FirstFlag
NASAL SPRAY METODE TERBARU UNTUK KEJANTANAN

New Page 1

Nama metode pengobatan terbaru bagi kejantanan ini adalah nasal spray. Cara kerjanya mudah, seperti inhaler yang biasa digunakan untuk mengatasi hidung mampet kala pilek. Hanya saja, bila inhaler digunakan dengan dihirup, maka nasal spray disemprotkan ke lubang hidung. Dari situ obat akan sampai ke selaput lendir hidung, kemudian diserap dan masuk ke jaringan pembuluh darah tubuh, termasuk ke pembuluh-pembuluh darah pada alat vital.

Namun jangan salah kaprah, menurut Dr. H. Bambang Sukamto, DMSH, nasal spray tidak akan membuat kejantanan jadi "super", melainkan membantu memperbaiki kejantanan. Masalah seperti ejakulasi dini atau impotensi diperbaiki agar kembali berfungsi normal.

Arti normal di sini tentu relatif karena kondisi masing-masing pasien akan berbeda satu sama lain. Bambang mencontohkan, pasien yang sudah mengalami kerusakan organ vital seperti pembuluh darahnya sudah rusak atau jaringan sarafnya sudah mulai menurun, maka akan sulit untuk disembuhkan total. Namun, minimal kerusakan itu bisa diperbaiki. Jika menggunakan perumpamaan angka kira-kira begini: ketika sehat, ereksi seorang pria bisa dinilai dengan angka 100, sedangkan saat mengalami gangguan hanya mencapai 40. Nah, dengan nasal spray diharapkan terjadi perbaikan hingga nilai 70-80. "Jadi tetap tidak bisa kembali ke angka 100," ungkap Program Officer On Clinic Indonesia ini.

Kondisi kerusakan organ itu pun mengharuskan penderita selalu mengonsumsi obat. Kendati demikian, dosisnya dapat saja turun dari waktu ke waktu. Ibarat orang yang menggunakan kacamata, ia akan selalu memerlukan kacamatanya setiap kali membaca. Sama saja dengan penderita disfungsi seksual. Bila organnya sudah rusak, maka ia membutuhkan obat untuk melakukan hubungan seks. "Jadi kalau mau disebut ketergantungan, ya, bisa saja," kata Bambang.

Namun kondisi tersebut hanya berlaku bagi penderita yang telah mengalami kerusakan organ vital. Jika organ vital masih baik, maka nasal spray tak perlu digunakan terus menerus. "Setelah organ vital dapat berfungsi seperti sediakala, yang bersangkutan tak perlu menggunakan nasal spray lagi."

KANDUNGAN SAMA

Soal kandungan nasal spray, menurut Bambang, tak berbeda jauh dengan obat-obat lain yang biasa digunakan mengatasi masalah disfungsi seksual. Zat-zat yang terkandung dalam nasal spray merupakan zat-zat standar seperti yang ada pada semua obat yang berkhasiat menyembuhkan atau meringankan gangguan seksual. Hanya saja cara pemberiannya dilakukan dengan disemprotkan. Jadi nasal spray sendiri sebenarnya bukan obat namun merupakan modifikasi dalam cara pemberiannya saja.

Meski metode semprot ini baru muncul di Indonesia sekitar Agustus 2003, di Australia penggunaan nasal spray sudah dikenal cukup lama. Oleh karena itulah, menurut Bambang, semua zat yang ada dalam nasal spray aman dipakai karena semua kandungannya sama dengan kandungan obat-obat sejenis atau sudah diterima dan resmi digunakan di dunia kedokteran modern.

Toh, kriteria aman perlu juga dicermati karena kata Bambang, ada beberapa pasien yang "nakal", sehingga nasal spray yang sebenarnya aman justru menjadi bencana. Misalnya, penggunaan nasal spray berlebihan bisa mengakibatkan ereksi berkepanjangan hingga berjam-jam. kejadian ini biasanya terjadi akibat pasien kurang sabar. Ia melipatgandakan dosis yang disarankan dokter.

Misalnya, pasien sudah diinformasikan bahwa nasal spray hanya perlu disemprotkan pada satu lubang hidung dan reaksi akan tampak setelah 15-30 menit. Bila setelah 30 menit reaksi belum muncul secara optimal, barulah obat ini boleh disemprotkan pada lubang hidung yang satunya.

Sebaliknya, jika dengan disemprotkan sekali saja sudah bereaksi, ya, tidak perlu disemprotkan pada lubang hidung yang satu lagi. "Tapi dalam beberapa kasus, ada pasien yang tidak sabaran. Ia langsung main semprot di kedua lubang hidungnya sampai akhirnya terjadi overdosis,'" kata Bambang.

Asal menarik kesimpulan sendiri juga bisa memicu kasus kelebihan dosis. Misalnya, "Ah, dengan satu dosis saya bisa ereksi selama 30 menit. Berarti kalau dua dosis, bisa satu jam, dong. Padahal, dengan dua dosis bukan berarti ereksi dua kali lebih lama, lo. Justru malah bisa terjadi ereksi berkepanjangan karena terjadi pelebaran pembuluh darah yang hebat. Nah, jadinya, kan, malah enggak enak," papar Bambang.

Namun, sepanjang saran dokter diikuti dengan disiplin, bisa dikatakan nasal spray relatif aman. Obat ini memang tetap memiliki efek samping yang tidak berbahaya tapi bagi sebagian orang akan mengganggu, yaitu pusing, mual-mual, bahkan ada yang sampai muntah. "Untuk efek samping yang sudah mengganggu, akan diberikan obat minum untuk mengatasinya."

UJI COBA DI AUSTRALIA

Nasal spray sendiri merupakan metode pengobatan yang berasal dari On Clinic Australia dan diteruskan pada berbagai cabang On Clinic di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tentunya, proses adaptasi nasal spray di Indonesia tidak persis sama dengan di negeri asalnya. Tetap dibutuhkan beberapa penyesuaian, seperti dalam hal cara penetapan dosis.

"Sistem pemberian dosis obat di Australia berbeda dengan di Indonesia. Di sana pasien akan diberi dosis maksimal. Lalu, seiring dengan berjalannya waktu dosis akan diturunkan hingga mencapai dosis yang efektif. Kebalikan dengan di Indonesia. Dosis obat diberikan minimal dulu, bila hasilnya belum terlihat memuaskan baru dinaikkan hingga mencapai dosis yang efektif. "Hanya saja, akibatnya pasien yang kurang sabar bisa menganggap obat ini tidak efektif," aku Bambang.

Awalnya, cara semprot muncul untuk melengkapi metode pemberian obat yang sudah ada dalam penanggulangan masalah disfungsi seksual. Sebelumnya, di Indonesia sudah ada 5 cara pemberian obat yang berkaitan dengan masalah gangguan seksual, yaitu dengan obat telan (tablet, pil, kapsul), tablet isap, injeksi, obat luar/obat oles, dan yang terakhir muncul, obat semprot (nasal spray). "Dengan adanya nasal spray berarti semakin banyak pilihan bagi penderita gangguan seksual. Bagi orang yang tidak bisa menelan pil atau takut disuntik, atau sudah bosan dengan metode yang selama ini digunakan, bisa memilih cara semprot hidung."

EFEKTIVITAS NASAL SPRAY

Dari serangkaian uji coba yang dilakukan di Australia, nasal spray bisa dikatakan efektif dengan tingkat keberhasilan sekitar 70-80%. Namun perlu diketahui juga, efektivitas ini berlaku individual. Bagi orang yang memiliki masalah dengan selaput lendir hidungnya, pengobatan dengan nasal spray bisa tidak optimal. "Penggunaan nasal spray pada orang yang tengah terserang flu berat misalnya, bisa kurang memuaskan karena banyaknya lendir di hidung dapat menghalangi terserapnya obat dengan baik."

Nasal spray sendiri dijual dengan berbagai ukuran, dari yang minimal 5 dosis hingga maksimal 30 dosis. "Pada kasus-kasus yang hasilnya diharapkan baik, akan disarankan penggunaan obat ukuran 5 dosis saja. Namun pada kasus lain, mungkin dibutuhkan dosis yang lebih banyak. Tapi dosis maksimal yang digunakan untuk nasal spray hanya 30. Bila setelah 30 dosis hasilnya tidak optimal maka pasien akan disarankan menggunakan metode pengobatan lain."

Asal tahu saja, berhubung obat semprot hidung ini merupakan metode pengobatan yang menjadi hak paten On Clinic, maka nasal spray tidak bisa ditemukan di apotek-apotek. "Bila ada yang berminat memang harus menjadi pasien di On Clinic terlebih dahulu," ujar Bambang.

MEDIS SEBAGAI PILIHAN AKHIR

Salah satu hal yang paling disesalkan Bambang, selaku praktisi di klinik disfungsi seksual, adalah banyaknya pasien yang menjadikan pengobatan medis sebagai alternatif akhir. "Dari tanya jawab yang kami lakukan, banyak pasien yang menyatakan bahwa sebelum ke dokter, mereka sudah mencoba obat ini-itu tanpa resep. Tak jarang juga yang sudah mencoba berbagai cara nonmedis, seperti ditotok, dipijat dan lainnya."

Oleh karena pengobatan medis dijadikan pilihan dan harapan terakhir, kondisi pasien saat datang ke klinik disfungsi seksual sudah tidak dalam kondisi "menggembirakan". Maksudnya, pasien sudah mengalami efek samping pengobatan yang dipakai sembarangan atau malah sudah terjadi komplikasi.

Dari data kasar di kliniknya, lanjut Bambang, pengunjung yang dapat sembuh seperti sediakala banyaknya sekitar 40-50 %. Sisanya bisa membaik, dalam artian alat vital bisa berfungsi, tapi tetap tergantung pada obat-obatan. Ia menyarankan, pria tak perlu menyembunyikan masalah disfungsi seksualnya. "Terlebih pada istri karena semakin masalahnya ditutup-tutupi, maka ia makin stres. Nah, hal ini justru akan memperparah gangguan seksual yang dialaminya."

Faras Handayani. Ilustrator Pugoeh

 

Problema edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari