|
1.
REWEL KALA SAKIT
Wajar jika anak rewel kala sakit. Diberi
ini salah, diberi itu salah. Kondisi tak nyaman membuat anak uring-uringan.
Tak heran, semua itu bisa mengubah perilaku anak. Si kecil yang tadinya
aktif dan ceria, mendadak murung dan cengeng. Anak pun jadi lebih manja.
Cara Mengatasi:
-
Bersabarlah menghadapinya. Anak sakit lebih membutuhkan
banyak perhatian ketimbang anak sehat. Jadi, dampingi selalu si kecil.
Jalinlah komunikasi yang hangat dan menghibur. Tanyakan, apa yang dia
rasakan. Sedapat mungkin berikan beberapa pertolongan kecil, seperti
mengusap-usap perut atau mengipasi. Jika perlu, dekaplah dia dengan penuh
kasih. Ciptakan suasana aman, hingga anak merasa nyaman dan tidak bosan.
- Sikap sabar
juga perlu dikedepankan saat memberi makan dan obat. Jika anak menolak makan,
tak perlu dipaksa, melainkan disuapi sedikit demi sedikit. Buatlah menu
makanan yang lembut dan mudah dikunyah. Hal yang sama berlaku buat obat.
Katakan, obat harus diminum agar anak bisa sehat dan bisa bermain kembali.
- Buat juga
suasana menyenangkan. Hindari menunjukkan kesedihan di depan anak. Lakukan
kegiatan bermain yang disukainya. Membacakan dongeng favorit bisa menjadi
pilihan. Sediakan juga mainan yang bisa dilakukan di tempat tidur seperti
boneka tangan, mewarnai, melipat kertas, nonton teve atau film
kesayangan, dan sebagainya. Namun, waktu bermain tetap harus dibatasi,
karena anak membutuhkan istirahat agar cepat sembuh.
2.
REWEL DI TEMPAT BARU/ASING
Meskipun dinilai wajar, perilaku ini sering
membuat kesal orangtua. Anak rewel
karena merasa tak nyaman dengan kondisi baru. Tak jarang, kondisi itu
dirasakan anak sebagai sesuatu yang mengancam. Terlebih jika anak belum
mengenal kondisi tempat baru itu sebelumnya, juga fasilitas yang ada. Saat
anak diajak ke tempat praktik dokter, misal, dia tentu bingung dengan
ruangan serba putih, dan terdapat berbagai peralatan "aneh" macam jarum
suntik, stetoskop, mesin USG, dan sebagainya.
Cara Mengatasi:
Sebelum mengajak si kecil pergi, orangtua
perlu membekali anak mengenai tempat apa yang akan dituju, kondisi apa
sajakah yang akan ditemui anak, apa pula benda-benda yang terdapat di sana.
Sering-seringlah bepergian ke tempat baru bersama si batita. Semakin banyak
tempat yang dikunjungi, semakin kaya dan luas pengalaman anak.
3.
REWEL KALA BERTAMU
Sering kan menghadapi batita yang
merengek-rengek minta pulang kala diajak bertamu, "Pulang... Ma... pulang...."
Kerewelan ini disebabkan si batita menganggap, rumahku adalah surgaku. Tiada
tempat yang paling indah dan nyaman selain rumah. Apalagi jika lingkungan
rumah benar-benar menyenangkan; luas, sejuk, dan banyak mainan. Selain itu,
banyaknya sosok asing di rumah orang lain membuat anak enggan berlama-lama.
Belum lagi rumah itu kurang menyenangkan seperti sempit, gerah, dan sumpek.
Cara Mengatasi:
-
Buatlah anak merasa nyaman. Sebelum pergi, bekali si kecil
dengan banyak mainan. Jika di rumah yang dikunjungi ada anak kecil, ajak
bermain bersama si kecil. Perhatikan juga kondisi tubuh anak. Jika terlihat
lelah, biarkan dia beristirahat sejenak.
Setelah cukup, orangtua bisa mengeksplorasi
lingkungan rumah yang dikunjungi. Siapa tahu banyak hal menarik yang bisa
ditemukan seperti ada kolam ikan, taman, dan sebagainya.
- Ajari anak
bersosialisasi dengan mengunjungi rumah tetangga, saudara, atau teman,
sehingga dia terbiasa mengunjungi rumah orang lain.
4.
REWEL SAAT ADA IBU
Kerewelan justru terjadi saat ibu ada di
rumah. Biasanya disebabkan anak meminta perhatian lebih. Maklum, ibu yang
bekerja umumnya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Keberadaan ibu
membuat si batita menuntut macam-macam. Apalagi, ibu bekerja biasanya
menerapkan aturan lebih longgar dan minim memberikan punishment, juga
selalu memanjakan anak. Nah, bagi anak, ini merupakan aji mumpung untuk
melanggar aturan atau memaksakan kehendak.
Cara Mengatasi:
-
Bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan adalah
solusinya. Jika ibu menerapkan aturan tidak boleh menonton teve hingga larut
malam, maka semua yang ada di rumah harus menerapkan aturan itu. Ini untuk
mengajari si batita, mana yang benar dan mana pula yang salah. Sikap tega
dan tegas harus dikedepankan. Jika ibu dan pengasuh atau anggota keluarga
lain di rumah berbeda pola asuh, anak cenderung memilih aturan yang dirasa
paling enak. Namun jika ibu dan semua anggota keluarga konsisten, maka si
batita tidak akan berulah di setiap akhir pekan, atau kala ibu ada di rumah.
Disiplin dan rutinitas batita akan terbentuk dengan baik. Berikan sanksi
mendidik jika perlu. Selain itu, jangan sungkan memberikan penghargaan jika
anak bisa melakukan rutinitas dengan baik. Penghargaan tidak melulu
berbentuk hadiah, tapi juga berbagai bentuk lainnya seperti pelukan, ciuman,
atau pujian. Dengan demikian, batita akan selalu mengulangi perilaku positif,
sekaligus menjauhi sikap negatifnya.
5.
REWEL SAAT ARISAN
Dalam kondisi tertentu, orangtua kadang
terpaksa mengajak batitanya ikut serta arisan. Namun si batita tak bisa
duduk manis selama acara berlangsung. Bahkan, tak sedikit anak berbicara
sambil berteriak-teriak atau berlarian ke sana kemari. Banyak orangtua yang
kesal dan langsung memarahi si batita. Padahal, tindakan memarahi malah
dapat memberikan dampak yang tak baik
bagi si batita. Selain membuatnya jadi rewel, bukan tak mungkin anak
menganggap acara arisan tidaklah menyenangkan. Ia pun kapok jika suatu saat
orangtua mengajaknya serta.
Cara Mengatasi:
-
Sebetulnya, wajar saja bila si batita tak dapat duduk manis
berlama-lama. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motoriknya.
Makanya, dia tak bisa diam. Lagian, anak juga bukan orang dewasa mini yang
bisa duduk lama dengan tenang. Acara arisan juga tidak menarik di mata anak.
Yang dapat dilakukan adalah menyalurkan energi anak di luar ruangan. Ajak
anak bermain di luar ditemani pengasuhnya. Lakukan beberapa permainan yang
menyenangkan. Jika kebetulan orangtua lain membawa serta anak, biarkan si
kecil berbaur bersama mereka dengan didampingi pengasuhnya.
6.
REWEL KALA DITINGGAL ORANGTUA
Sulit kan jika anak tidak mau ditinggal
pergi? Walhasil, banyak aktivitas orangtua yang batal gara-gara anak. Di
usia ini, anak sedang mengembangkan sikap kelekatan. Jika anak menganggap
orangtua adalah sosok paling dekat, maka sulit baginya untuk berpisah,
maunya menempel melulu. Anak merasa tidak aman jika diasuh oleh sosok lain.
Cara Mengatasi:
- Berikan
penjelasan. Jika ibu harus meninggalkan anak pergi berbelanja, katakan,
"Mama mau pergi ke pasar. Tidak lama, kok, nanti Mama pulang dan bisa main
lagi sama Adek." Cara itu akan membuat anak mengerti, orangtua pergi hanya
untuk sementara waktu.
- Hindarkan
pergi secara sembunyi-sembunyi, bahkan berbohong. Itu bisa membuat anak
semakin rewel, bahkan muncul ketidakpercayaan dalam dirinya.
- Agar anak
tak terlalu merasa kehilangan, biarkan dia terlibat dalam sebuah kegiatan
yang mengasyikkan seperti corat-coret. Biasanya, anak akan larut dalam
aktivitasnya dan tidak terlalu memedulikan kepergian orangtua.
7.
REWEL SETIAP KALI DIAJAK PERGI
Banyak orangtua yang pusing sekaligus kesal
saat mengajak anaknya pergi. Itu semua terjadi karena si batita masih sulit
mengendalikan emosinya. Selain orangtua juga mesti mengetahui penyebab
kerewelan anak, semisal mood-nya sedang buruk. Atau, siapa tahu
orangtua terlalu heboh saat mengajak anak bepergian, umpama, memburu-burunya
mandi dan berpakaian. Ketergesaan itu menyebabkan
anak tidak nyaman, lalu mengekspresikannya
dengan sikap rewel. Sebab lain, mencari perhatian orangtua.
Cara Mengatasi:
Atasi berdasarkan penyebabnya. Bila
dikarenakan suasana hatinya kurang baik, bangkitkanlah mood-nya.
Jelaskan, perjalanan dan tempat tujuan sangat menyenangkan. Beritahukan
hal-hal menarik apa saja yang bisa ditemui anak di tempat tujuan, seperti
melihat sawah milik kakek, kerbau, dan sebagainya. Demikian juga kala di
perjalanan. Jelaskan beberapa hal menarik yang bisa ditemui, misal, dengan
menggunakan mobil sendiri, anak bisa melihat pemandangan. Jangan lupa, bawa
serta mainan untuk di perjalanan. Atau, selama perjalanan orangtua bisa
membuat aneka permainan menarik. Kalau memungkinkan, hindari mempersiapkan
kepergian dengan terburu-buru, agar anak menganggap bepergian adalah hal
yang menyenangkan.
8.
REWEL SETIAP PAGI
Ada beberapa batita yang bersemangat setiap
bangun pagi, di sisi lain banyak juga batita yang justru rewel. Menangis
dengan berteriak, bahkan beberapa bersikap manja. Ini bisa disebabkan
bermacam-macam hal. Boleh jadi sehari sebelumnya si batita mendapat
pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga pengalaman itu masih membekas
saat terbangun. Jangan-jangan anak juga mendapat mimpi buruk. Atau, si kecil
terlalu lelah atau sedang sakit, hingga dia mengekspresikan perasaan tidak
nyamannya dengan sikap rewel. Rewel adalah tanda anak lelah, mengantuk,
sakit, kecewa, sedih, dan lain-lain.
Cara Mengatasi:
-
Bangkitkan semangat anak di pagi hari. Peluklah erat-erat, lakukan dialog
singkat dan hangat di pagi hari. Ajak juga anak untuk main sebentar di pagi
hari. Memutar musik kesukaan atau film favorit bisa dipilih. Jadi, saat
bangun jangan langsung disuruh mandi dan berganti pakaian. Dengan begitu,
anak bisa melupakan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
- Orangtua
jangan menyikapi kerewelan anak dengan sikap marah karena tak akan mampu
meredam kerewelan, malah kerewelannya semakin menjadi. Bersikaplah tenang
dan santai.
- Bila ibu
sudah tak kuat menghadapi kerewelan anak, minta ayah atau orang lain
menangani si kecil. Menangani sikap anak dengan emosi justru membuat anak
semakin tertekan. Bukan tak mungkin jika sikap rewel akhirnya menjadi
rutinitasnya setiap pagi.
- Ciptakan
suasana menyenangkan di waktu malam menjelang tidur. Entah dengan mandi air
hangat lebih dulu, lalu membacakan cerita, menyetel musik lembut, dan
lain-lain. Dengan aneka ritual sebelum tidur, membuat suasana hati anak
menjadi baik. Suasana hati yang baik itu pulalah yang akan dibawanya saat
terbangun dari tidur.
9.
REWEL SAAT NAIK KENDARAAN UMUM
Naik bis, angkutan kota, atau kereta api?
Pasti banyak orangtua yang memiliki pengalaman tak menyenangkan dengan ulah
si batita. Sepertinya angkutan umum bak "neraka" buat anak. Dia ingin
cepat-cepat keluar dari dalamnya. Apalagi jika perjalanan harus memakan
waktu berjam-jam, kerewelan anak pun semakin bertambah. Semua itu terjadi
karena anak merasa bosan berlama-lama di angkutan umum. Ketiadaan aktivitas
sangatlah menjenuhkan bagi anak usia ini. Ia pun lalu mengungkapkannya
dengan kerewelan. Apalagi jika angkutan umum itu tidak berpendingin udara,
sempit, dan sesak.
Anak juga rewel karena merasa tidak nyaman
bertemu dengan banyak orang yang tak dikenalnya. Selain itu, anak usia ini
bukan tipe "pertapa" yang bisa duduk berlama-lama. Anak sedang dalam masa
eksplorasi. Keinginannya adalah bergerak dan terus bergerak. Ini tidak hanya
berlaku untuk anak laki-laki, tapi juga perempuan.
Cara Mengatasi:
-
Kerewelan anak bisa terjadi hanya saat pertama kali, tapi
juga bisa setiap kali naik angkutan umum. Rewel saat pertama kali naik
angkutan umum adalah wajar. Yang dapat dilakukan orangtua adalah membuat
anak nyaman di angkutan umum. Dengan demikian, anak pun tidak rewel lagi.
Orangtua bisa mengajak anak mengobrol agar
tak bosan. Jika mungkin, bisa juga diperdengarkan musik kesukaannya. Tentu
dengan tak mengganggu penumpang lain. Ceritakan semua pemandangan yang
ditemuinya saat di jalan. Ladeni semua pertanyaan anak dan puaskan rasa
ingin tahunya.
Hal penting lainnya, bawa bekal makanan dan
minuman yang cukup, di samping membawa beberapa mainan favorit anak. Pilih
mainan yang sekiranya bisa dimainkan di angkutan umum.
Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA
Konsultan
Ahli:
Dian Kun Prasasti, Psi.,
dari
Klinik Aditya Medical Centre, Jakarta |