|
Nyeri sanggama yang dalam istilah
kedokteran disebut dyspareunia ini bisa terjadi kapan saja.
Saat pengantin baru, setelah melahirkan, atau baru saja terjadi padahal
selama lima tahun pernikahan sebelumnya kehidupan seks berjalan oke-oke saja,
alias tanpa nyeri saat sanggama. Kalau memang ibu merasakan itu, jangan ragu
untuk memeriksakan diri ke dokter.
10
PENYEBAB
1. Gangguan pada
alat kandungan bagian dalam
- Penyakit radang panggul akut/kronis yang
biasanya disebabkan infeksi. Biasanya akan disertai gejala lain, seperti
keputihan, nyeri perut bawah dan terkadang nyeri saat buang air kecil.
- Endometriosis yaitu adanya selaput lendir
rongga rahim (endometrium) di luar rahim seperti pada dinding rongga panggul,
pada indung telur, pada permukaan luar rahim, usus, serta organ-organ lain.
Endometriosis yang dapat berupa bercak-bercak atau kista di indung telur ini
dapat menyebabkan nyeri perut bawah terus menerus, nyeri saat berhubungan
atau nyeri saat haid.
- Adenomyosis yaitu tumor dalam rahim yang
disebabkan adanya selaput lendir rongga rahim (endometrium) di dalam otot
rahim.
- Mioma uteri (tumor jinak otot rahim).
- Kista/tumor pada indung telur/ovarium
2. Kelainan/cacat
bawaan
- Selaput dara tertutup (stenosis hymen).
Seharusnya pada selaput dara terdapat lubang kecil yang dapat ditembus (penetrasi)
oleh penis. Jika tertutup maka akan terasa nyeri saat sanggama.
- Vagina tidak terbentuk (agenesis vagina)
sehingga tidak bisa berhubungan seksual.
- Terbentuk dua vagina kecil atau terdapat
sekat pada vagina (vagina duplex/berseptum). Rasa nyeri saat sanggama
karena penis menumbuk sekat tersebut.
3. Gangguan
saluran pencernaan
- Konstipasi kronik (sulit buang air besar yang
membuat perut terasa tak enak).
- Usus terlipat (divertikulum usus).
- Ambeien atau hemoroid.
- Penyakit radang, usus misalnya radang usus
buntu kronis.
4. Kurangnya
proses pelicinan (lubrikasi) pada vagina saat bersanggama
Wanita yang terangsang dan siap untuk
bersanggama akan mengeluarkan cairan sehingga vagina menjadi lebih licin.
Kurangnya pelicinan pada vagina ini dikarenakan:
- Adanya pelecehan seksual/pemaksaan/abuse.
- Gangguan respons terhadap rangsangan seksual.
Misal, yang bersangkutan susah terangsang sementara pasangannya sudah
memaksa penetrasi.
- Foreplay belum cukup sehingga vagina
masih kering. Adakala suami sudah terangsang atau ereksi dan langsung ingin
penetrasi sementara istri belum siap. Terjadilah nyeri saat sanggama.
- Mengonsumsi kontrasepsi pil yang mengandung
hormon progestagen saja yang biasanya diperuntukkan bagi ibu menyusui.
- Pada wanita yang mulai menopause dimana
vagina akan mengecil dan kering (atrofi vagina).
5. Jaringan luka
- Seperti, bekas luka persalinan normal (yang
belum sembuh atau proses penyembuhan kurang baik), infeksi, jahitan jalan
lahir terlalu kecil, atau sanggama dilakukan terlalu dini sebelum luka
persalinan sembuh sempurna.
- Adanya bekas luka operasi (contoh operasi
tumor di vagina atau bibir kemaluan, misalnya kista Bartholin), adanya abses/bisul
dan adanya luka/infeksi yang belum sembuh.
6. Faktor
psikologis
- Adanya kecemasan saat bersanggama.
- Depresi.
Masalah psikis ini hendaknya dikonsultasikan pada psikolog atau psikiater.
7. Trauma fisik
atau psikologis
Seperti adanya benturan karena kecelakaan,
pernah mengalami perkosaan atau peristiwa menakutkan yang terkait dengan
hubungan seksual dan lainnya.
8. Gangguan
berkemih (urologi)
- Infeksi kandung kemih yang akut/kronik (sistitis).
- Adanya peradangan.
- Infeksi muara saluran kemih (uretritis).
Infeksi saluran kemih dapat menjadi
penyebab nyeri sanggama, namun sebaliknya sanggama juga dapat menyebabkan
infeksi saluran kemih. Pada yang terakhir ini, umumnya penderita merasakan
nyeri setelah sanggama dan ketika buang air kecil. Ini dikarenakan saat
sanggama terdapat kuman-kuman yang terbawa ke kandung kemih dan terjadi
iritasi di kandung kemih.
9. Gangguan vagina
- Vagina menjadi menipis, mengecil dan
mengering (atrofi vagina).
- Otot vagina yang berkontraksi berlebihan (vaginismus).
- Infeksi pada vagina seperti adanya keputihan
(vaginitis).
- Iritasi vagina karena alergi kondom yang
akhirnya menimbulkan luka atau infeksi.
10. Gangguan vulva
yaitu bagian luar kemaluan wanita/muara vagina
- Iritasi dari zat-zat kimia.
- Infeksi virus herpes simplex.
- Radang/infeksi vulva (vulvitis).
- Infeksi kelenjar Bartholin.
PERHATIKAN
KAPAN TERJADI
Perhatikan kapan rasa nyeri saat sanggama
timbul dan di mana lokasi yang
dirasakan agar lebih memudahkan mengetahui penyebabnya. Berikut kapan dan di
mana lokasi rasa nyeri saat sanggama yang mungkin terjadi:
* Saat mulai terangsang
Pada saat terangsang, kelenjar Bartholin
yang ada di bagian luar bibir vagina akan mengeluarkan cairan untuk proses
pelicinan/lubrikasi. Jika ada infeksi pada kelenjar Bartholin, maka saat
mulai terangsang wanita sudah merasakan nyeri.
* Saat penis mulai
penetrasi
Rasa nyeri akan dirasakan pada bagian luar vagina dan ada beberapa
kemungkinan yang jadi penyebabnya yaitu:
-
vagina yang kering dan mengecil (atrofi vagina).
- Peradangan vulva kronis (vulvitis).
- Kurangnya proses pelicinan.
- Selaput dara yang kaku karena mungkin baru
pertama kali berhubungan.
- Adanya cacat bawaan pada anatomi vagina (vagina
berseptum/dupleks).
Pada kelainan karena cacat bawaan biasanya rasa nyeri sudah terjadi sejak
awal hubungan intim. Bila karena infeksi, rasa nyeri timbul saat terjadi
infeksi, dalam arti sebelumnya tidak pernah merasakan rasa nyeri tersebut
saat sanggama.
- Infeksi pada vagina (vaginitis).
- Adanya jaringan luka bekas persalinan (sikatriks).
* Saat penis
menembus vagina
Rasa nyeri akan terasa di dalam vagina. Biasanya karena penyebab:
- Infeksi kandung kemih/uretra.
- Vagina pendek (kongenital/bawaan).
* Saat penis
menekan/penetrasi dalam
Biasanya rasa nyeri akan dirasakan di perut
bagian bawah. Ini menandakan penyebabnya ada di alat kandungan bagian dalam.
Kemungkinan antara lain:
-
Penyakit radang panggul akut/kronik, infeksi di indung telur dan/atau tuba.
- Endometriosis.
- Massa tumor (mioma uteri, adenomyosis, tumor
ovarium).
- Penyakit radang usus seperti usus buntu
kronis.
- Perangsangan seksual kurang saat penetrasi
dalam sehingga terasa nyeri.
* Saat orgasme
Rasa nyeri dirasakan saat orgasme biasanya
karena adanya kontraksi uterus. Sebetulnya ini juga bisa terjadi dalam
keadaan normal. Selain itu kemungkinan lain bisa karena rahim sedang ada
infeksi sehingga ketika terjadi kontraksi saat orgasme akan terasa nyeri.
BERITAHU
PASANGAN
Rasa nyeri sanggama ini jangan didiamkan saja. Segera cari tahu penyebabnya agar
tidak memengaruhi "kobaran api" di atas ranjang. Berikut beberapa saran yang
bisa dilakukan:
-
Komunikasikan dengan pasangan.
Ceritakan apa yang dirasakan jangan sampai
menderita saat melakukan hubungan seks dengan pasangan. Minta antar ke
dokter untuk melakukan pengobatan.
- Periksakan
pada dokter kandungan.
Pemeriksaan umumnya dimulai dari alat
kandungan bagian luar hingga dalam. Bila diperlukan akan ada pemeriksaan USG
untuk memastikan adanya kelainan seperti tumor di dalam kandung-an.
Pengobatan dilakukan dengan mengatasi penyebabnya. Misal:
- Bila ada
infeksi maka diberikan obat-obatan untuk mengatasi infeksi
- Ada kelainan
anatomi organ genitalia diupayakan dengan tindakan koreksi.
- Tindakan
operasi akan diambil bila ada kelainan di dalam kandungan seperti tumor,
kista, dan lainnya
- Kurangnya
proses pelicinan dapat diatasi dengan foreplay yang baik. Pada wanita
yang memasuki usia menopause sekitar usia 48 tahun dan mengalami vagina
kering bisa diatasi dengan mengoleskan krim yang mengandung hormon estrogen
atau jelly khusus untuk vagina sebelum bersanggama.
- Untuk
penyebab faktor psikis dibutuhkan bantuan psikolog atau psikiater. Akan
dicari latar belakang penyebab lalu dilakukan terapi.
Rasa nyeri saat sanggama yang tidak diatasi
(karena ibu malu atau faktor lainnya) bisa berakibat antara lain:
-
Ibu jadi jarang atau enggan berhubungan dengan pasangan. Akibatnya bisa
berdampak pada keretakan rumah tangga. Bagi pria hubungan seks merupakan
kebutuhan primer. Suami yang sering ditolak istri saat mengajak berhubungan
intim dikhawatirkan akan mencarinya pada wanita lain.
- Bisa
berpengaruh pada kehamilan, terutama bila penyebabnya pada kelainan organ
reproduksi. Jarangnya ibu berhubungan intim dengan pasangan pun akan
mengurangi kemungkinan untuk hamil.
-
Penyakit yang menjadi penyebab nyeri sanggama tidak dideteksi sehingga tidak
diobati/diatasi akan berkembang menjadi lebih berat.
Dedeh Kurniasih. Ilustrator Pugoeh
Konsultan
Ahli:
dr. Rino Bonti Tri H.S, SpOG.
dari SamMarie
Family Health Care, Jakarta
TANYA JAWAB:
HAMIL DENGAN HIV-AIDS
Sekitar
25-45% infeksi HIV pada ibu berisiko ditularkan kepada bayi. Bagaimana
mencegah janin jangan sampai terinfeksi HIV? Bagaimana persiapan ibu yang
terinfeksi HIV dalam menjalani masa kehamilan, persalinan dan masa menyusui
agar tidak menularkannya kepada bayi? Mari simak penje- lasan dr. Muh.
Ilhamy Setyahadi, SpOG dari RS Bunda, Depok.
Apakah HIV?
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini masuk ke dalam limfosit
T helper (salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi dalam
sistem kekebalan tubuh manusia). Pada proses replikasi (berkembang biak)
virus di dalam sel limfosit tersebut "menumpang" proses pembelahan sel
limfosit tetapi kemudian berakibat hancurnya sel limfosit inang. Dari 1 sel
limfosit yang hancur, dihasilkan sekitar 14 virion (virus turunan) baru yang
siap menginfeksi limfosit lainnya. Dengan hancurnya sel limfosit tersebut
maka daya tahan tubuh terhadap infeksi akan berkurang.
Apabila terjadi infeksi, secara normal
tubuh akan merespons dengan memproduksi limfosit. Pada pasien HIV, pada saat
memproduksi limfosit, virus juga mereplikasi dengan jumlah yang lebih besar,
tetapi karena limfosit yang diproduksi menjadi hancur maka terjadi kegagalan
sistem kekebalan dan pasien dalam keadaan infeksi berat.
Sampai saat ini belum ada obat untuk
mengeliminasi secara tuntas virus dari tubuh. Obat anti-retrovirus (ARV)
yang ada hanya mampu menekan proses replikasi virus dan menghindari masuknya
virion baru ke limfosit sehat. Dengan kata lain yang lebih sederhana, sampai
saat ini virus HIV bisa masuk tubuh tapi belum bisa dihilangkan dari tubuh
manusia. Oleh karenanya pencegahan agar jangan sampai virus HIV masuk
merupakan prioritas bagi semua orang. Sedangkan bagi pengidap HIV/AIDS yang
dipentingkan adalah penekanan replikasi virus dan mencegah penularan ke
orang lain.
Bagaimana HIV
dapat menular dari ibu ke bayi?
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat
terjadi selama proses kehamilan (transplasenta 5-10%), proses persalinan (kontaminasi
dengan cairan genitalia dan darah 10-20%), dan masa laktasi (melalui ASI
10-15%).
Bagaimana cara
pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi?
Secara umum terdapat empat strategi seperti
yang dipublikasikan oleh WHO untuk pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi,
antara lain:
1.
Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi (15-49
tahun).
2.
Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV.
3.
Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu dengan HIV kepada bayi yang
dikandungnya.
4.
Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu dengan HIV
beserta bayi dan keluarganya.
Pencegahan penularan HIV pada perempuan
usia reproduksi dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang benar
dan proporsional mengenai kesehatan reproduksi-Infeksi Menular Seksual
dan HIV/AIDS, terutama kepada remaja dan dewasa muda.
Benar
dalam arti tidak ditutup-tutupi ataupun dibesar-besarkan yang bertujuan
untuk menakut-nakuti. Proporsional yaitu sesuai usia. Pada
usia dewasa pendidikan diarahkan mengenai perencanaan keluarga, kehamilan,
dan tanggung jawab sosial dengan menjunjung tinggi nilai moral, etika dan
agama.
Bagaimana cara
mengetahui apakah seseorang sudah terinfeksi HIV?
Terinfeksi atau tidaknya seseorang hanya
dapat dideteksi dengan pemeriksaan darah. Setelah melalui proses konseling (Voluntary
Conseling & Testing/ VCT) maka dilakukan pengambilan darah untuk dikirim
ke laboratorium yang ditunjuk untuk dilakukan uji antibodi serologis HIV.
Biasanya hasil akan diperoleh dalam 7 hari, tetapi saat ini sudah terdapat
pemeriksaan cepat yang dapat segera diketahui hasilnya. Sampai akhir 2006
sudah terdapat 75 rumah sakit rujukan yang bisa memberikan pelayanan VCT.
Karena di Indonesia saat ini masih terdapat
stigma dan diskriminasi terhadap pengidap, maka pemeriksaan HIV harus
didahului oleh VCT, untuk menghindari dampak negatif terhadap klien yang
ternyata berstatus positif HIV.
Apakah setiap ibu
hamil HARUS diperiksa status HIVnya?
Pada daerah dengan status HIV Epidemik,
pemeriksaan ini direkomendasikan dilakukan rutin untuk ibu hamil. Pada
daerah dengan status HIV Epidemik terkonsentrasi, pemeriksaan serologis HIV
direkomendasikan sebagai pemeriksaan rujukan pada ibu yang mempunyai risiko
terinfeksi (ibu atau pasangan seksualnyamempunyai perilaku berisiko).
Perilaku berisiko untuk tertular HIV antara
lain: berganti-ganti pasangan seksual dan pengguna narkoba suntikan.
Bolehkah ibu yang
terinfeksi HIV hamil?
Keinginan untuk hamil dan mempunyai anak
sebenarnya hak azasi setiap manusia. Karena adanya kemungkinan penularan HIV
dari ibu ke bayi, maka pada ibu dengan HIV keputusan untuk hamil dan
mempunyai anak perlu dipertimbangkan secara matang. Pasangan tersebut harus
benar-benar memahami akan risiko kehamilan, persalinan, laktasi dan
pengasuhan anak selanjutnya. Juga diperlukan dukungan dari keluarga untuk
mengantisipasi kemungkinan terjadinya yatim-piatu dini karena orangtua
menderita HIV, agar tidak terjadi penelantaran anak.
Pencegahan
kehamilan apa yang dianjurkan pada ibu terinfeksi HIV?
Kondom merupakan kontrasepsi pilihan yang
dianjurkan, karena kondom mempunyai 2 fungsi (dual protection) berupa
mencegah kehamilan dan mencegah penularan HIV.
Kontrasepsi hormonal (pil, suntik, susuk)
dapat digunakan untuk pencegahan kehamilan yang efektif, tetapi tidak
mempunyai perlindungan terhadap penularan HIV.
Apa yang
harus dilakukan bagi ibu terinfeksi HIV yang hamil?
Beberapa hal yang perlu dilakukan pada ibu
dengan HIV yang hamil, antara lain:
1.
Memilih dokter yang memahami kehamilan pada ibu dengan HIV untuk
penatalaksanaan kehamilan dan persalinan.
2.
Memilih rumah sakit yang besedia melayani kasus HIV untuk pemeriksaan
antenatal dan persalinan nantinya.
3.
Melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai jadwal yang dianjurkan
4.
Minum obat ARV profilaksis sesuai jadwal yang dianjurkan.
5.
Minum roboransia (vitamin
dan
mineral) sesuai yang dianjurkan.
6.
Melakukan pemeriksaan CD4 dan Viral Load sesuai jadwal yang
dianjurkan.
7.
Memerhatikan asupan gizi yang baik, cukup istirahat, cukup olahraga.
8.
Tidak merokok dan tidak minum alkohol.
9.
Memelihara kebersihan diri secara umum & genitalia khususnya.
10.
Selalu menggunakan kondom pada saat sanggama. Tidak berganti-ganti pasangan
seksual.
11.
Melakukan aktivitas harian normal sewajarnya, tidak berlebihan.
12.
Mengisi waktu luang dengan kegiatan positif & konstruktif.
Upaya apa
saja yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi
selama kehamilan, persalinan dan masa menyusui?
Masa kehamilan
Pencegahan dilakukan dengan minum obat ARV
profilaksis, dan pola hidup sehat seperti diuraikan di atas.
Proses persalinan
Pencegahan dilakukan dengan persalinan
melalui tindakan sesar/seksio sesarea. Dengan persalinan pervaginam (lewat
vagina) maka bayi akan terkontaminasi dengan cairan genital dan darah ibu
selama sekitar 8-12 jam, dibandingkan pada tindakan seksio sesarea kontak
bayi dengan darah ibu sekitar 5-10 menit.
Apabila tindakan seksio sesarea tidak
mungkin dilakukan, maka dapat dilakukan persalinan pervaginam dengan
manipulasi minimal terhadap ibu dan bayi. Tidak dianjurkan untuk melakukan
episiotomi (pengguntingan untuk memperlebar jalan lahir),
ekstraksi vakum, dan ekstraksi forseps.
Masa laktasi
Sudah diketahui beberapa infeksi virus
dapat ditularkan melalui ASI, termasuk di antaranya adalah HIV. Walaupun
kemungkinannya rendah, tetapi risiko penularan melalui proses menyusui ini
diperbesar dengan adanya lecet puting payudara karena teknik menyusui yang
kurang tepat.
Oleh karenanya pada ibu dengan HIV
dianjurkan untuk memberikan susu formula apabila memenuhi persyaratan AFASS
(Affordable = Terjangkau, Feasible = Layak, Acceptable
= Dapat diterima, Sustainable = Berkelanjutan, dan Save = Aman)
yang dianjurkan oleh WHO. Apabila syarat AFASS tersebut tidak terpenuhi,
maka bayi dapat diberikan ASI Eksklusif maksimal selama 3 bulan. Bila syarat
AFASS terpenuhi sebelum 3 bulan, maka ASI dihentikan.
Sangat tidak dianjurkan untuk memberikan
makanan campuran (ASI & formula/cairan lain), karena tetap meningkatkan
risiko penularan HIV.
Bagaimana
bila ibu terinfeksi HIV (sedang hamil) dan mengalami infeksi oportunistik,
misalnya toksoplasma?
Pengobatan seperti terhadap toksoplasmosis
dalam kehamilan pada umumnya, ditambah ARV profilaksis untuk HIV dalam
kehamilannya. Pengobatan ARV komplet dilakukan setelah proses persalinan.
Apakah bayi
yang dilahirkan dari ibu dengan HIV, pasti tertular HIV?
Bayi dari ibu dengan HIV tidak selalu
tertular HIV. Diketahui sekitar 90% HIV pada anak berasal dari penularan ibu
ke bayi. Tetapi penularan ini sebenarnya dapat dicegahdengan tindakan
seperti dijelaskan di atas.
Apakah
terdapat tanda spesifik bayi tertular HIV?
Tidak ada tanda spesifik HIV yang dapat
ditemukan pada bayi baru lahir. Tanda klinis mulai dapat ditemukan pada usia
6 minggu, namun uji antibodi baru dapat dideteksi pada umur 18 bulan.
Apakah bayi
dari ibu terinfeksi HIV boleh diberi imunisasi?
Pemberian imunisasi setelah lahir seperti
BCG dan Pneumokokus tetap dianjurkan untuk diberikan segera setelah lahir.
Imunisasi selanjutnya untuk bayi juga tetap dianjurkan untuk diberikan
walaupun anak diketahui terinfeksi HIV (serologis positif), karena pasien
HIV mempunyai risiko lebih besar untuk mendapatkan infeksi. Hanya imunisasi
varisela yang tidak direkomendasikan pada anak dengan HIV.
Dedeh Kurniasih.
Ilustator Pugoeh |