|
"Hati-hati,
lo, sekarang musim tampek. Kemarin saja anak tetangga saya kena. Sekarang
anak saya ketularan. Di seluruh tubuhnya timbul bercak-bercak merah dan
badannya panas sekali," begitu peringatan seorang ibu kepada
teman-temannya. Apa sih yang dimaksud dengan tampek itu? Dijawab oleh dr.
Asti Praborini, SpA., yang akrab disapa Rini, tampek tak lain adalah
campak.
"Tampek merupakan
bahasa Jawa namun istilah Indonesianya adalah campak. Sedangkan orang dari
Irian menyebutnya serampah. Dalam bahasa latin disebut sebagai morbili
atau rubeolla. Sementara dalam bahasa Inggris, measles,"
tutur spesialis anak dari RS MH Thamrin Internasional, Jakarta ini.
PENYEBAB
CAMPAK
Penyebab penyakit
campak adalah virus campak atau morbili. Pada awalnya, gejala campak agak
sulit dideteksi. Namun, secara garis besar penyakit campak bisa dibagi
menjadi 3 fase. Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung
sekitar 10-12 hari. Pada fase ini, anak sudah mulai terkena infeksi tapi
pada dirinya belum tampak gejala apa pun. Bercak-bercak merah yang
merupakan ciri khas campak belum keluar. Pada fase kedua (fase prodormal)
barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu, seperti batuk, pilek, dan
demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila melihat sesuatu, mata
akan silau (photo phobia). Di sebelah dalam mulutmuncul
bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Terkadang anak juga
mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun
naik, berkisar 38-40,5 derajat Celcius.
Fase ketiga ditandai
dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi.
Namun, bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan
merambat. Bermula dari belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan
kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi
juga tidak terlalu kecil.
Bercak-bercak merah ini
dalam bahasa kedokterannya disebut makulopapuler. Biasanya bercak memenuhi
seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, ini pun tergantung
padadaya tahan tubuh masing-masing anak. Bila daya tahan tubuhnya baik
maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Umumnya
jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya.
Bercak merah pun makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi),
lalu rontok atau sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa
penyembuhan yang butuh waktu sampai 2 minggu.
CARA
PENULARAN
Yang patut diwaspadai,
penularan penyakit campak berlangsung sangat cepat melalui perantara udara
atau semburan ludah (droplet) yang terisap lewat hidung atau mulut.
Penularan terjadi pada masa fase kedua hingga 1-2 hari setelah bercak
merah timbul. Sayangnya, masih ada anggapan yang salah dalam masyarakat
akan penyakit campak. Misalnya, bila satu anggota keluarga terkena campak,
maka anggota keluarga lain sengaja ditulari agar sekalian repot. Alasannya,
bukankah campak hanya terjadi sekali seumur hidup? Jadi kalau waktu kecil
sudah pernah campak, setelah itu akan aman selamanya. Ini jelas pendapat
yang tidak benar karena penyakit bukanlah untuk ditularkan. Apalagi dampak
campak cukup berbahaya.
Anggapan lain yang
patut diluruskan, yaitu bahwa bercak merah pada campak harus keluar semua
karena kalau tidak malah akan membahayakan penderita. Yang benar, justru
jumlah bercak menandakan ringan-beratnya campak. Semakin banyak jumlahnya
berarti semakin berat penyakitnya. Dokter justru akan mengusahakan agar
campak pada anak tidak menjadi semakin parah atau bercak merahnya tidak
sampai muncul di sekujur tubuh.
Selain itu, masih
banyak orang tua yang memperlakukan anak campak secara salah. Salah
satunya, anak tidak dimandikan. Dikhawatirkan, keringat yang melekat pada
tubuh anak menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk
kulit dengan tangan yang tidak bersih sehingga terjadi infeksi berupa
bisul-bisul kecil bernanah. Sebaliknya, dengan mandi anak akan merasa
nyaman.
PENGOBATAN
GEJALA
Pengobatan campak
dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang terjadi akan
ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi
obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati
batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat antikejang bila anak punya bakat
kejang.
Intinya, segala gejala
yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa berbahaya.
Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu
diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan
dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan,
gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang
diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi.
Komplikasi dapat
terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan
tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah
kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis).
Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
Gejala ensefalitis
yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan panasnya
susah turun karena sudah terjadi infeksi "tumpangan" yang sampai
ke otak. Lain halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk
berdahak, pilek, dan sesak napas. Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya
bukan karena penyakit campak itu sendiri, melainkan karena komplikasi.
Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang gizi.
PENANGANAN
YANG BENAR
Inilah
yang dianjurkan Rini:
* Bila campaknya ringan,
anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi
komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
* Anak campak perlu
dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang
lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi campak.
* Beri penderita asupan
makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit
infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan
ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh
penderita yang masih lemah.
* Lakukan pengobatan
yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
* Jaga kebersihan tubuh
anak dengan tetap memandikannya.
* Anak perlu
beristirahat yang cukup.
PENTINGNYA
IMUNISASI CAMPAK
Semua
penyakit yang disebabkan virus bersifat endemis. Artinya bisa muncul kapan
saja sepanjang tahun, tidak mengenal musim. Oleh karena itu, menurut Rini,
campak pada anak perlu dicegah dengan imunisasi. Apalagi campak banyak
menyerang anak usia balita. Seharusnya, vaksin campak tak memiliki efek
samping, tapi karena vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan, maka bisa
saja satu dari sekian juta virusnya menimbulkan efek samping. Umpamanya,
setelah diimunisasi campak, anak jadi panas atau diare.
Sebenarnya bayi
mendapatkan antibodi dari ibunya melalui plasenta saat hamil. Namun,
antibodi dari ibu pada tubuh bayi itu akan semakin menurun pada usia
kesembilan bulan. Lantaran itu, pemberian imunisasi campak dilakukan di
usia tersebut. Kemudian, karena tubuh bayi di bawah 9 bulan belum bisa
membentuk kekebalan tubuh dengan baik maka pemberian vaksinasi campak
diulang di usia 15 bulan dengan imunisasi MMR (Measles, Mumps and
Rubella). Dengan vaksinasi ini diharapkan bilapun anak terkena campak,
maka dampaknya tidak sampai berat atau fatal karena tubuh sudah memiliki
antibodinya.
Hanya saja, karena saat
ini terdapat kecurigaan bahwa bahan pengawet pada vaksin MMR dapat memicu
autisme, akhirnya pemberian imunisasi campak tidak diulang. Menurut Rini,
kekhawatiran itu tidak perlu ada lagi jika anak sudah mencapai usia tiga
tahun dan mengalami proses tumbuh kembang yang normal. "Sebaiknya
anak divaksinasi saja. Boleh ditunda tapi jangan sampai ditiadakan. Sampai
besar pun masih bisa divaksinasi. Lebih baik mencegah daripada mengobati."
BEDANYA
DENGAN CAMPAK JERMAN
Campak
Jerman atau rubela berbeda dari campak biasa. Pada anak, campak jerman
jarang terjadi dan dampaknya tak sampai fatal. "Kalaupun ada biasanya
terjadi pada anak yang lebih besar, sekitar usia 5 sampai 14 tahun,"
kata Rini.
Gejalanya hampir sama
dengan campak biasa, seperti flu, batuk, pilek dan demam tinggi. Namun,
bercak merah yang timbul tidak akan sampai terlalu parah dan cepat
menghilang dalam waktu 3 hari. Nafsu makan penderita juga biasanya menurun
karena terjadi pembengkakan limpa.
Yang perlu
dikhawatirkan jika campak jerman ini menyerang wanita hamil karena bisa
menular pada janin melalui plasenta (ari-ari). Akibatnya, anak yang
dilahirkan akan mengalami sindrom rubela kongenital. Mata bayi akan
mengalami katarak begitu lahir, ada ketulian, dan ada pengapuran di otak,
sehingga anak bisa mengalami keterbelakangan perkembangan.
Jadi, setiap anak
perempuan sebaiknya mendapat vaksinasi rubela untuk melindungi janinnya
bila ia hamil kelak. Pada anak perempuan kekebalan ini nantinya akan
diturunkan kepada bayinya hingga berusia 9 bulan. Rini pun memandang
perlunya vaksinasi rubela pada pria, karena campak jerman yang mungkin
menjangkitinya bisa menulari sang istri yang tengah hamil.
Dedeh
Kurniasih. Ilustrator: Pugoeh |