|
Ternyata,
frekuensi buang air besar masing-masing bayi tidaklah sama. Ada yang 4-8
kali sehari, atau malah 1 kali setiap 3-4 hari. Sesudah bulan pertama
usianya, frekuensi itu lantas mulai berkurang menjadi 3-4 kali per hari
atau hanya 1 kali setiap 3-4 hari. Hal ini normal-normal saja.
Warna tinjanya pun bervariasi karena
sangat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi. Namun umumnya, tinja pada
bayi dengan ASI eksklusif terlihat lebih lembek, berair, berwarna kuning
tua dan berbiji-biji. Sedangkan tinja pada bayi dengan susu formula lebih
berbentuk dan berwarna kecokelatan.
Umumnya, bayi yang mendapatkan ASI lebih
jarang mengalami sembelit (konstipasi). Selain karena ASI mengandung zat
laktasif yang mampu mengencerkan tinja, juga ASI lebih mudah dicerna
ketimbang susu formula. Itulah mengapa, bayi dengan susu formula,
kemungkinan mengalami sembelit lebih besar.
Jenis susu formula yang dikonsumsi si
kecil juga ikut menjadi penyebab sembelit, yakni bila kandungan zat
besinya terlalu tinggi. Ini khusus bayi yang berusia di bawah 6 bulan
karena umumnya jumlah zat besi dalam tubuhnya masih tinggi, sehingga bila
berlebih dapat menyebabkan sembelit. Kebutuhan akan zat besi pada bayi 0-6
bulan adalah 0,5 mg per hari. Lebih baik konsultasikan dengan dokter anak
Anda sebelum memilih susu formula yang tepat untuk si kecil.
Kenali pula tanda-tanda sembelit dan
langkah-langkah penanganannya, serta bagaimana pencegahannya.
TANDA-TANDA
SEMBELIT
Bayi dinyatakan sembelit bila:
*
Tinja yang dikeluarkan terlihat keras, kering dan berbentuk butiran
kecil-kecil.
*
Ada darah pada tinja.
*
Si bayi mengerang kesakitan dan menjadi rewel.
*
Ada cairan yang keluar di antara tinja dan rektum.
FUNGSIONAL
& PATOLOGIS
Penyebab sembelit dibedakan menjadi 2,
yakni:
* Fungsional
Ada ketidakseimbangan dalam mengonsumsi
makanan. Umumnya sembelit terjadi karena kurangnya komposisi serat, air
dan buah-buahan. Karenanya sembelit kerap pula dialami bayi yang mulai
diperkenalkan makanan tambahan. Perubahan pola makan cenderung dapat
mengubah keseimbangan komposisi makanan sehingga menyebabkan terjadinya
sembelit.
* Patologis
Ada kelainan pada sistem metabolisme
tubuh. Penyebabnya antara lain:
-
Kelainan pada persarafan sebagian segmen usus atau lebih dikenal dengan hirschsprung.
-
Gangguan pada persarafan usus besar paling bawah, dari anus hingga ke
bagian usus di atasnya, termasuk ganglion parasimpatis yang mengatur
pergerakan usus.
-
Gangguan perkembangan neurologis, yaitu kelainan pada saraf-saraf usus
bayi sehingga menyebabkan gerakan peristaltiknya menjadi kurang sempurna.
-
Kelainan sistem endokrin, yaitu pada bayi yang metabolisme hormon
tiroidnya kurang (hipotiroid). Salah satu gejalanya yang ditunjukkan
adalah konstipasi.
PENANGANAN
PERTAMA
*
Bantu bayi mengeluarkan tinjanya agar perut tidak terasa kembung atau
nyeri di wilayah anus, sehingga bayi menjadi rewel.
*
Pada bayi di bawah 6 bulan, bantulah dengan menggunakan obat-obatan
kelompok stimulan laksatif yang mengandung laktulose atas rekomendasi
dokter. Biasanya berupa gel yang dimasukkan ke dalam anus. Penggunaannya
lebih praktis. Atau, cara lainnya dengan menggunakan sabun bayi batangan
yang dibentuk menyerupai pensil dengan ujung mengerucut, tapi tidak tajam.
Masukkan sabun berbentuk pinsil ini ke dalam anus sebagai pelicin.
*
Bla si kecil tidak minum ASI, pilihlah susu formula dengan kandungan bahan
yang dapat memperbaiki fungsi motilitas, seperti laktulosa. Kandungan zat
ini dapat dikenali dari kemasannya.
*
Untuk bayi di atas 6 bulan yang mulai mendapat makanan pendamping ASI (MPASI)
berikan buah-buahan kaya serat, seperti, pepaya, plum dan pir, serta
berikan lebih banyak air putih.
*
Cairan yang terbuat dari campuran brown sugar dengan air atau susu
formula juga dapat melembekkan tinja. Caranya, satu sendok teh brown
sugar dicampur dengan 200 gram air atau larutan susu formula, lalu
minumkan.
*
Langkah selanjutnya yang paling penting adalah membangun kesadaran
orangtua akan pentingnya gizi seimbang, bahwa serat berperan penting untuk
menghindari sembelit. Sertakan selalu bahan berserat dalam menu makanan
bayi selain bahan-bahan lainnya.
KAPAN
HARUS KE DOKTER?
Bila si kecil terus-menerus tidak BAB
sampai lebih dari 3 hari atau selalu tampak kesakitan saat BAB, hendaknya
segera konsultasikan ke dokter. Dikhawatirkan sembelit yang dialami si
kecil bukanlah disebabkan gangguan fungsional, melainkan patologis yang
membutuhkan observasi dan penanganan serius. Umumnya, sembelit yang
diakibatkan gangguan fungsional akan segera sembuh setelah memperbaiki
pola makan. Biasanya setelah 1-2 hari mengonsumsi makanan dengan kandungan
serat tinggi atau pola makan gizi seimbang, maka frekuensi BAB si kecil
normal.
Yang patut diwaspadai justru pada bayi
baru lahir. Bila mekonium (kotoran berwarna kehitaman yang pertama kali
keluar) tak keluar setelah 48 jam kelahiran atau bayi mengalami sembelit
pada satu minggu pertama kelahiran, harus dipikirkan kemungkinan adanya
kelainan anatomi, yakni hirschprung (tak ditemukannya persarafan
pada sebagian segmen usus). Tidak adanya sistem saraf tersebut
mengakibatkan gerakan usus jadi terganggu sehingga tinja akan tertahan di
situ.
Pada bayi dengan kelainan hirschprung
ini, pemberian obat-obatan pencahar tidak akan menunjukkan reaksi yang
memuaskan. Kecuali usus yang tak ada persarafannya itu hanya pendek,
semisal cuma 1 cm, maka pemberian obat pencahar dari anus umumnya masih
bisa mengeluarkan kotoran. Kotoran bayi dengan hirschprung umumnya
lembek dan kemampuan BAB-nya semu. Untuk membedakan hirschprung
dengan sembelit biasa harus dilakukan rontgen. Atau cara mudahnya,
masukkan sedikit jari kita ke anus bayi. Jika kotorannya keluar menyemprot
dan jari terasa dijepit oleh lubang anusnya ini berarti sembelit karena hirschprung.
JIKA
TERPAKSA MINUM SUSU FORMULA
Jangan pernah menggantikan ASI dengan
susu formula. Kecuali pada kondisi tertentu dimana tidak memungkinkan
memberikan ASI. Contoh, gangguan metabolisme bawaan, menggunakan
obat-obatan terlarang atau obat-obatan tertentu seperti kemoterapi. Inilah
tip memilih susu formula:
1.
Ketahui lebih dulu ragam susu formula yang
dijual di pasar.
Mayoritas susu formula biasanya terbuat
dari susu sapi yang diramu dengan berbagai bahan sehingga lebih mudah
dicerna bayi dibanding susu sapi yang belum diformulasikan. Di antara
bahan-bahan yang menjadi "ramuan" susu formula ini adalah
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral seperti vitamin A dan B6
(yang penting untuk meningkatkan sistem kekebalan), zat besi serta asam
lemak omega-3 (penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf).
2. Tak
ada salahnya mengonsultasikan dengan dokter.
Untuk memilih susu formula yang sesuai
dengan bayi Anda, lakukan konsultasi dengan dokter yang sudah biasa
menangani si kecil. Umumnya, ia bisa memberikan saran mengenai susu
formula untuk bayi Anda. Lebih baik Anda jangan dulu bereksperimen dengan
sejumlah susu formula di pasaran.
3. Sesuaikan
dengan kondisi keuangan.
Dewasa ini banyak susu yang dibuat untuk
antialergi, antara lain susu hypoalergi dan susu kedelai. Masing-masing
digunakan tergantung indikasinya. Konsultasikan dengan dokter anak Anda
dalam memilihnya. Bila Anda atau pasangan memang memiliki riwayat alergi,
sebaiknya ceritakan ke dokter anak Anda sejak si bayi lahir, sehingga
sejak awal sudah dapat dipilihkan susu formula yang tepat (bila diperlukan,
sebab pilihan utama tetaplah ASI).
4. Cepat
tanggap terhadap reaksi bayi Anda.
Kewaspadaan ini untuk cepat mendeteksi
apakah susu formula yang Anda pilihkan untuknya (walaupun berasal dari
resep dokter) cocok atau sebaliknya. Adapun tanda-tanda kalau susu formula
yang diberikan padanya tidak cocok, yaitu bayi sering menangis bila akan/sedang
diberi susu formula, sering memuntahkannya, dan terjadi sembelit,
Utami Sri Rahayu.
Ilustrator Pugoeh
Konsultan
ahli:
Dr.
Naomi Esthernita Dewanto, Sp.A.,
dari
Siloam Hospitals |