|
JANTUNG
MAU COPOT
Anak-anak yang luar biasa energik, tentu
harus dihadapi dengan kemampuan menahan gejolak emosi, seperti yang
dimiliki Fetty dalam mengasuh Rizky Ariviansyah Mifktah (2;6) dan Ravi
Ananda Mifktah (1;2). "Ya orangtua harus sabar. Jangan sampai
mengekang anak yang akhirnya jadi anak penakut." Contohnya, si kakak
saat ini sedang "hobi" naik-naik ke tempat yang tinggi. "Jelas
deg-degan melihatnya. Tapi kalau dilarang, nanti dia tidak pernah mau
mencoba," ujar Fetty tentang buah hatinya
"Pernah Rizky hampir kejatuhan buku
yang beratnya minta ampun untuk anak seusianya. Jantung saya rasanya sudah
mau copot. Tapi saya menahan diri untuk tidak menjerit karena khawatir
anak malah trauma yang akhirnya tidak mau mencoba lagi."
Fetty merasa beruntung menamatkan
pendidikan S1-nya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta
yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Jakarta. Berbekal pendidikan
ini, Fetty mengaku bisa mengerti dan menerapkan teori pedagogi pada
anak-anak yang mencakup pengetahuan soal psikomotorik, kognitif dan
afektif.
BAHASA
INGGRIS NANTI
Selain asyik menemani dua jagoan ciliknya
bermain, Fetty juga selalu mengajak mereka membaca. "Caranya saya
bacakan buku cerita setiap malam sebelum mereka tidur. Saya belikan
buku-buku dengan gambar menarik. Meskipun mereka belum bisa membaca, saya
berharap dengan cara ini kelak mereka akan mencintai buku."
Sekarang si sulung Rizky sudah bersekolah
di sebuah taman bermain dekat rumah tinggal mereka. Berbeda dengan
mayoritas pasangan modern yang bermukin di perkotaan, Fetty dan suaminya, Fettry
Mifktah (38) tak terlalu ambisius mendaftarkan anaknya ke sekolah
dwibahasa. Meski Fetty sendiri meraih beasiswa Chevening Award yang
menamatkan S2 Communication Studies di University of Leeds, Inggris.
Sedangkan suaminya adalah doktor dalam bidang teknologi informasi.
"Kami berdua sepakat untuk menanamkan kecintaan dan kefasihan mereka
pada bahasa sendiri dulu. Berkaca pada pengalaman kami berdua, toh kami
juga bisa berbahasa Inggris karena punya kesempatan tinggal dan sekolah di
negara itu. Padahal sewaktu masih kecil pun kami jarang sekali menggunakan
bahasa tersebut. Jadi, buat apalah terlalu ambisius."
Fetty justru menginginkan kedua anaknya
memiliki akar budaya yang kuat, terutama budaya yang berasal dari kedua
orangtuanya, "Seperti saya orang Padang, sedangkan Mas Fettry dari
Jawa. Kami sudah sepakat akan bergantian mengajak anak-anak ke Padang dan
Jawa Tengah."
BANGGA
JADI IBU
Fetty mengaku merasa sangat bahagia
mendapat momongan karena menurutnya itulah karunia luar biasa bagi seorang
perempuan. "Karena saya sudah dipercaya mendapat karunia ini tentu
saya harus menjaganya dengan baik. Caranya? Dengan memberi perawatan dan
pengasuhan yang baik."
Fetty mengakui punya segudang harapan
pada kedua anaknya. "Harapan yang utama, mereka menjadi anak yang
saleh, pintar seperti bapaknya, punya masa depan yang cerah dan tidak lupa
pada orangtuanya. Banyak ya? Tapi harapan-harapan itulah yang mendorong
kita sebagai orangtua untuk selalu bertindak dengan baik dan benar."
Untuk mewujudkan harapannya, Fetty
sengaja memasukkan Rizky ke sekolah berbasis agama. "Meski dia belum
mengerti sepenuhnya apa yang diajarkan, tapi menurut saya dasar itu sangat
penting. Boleh jadi suatu saat akan muncul tantangan dan seribu pertanyaan
yang mungkin tidak terjawab. Namun kalau sudah punya dasar moral dan
keimanan, saya kira, dari pengalaman saya, kita tidak akan kebablasan.
Insya Allah inilah yang disebut pegangan," ujarnya santun menutup
pembicaraan.
Santi
Hartono. Foto: Agus/nakita |