|
TBC atau TB saat ini telah berkembang
menjadi penyakit infeksi global dan pembunuh nomor satu di dunia. Tidak
kurang dari 8 juta orang terjangkit tiap tahunnya, 2 juta di antaranya
meninggal dunia. Jumlah pasien TB (tuberkulosis) di Indonesia menempati
posisi ketiga di dunia setelah India dan Cina. Sungguh sangat menyedihkan.
Itulah alasan mengapa pencegahan sedini mungkin harus dilakukan. Caranya
dengan memberikan suntikan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) di
usia bayi. Vaksin yang ditemukan oleh Dr. Albert Calmette dan peneliti
bernama Camille Guerin pada 24 April 1927 ini, mengandung kuman TB yang
masih hidup tapi sudah dilemahkan.
Namun sebagaimana lazimnya usaha manusia,
tidak ada pencegahan yang sempurna. Demikian pula dengan vaksin BCG yang
tidak memiliki efektivitas 100% untuk mencegah penyakit TB. Karenanya,
pemberian vaksin ini hanya merupakan tindakan memperkecil risiko tertular.
Jadi tetap saja, seorang anak yang telah
mendapatkan vaksin BCG masih bisa tertulari. Misal, bila daya tahan tubuh
anak sedang menurun dan berlangsung kontak terus-menerus dengan penderita
TB. Otomatis si anak selalu mendapat semprotan kuman Mycobacterium
tuberculosis, agen utama penyebab penyakit TB. Atau, bisa jadi kuman
yang ditularkan sangat ganas dan sangat banyak sehingga memengaruhi
benteng pertahanan anak.
Fakta tersebut tentu saja memancing
pertanyaan, kalau begitu untuk apa dilakukan vaksinasi BCG? Toh,
kemungkinan tertular TB tetap ada. Eit, nanti dulu, vaksinasi jelas
berguna! Kalaupun anak-anak penerima vaksin BCG tertular bakteri TB,
kondisinya tidak separah pada penderita tanpa vaksin BCG.
Jelas, imunisasi BCG tetap bermanfaat
untuk memperkecil kemungkinan tertular sekaligus memperingan gejala bila
terjangkit TB.
Hal penting lain untuk mencegah penularan
TBC adalah menghindari anak melakukan kontak langsung dengan penderita TB
dewasa. Kuman penyebab TB mudah sekali menular melalui droplet (butir-butiran
air di udara) yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun
bersin.
Konsultan
ahli:
Dr.
Darmawan Budi Setyanto, SpA(K),
ahli
Respirologi Anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
VAKSIN
BCG BERAPA KALI?
* Jumlah
Pemberian
Cukup 1 kali, karena vaksin BCG berisi
kuman hidup sehingga antibodi yang terbentuk akan memiliki kualitas yang
sama dengan yang terinfeksi secara alami. Oleh karena itu, antibodi yang
dihasilkan melalui vaksinasi sudah tinggi. Berbeda dari vaksin yang berisi
kuman mati, umumnya memerlukan booster atau pengulangan.
*
Usia Pemberian
Kelompok umur yang rentan terserang TB
adalah usia balita, terutama usia kurang dari 1 tahun. Hal ini disebabkan
anak umumnya punya hubungan erat dengan penderita TB dewasa, seperti
dengan ibu, bapak, nenek, kakek, dan orang lain yang serumah. Karena
itulah, vaksin BCG sudah diberikan kepada anak sejak berusia kurang dari 1
tahun, yaitu usia 2 bulan. Di usia ini sistem imun tubuh anak sudah cukup
matang untuk mendapat vaksin BCG. Namun, bila ada anggota keluarga yang
tinggal serumah atau kerabat yang sering berkunjung ke rumah menderita TB,
maka ada baiknya bayi segera diimunisasi BCG setelah lahir.
Bila umur bayi sudah terlewat dari 2
bulan, sebelum dilakukan vaksinasi hendaknya jalani dulu tes Mantoux (tuberkulin).
Gunanya untuk mengetahui, apakah tubuh si anak sudah kemasukan kuman Mycobacterium
tuberculosis atau belum. Vaksinasi BCG dilakukan apabila tes Mantoux
negatif.
*
Lokasi Penyuntikan
Yang dianjurkan oleh WHO adalah di lengan
kanan atas. Cara menyuntikkannya pun membutuhkan keahlian khusus karena
vaksin harus masuk ke dalam kulit. Bila dilakukan di paha, proses
menyuntikkannya lebih sulit karena lapisan lemak di bawah kulit paha
umumnya lebih tebal. Para orangtua juga tak perlu khawatir dengan luka
parut yang bakal timbul di lengan, karena umumnya luka parut tersebut
tidaklah besar. Jadi tidak akan merusak estetika keindahan lengan anak
Anda kelak.
*
Berikan Vaksin Saat Anak Sehat
Tak perlu ragu melakukan vaksinasi bila
anak hanya sekadar batuk pilek. Vaksinasi sebaiknya ditunda dulu apabila
anak demam tinggi atau sedang menderita penyakit yang berat (misalnya
sampai perlu perawatan di rumah sakit). Alangkah baiknya bila melakukan
konsultasi terlebih dahulu kepada yang lebih ahli sebelum melakukan
vaksinasi.
*
Tanda Keberhasilan Vaksinasi
Tanda keberhasilan vaksinasi BCG berupa
bisul kecil dan bernanah pada daerah bekas suntikan yang muncul setelah
4-6 minggu. Benjolan atau bisul setelah vaksinasi BCG memiliki ciri yang
sangat khas dan berbeda dari bisul pada umumnya. Bisul tersebut tidak
menimbulkan rasa nyeri, bahkan bila disentuh pun tidak terasa sakit. Tak
hanya itu, munculnya bisul juga tak diiringi panas. Selanjutnya, bisul
tersebut akan mengempis dan membentuk luka parut.
*
Bila Ada Reaksi Berlebih
Tingkatkan kewaspadaan bila ternyata
muncul reaksi berlebih pascavaksinasi BCG. Misal, benjolan atau bisul itu
lama tidak sembuh-sembuh dan menjadi koreng. Atau, malah ada pembengkakan
pada kelenjar di ketiak (sekelan). Ini dapat merupakan pertanda si anak
pernah terinfeksi TB sehingga menimbulkan reaksi berlebih setelah divaksin.
Sebaiknya segera periksakan kembali ke dokter.
Penting diketahui, setiap infeksi selalu
diikuti oleh pembesaran kelenjar limfe setempat (regional) sehingga bisa
diraba. Jadi infeksi ringan akibat vaksinasi di lengan atas akan
menyebabkan pembesaran kelenjar limfe ketiak. Jika infeksi terjadi pada
pangkal paha, akan terjadi pembesaran kelenjar limfe di lipatan paha.
Namun efek samping ini tidak terjadi pada semua bayi. Yang berisiko
apabila bayi tersebut sudah terinfeksi TB sebelum vaksinasi.
*
Bila Tak Timbul Benjolan
Orangtua tak perlu khawatir bila ternyata
tidak muncul bisul/benjolan di daerah suntik. Jangan langsung beranggapan
bahwa vaksinasinya gagal. Bisa saja itu terjadi karena kadar antibodinya
terlalu rendah, dosis terlalu rendah, daya tahan anak sedang menurun (misalnya
anak dengan gizi buruk) atau kualitas vaksinnya kurang baik akibat cara
penyimpanan yang salah.
Meski begitu, antibodi tetap terbentuk
tetapi dalam kadar yang rendah. Jangan khawatir, di daerah endemis TB (penyakit
TB terus-menerus ada sepanjang tahun) seperti Indonesia, infeksi alamiah
akan selalu ada. Booster-nya (ulangan vaksinasi) bisa didapat dari
alam, asalkan anak pernah divaksinasi sebelumnya.
Konsultan
ahli:
Prof.
DR. Dr. Sri Rezeki S Hadinegoro, Sp.A(K),
Staf
pengajar pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI dan
Ketua
Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
Utami Sri Rahayu. Foto:
Dok. nakita |