|
Mungkin,
inilah yang kerap terjadi dengan si prasekolah kala memilih pakaian.
Awalnya, ia ingin mengenakan baju merah. Sesaat kemudian ia mengubah
keputusannya karena ingin memakai baju warna kuning. Baru sebentar dipakai,
baju itu ingin ditukarnya dengan yang berwarna biru.
Demikian pula ketika si
prasekolah diperbolehkan memilih satu mainan baru. Pertama-tama dia
memutuskan untuk membeli figur Gundam, tapi ketika melihat mainan figur
Digimon, hatinya pun bimbang untuk kemudian mengubah pilihannya.
PROSES
BELAJAR YANG WAJAR
Sebenarnya, seperti
dijelaskan Tari Sandjoyo, Psi., di usia 3-5 tahun, anak sedang
belajar menentukan pilihan dan belajar membuat keputusan. "Dalam
proses belajar itu dia mengira-ngira, seberapa jauh pilihan dan keputusan
yang sudah dibuatnya dapat memberikan kepuasan pada dirinya." Jadi
menurut psikolog dari Taman Bermain Cikal, Kemang, Jakarta ini bila anak
kerap berganti-ganti pilihan, hal itu wajar
saja.
Mungkin anak sedang
berupaya memilih sesuatu yang menurutnya akan lebih memuaskan dibanding
pilihan sebelumnya. Ketika anak memakai baju misalnya, dia mencoba untuk
mencari rasa nyaman dari baju tersebut. Enak enggak, ya, dipakainya? Bagus
enggak, ya? Cocok enggak, ya, warna bajunya dengan keinginanku? Ketika dia
merasa kurang cocok, maka dia akan mengubah pilihannya.
Perilaku seperti ini
merupakan wujud dari proses belajar anak untuk mengambil keputusan. Setiap
anak akan melewati rentang proses belajar yang kurang lebih serupa. Ketika
dia tertarik pada berbagai pilihan, padahal dia tidak bisa mengambil
semuanya, anak pun akan berusaha menentukan pilihannya sendiri. Namun,
karena proses berpikirnya belum matang dan masih dalam taraf belajar,
sangat mungkin bila ia kemudian memutuskan sesuatu untuk kemudian
diubahnya lagi bila ada yang dianggap lebih menarik.
Meskipun setiap anak
akan melalui proses belajar seperti ini, tahapannya bisa jadi berbeda-beda.
"Ada anak yang sejak usia 3 tahun sudah sangat ekspresif ketika
memilih pakaian yang dia suka, tapi ada juga anak yang
baru mengalaminya di usia 4
atau 5 tahun," ungkap Tari. Caranya pun tidak selalu sama. Ada anak
yang sangat ekspresif dan keras saat memilih, ada yang lebih tenang,
bahkan ada anak yang sebenarnya ingin memilih, tetapi tidak berani
melakukannya. "Meskipun berbeda, tetapi pada intinya setiap anak
melalui proses belajar untuk memilih."
BERIKAN
KEBEBASAN
Ketika menghadapi
perilaku anak seperti ini, orang tua perlu memberikan kebebasan, apakah
hari itu ia memilih memakai baju berwarna merah, kuning, atau biru.
Demikian juga untuk mainan, apakah mau mobil-mobilan atau robot-robotan.
Kalau ternyata anak tidak suka dengan baju yang pertama, maupun kedua,
kemudian memilih baju yang ketiga, bahkan balik lagi ke pilihan baju
pertama, jangan langsung menganggapnya berlama-lama dan tidak karuan,
tetapi berikan kesempatan kepadanya untuk memilih dan mengambil keputusan.
"Orang tua perlu memberikan kebebasan karena di usia ini sangat
penting bagi anak untuk bebas belajar menentukan pilihan."
Hindari
pula mematok bahwa anak harus memilih sesuatu yang udah dipilihkan
orang tuanya. Bila orang tua kerap memutuskan segala sesuatunya sendiri
tanpa melibatkan anak, maka kemampuan memilih dan menentukan keputusan
tidak akan berkembang. Padahal, kebebasan dalam memilih dan menentukan
keputusan sangat penting untuk memupuk kemandirian anak.
Ketika nantinya anak
dihadapkan kepada sebuah pilihan yang harus ditentukannya sen-diri, dia
akan mudah melakukannya. "Dengan begitu, pemberian kebebasan dalam
menentukan pilihan bisa menjadi suasana yang kondusif untuk mengoptimalkan
perkembangan kognisi anak," tandas Tari.
Memang, di saat
tertentu, anak mungkin memutuskan pilihan yang keliru. Misalnya, dia
memilih dibelikan mobil remote control padahal di rumah dia sudah
memilikinya dengan bentuk dan model yang sama.
Di situasi seperti ini
sebaiknya orang tua memberikan arahan, dengan menerangkan bahwa mobil
seperti ini sudah dimilikinya, jadi lebih baik pilih mainan yang lain.
Atau ketika dia memilih baju berwarna hitam padahal cuaca sangat panas,
kita bisa bilang, "Kalau pakai baju hitam, kamu akan kegerahan karena
warna hitam menyerap sinar matahari yang panas. Bagaimana kalau pakai baju
warna putih?" misalnya. Atau
ketika anak memilih mainan pistol-pistolan yang pelurunya bisa
membahayakan, berikan arahan, "Awas, lo, senapan itu berbahaya, nanti
kalau pelurunya kena mata kakakmu, bagaimana? Lebih baik pistol air saja."
Tari mengajurkan untuk
tidak memarahi, membentak, apalagi menghujat anak. "Kamu gimana, sih,
tadi mobil-mobilan, terus berubah jadi pistol air, sekarang berubah lagi
jadi robot, lama banget!" atau "Terserah kamu, mau pilih pistol,
robot, atau mobil-mobilan, Mama enggak peduli!" Umpatan dan bentakan
seperti ini, selain akan membuat anak merasa tersudutkan, juga menghambat
keberaniannya mengungkapkan keinginan.
Tindakan
seperti ini pun akan membuat anak mudah merasa bingung, karena ketika dia
sudah memilih kemudian tidak didukung oleh lingkungannya, maka anak tidak
tahu harus berbuat apa. Padahal anak masih butuh bimbingan dalam memilih.
Nah, bila ia terus menerima kondisi seperti ini, maka kemampuannya untuk
menentukan pilihan tidak akan terasah dengan baik. Nantinya anak tidak
bisa mandiri untuk menentukan sebuah keputusan, meskipun sangat sederhana.
Ketika ingin keluar dari permasalahan, ia pun akan kembali meminta
pendapat orang tuanya.
"Sangat bijaksana
bila orang tua bisa berkomunikasi dan mengutarakan kondisi yang ada
daripada menghardiknya. Dengan begitu, kita bisa membantu dan mengajaknya
belajar menentukan pilihan dan membuat keputusan," kata Tari.
ANEKA
FAKTOR PENGGANGGU
Tidak semua anak bisa
menentukan pilihannya dengan baik. Banyak yang memiliki kemauan tetapi
tidak bisa memutuskan pilihan mana yang akan diambilnya. Hal ini bisa saja
terjadi karena beragam faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
1.
Mungkin pilihan yang dihadapinya terlalu banyak, sehingga dia tidak bisa
memutuskan mana yang akan dipilih: baju merah, hijau, kuning, biru, hitam,
atau pink? Dengan kata lain anak bingung dan akhirnya gonta-ganti
pilihan.
2.
Anak takut tidak puas kalau pilihannya ternyata tidak tepat, sehingga
pilihannya berubah-ubah sampai berkali-kali.
3.
Dia sering mendapat tekanan dari orang tuanya, misalnya, sering dimarahi
ketika pilihannya salah. "Kenapa pilih baju yang model seperti ini,
jelek tahu!" misalnya. Dengan begitu, ketika diminta memilih, dia
tidak bisa memutuskannya karena takut salah, dan keputusan untuk memilih
diserahkan pada orang tuanya.
4.
Dia tidak betul-betul memahami pilihan yang ada, sehingga tidak bisa
menentukan pilihan. Misalnya, dia tidak tahu mana yang sebenarnya lebih
dapat membuatnya nyaman, puas, dan senang. Bila dia tidak bisa menduga,
maka sulit baginya untuk memutuskan pilihan.
5.
Ada anak yang ingin menunjukkan ke semua orang bahwa, "This is my
body, this is my self". Jadi hanya aku yang harus menentukan
segala sesuatu yang berhubungan dengan diriku. Tetapi tidak ada pilihan
yang benar-benar disukainya, sehingga dia tidak bisa memutuskan pilihannya.
MENGATASI
KEBINGUNGAN
Untuk itu, sebaiknya
orang tua melakukan hal-hal berikut agar anak bisa membuat keputusan
dengan baik:
1.
Pada anak yang baru belajar memilih, sebaiknya pilihan yang
diberikan tidak terlampau banyak, berikan 2-3 pilihan. Bila terlalu banyak
pilihan anak malah bingung dan proses belajarnya pun tidak dapat dilalui
dengan baik. Bila anak sudah bisa memilih satu di antara 2-3 pilihan,
orang tua bisa menambah jumlah pilihannya menjadi 4-5 pilihan. Intinya,
belajar memilih dilakukan bertahap. Dengan begitu apa yang didapat bisa
meningkat.
2.
Anak harus tahu positif dan negatifnya sebuah pilihan. Nah, tugas orang
tualah untuk memberitahukan kepada anak.
3.
Sebaiknya hormati pilihan anak. Bila dia ingin membawa banyak mainan ke
mal, memakai baju yang belum dicuci, memilih
sepatu yang kebesaran, jangan
langsung memarahi apalagi membentaknya. Lebih baik tanyakan alasannya,
kenapa dia ingin memilihnya. Selanjutnya kita bisa memberikan penjelasan
kenapa kita melarang anak memutuskan pilihannya. Meskipun pada dasarnya
kita melarang, tetapi kita tetap menghormati keputusan anak.
4.
Bila anak tetap memilih untuk membawa semua mainannya, memakai baju kotor,
atau sepatu yang kebesaran, orang tua perlu memberikan warning akan
dampak yang bakal terjadi. "Kamu boleh membawa semua mainanmu, asal
kamu tidak
menangis bila ada yang hilang!"
atau "Baju itu, kan, belum dicuci, nanti kamu jadi bau, lo!"
atau "Sepatu pilihanmu kebesaran, nanti susah jalan!"
5.
Jangan memaksakan pilihan kita kepada anak. Berikan keleluasaan terhadap
anak untuk menentukan pilihannya.
TANGGUNG
JAWAB TERHADAP PILIHAN
Kalau anak sudah
dilatih menentukan pilihan, langkah selanjutnya adalah mengajarinya
bertanggung jawab terhadap pilihan atau menerima konsekuensi dari
pilihannya.
Misalnya, ketika ingin pergi, anak
sudah memilih boneka Barbie untuk dibawa, maka ketika dalam perjalanan
anak malah ingin mainan bebeknya, maka kita harus memberikan penjelasan
untuk meningkatkan rasa tanggung jawabnya. "Kamu, kan, sudah memilih
Barbie untuk dibawa pergi, nah, kamu tidak bisa main boneka bebek karena
yang ada hanya boneka Barbie," misalnya. Diharapkan penjelasan
seperti ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab anak dengan menerima
konsekuensi yang ada.
Namun, kalau kita sudah
tahu mainan apa yang sebenarnya
paling disukai anak, maka siapkan mainan tersebut. Bawalah tanpa
sepengetahuannya. Ketika anak mencarinya di tengah perjalanan, kita bisa
menyediakannya. Namun, jangan langsung diberikan. Sebelumnya kita bisa
bilang, "Kamu, kan, sudah milih boneka bebek, kok, minta boneka
barbie?" Biarkan dulu anak merengek untuk menikmati konsekuensi
pilihannya. Setelah itu, sambil memberikan penjelasan, kita bisa
memberikan boneka Barbie-nya. "Mama tahu, kamu pasti minta ini. Nih,
Mama bawakan," misalnya.
OVERACTING
DAN CARI PERHATIAN
Pada
kasus tertentu, aksi pilih-pilih anak bukan disebabkan karena dia sedang
dalam tahap belajar. Menurut Tari, adakalanya pilih-pilih ini
dikarenakan sikap overacting untuk mencari perhatian orang tuanya.
Ketika sudah menentukan memakai baju warna merah, tahu-tahu dia mengubah
keinginannya itu. Tujuannya hanya ingin melihat reaksi dari orang di
sekelilingnya.
Ia
merasa berhasil bila ada perhatian yang ditunjukkan orang di sekelilingnya,
entah lewat ekspresi marah, melotot, teguran cerewet, dan lain sebagainya.
Rasa senang yang muncul pada diri anak mendorongnya untuk mengulangi
perilaku itu. Cara mengatasinya, ujar Tari, sebaiknya orang tua berusaha
tenang. "Bila hal itu dilakukan hanya untuk cari perhatian, cobalah
untuk tidak menanggapinya. Dengan begitu anak merasa tidak berhasil dan
tidak mengulanginya lagi."
Irfan
Hasuki. Foto: Ferdi/nakita |