FirstFlag
Fetty Fajriati SABAR HADAPI DUA JAGOAN

Bekerja sebagai Manajer Humas The Habibie Centre membuat Fetty Fajriati (38) terlatih menghadapi gejolak perilaku kedua anak lelakinya yang sangat energik. Nah apa saja, kiat mantan penyiar berita di RCTI ini yang bersama LSM tempatnya bekerja mempromosikan demokrasi, hak asasi manusia, ilmu pengetahuan, dan teknologi?

Fetty Fajriati SABAR HADAPI DUA JAGOAN

JANTUNG MAU COPOT

Anak-anak yang luar biasa energik, tentu harus dihadapi dengan kemampuan menahan gejolak emosi, seperti yang dimiliki Fetty dalam mengasuh Rizky Ariviansyah Mifktah (2;6) dan Ravi Ananda Mifktah (1;2). "Ya orangtua harus sabar. Jangan sampai mengekang anak yang akhirnya jadi anak penakut." Contohnya, si kakak saat ini sedang "hobi" naik-naik ke tempat yang tinggi. "Jelas deg-degan melihatnya. Tapi kalau dilarang, nanti dia tidak pernah mau mencoba," ujar Fetty tentang buah hatinya

"Pernah Rizky hampir kejatuhan buku yang beratnya minta ampun untuk anak seusianya. Jantung saya rasanya sudah mau copot. Tapi saya menahan diri untuk tidak menjerit karena khawatir anak malah trauma yang akhirnya tidak mau mencoba lagi."

Fetty merasa beruntung menamatkan pendidikan S1-nya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Jakarta. Berbekal pendidikan ini, Fetty mengaku bisa mengerti dan menerapkan teori pedagogi pada anak-anak yang mencakup pengetahuan soal psikomotorik, kognitif dan afektif.

BAHASA INGGRIS NANTI

Selain asyik menemani dua jagoan ciliknya bermain, Fetty juga selalu mengajak mereka membaca. "Caranya saya bacakan buku cerita setiap malam sebelum mereka tidur. Saya belikan buku-buku dengan gambar menarik. Meskipun mereka belum bisa membaca, saya berharap dengan cara ini kelak mereka akan mencintai buku."

Sekarang si sulung Rizky sudah bersekolah di sebuah taman bermain dekat rumah tinggal mereka. Berbeda dengan mayoritas pasangan modern yang bermukin di perkotaan, Fetty dan suaminya, Fettry Mifktah (38) tak terlalu ambisius mendaftarkan anaknya ke sekolah dwibahasa. Meski Fetty sendiri meraih beasiswa Chevening Award yang menamatkan S2 Communication Studies di University of Leeds, Inggris. Sedangkan suaminya adalah doktor dalam bidang teknologi informasi.
"Kami berdua sepakat untuk menanamkan kecintaan dan kefasihan mereka pada bahasa sendiri dulu. Berkaca pada pengalaman kami berdua, toh kami juga bisa berbahasa Inggris karena punya kesempatan tinggal dan sekolah di negara itu. Padahal sewaktu masih kecil pun kami jarang sekali menggunakan bahasa tersebut. Jadi, buat apalah terlalu ambisius."

Fetty justru menginginkan kedua anaknya memiliki akar budaya yang kuat, terutama budaya yang berasal dari kedua orangtuanya, "Seperti saya orang Padang, sedangkan Mas Fettry dari Jawa. Kami sudah sepakat akan bergantian mengajak anak-anak ke Padang dan Jawa Tengah."

BANGGA JADI IBU

Fetty mengaku merasa sangat bahagia mendapat momongan karena menurutnya itulah karunia luar biasa bagi seorang perempuan. "Karena saya sudah dipercaya mendapat karunia ini tentu saya harus menjaganya dengan baik. Caranya? Dengan memberi perawatan dan pengasuhan yang baik."

Fetty mengakui punya segudang harapan pada kedua anaknya. "Harapan yang utama, mereka menjadi anak yang saleh, pintar seperti bapaknya, punya masa depan yang cerah dan tidak lupa pada orangtuanya. Banyak ya? Tapi harapan-harapan itulah yang mendorong kita sebagai orangtua untuk selalu bertindak dengan baik dan benar."

Untuk mewujudkan harapannya, Fetty sengaja memasukkan Rizky ke sekolah berbasis agama. "Meski dia belum mengerti sepenuhnya apa yang diajarkan, tapi menurut saya dasar itu sangat penting. Boleh jadi suatu saat akan muncul tantangan dan seribu pertanyaan yang mungkin tidak terjawab. Namun kalau sudah punya dasar moral dan keimanan, saya kira, dari pengalaman saya, kita tidak akan kebablasan. Insya Allah inilah yang disebut pegangan," ujarnya santun menutup pembicaraan.

Santi Hartono. Foto: Agus/nakita

 

Tokoh & Buah Hati edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari