FirstFlag
9 MITOS MENYUSUI DAN FAKTANYA

9 MITOS MENYUSUI DAN FAKTANYA

Katanya ASI bisa kurang kalau si bayi rakus. Bagaimana faktanya? Dr. Rudy Firmansjah B. Rivai, Sp.A dari Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Harapan Kita Jakarta menjelaskannya kepada kita.

1. ASI BELUM KELUAR PADA HARI PERTAMA SEHINGGA PERLU DITAMBAH CAIRAN LAIN

Salah. Memang, banyak ibu yang mengalami kesulitan menyusui di hari pertama dan mengeluhkan ASI-nya tidak bisa keluar. Namun tak perlu cemas karena di hari pertama, selain bayi belum memerlukan cairan tambahan, di dalam tubuhnya pun masih ada cadangan cairan yang cukup.

ASI sendiri terdiri atas 88% air. Jadi, kebiasaan memberi cairan seperti susu formula, air putih, teh manis kepada bayi baru lahir tentu kurang tepat. Di banyak negara tindakan ini sudah menjadi kebiasaan dengan alasan agar bayi tidak rewel atau sekadar menghilangkan hausnya. Ditambah lagi, bila cairan itu diberikan dengan dot, selain refleks mengisap bayi jadi tidak terasah, ia juga berisiko bingung puting.

2. ASI TIDAK BISA MEMUASKAN BAYI "RAKUS"

Salah. ASI bisa mencukupi semua kebutuhan asupan makanan dan minuman bayi hingga bayi berusia 6 bulan. Rata-rata kebutuhan cairan bayi pada minggu pertama sekitar 80-100 ml/kg per hari, dan meningkat menjadi 140-160 ml/kg pada usia 3-6 bulan. Semua itu cukup dipenuhi hanya dengan ASI. Bahkan bagi bayi superrakus sekalipun.

Sebuah penelitian menyebutkan, 98 ribu dari 100 ribu ibu yang mengatakan produksi ASI-nya kurang, ternyata memiliki cukup ASI. ASI tidak bisa berproduksi secara optimal karena manajemen laktasi yang kurang baik. Misalnya, tidak tahu posisi menyusui yang tepat, stres, terpengaruh mitos-mitos menyusui, kurang istirahat, dan lain-lain.

ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Jadi, salah kalau ada yang menganggap payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindahkan lagi ke payudara pertama.

3. PAYUDARA KENDUR GARA-GARA MENYUSUI

Tidak ada hubungannya. Kendur tidaknya payudara tidak ada hubungannya dengan pemberian ASI. Biang keladi perubahan payudara adalah kehamilan itu sendiri. Saat hamil hormon-hormon membuat payudara penuh berisi ASI. Ukuran payudara pun terlihat lebih besar dari biasanya. Nah, pascamenyusui, ukuran payudara kembali normal. Akibatnya, otot-ototnya pun mengendur dan membuat payudara sedikit kendur.

Hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Lewat pijat atau senam payudara keindahan bentuk payudara bisa dipertahankan. Pilih juga bra yang tepat agar bisa membuat bentuk payudara tidak kendur. Selain itu, menyusui juga bisa memproteksi payudara dari serangan kanker payudara. Penelitian membuktikan, risiko terkena kanker mengecil jika ibu menyusui anaknya.

4. SULIT TURUNKAN BB JIKA MENYUSUI

Salah. Konon, menyusui membuat nafsu makan ibu bertambah lahap, sehingga sulit mengatur berat badan. Ini tidaklah tepat. Sebuah penelitian menyebutkan, menyusui dapat membantu ibu menurunkan berat badan lebih cepat. Kala menyusui timbunan lemak yang terjadi pada waktu hamil diubah menjadi energi. Sebaliknya, timbunan lemak ini sulit disingkirkan jika ibu tidak menyusui.

5. UKURAN PAYUDARA TENTUKAN BANYAKNYA ASI

Salah. Banyak tidaknya ASI tidak ditentukan oleh besar kecilnya payudara, tapi tergantung seberapa banyak kelenjar pembentuk air susu. Payudara berukuran besar kanan bergizi yang cukup dan seimbang.

Bahkan menyusui bisa memberi perlindungan terhadap zat kimia beracun tertentu. Pada kecelakaan kebocoran reaktor di Chernobyl, didapat fakta bahwa kadar zat radio aktif dalam ASI jauh lebih sedikit daripada dalam tubuh ibu. Para ahli pun berkesimpulan, ada mekanisme tubuh tertentu yang menyaring racun sehingga konsentrasinya dalam ASI sangat rendah.

7. BANYAK BERISTIRAHAT BISA MENAMBAH PRODUKSI ASI

Kurang tepat. Mitosnya saat istirahat produksi ASI akan berjalan lancar. Ini tidak sepenuhnya benar. Yang betul makin sering ASI diberikan, makin banyak pula ASI dihasilkan. Produksi ASI meningkat seiring dengan gerakan mengisap. Sebaliknya, jika dihentikan maka lambat laun produksi ASI pun berkurang. Itulah mengapa, berikan ASI atau pompalah secara teratur. Jangan lupa untuk merawat dan memijat payudara agar produksi ASI tetap lancar.

8. TIDUR BAYI LEBIH LELAP JIKA MINUM SUSU FORMULA

Tidak tepat. Memang, bayi-bayi yang diberikan susu formula cenderung tidur lama. Penyebabnya, susu formula umumnya tidak dapat dicerna dengan cepat, sehingga efek rasa kenyangnya lebih lama dan tidurnya pun terkesan lebih lama. Tapi kuantitas tidak menjamin kualitas. Jadi, tidak ada perbedaan kualitas tidur antara bayi peminum ASI dan susu formula.

9. MENYUSUI TANGKAL KEHAMILAN

Tidak sepenuhnya salah. Sebuah riset mengemukakan, menyusui bisa menurunkan kesuburan. Pada ibu yang tidak menyusui, kesuburan biasanya muncul kembali dalam 4-6 minggu pascapersalinan. Pada ibu menyusui, rentangnya bisa lebih lama, karena proses ovulasi terhambat.

Saat menyusui produksi hormon prolaktin meningkat. Hormon ini cukup efektif menghambat ovulasi, menstruasi pun menjadi tertunda. Itulah mengapa, kala menyusui, tubuh tak mampu menghasilkan sel telur matang. Walhasil, sperma yang masuk tidak akan menemukan "pasangan"nya. Kehamilan pun tidak akan terjadi atau disebut KB alami, yang sering diistilahkan LAM (Lactation Amenorrhoe Methode).

Meskipun efektivitasnya mencapai 98%, menyusui tidak menjamin ibu tidak hamil. Karena persyaratan menyusui sebagai KB alami sangat ketat, di antaranya ASI harus diberikan secara eksklusif. Frekuensi pemberiannya harus diatur, 10 kali dalam satu hari, disamping banyak syarat lain yang harus dipenuhi. Risiko kehamilan tetap besar jika ibu tidak bisa mematuhi syarat-syarat tersebut.

Saeful Imam. Ilustrator: Pugoeh

MINGGU KE-30 (32 HPHT)

PANCA INDRA DAPAT MENERIMA RANGSANGAN

Sebagian gerakan janin merupakan refleks untuk bertahan hidup setelah dilahirkan.

Badan janin kelihatan makin montok. Ukuran tubuhnya makin proporsional dengan kepalanya. Kulitnya mulus dan tak keriput lantaran banyak lapisan lemak yang terbentuk. Kini, panjangnya mencapai 29 cm bila diukur dari puncak kepala hingga bokong. Secara keseluruhan, panjang janin sekitar 42 cm, sementara beratnya 1,8 kg.

Otak terus membentuk kerutan yang memungkinkan volumenya tumbuh maksimal. Organ-organ pengindra janin sudah dapat menerima rangsangan dan mengolahnya menjadi informasi yang bisa diolah otak. Dengan kata lain, secara umum janin sudah bisa melihat, mendengar, merasa, menyentuh dan membau.

Rambut terus bertambah lebat dan panjang. Pola pertumbuhan rambut dan tingkat kelebatannya sesuai gen yang diturunkan kedua orangtuanya. Sementara, alis dan bulu mata juga terus memanjang dan tumbuh banyak. Pupil mata sudah berfungsi. Jika cahaya yang diterima menyilaukan, secara refleks pupil mengecil. Sebaliknya, bila gelap pupil membesar. Ini yang disebut refleks pupilari.

Janin makin banyak bernapas, tentu saja masih menghirup air ketuban yang membantu memperkuat dan mengembangkan paru-paru janin. janin juga sudah dapat mengeluarkan urin dari kandung kemihnya. Sementara, organ-organ dalam juga semakin matang. Kuku-kuku jari kaki janin sudah tumbuh lengkap memenuhi ujung jari-jarinya. Jika janin berjenis kelamin laki-laki, kedua testikel sekarang sudah berada di dalam skrotum.

Janin masih sering tidur. Ketika tidur, dia menunjukkan berbagai aktivitas (tidur aktif/Rapid Eyes Movement) yaitu ketika bola mata bergerak, anggota tubuh pun bergerak dan detak jantung lebih cepat. Saat terbangun, dia lebih aktif bergerak, dia juga menguap, berkedip, dan mengisap. Semua aktivitas itu menyiapkan janin untuk dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Gerakan bernapas membantu perkembangan paru-paru dan menyiapkan otot-otot dada untuk mengambil napas pertama kalinya begitu lahir nanti. Umumnya di minggu ini janin memutar kepalanya ke bagian bawah rahim sebagai upaya persiapan menjelang kelahiran.

JADI PELUPA

Puncak rahim yang sudah berada di tengah-tengah antara pusar dan tulang dada menambah rasa tak nyaman ibu, terutama pada panggul dan perut. Bila diukur jarak puncak rahim dari simfisis pubis sekitar 32 cm. Jika diukur dari pusar, jarak ke puncak rahim kini hampir 12 cm. Pembesaran ukuran janin membuat rahim menjadi sempit. Lantaran itu, ibu bisa merasakan makin lama gerakan janin makin berkurang.

Salah satu efek psikologis akibat adanya perubahan hormonal adalah ibu jadi cenderung pelupa. Ibu jadi sulit memfokuskan pikiran. Belum lagi kecemasan berlebih akibat memikirkan kemungkinan tak enak di hari persalinan nanti. Memang semasa hamil, kondisi ibu sangat rawan konflik intrapsikis atau tak kuasa menanggung tekanan-tekanan yang datang dari luar atau dari dirinya sendiri yang kemudian dikubur di alam bawah sadar. Akibatnya, terjadi kendala psikis yang membuatnya sulit berkonsentrasi dan terkesan pelupa.

Hingga minggu ini, pemeriksaan ke dokter dilakukan setiap dua minggu sekali. Ini berlanjut sampai ibu mencapai bulan terakhir kehamilan.

Tali Pusat Bisa Melilit

Janin terus aktif bergerak dengan menunjukkan denyutan halus, sikutan, tendangan, sampai gerakan cepat dan meliuk-liuk yang menimbulkan rasa nyeri pada ibu. Aktifnya gerakan ini tak mustahil akan membentuk simpul-simpul tali pusat. Bila sampai membentuk simpul mati tentu sangat membahayakan karena suplai gizi dan oksigen dari ibu akan terhenti atau paling tidak terhambat.

Hilman

Konsultan ahli: dr. H. Inayatullah Rifai, Sp.OG., dari RS Azra, Bogor

 

Menyambut Si Kecil edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari