|
Gigi
bayi biasanya muncul di usia 6 bulan. Namun begitu, masa pertumbuhan gigi
ini bervariasi. Yang pertama muncul adalah gigi seri bawah di bagian
tengah. Selanjutnya, gigi lainnya pun akan muncul secara berurutan pada
bagian atas, samping dan terakhir geraham. Seluruh gigi bayi muncul secara
lengkap di rentang usia 2,5-3 tahun.
Kalau antara gigi yang satu
dengan lainnya tampak berjarak alias jarang-jarang, ayah dan ibu tak perlu
cemas. Ini justru petanda baik tersedianya tempat yang cukup bagi gigi
penggantinya yang kelak tumbuh. Soalnya, ukuran gigi pengganti yang akan
muncul kala anak berusia 6 tahun biasanya lebih besar ketimbang gigi susu.
PENYEBAB
KERUSAKAN
Meski gigi susu bayi tampak
terlihat bersih dan putih, kebiasaan menggosoknya harus dilakukan sejak
dini. Jika tidak, berpotensi menyebabkan terjadinya kerusakan gigi susu.
Agar terhindar dari kerusakan, gigi haruslah memiliki daya tahan yang kuat.
Antara lain, gigi harus memiliki struktur email (lapisan pelindung gigi)
yang bagus. Hal ini baru bisa diwujudkan kalau gigi selalu bersih dan
terbebas dari plak (lapisan sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi).
Di usia bayi, kerusakan gigi
susu biasanya disebabkan:
*
Kebiasaan minum susu sambil tidur
Kebiasaan yang satu ini
umumnya dilakukan orangtua semata-mata untuk memudahkan bayi tidur. Juga,
boleh jadi karena didorong kekhawatiran kalau tak diberi susu malam nanti
si bayi kekurangan gizi. Padahal saat anak tidur malam, tanpa perlu diberi
susu pun, bayi tak akan kekurangan gizi asalkan selagi terjaga ia
mendapatkan kecukupan nutrisi. Kerusakan gigi akibat kebiasaan ini
diistilahkan sebagai nursing bottle caries, yaitu kerusakan gigi
karena minum susu.
Kebiasaan tidur dengan
keadaan masih mengisap dot membuat sisa-sisa susu tergenang dalam rongga
mulut. Nah, kandungan gula/laktosa dalam susu membuatnya mudah melekat
pada gigi sekaligus mempercepat terjadinya pembentukan plak. Di tahap
selanjutnya, gula akan difermentasi oleh enzim dari bakteri yang ada dalam
plak untuk diubah menjadi asam. Asam inilah yang akan melarutkan mineral
kalsium dari lapisan email gigi.
Makanya, meski permukaan
gigi masih tampak utuh dan sempurna, namun kualitasnya sudah berkurang.
Nantinya akan tampak warna putih buram pada tepi-tepi mahkota gigi dekat
gusi, daerah yang kontak dengan gigi lain, maupun di daerah dataran kunyah.
Ini merupakan tanda awal terjadinya demineralisasi alias menurunnya
mineral kalsium dari struktur email yang jika berlarut-larut akan menjadi
lubang (caries). Nah, mau tidak mau orangtua harus segera menghentikan
kebiasaan minum susu saat tidur.
*
Mengemut makanan
Biasa terjadi ketika bayi
mulai diberi makanan semi padat dan padat, seperti jus, bubur susu,
biskuit, tim, dan makanan padat. Mayoritas bahan makanan ini merupakan zat
karbohidrat yang selanjutnya mengalami proses pengolahan menjadi glukosa
atau polisakarida. Gugusan gula ini pun dengan mudah akan melekat pada
gigi. Anak yang terbiasa makan diemut tentu memerlukan waktu makan yang
lebih lama, bahkan sampai berjam-jam. Tentu saja jadi tidak ada kesempatan
bagi gigi dalam kondisi bersih.
Untuk membantu mengatasi
masalah ini orangtua perlu mengevaluasi kembali. Misalnya, memberi makan
di saat si kecil sudah lapar sekali, sehingga ia akan cepat menelan
makanannya dan waktu makannya bisa lebih singkat. Atau memperhatikan
menunya agar lebih bervariasi dan tidak membosankan.
*
Cedera karena jatuh
Pada usia bayi mulai
berjalan, sangat mungkin anak terjatuh dan mengalami cedera gigi. Apa pun
bentuk kerusakan giginya, kondisi ini harus segera dikonsultasikan pada
dokter gigi.
JADWAL PERIKSA
Pemeriksaan gigi pada dokter
gigi idealnya dijadwalkan 2 kali dalam setahun. Pemeriksaan awal sudah
dapat dimulai saat gigi susu pertama muncul. Pemeriksaan yang dilakukan
meliputi pengumpulan data riwayat medis anak sejak masa prenatal,
perinatal, dan pascanatal. Di ruang praktik dokter gigi anak, akan
dilakukan pemeriksaan rongga mulut si kecil. Tentu saja bayi masih harus
dipangku orangtuanya.
Aspek penting dari kunjungan
ini adalah membicarakan risiko anak mengalami kerusakan gigi. Dari hasil
pengamatan, dokter gigi akan menentukan waktu kunjungan berkala nantinya.
Pada anak yang berisiko tinggi mengalami kerusakan gigi, pola pertumbuhan
giginya tidak normal, atau keadaan hiegenis mulutnya buruk, biasanya
dianjurkan pemeriksaan ulang secara berkala setiap 3 bulan.
TIP
MEMBERSIHKAN MULUT DAN GIGI BAYI
*
Gigi susu belum tumbuh (usia 0-6 bulan)
Pada bayi baru lahir atau yang belum
tumbuh gigi susu, biasanya ditemui bercak warna putih pada jaringan lunak
(gusi) dan juga bagian lidahnya. Bercak putih ini umumnya merupakan
sisa-sisa susu. Untuk membersihkannya, gunakan potongan kasa steril yang
sudah dibasahi air matang. Caranya, balut/bungkus jari telunjuk ibu dengan
kasa tersebut lalu bersihkan rongga mulut bayi secara perlahan. Lakukan
saat bayi selesai menyusu atau makan dan menjelang tidur malam.
Selain sisa susu, bercak putih semacam
itu bisa juga karena jamur. Jika ya, bercak tersebut tidak bisa
dibersihkan dengan air, melainkan dengan obat seperti gentian violet.
* Gigi
tumbuh sebagian (usia 6-12 bulan)
Jika gigi susu bayi mulai tumbuh sebagian,
permukaannya dapat dibersihkan dengan menggunakan kasa steril seperti cara
di atas. Jika jumlah gigi susunya mulai bertambah banyak, maka saatnya
mulai menyikat gigi bayi. Caranya, gunakan sikat gigi jari. Bisa juga
dengan menggunakan sikat gigi bayi yang bentuknya kecil dengan bulu-bulu
lembut.
Saat yang tepat untuk membersihkan gigi
bayi adalah sebelum tidur dan setelah makan di pagi hari. Tak perlu
menggunakan pasta gigi karena yang terpenting adalah gerakan mekanis dari
menggosok gigi ini. Lakukan gerakan penyikatan secara hati-hati, jangan
sampai mengenai bagian gusi yang belum tumbuh gigi. Kalau sampai terkena,
dikhawatirkan bisa membuat gusi terluka.
Arah menggosok gigi sebetulnya tak perlu
kelewat dipermasalahkan, asal mengenai seluruh bagian permukaan giginya,
dari permukaan depan, belakang, dataran kunyah, batas gigi gusi maupun
batas gigi yang berhadapan.
HAL LAIN YANG MESTI
DIPERHATIKAN
* Lakukan
pembersihan 2 kali sehari, yakni setelah makan pagi dan sebelum tidur
malam. Saat tidur malam tidak ada lagi aliran ludah yang berfungsi sebagai
self cleansing (pembersih alami), sehingga dalam keadaan tidur
aktivitas bakteri dalam mulut menjadi tinggi. Itulah mengapa gigi harus
betul-betul dalam kondisi bersih sebelum tidur. Ketika bangun pagi, gigi
masih relatif bersih, sehingga membersihkan gigi bisa dilakukan sehabis
makan pagi. Di siang hari, pembersih alami dari makanan seperti sayur dan
buah, aliran ludah, dan juga air minum akan membantu daya tahan gigi. Jadi,
tak masalah bila sepanjang siang tak sikat gigi sehabis makan.
*
Lakukan pembersihan gigi dalam suasana riang atau bermain. Posisikan bayi
dalam gendongan kita atau dibaringkan menghadap kita.
* Diatas
usia setahun barulah orangtua bisa mengajarinya dengan memberikan contoh
langsung. Tentunya tetap dalam suasana bermain yang menyenangkan.
Dedeh
Kurniasih. Foto: Iman & Dok. nakita
Konsultan
Ahli:
Prof.
Dr. drg. Retno Hayati,
Staf
Pengajar FKG UI dan dokter gigi anak di RS Pondok Indah, Jakarta |