FirstFlag
JIKA SI WANITA MANDIRI MENIKAH

Persiapan mental amat dituntut. Jangan alpa untuk membuat komitmen dengan sang suami.

New Page 1

Wanita yang menuntut ilmu setinggi mungkin dan meniti jenjang karier, tak heran kalau tumbuh menjadi sosok yang serbamandiri. Baru setelah sekian lama bekerja, seolah terjaga dari mimpi indah, terbersit pula niat untuk mengakhiri masa lajangnya. Yang menjadi persoalan, tentu tak gampang bagi si mandiri untuk membagi sebagian besar waktu dan perhatiannya dengan pasangan.

Hal itu karena si wanita sudah bertahun-tahun berkarier dan hidup sendiri, sementara pernikahan sebetulnya merupakan jalinan hubungan dua individu berbeda yang rumit dan kompleks seperti diungkapkan Yuni Lasti Faulinda, Psi. Oleh karena itu banyak aspek yang harus disesuaikan agar perjalanan rumah tangga bisa berlangsung mulus.

PERLU ADAPTASI

Ketika memutuskan untuk menjadi seorang istri, wanita mandiri amat butuh penyesuaian diri alias adaptasi karena sebelumnya dia terbiasa menjalani hari demi hari tanpa didampingi orang lain. Untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya pun, ia seolah tak perlu bantuan orang lain.

Sekarang, setelah memiliki pendamping hidup, si wanita mandiri ini tentu harus bisa berbagi dengan sang suami. Misalnya, penghasilan bulanan yang biasanya digunakan untuk kepentingan sendiri, setidaknya harus direlakan sebagian untuk kebutuhan keluarga. Contoh lainnya, konsekuensi sebagai wanita karier yang terkadang tugasnya di kantor menyita waktu yang tak sedikit.

Nah, setelah menikah, dia harus mulai belajar mengelola waktunya sedemikian tertib agar ada keseimbangan antara tanggung jawab sebagai seorang profesional dengan tanggung jawab sebagai istri dan juga ibu. Dengan demikian, urusan pekerjaan beres sementara anak dan suami pun tidak merasa terabaikan karena kebutuhan mereka tetap terpenuhi.

Mau tidak mau, waktu bersosialisasi untuk sekadar cari angin dengan teman dan relasi mesti mulai dibatasi. Kalau sebelum menikah, sepulang kerja bawaannya kongkow dilanjutkan tidur sampai siang di akhir minggu, kini tidak lagi. Si mandiri kini harus pintar-pintar mengatur jadwal secara lebih ketat mengingat di sisinya sudah ada suami (bahkan anak) tercinta yang membutuhkan perhatian dan kehadirannya di rumah.

Artinya, ketika memutuskan untuk menutup lembaran lajangnya dan membuka lembaran baru dalam bentuk perkawinan, ada banyak hal yang harus dipikirkan dan diupayakan kesesuaiannya. "Poin inilah yang sering dianggap sebagai kesulitan terbesar sekaligus sebagai tantangan tersendiri bagi si wanita mandiri untuk berusaha menyesuaikan dirinya."

Memang berbagai penyesuaian atau adaptasi yang mesti dilakukan wanita bekerja akan lebih banyak dibanding wanita yang memilih tidak berkarier dan mengurus rumah tangga. Mengapa? Karena urusan domestik relatif tak banyak "tuntutan" sementara aktivitas sehari-hari si ibu bisa didedikasikan sepenuhnya untuk keluarga.

SEPAKATI KOMITMEN

Menurut Yuni, ada dua perkara yang akan dihadapi si wanita mandiri ketika memutuskan untuk menikah. Pertama, bila suami mendukung sepenuhnya pekerjaan sang istri, niscaya karier si wanita akan terus menanjak karena mendapat restu pasangannya. Kedua, bila suami ternyata meminta istrinya lebih memfokuskan diri pada urusan rumah tangga, maka biasanya si mandiri cenderung bingung dan lambat-laun terpaksa mundur dari dunia kerjanya.

Nah, agar si mandiri tetap bisa melanjutkan kariernya sementara rumah tangga tetap berjalan lancar, maka sebelum menikah jangan lupa menetapkan komitmen bersama calon suami. Bila suami tetap membolehkan istri bekerja, contohnya, siapa yang akan bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga sehari-hari, seperti mencuci atau memasak. Apakah akan diurus bersama, diurus salah satu, atau perlu pembantu rumah tangga? Contoh lainnya, ketika berdua sudah memiliki momongan, apakah kemudian perlu ada babysitter untuk membantu mengasuh si kecil. Itu hanya salah satu konsekuensi "kecil" dari ibu bekerja. Apa pun keputusan yang diambil, haruslah merupakan kesepakatan bersama agar tidak ada saling menyalahkan di kemudian hari.

Jelaskan pula kepada suami mengenai konsekuensi istri bekerja. Jangan lupa buat komitmen yang berkaitan dengan profesi istri agar suami paham betul pekerjaan istrinya. Misalnya, penjelasan bahwa pekerjaannya menuntut waktu yang relatif intens dibanding profesi lain. Begitu juga bila pekerjaannya menuntut sering melakukan dinas luar kota.

Atau mereka yang biasanya rajin "lembur" sampai di atas jam 10 malam, cobalah kini berkomitmen untuk melakukan efisiensi waktu kerja dan pulang lebih awal. Dengan demikian tetap ada waktu luang yang cukup bagi keluarga di rumah.

Perlu juga dibuat komitmen mengenai waktu untuk bersosialisasi dengan relasi atau teman. Memang, ada suami yang menuntut istri untuk segera pulang usai jam bubar kantor. Namun, ada juga yang mengizinkan istrinya untuk sekadar ber-say hello pada relasi atau temannya. Yang pasti, seiring dengan perjalanan waktu, dengan sendirinya akan muncul berbagai kebutuhan yang mesti dipenuhi demi mulusnya perjalanan biduk rumah tangga.

SIAPKAN MENTAL

Kadangkala, komitmen yang sudah disepakati sulit dilaksanakan dan inilah yang akhirnya menimbulkan konflik rumah tangga. Misalnya, karier si istri terus memuncak, sehingga secara tak langsung ia dituntut menghabiskan waktu makin panjang untuk pekerjaannya. Tanpa disadari sang suami jadi merasa "terabaikan". Alhasil, si suami akan merasa tersisih lantaran istrinya masih seperti dulu sebelum menikah, yakni lebih suka berkutat dengan tugas-tugas kantornya.

Atau karena kariernya terus melaju, si wanita jadi "lupa diri" dan terkesan arogan di mata suaminya. Akibatnya, rumah tangga jadi tak lagi harmonis. Bagaimanapun, ujar Yuni mengingatkan, suami sebagai laki-laki umumnya punya rasa ego tinggi yang membuatnya merasa "kalah set" gara-gara karier dan penghasilan istrinya jauh meninggalkannya. Di titik yang amat sensitif inilah sebaiknya istri tidak menyombongkan diri. Dengan begitu, soal penghasilan seharusnya tak lagi dipersoalkan atau memunculkan masalah baru karena semestinya justru bisa membantu menaikkan tingkat kesejahteraan keluarga.

Masalah juga bisa muncul bila kemudian pasangan suami istri ini dikarunia anak. Seringkali wanita bekerja tak tega meninggalkan si kecil di rumah. Apalagi bila sang buah hati suatu hari jatuh sakit. Akibatnya, untuk sementara waktu pekerjaan kantor jadi agak terbengkalai. Keinginan untuk mencurahkan waktu dan perhatian pada anak sering memunculkan kontradiksi pada dirinya. Itulah mengapa sebelum memutuskan untuk menikah, si wanita mandiri dituntut untuk memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.

Supaya suami tak merasa tersisih, sebaiknya libatkan dirinya dalam perbincangan mengenai hal-hal yang dialami istri di kantor. Dengan demikian diharapkan suami tak sedemikian mudah menuduh pasangannya hanya asyik dengan pekerjaan. Sesekali, ikut sertakan suami dalam lingkungan pertemanan sang istri, sehingga relasi tetap terjalin, sementara suami pun bisa tune in. Kelihatannya sepele, tapi hal semacam ini tidak bisa diabaikan, lo!

Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh
 

Problema edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari