|
Wanita
yang menuntut ilmu setinggi
mungkin dan meniti jenjang karier,
tak heran kalau tumbuh menjadi sosok yang serbamandiri. Baru setelah
sekian lama bekerja, seolah terjaga dari mimpi indah, terbersit pula niat
untuk mengakhiri masa lajangnya. Yang menjadi persoalan, tentu tak gampang
bagi si mandiri untuk membagi sebagian besar waktu dan perhatiannya dengan
pasangan.
Hal itu karena si
wanita sudah bertahun-tahun berkarier dan hidup sendiri, sementara
pernikahan sebetulnya merupakan jalinan hubungan dua individu berbeda yang
rumit dan kompleks seperti diungkapkan Yuni Lasti Faulinda, Psi.
Oleh karena itu banyak aspek yang harus disesuaikan agar perjalanan rumah
tangga bisa berlangsung mulus.
PERLU
ADAPTASI
Ketika memutuskan untuk
menjadi seorang istri, wanita mandiri amat butuh penyesuaian diri alias
adaptasi karena sebelumnya dia terbiasa menjalani hari demi hari tanpa
didampingi orang lain. Untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya pun, ia
seolah tak perlu bantuan orang lain.
Sekarang, setelah
memiliki pendamping hidup, si wanita mandiri ini tentu harus bisa berbagi
dengan sang suami. Misalnya, penghasilan bulanan yang biasanya digunakan
untuk kepentingan sendiri, setidaknya harus direlakan sebagian untuk
kebutuhan keluarga. Contoh lainnya, konsekuensi sebagai wanita karier yang
terkadang tugasnya di kantor menyita waktu yang tak sedikit.
Nah, setelah menikah,
dia harus mulai belajar mengelola waktunya sedemikian tertib agar ada
keseimbangan antara tanggung jawab sebagai seorang profesional dengan
tanggung jawab sebagai istri dan juga ibu. Dengan demikian, urusan
pekerjaan beres sementara anak dan suami pun tidak merasa terabaikan
karena kebutuhan mereka tetap terpenuhi.
Mau tidak mau, waktu
bersosialisasi untuk sekadar cari angin dengan teman dan relasi mesti
mulai dibatasi. Kalau sebelum menikah, sepulang kerja bawaannya kongkow
dilanjutkan tidur sampai siang di akhir minggu, kini tidak lagi. Si
mandiri kini harus pintar-pintar mengatur jadwal secara lebih ketat
mengingat di sisinya sudah ada suami (bahkan anak) tercinta yang
membutuhkan perhatian dan kehadirannya di rumah.
Artinya, ketika
memutuskan untuk menutup lembaran lajangnya dan membuka lembaran baru
dalam bentuk perkawinan, ada banyak hal yang harus dipikirkan dan
diupayakan kesesuaiannya. "Poin inilah yang sering dianggap sebagai
kesulitan terbesar sekaligus sebagai tantangan tersendiri bagi si wanita
mandiri untuk berusaha menyesuaikan dirinya."
Memang berbagai
penyesuaian atau adaptasi yang mesti dilakukan wanita bekerja akan lebih
banyak dibanding wanita yang memilih tidak berkarier dan
mengurus rumah tangga. Mengapa?
Karena urusan domestik relatif tak banyak "tuntutan" sementara
aktivitas sehari-hari si ibu bisa didedikasikan sepenuhnya untuk keluarga.
SEPAKATI
KOMITMEN
Menurut Yuni, ada dua
perkara yang akan dihadapi si wanita mandiri ketika memutuskan untuk
menikah. Pertama, bila suami mendukung sepenuhnya pekerjaan sang istri,
niscaya karier si wanita akan terus menanjak karena mendapat restu
pasangannya. Kedua, bila suami ternyata meminta istrinya lebih memfokuskan
diri pada urusan rumah tangga, maka biasanya si mandiri cenderung bingung
dan lambat-laun terpaksa mundur dari dunia kerjanya.
Nah,
agar si mandiri tetap bisa melanjutkan kariernya sementara rumah tangga
tetap berjalan lancar, maka sebelum menikah jangan lupa menetapkan
komitmen bersama calon suami. Bila suami tetap membolehkan istri bekerja,
contohnya, siapa yang akan bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga
sehari-hari, seperti mencuci atau memasak. Apakah akan diurus bersama,
diurus salah satu, atau perlu pembantu rumah tangga? Contoh lainnya,
ketika berdua sudah memiliki momongan, apakah kemudian perlu ada babysitter
untuk membantu mengasuh si kecil. Itu hanya salah satu konsekuensi "kecil"
dari ibu bekerja. Apa pun keputusan yang diambil, haruslah
merupakan kesepakatan bersama agar tidak ada saling menyalahkan di
kemudian hari.
Jelaskan
pula kepada suami mengenai konsekuensi istri bekerja. Jangan lupa buat
komitmen yang berkaitan dengan profesi istri agar suami paham betul
pekerjaan istrinya. Misalnya, penjelasan bahwa pekerjaannya menuntut waktu
yang relatif intens dibanding profesi lain. Begitu juga bila pekerjaannya
menuntut sering melakukan dinas luar kota.
Atau mereka yang
biasanya rajin "lembur" sampai di atas jam 10 malam, cobalah
kini berkomitmen untuk melakukan efisiensi waktu kerja dan pulang lebih
awal. Dengan demikian tetap ada waktu luang yang cukup bagi keluarga di
rumah.
Perlu juga dibuat
komitmen mengenai waktu untuk bersosialisasi dengan relasi atau teman.
Memang, ada suami yang menuntut istri untuk segera pulang usai jam bubar
kantor. Namun, ada juga yang mengizinkan istrinya untuk sekadar ber-say
hello pada relasi atau temannya. Yang pasti, seiring dengan perjalanan
waktu, dengan sendirinya akan muncul berbagai kebutuhan yang mesti
dipenuhi demi mulusnya perjalanan biduk rumah tangga.
SIAPKAN
MENTAL
Kadangkala, komitmen
yang sudah disepakati sulit dilaksanakan dan inilah yang akhirnya
menimbulkan konflik rumah tangga. Misalnya, karier si istri terus memuncak,
sehingga secara tak langsung ia dituntut menghabiskan waktu makin panjang
untuk pekerjaannya. Tanpa disadari sang suami jadi merasa "terabaikan".
Alhasil, si suami akan merasa tersisih lantaran istrinya masih seperti
dulu sebelum menikah, yakni lebih suka berkutat dengan tugas-tugas
kantornya.
Atau
karena kariernya terus melaju, si wanita jadi "lupa diri"
dan terkesan arogan di mata suaminya. Akibatnya, rumah tangga jadi tak
lagi harmonis. Bagaimanapun, ujar Yuni mengingatkan, suami sebagai
laki-laki umumnya punya rasa ego tinggi yang membuatnya merasa "kalah
set" gara-gara karier dan penghasilan istrinya jauh meninggalkannya.
Di titik yang amat sensitif inilah sebaiknya istri tidak menyombongkan
diri. Dengan begitu, soal penghasilan seharusnya tak lagi dipersoalkan
atau memunculkan masalah baru karena semestinya justru bisa membantu
menaikkan tingkat kesejahteraan keluarga.
Masalah juga bisa
muncul bila kemudian pasangan suami istri ini dikarunia anak. Seringkali
wanita bekerja tak tega meninggalkan si kecil di rumah. Apalagi bila sang
buah hati suatu hari jatuh sakit. Akibatnya, untuk sementara waktu
pekerjaan kantor jadi agak terbengkalai. Keinginan untuk mencurahkan waktu
dan perhatian pada anak sering memunculkan kontradiksi pada dirinya.
Itulah mengapa sebelum memutuskan untuk menikah, si wanita mandiri
dituntut untuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Supaya suami tak merasa
tersisih, sebaiknya libatkan dirinya dalam perbincangan mengenai hal-hal
yang dialami istri di kantor. Dengan demikian diharapkan suami tak
sedemikian mudah menuduh pasangannya hanya asyik dengan pekerjaan.
Sesekali, ikut sertakan suami dalam lingkungan pertemanan sang istri,
sehingga relasi tetap terjalin, sementara suami pun bisa tune in. Kelihatannya
sepele, tapi hal semacam ini tidak bisa diabaikan, lo!
Hilman
Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh |