|
Apakah
yang akan dilakukan jika melihat kamar si kecil berantakan? Mungkin Anda
akan menegur, "Ayo bereskan kamarmu!" Tidak cuma itu, barangkali
Anda pun memberikan ancaman, "Kalau enggak dirapikan, kamu enggak
boleh main di kamarmu lagi." Memang, teguran dan ancaman itu efektif
mendisiplinkan anak dalam jangka pendek. Anak bergegas merapikan mainannya.
Tapi bagaimana untuk jangka panjang? Jawabannya menurut
Indri Savitri, Psi.,
tidaklah menjamin. Anak bertindak hanya kalau ditegur atau dimarahi. Nah,
memangnya enggak capek selalu menegur dan memarahi anak? Lama-lama si
kecil juga sebal, lantas tidak mengacuhkan teguran terhadapnya. Anda pun
lalu memberikan teguran yang lebih keras. Begitu seterusnya hingga suatu
saat anak kebal terhadap teguran orangtua. Repot, kan?
Karena itu, Indri mencoba
memberikan solusi. Caranya dengan mengajarkan konsekuensi kepada anak.
Tindakan ini lebih baik daripada memberikan hukuman karena dengan tahu
konsekuensi anak dibiasakan berpikir dulu sebelum bertindak. Dengan
demikian, ia belajar mengambil keputusan yang terbaik karena sebelumnya
sudah berpikir apa untung ruginya kalau dia begini atau begitu.
Dengan pengenalan
konsekuensi, anak juga dilatih untuk tidak gampang meniru perilaku negatif
teman-temannya. Ini sangat berkaitan dengan rasa percaya dirinya; punya
pendapat sendiri, juga tahu apa tugasnya tanpa perlu diminta apalagi
ditegur. Bagusnya lagi, sadar konsekuensi dapat mengurangi sikap agresif
yang biasa ditemukan pada anak-anak prasekolah.
PEMBIASAAN
DULU
Bagaimana menjelaskan
konsekuensi pada anak? Hal pertama yang sebaiknya dilakukan, tutur
psikolog dari LPT UI ini, adalah:
*
Pembiasaan. Ingat, sebuah perilaku
tidak serta merta terbentuk secara instan. Dengan pembiasaan anak bisa dan
mau melakukan sesuatu secara kontinu. Saat harus membereskan kamar,
misalnya, anak tidak langsung bisa dan terbiasa melakukannya setiap hari.
Melainkan pertama-tama orangtua harus mengajarkan bagaimana membereskan
kamar yang baik sesuai dengan kemampuannya. Merapikan seprei, bantal,
kasur, mainan, dan semua pernak-pernik yang ada di kamar. Itu saja tidak
cukup. Selanjutnya anak harus dibiasakan melakukan rutinitas itu.
*
Konsekuensi. Setelah pembiasaan,
barulah si kecil bisa diajarkan soal dampak jika tidak melakukan tugasnya.
Jika itu mengenai kerapian kamarnya, yang paling nyata adalah sulit
mencari barang atau mainannya, kamar tidak enak dilihat dan tidak nyaman
untuk tidur. Itu pun mesti dilakukan secara berulang-ulang agar anak paham.
Maklum, pola berpikirnya masih here and now alias jangka pendek.
Karena itu, fokuslah dulu pada konsekuensi jangka pendek.
*
Hindari kata "jangan" atau " tidak
boleh". Kata-kata itu hanya akan membuat anak malas
bereksplorasi, atau bahkan sengaja melanggar larangan. Akan lebih baik
jika orangtua memakai kata "sebaiknya". Jadi bukan, "Jangan
lari-lari nanti jatuh" melainkan, "Sebaiknya jalan hati-hati, ya,
biar enggak jatuh."
*
Hargai anak. Si kecil adalah individu
yang memiliki pendapat, perasaan, dan pemikiran sendiri. Hindari sikap
orangtua seolah-olah tahu dan berhak mengendalikan permasalahan. Posisikan
orangtua sebagai sahabat sejati anak. Lewat cara itu, anak bisa
mengungkapkan ide dan pemikirannya sendiri. Jika anak merasa dihargai,
maka ia pun akan menghargai orangtuanya.
*
Diskusikan secara hangat dan terbuka.
melalui diskusi anak diajak bertukar pikiran lewat dialog. Dengan begitu,
lebih mudah baginya untuk mencerna penjelasan orangtua soal konsekuensi
sebuah tindakan.
*
Beri penghargaan. Jika anak sudah bisa
melaksanakan tugasnya tanpa disuruh, maka berikan belaian, pelukan, dan
ciuman sebagai penghargaan kita terhadapnya. Ini sangat berarti buat anak.
Mereka tidak hanya merasa dihargai tapi juga sekaligus dicintai. Tindakan
memberi penghargaan itu akan memperkuat perilaku positifnya.
*
Hindari amarah. Jika anak tidak
menggubris anjuran kita, kadang ada baiknya membiarkan dia menerima
konsekuensi ketimbang marah. Anda tentu bisa menimbang mana perilaku yang
cukup aman bila dibiarkan dan mana yang tidak. Pengalaman akan menjadi
cambuk bagi anak untuk memperbaiki perilakunya.
JANGAN
KAKU
Namun, Indri mewanti-wanti,
agar kita berhati-hati saat menjelaskan konsekuensi dalam situasi dan
kondisi tertentu. Contoh, anak memukul temannya, lalu teman itu
menjauhinya. Orangtua tidak bisa langsung mengatakan, "Kamu jangan mukul
teman, nanti enggak ada yang mau main sama kamu, lo." Asal tahu saja,
urusan konflik dengan teman sangatlah kompleks. Penanganannya harus dengan
melihat penyebab yang melatarbelakanginya. Mungkin saja saat itu mainan
anak dire-but atau dia dipukul duluan, sehingga reaksi pertama yang
dilakukannya adalah memukul. Meski tindakan memukul perlu dikoreksi, tapi
reaksi negatif seperti itu masih terbilang wajar. Anak berhak membela diri
jika ada orang lain yang mengganggunya. Itu adalah bagian dari pertahanan
diri anak. Justru jika anak membiarkan aksi itu terjadi, berarti ia belum
bisa bersikap tegas memperjuangkan kepentingannya tanpa mengganggu
kepentingan dan hak orang lain. Misalnya, beri dia anjuran seperti ini,
"Kalau ada yang mengganggu jangan langsung dipukul. Lebih baik Kakak
bilang, 'Jangan rebut mainanku, dong!' atau 'Kalau mau main gantian,
dong!' Yang penting Kakak enggak mukul."
Kecuali, sikap negatif
seperti memukul atau menjahili teman itu sudah menjadi kebiasaan. Ini bisa
dikoreksi dengan menjelaskan konsekuensi. Terangkan dampak yang dirasakan
korban pemukulan. "Temanmu pasti kesakitan. Nanti dia enggak mau main
lagi denganmu." Biasanya anak akan belajar dari ling-kungan dan
memperbaiki perilakunya agar bisa diterima. Kesadaran ini tinggal kita
perkuat dari waktu ke waktu.
Saeful
Imam. Foto: Ferdi/nakita |