Biasanya
timbul rasa khawatir melihat kemulusan pipi bayi terganggu bercak berupa
bulatan putih dengan pinggiran berbintik-bintik merah atau
berbintil-bintil. Ada juga yang tampak seperti bercak berkerak, atau
terlihat basah seperti lecet/keropeng. Meski sering dibersihkan, toh
bercaknya tak kunjung hilang, bahkan malah meluas.
Kalangan awam sering menyebut bercak
seperti itu dengan istilah eksim susu. Apa sih sebenarnya eksim susu?
Mengapa dikatakan demikian? Apa memang gara-gara susu yang dikonsumsi bayi?
Boleh jadi karena orangtua mengira bahwa sisa susu/ASI yang tertinggal di
pipi bayilah penyebabnya. Akan tetapi jangan lantas menuduh bahwa eksim
susu timbul gara-gara ASI, lo! Salah besar anggapan seperti itu. Bisa-bisa
ibu lantas berpikir untuk tidak memberikan ASI kepada bayinya padahal ASI
merupakan makanan terbaik bagi bayi.
Dalam literatur kedokteran, secara
eksplisit tidak pernah disebut istilah milk eczema atau eksim susu.
Yang ada infantile eczema atau eksim pada bayi. Jenis eksim ini
memang umumnya terjadi dimulai di pipi, tetapi jika sudah parah bisa saja
mengenai bagian tubuh lainnya, terutama pada lipatan-lipatan seperti
belakang telinga, leher, paha dan sebagainya.
Benarkah ASI penyebabnya? Sama sekali
tidak benar. Tetapi perlu diketahui bahwa apa pun, apakah itu sisa ASI,
susu formula, air liur bayi, sampai bahan makanan yang dikonsumsi bayi,
jika menempel di kulit dan tak segera dibersihkan akan berpeluang menjadi
bahan yang dapat memicu munculnya eksim. Bahan-bahan iritan atau penyebab
iritasi ini akan bereaksi, terutama pada kulit anak yang memang sudah
memiliki bakat alergi atau yang dikenal dengan istilah atopik. Lokasi
eksim dapat dipakai sebagai bahan perkiraan kemungkinan pemicu. Misalnya,
eksim di pipi mungkin akibat sisa makanan, eksim di bokong atau kemaluan
dipicu oleh air seni atau tinja yang tidak segera dibersihkan, sementara
eksim di punggung, dada, atau perut mungkin dipicu pemakaian minyak
penghangat yang berlebihan. Sementara pada bayi lain yang jelas-jelas tak
punya bakat atopik, bahan-bahan tersebut mungkin saja tak jadi masalah.
MENGHILANG
ATAU BERLANJUT?
Alergi sebetulnya merupakan bakat alias
bersifat turunan. Nah, untuk mengetahui apakah bayi kita berbakat atopik
atau tidak, orangtua bisa mengamati sekaligus menelusuri apakah ada
anggota keluarga lain yang juga memperlihatkan tanda-tanda alergi. Jangan
salah, yang namanya alergi tak melulu hanya muncul di kulit, tapi bisa
juga muncul pada sistem pernapasan dalam bentuk asma, sering bersin (rhinitis)
dan sebagainya. Berbagai faktor dapat menjadi pemicunya, misal alergi
dingin, alergi seafood, alergi debu, dan sebagainya.
Selain ada bakat dan kontak langsung
dengan bahan-bahan iritan yang jadi pemicunya, eksim biasanya tak akan
muncul tanpa adanya garukan. Celakanya, seperti bentuk eksim lainnya,
eksim di pipi ini juga terasa bukan main gatalnya. Meskipun respons
garukan bayi belum terkoordinasi, tetap saja bisa diperhatikan bahwa bayi
yang berbakat atopik akan punya hobi menggesek-gesekkan bagian wajah atau
tubuhnya ke bantal maupun ke tangan.
Umumnya, pada sekitar 90% atau 9 dari 10
anak yang berbakat alergi dan mengalami eksim susu, gejala tersebut akan
menghilang perlahan paling lama pada usia 2 tahunan. Soalnya, dengan
bertambahnya usia, daya tahan tubuhnya pun akan meningkat. Sementara pada
10% anak sisanya, kondisi ini bisa berlanjut menjadi eksim tipe anak.
Lokasi eksim biasanya tak lagi di pipi, tapi berpindah ke lipatan-lipatan
tubuh, seperti lipat siku, leher, lutut dan lainnya. Nah, mayoritas (90%)
eksim tipe anak ini juga akan menghilang selambat-lambatnya di usia 12-13
tahun. Sementara 10% sisanya dapat masuk ke bentuk eksim dewasa. Jenis
eksim ini adakalanya diistilahkan sebagai hand dermatitis atau housewifes
dermatitis karena kebanyakan terjadi pada tangan dan umumnya dialami
kaum ibu. Tak heran karena merekalah yang paling sering terkontak bahan
iritan, khususnya sisa-sisa deterjen.
PENGOBATAN
EKSIM
Untuk mengatasi eksim pada bayi, jika
orangtua tahu persis dalam keluarganya "mengalir" bakat alergi,
maka bayi harus benar-benar diupayakan terhindar dari kontak dengan bahan
pemicu. Tentu saja bukan berarti jika bahan pemicunya susu formula/ASI,
lantas dihentikan pemberiannya. Melainkan segera bersihkan wajahnya setiap
kali sehabis kontak dengan ASI/susu formula.
Tergantung pada beratnya gangguan eksim
ini, dokter mungkin akan memberikan obat luar saja atau kombinasi dengan
obat dalam. Pemakaian obat eksim ini tentunya harus dengan resep dokter.
Jenis obat yang diberikan, umumnya golongan steroid, yang jenisnya sangat
beragam dengan potensi yang juga sangat variatif. Nah, dokter akan
menentukan, jenis dan potensi obat yang harus disesuaikan dengan kondisi
eksim saat ditangani.
Penting diketahui cara pemakaian
obat-obatan serupa ini. Apalagi untuk kelainan yang sifatnya sudah bawaan
seseorang dan dapat berlangsung lama atau kambuh-kambuhan.
Biasanya obat dioles sehari dua kali
sesudah mandi. Jangan menghentikan pemakaian begitu saja karena bisa
memunculkan kekambuhan. Pemakaiannya harus dikurangi secara perlahan/bertahap
jika memang memperlihatkan kemajuan/perbaikan.
DIJAMIN
TIDAK MENULAR
Mengenai peluang kekambuhannya, 90%
memang akan sembuh sejalan dengan meningkatnya usia. Namun, tak bisa
dipungkiri kalau ada beberapa kasus yang akan berlangsung seumur hidup.
Untuk itu, orangtua harus tetap mengawasi kondisi anaknya karena semakin
besar usia si anak, penyebab eksimnya bisa saja mengalami pergeseran.
Kalau pada usia-usia awal umumnya makanan merupakan pemicu, maka semakin
besar biasanya faktor stres merupakan pemicunya. Kemungkinan lain bisa
saja bahan pewarna, pewangi, antiseptik di sabun mandi, sinar matahari,
atau kaporit terutama bagi anak yang hobi berenang.
Itulah sebabnya diperlukan konsultasi
yang baik dengan dokter yang menanganinya, terutama mengenai cara
pengobatan dan trik-trik pencegahannya.
Jika pemahamannya sudah benar,
kemungkinan membaiknya semakin besar. Perlu diketahui pula, bahwa bentuk
kelainan alergi ini, bisa saja berubah. Misalnya, anak yang mengalami
eksim saat usia bayi, mungkin saja suatu saat mengalami asma atau rhinitis.
Namun, jangan khawatir, eksim ini tidak menular pada orang lain.
BISAKAH DIHINDARI?
Berikut beberapa upaya
umum yang dapat dilakukan orangtua agar bayinya terhindar dari eksim susu:
*
Ketahui ada tidaknya bakat alergi dalam keluarga. Jika bakat ini sudah
bisa dipastikan, maka pemberian ASI eksklusif akan sangat meminimalkan
risiko alergi. Hal ini tak lain karena di usia 0-6 bulan, bayi masih
sangat rentan. Pemberian susu sapi atau formula di usia dini dapat
meningkatkan risiko timbulnya alergi.
*
Sedapat mungkin hindari bayi dari polutan di sekitarnya, seperti asap
rokok dan asap kendaraan.
* Sehabis
menyusu atau makan, segera bersihkan kulitnya agar tidak terkontak dengan
bahan pemicu. Tak hanya sisa-sisa makanannya saja, tapi bisa juga air
liurnya yang mengeces.
*
Bilas pakaian bayi sampai benar-benar bersih dari deterjen. Hati-hati
dengan pemakaian pewangi atau pelicin pakaian yang berlebihan.
* Gunakan
minyak telon dan sejenisnya secukupnya saja.
* Bersihkan
dan keringkan segera tubuh bayi dari keringat.
* Hindari
atau setidaknya minimalkan penggunaan bahan logam seperti cincin atau
anting-anting untuk bayi perempuan, apalagi bila sudah ada tanda-tanda
eksim.
Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/NAKITA
Konsultan
ahli:
dr.
Ari Muhandari Ardhie, Sp.KK.,
dari
RSAB Harapan Kita, Jakarta |