknya dilakukan 3 bulan kemudian setelah hasil pemeriksaan diperoleh."

Pemeriksaan ulang bertujuan mengetahui penyebab keguguran. "Orang selalu bilang, terjadinya abortus karena kandungannya lemah. Pendapat ini tidak benar 100 persen, sebab kalau kandungannya lemah tak mungkin bisa hamil, dong. Jadi, pasti ada faktor lainnya."

Umumnya, kalau keguguran terjadi pada anak pertama, bisa karena kelainan genetik atau kromosom. Sementara kalau anak kedua yang gugur, bisa karena antikardiolipin; reaksi antibodi di badan yang disebut antipostpolipid syndrome (APS). "Aliran darah ibu menjadi kental, sehingga suplai oksigen untuk bayi tidak memadai. Akibatnya, bayi meninggal."

Penyakit kencing manis, kelainan gondok/tiroid, kelainan rahim (mioma), infeksi, kelainan mulut rahim (inkompetensi serviks; serviks lemah dan membuka sendiri) juga memungkinkan terjadi keguguran. "Bisa juga karena terdapat kelainan sperma suami, hingga janin mudah gugur."

Nah, penyebab-penyebab abortus harus disembuhkan dulu bila berniat melakukan program hamil lagi. "Misal, APS-nya diobati, penyakit gondoknya disembuhkan, atau kencing manisnya sudah terkontrol."

Umumnya 3 bulan setelah kuretase, dokter akan punya keputusan apakah ibu layak hamil lagi atau tidak. "Misal, kalau cacat kromosomnya berat, sehingga tetap akan menghasilkan bayi tak bisa hidup kalau dilahirkan, maka sebaiknya kehamilan dicegah saja." Kelainan-kelainan lain yang ada harus benar-benar diobati dulu, baru kemudian melakukan program hamil. Tentu saja lama tidaknya pengobatan tergantung kelainannya.

Kecuali itu, juga dilakukan pemeriksaan hormon; kurang lebih memakan waktu sebulan. Pemeriksaan ini dilakukan pada hari ke-8 dan ke-22 sejak menstruasi untuk melihat subur atau tidak. "Kalau semuanya baik, penyebab abortusnya sudah disembuhkan, maka bulan berikutnya pasangan tersebut bisa memulai program hamil."

MULAI PROGRAM HAMIL

Penatalaksanaan kehamilan disesuaikan keadaan pasangan tersebut. Ingat, lo, Bu-Pak, saham untuk bisa hamil dari masing-masing pasangan sebanyak 50 persen, kan. Artinya, pengobatan harus dilakukan pada kedua belah pihak.

Program hamil dilakukan dengan cara alamiah; melakukan sanggama di saat masa subur wanita. "Kalau siklus haidnya selalu 28 hari, maka masa suburnya 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Kalau siklusnya 30 hari, masa suburnya jatuh di hari ke-16." Ingat, lo, masa subur tersebut sangat singkat; kurang lebih 23 jam.

Kalau sudah dicoba selama 3 bulan, tapi tetap belum membuahkan hasil/hamil, upaya ditingkatkan ke tahap berikutnya; inseminasi buatan dengan sperma suami. Caranya, sperma suami disuntikkan ke dalam rahim. Cara ini akan dicoba hingga 3 kali. Jika inseminasi buatan tak berhasil, jalan terakhir dilakukan dengan program bayi tabung.

Nah, jika telah terjadi kehamilan, pemeriksaan kehamilan agak berbeda dengan kehamilan biasa. "Frekuensi pemeriksaan selama kehamilan harus lebih kerap. Terlebih lagi bila ada kelainan." Sebaiknya periksalah di rumah sakit yang lengkap dan ada dokter spesialisnya sehingga memudahkan mendeteksi kelainan jika ada.

Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma, maka juga banyak jalan agar jadi hamil. Tapi, kita hanya berusaha, ya, Bu-Pak, keberhasilannya Tuhan jua yang menentukan.

 

Indah Mulatsih

POLA HIDUP SEHAT

Yang jelas, Bu-Pak, tak kalah penting adalah masalah kesadaran suami istri. "Penyulitnya memang banyak sehingga keduanya harus sabar menjalani banyak pemeriksaan," jelas Judi. Misalnya, jika setelah beberapa bulan berlalu ternyata tak kunjung hamil sebaiknya lakukan pemeriksaan ulang. "Kalau hormonnya normal, tapi tes hamilnya tetap saja negatif, maka perlu dicari tahu ada apa dengan rahimnya. Mungkin rongga rahim harus diteropong dengan hiteroskopi."

Kemudian, keduanya juga harus melakukan pola hidup sehat selama menjalani program hamil. Misal, tidak merokok, tidak memakai penyemprot obat nyamuk, tidak memakai bahan-bahan pengawet atau pewarna pada makanan (seperti MSG/vetsin). "Makanlah makanan yang alami dengan menu seimbang. Tak perlu diet khusus, kok. Tapi, boleh- boleh saja ditambah dengan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin E untuk kesuburan."

Untuk suami, jagalah kualitas sperma, dengan cara: jangan mandi sauna dan menggunakan celana ketat. Karena suhu panas akan mempengaruhi pergerakan spermanya. Karena itu pula sebaiknya hindari lingkungan yang panas dan banyak zat kimia. Seperti di bengkel, pabrik yang banyak mengandung zat kimia atau radiasi yang dapat mengganggu pergerakan sperma.

Selain itu, hindari stres. Sebab, stres bisa membuat hormon terganggu. Olah raga boleh dilakukan ibu yang ingin hamil, asalkan jangan terlalu dipaksakan. "Selama ia menikmatinya dan aktivitas itu tidak terlalu menimbulkan pemakaian otot yang mendekati otot lelaki, tak jadi masalah. "

Indah

Menyambut Si Kecil edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari