|
Nama
metode pengobatan terbaru bagi kejantanan ini adalah nasal spray.
Cara kerjanya mudah, seperti inhaler yang biasa digunakan untuk
mengatasi hidung mampet kala pilek. Hanya saja, bila inhaler
digunakan dengan dihirup, maka nasal spray disemprotkan ke lubang
hidung. Dari situ obat akan sampai ke selaput lendir hidung, kemudian
diserap dan masuk ke jaringan pembuluh darah tubuh, termasuk ke
pembuluh-pembuluh darah pada alat vital.
Namun jangan salah
kaprah, menurut Dr. H. Bambang Sukamto, DMSH, nasal spray tidak
akan membuat kejantanan jadi "super", melainkan membantu
memperbaiki kejantanan. Masalah seperti ejakulasi dini atau impotensi
diperbaiki agar kembali berfungsi normal.
Arti normal di sini
tentu relatif karena kondisi masing-masing pasien akan berbeda satu sama
lain. Bambang mencontohkan, pasien yang sudah mengalami kerusakan organ
vital seperti pembuluh darahnya sudah rusak atau jaringan sarafnya sudah
mulai menurun, maka akan sulit untuk disembuhkan total. Namun, minimal
kerusakan itu bisa diperbaiki. Jika menggunakan perumpamaan angka
kira-kira begini: ketika sehat, ereksi seorang pria bisa dinilai dengan
angka 100, sedangkan saat mengalami gangguan hanya mencapai 40. Nah,
dengan nasal spray diharapkan terjadi perbaikan hingga nilai 70-80.
"Jadi tetap tidak bisa kembali ke angka 100," ungkap Program
Officer On Clinic Indonesia ini.
Kondisi kerusakan organ
itu pun mengharuskan penderita selalu mengonsumsi obat. Kendati demikian,
dosisnya dapat saja turun dari waktu ke waktu. Ibarat orang yang
menggunakan kacamata, ia akan selalu memerlukan kacamatanya setiap kali
membaca. Sama saja dengan penderita disfungsi seksual. Bila organnya sudah
rusak, maka ia membutuhkan obat untuk melakukan hubungan seks. "Jadi
kalau mau disebut ketergantungan, ya, bisa saja," kata Bambang.
Namun kondisi tersebut
hanya berlaku bagi penderita yang telah mengalami kerusakan organ vital.
Jika organ vital masih baik, maka nasal spray tak perlu digunakan
terus menerus. "Setelah organ vital dapat berfungsi seperti sediakala,
yang bersangkutan tak perlu menggunakan nasal spray lagi."
KANDUNGAN
SAMA
Soal
kandungan nasal spray, menurut Bambang, tak berbeda jauh dengan
obat-obat lain yang biasa digunakan mengatasi masalah disfungsi seksual.
Zat-zat yang terkandung dalam nasal spray merupakan zat-zat standar
seperti yang ada pada semua obat yang berkhasiat menyembuhkan atau
meringankan gangguan seksual. Hanya saja cara pemberiannya
dilakukan dengan disemprotkan. Jadi nasal spray sendiri sebenarnya
bukan obat namun merupakan modifikasi dalam cara pemberiannya saja.
Meski metode semprot
ini baru muncul di Indonesia sekitar Agustus 2003, di Australia penggunaan
nasal spray sudah dikenal cukup lama. Oleh karena itulah, menurut
Bambang, semua zat yang ada dalam nasal spray aman dipakai karena
semua kandungannya sama dengan kandungan obat-obat sejenis atau sudah
diterima dan resmi digunakan di dunia kedokteran modern.
Toh, kriteria aman
perlu juga dicermati karena kata Bambang, ada beberapa pasien yang "nakal",
sehingga nasal spray yang sebenarnya aman justru menjadi bencana.
Misalnya, penggunaan nasal spray berlebihan bisa mengakibatkan
ereksi berkepanjangan hingga berjam-jam. kejadian ini biasanya terjadi
akibat pasien kurang sabar. Ia melipatgandakan dosis yang disarankan
dokter.
Misalnya, pasien sudah
diinformasikan bahwa nasal spray hanya perlu disemprotkan pada satu
lubang hidung dan reaksi akan tampak setelah 15-30 menit. Bila setelah 30
menit reaksi belum muncul secara optimal, barulah obat ini boleh
disemprotkan pada lubang hidung yang satunya.
Sebaliknya,
jika dengan disemprotkan sekali saja sudah bereaksi, ya, tidak perlu
disemprotkan pada lubang hidung yang satu lagi. "Tapi dalam beberapa
kasus, ada pasien yang tidak sabaran. Ia langsung main semprot di kedua lubang
hidungnya sampai akhirnya terjadi overdosis,'" kata Bambang.
Asal menarik kesimpulan
sendiri juga bisa memicu kasus kelebihan dosis. Misalnya, "Ah, dengan
satu dosis saya bisa ereksi selama 30 menit. Berarti kalau dua dosis, bisa
satu jam, dong. Padahal, dengan dua dosis bukan berarti ereksi dua kali
lebih lama, lo. Justru malah bisa terjadi ereksi berkepanjangan karena
terjadi pelebaran pembuluh darah yang hebat. Nah, jadinya, kan, malah
enggak enak," papar Bambang.
Namun, sepanjang saran
dokter diikuti dengan disiplin, bisa dikatakan nasal spray relatif
aman. Obat ini memang tetap memiliki efek samping yang tidak berbahaya
tapi bagi sebagian orang akan mengganggu, yaitu pusing, mual-mual, bahkan
ada yang sampai muntah. "Untuk efek samping yang sudah mengganggu,
akan diberikan obat minum untuk mengatasinya."
UJI
COBA DI AUSTRALIA
Nasal
spray sendiri merupakan metode pengobatan yang berasal dari On Clinic
Australia dan diteruskan pada berbagai cabang On Clinic di seluruh dunia,
termasuk Indonesia. Tentunya, proses adaptasi nasal spray di
Indonesia tidak persis sama dengan di negeri asalnya. Tetap
dibutuhkan beberapa penyesuaian, seperti dalam hal cara penetapan dosis.
"Sistem pemberian
dosis obat di Australia berbeda dengan di Indonesia. Di sana pasien akan
diberi dosis maksimal. Lalu, seiring dengan berjalannya waktu dosis akan
diturunkan hingga mencapai dosis yang efektif. Kebalikan dengan di
Indonesia. Dosis obat diberikan minimal dulu, bila hasilnya belum terlihat
memuaskan baru dinaikkan hingga mencapai dosis yang efektif. "Hanya
saja, akibatnya pasien yang kurang sabar bisa menganggap obat ini tidak
efektif," aku Bambang.
Awalnya, cara semprot
muncul untuk melengkapi metode pemberian obat yang sudah ada dalam
penanggulangan masalah disfungsi seksual. Sebelumnya, di Indonesia sudah
ada 5 cara pemberian obat yang berkaitan dengan masalah gangguan seksual,
yaitu dengan obat telan (tablet, pil, kapsul), tablet isap, injeksi, obat
luar/obat oles, dan yang terakhir muncul, obat semprot (nasal spray).
"Dengan adanya nasal spray berarti semakin banyak pilihan bagi
penderita gangguan seksual. Bagi orang yang tidak bisa menelan pil atau
takut disuntik, atau sudah bosan dengan metode yang selama ini digunakan,
bisa memilih cara semprot hidung."
EFEKTIVITAS
NASAL SPRAY
Dari serangkaian uji
coba yang dilakukan di Australia, nasal spray bisa dikatakan
efektif dengan tingkat keberhasilan sekitar 70-80%. Namun perlu diketahui
juga, efektivitas ini berlaku individual. Bagi orang yang memiliki masalah
dengan selaput lendir hidungnya, pengobatan dengan nasal spray bisa
tidak optimal. "Penggunaan nasal spray pada orang yang tengah
terserang flu berat misalnya, bisa kurang memuaskan karena banyaknya
lendir di hidung dapat menghalangi terserapnya obat dengan baik."
Nasal spray sendiri
dijual dengan berbagai ukuran, dari yang minimal 5 dosis hingga maksimal
30 dosis. "Pada kasus-kasus yang hasilnya diharapkan baik, akan
disarankan penggunaan obat ukuran 5 dosis saja. Namun pada kasus lain,
mungkin dibutuhkan dosis yang lebih banyak. Tapi dosis maksimal yang
digunakan untuk nasal spray hanya 30. Bila setelah 30 dosis
hasilnya tidak optimal maka pasien akan disarankan menggunakan metode
pengobatan lain."
Asal tahu saja,
berhubung obat semprot hidung ini merupakan metode pengobatan yang menjadi
hak paten On Clinic, maka nasal spray tidak bisa ditemukan di
apotek-apotek. "Bila ada yang berminat memang harus menjadi pasien di
On Clinic terlebih dahulu," ujar Bambang.
MEDIS
SEBAGAI PILIHAN AKHIR
Salah
satu hal yang paling disesalkan Bambang, selaku praktisi di klinik
disfungsi seksual, adalah banyaknya pasien yang menjadikan pengobatan
medis sebagai alternatif akhir. "Dari tanya jawab yang kami lakukan,
banyak pasien yang menyatakan bahwa sebelum ke dokter, mereka sudah
mencoba obat ini-itu tanpa resep. Tak jarang juga yang sudah mencoba
berbagai cara nonmedis, seperti ditotok, dipijat dan lainnya."
Oleh karena pengobatan
medis dijadikan pilihan dan harapan terakhir, kondisi pasien saat datang
ke klinik disfungsi seksual sudah tidak dalam kondisi "menggembirakan".
Maksudnya, pasien sudah mengalami efek samping pengobatan yang dipakai
sembarangan atau malah sudah terjadi komplikasi.
Dari
data kasar di kliniknya, lanjut Bambang, pengunjung yang dapat sembuh
seperti sediakala banyaknya sekitar 40-50 %. Sisanya bisa membaik, dalam
artian alat vital bisa berfungsi, tapi tetap tergantung pada obat-obatan.
Ia menyarankan, pria tak perlu menyembunyikan masalah disfungsi seksualnya.
"Terlebih pada istri karena semakin masalahnya ditutup-tutupi, maka
ia makin stres. Nah, hal ini justru akan memperparah gangguan seksual yang
dialaminya."
Faras
Handayani. Ilustrator Pugoeh |