FirstFlag
SEMINAR nakita di YOGYA: DIBANJIRI PESERTA

Antusiasme peserta seminar menambah wawasan jelas tidaklah sia-sia. Kepiawaian pemateri menjadikan seminar yang digelar di kota Gudeg ini semakin hidup.

Siapa bilang kalangan ibu di kota Yogya hanya berminat mengikuti tradisi Suro

Siapa bilang kalangan ibu di kota Yogya hanya berminat mengikuti tradisi Suro-an yang rutin digelar di keraton? Antusiasme mereka mengikuti seminar yang digelar nakita di Hotel Santika ternyata tak kalah besar. Ini bisa terlihat dari jumlah pengunjung yang membanjiri tempat seminar. Tak kurang dari 377 peserta memenuhi Yogyakarta Hall yang berdaya tampung 250 orang. Meski tiket seminar sudah ludes terjual sehari sebelumnya, masih banyak calon peserta dari luar daerah yang tetap menelepon agar mereka bisa mengikuti seminar.

Soal budaya tepat waktu? Mereka pun patut diacungi jempol! Pukul 8.30 WIB atau setengah jam sebelum seminar berlangsung, kursi sudah penuh diduduki peserta. Akibatnya, peserta yang datang pas waktu atau malah agak telat harus rela berdiri beberapa saat sebelum petugas seminar mengambilkan kursi tambahan. Sambil menunggu kursi tambahan, mereka pun melihat-lihat stan Cussons Baby yang menjual aneka produk perawatan bayi dan anak juga stan SGM 3 yang membagikan free drink. Hal itu berlangsung hingga pukul 10.00 saat Ira wibowo yang menjadi moderator memperkenalkan pembicara pertama Dr. Supra Wimbarti.

Saat kursi tambahan sudah tak mampu menampung para peserta seminar, mereka rela berjajar berdiri di belakang. "Acara seminar bertema seperti ini sangat jarang diadakan di Yogya. Makanya kami tak menyia-nyiakan acara yang digelar tabloid nakita," tutur Edi, bapak dari dua anak yang datang dari daerah Kentungan. Hal ini dibenarkan oleh Tini yang datang jauh-jauh dari kota Semarang. "Saya pikir tema seminar ini sangatlah menarik. Sebab anak-anak sendiri kan merupakan sosok yang sulit dipahami. Saya ingin tahu cara berkomunikasi yang baik dengan anak. Karena itu, saya nekat datang meski tiket seminar sudah habis terjual."

PENTINGNYA KOMUNIKASI EFEKTIF

Mbak Im, sapaan akrab psikolog ternama di Yogya ini menegaskan pentingnya orang tua mengetahui cara-cara anak berkomunikasi. "Selama ini kita memahami komunikasi itu identik dengan komunikasi verbal. Kalau anak ngomong, itu berarti ia sedang berkomunikasi. Jika diam, dia sedang tidak berkomunikasi." Anggapan tersebut jelas-jelas keliru, sebab banyak sekali cara anak berkomunikasi. "Komunikasi tidak hanya menyangkut faktor verbal saja seperti ngobrol, tapi juga bentuk-bentuk komunikasi nonverbal lainnya seperti diam, marah, mogok sekolah dan sebagainya."

Mbak Im mencontohkan anak yang menunjukkan perilaku mengganggu, misalnya, sebenarnya saat itu sedang berkomunikasi. Anak sedang mencari perhatian dari orang tuanya. Sifat cuek orang tua membuat anak bosan dan jengkel lalu dilampiaskan dengan mengganggu aktivitas orang tuanya. Orang tua pun mesti paham bahwa kemampuan komunikasi balita berbeda-beda. Ada yang baru berusia dua tahun tapi sudah lancar berbicara. Akan tetapi ada juga yang sudah berumur tiga tahun lebih belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Itulah sebabnya, orang tua harus menyesuaikan bentuk komunikasi dengan kemampuan dan usia anak.

Untuk anak-anak batita, contohnya, orang tua mesti melakukan beberapa cara agar komunikasi berlangsung efektif. Salah satunya adalah dengan mengulang-ulang perintah yang disebutkan pada anak batita. Apalagi jika perintah yang diucapkan mengandung unsur kata-kata baru. Maklum, perbendaharaan kata anak-anak usia ini masih sangat terbatas. Lewat pengulangan, selain bisa memahami perintah dengan jelas, anak bisa menambah kosakata baru dalam memorinya.

Agar komunikasi bisa lebih dipahami, orang tua juga mesti mengiringi kalimatnya dengan ekspresi wajah yang "menyengat". Untuk larangan, orang tua bisa pasang muka agak cemberut atau jika komunikasinya mengandung unsur riang, barengi komunikasi dengan senyuman. Sesuaikan pula tinggi rendah suara dengan isi pembicaraan. Yang tak kalah penting, agar anak bisa nyaman berkomunikasi, maka orang tua harus berusaha menyejajarkan diri dengan si anak. Yakni dengan berjongkok atau mencondongkan tubuh ke depan agar anak merasa sejajar.

Menurutnya, komunikasi bisa diterapkan lewat beberapa permainan dan salah satunya adalah dongeng. Lewat dongeng, orang tua bisa berkomunikasi dengan anak tentang isi cerita sementara anak juga bisa mengembangkan imajinasinya. Banyak pula permainan kreatif lain yang bisa meningkatkan kemampuan komunikasi anak, seperti main kuda-kudaan atau main masak-masakan.

SANG KAKEK YANG ATRAKTIF

Tak bisa dipungkiri jika salah satu daya tarik bagi berbondong-bondongnya warga Yogya menghadiri acara ini adalah hadirnya pakar pendidikan DR. Arief Rachman M.Pd sebagai pembicara kedua. Caranya membawakan materi yang sedemikian memikat disertai humor-humor segar benar-benar mampu membuat peserta terpaku di tempat duduknya. Kakek dari seorang cucu ini begitu atraktif menyampaikan makalahnya: bergerak dari satu sudut ke sudut lainnya, dari depan ke belakang "hanya" untuk menghampiri peserta yang bertanya. Keruan saja hal ini membuat peserta kian bersemangat tergerak untuk bertanya dan terus bertanya.

Salah satunya, ibu Rasmini menanyakan seleksi penerimaan siswa di TK yang begitu ketat. Agar bisa masuk, para calon murid dites berbagai kemampuan, seperti membaca bahkan naik tangga tiga lantai. Menanggapi hal itu, Arief hanya menjawab pendek. "Ya, sudah sediakan saja tangga yang tinggi di rumah. Beres kan?" ujarnya membuat peserta seminar tergelak. Baru beberapa saat kemudian, Arief memberi jawaban sebenarnya. Kita ini ada di zaman yang salah. Maksudnya, ada beberapa bentuk pemaksaan yang membuat anak harus menguasai keterampilan di luar kesanggupan perkembangannya. Caranya pun membuat anak-anak terkungkung oleh stres.

Misalnya anak umur 4-5 tahun yang harus sudah bisa membaca atau malah menguasai bahasa Inggris. "Memang tidak salah, tapi hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak. Sampaikanlah materi tersebut dengan cara menyenangkan seperti bermain."

Sementara ibu Aisyah dari Bantul menanyakan tentang masalah anaknya yang cuek dan tak bisa diajak berkomunikasi. Segera Arief menukas, "Agar orang tua bisa memiliki hubungan akrab dengan anaknya, maka ia harus punya ilmunya, yaitu ilmu maklum." Artinya, orang tua harus tahu penyebab anak berperilaku demikian. Bisa saja anak memang sedang marah hingga tidak bisa diajak berkomunikasi. Kemungkinan lain, si orang tualah yang memang bersikap otoriter hingga anak pun enggan bersikap terbuka.

Demo senam otak oleh psikolog perkembangan anak dari Universitas Indonesia Dra. Dini P. Daengsari, M.Si. akhirnya menutup jumpa dengan pembaca setia nakita di Yogya. Dini mempertunjukkan kebolehannya dalam gerak senam otak. Lewat panduannya, ibu-ibu diminta mengikuti gerakan-gerakan senam tersebut sekaligus cara mengatur pernapasan. Terbukti cara itu sangat mujarab. Ibu-ibu yang sudah kelelahan mengikuti seminar akhirnya bisa terlihat segar kembali.

Menurut Dini, senam otak merupakan serangkaian gerakan sederhana yang dapat mengoptimalkan fungsi otak. Hasilnya akan tercermin dari kemampuan manusia dalam memenuhi penyesuaian tuntutan hidup sehari-hari. Banyak sekali manfaat senam otak, di antaranya meningkatkan daya ingat dan konsentrasi, melipatgandakan energi tubuh sekaligus melegakan pernapasan. Dengan demikian senam otak sangat baik guna menjaga kesehatan dan stamina tubuh. 

Acara demi acara sudah selesai digelar. Kegembiraan peserta tak hanya berhenti di situ. Hanya dengan menjawab pertanyaan dari sponsor, pengunjung bisa mendapatkan hadiah yang sangat menarik. Nah, nantikan seminar nakita berikutnya.

Saeful Imam. Foto: Ipoel/nakita

 

Teropong edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari