FirstFlag
BAYI BELUM PERLU SUPLEMEN IMUNITAS

Banyak yang beranggapan dengan mengonsumsi suplemen imunitas, bayi dijamin tak gampang sakit. Benar begitu?

New Page 1
Entah berawal di mana, akhir-akhir ini kian banyak orang yang setiap hari seolah berlomba mengonsumsi suplemen. Asupan suplemen ini diyakini bisa meningkatkan stamina alias daya tahan tubuh. Lebih lanjut, hal ini kemudian diterjemahkan bahwa yang mengonsumsinya bakal kebal terhadap penyakit, selain tak terganggu oleh keluhan pegal dan capek sehabis beraktivitas seharian. 

Padahal, suplemen atau asupan vitamin baru bisa berefek positif bila tubuh memang membutuhkannya. Sedangkan jika kebutuhan zat gizi bayi telah tercukupi dari asupan makanan sehari-hari, suplemen tadi justru akan ditolak oleh tubuh. Ada yang dibuang lewat urin maupun feses, ada juga yang kemudian tertimbun dalam lemak maupun organ-organ tubuh. Hal terakhir inilah yang umumnya di kemudian hari menyebabkan penyakit. 

Sayangnya, entah karena minimnya informasi atau keengganan masyarakat mencari tahu perihal efek samping obat-obatan, jadilah mengonsumsi suplemen dijadikan kebiasaan. Lebih celaka bila pembiasaan ini lantas ditularkan pula pada anak-anak mereka, termasuk yang masih bayi. 

KAPAN SUPLEMEN DIPERLUKAN 

Memang, sih, ada suplemen yang aman dikonsumsi anak di bawah 1 tahun untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Akan tetapi, ujar dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), "Pemberiannya tidak bisa sembarangan. Kapan dan seberapa dosisnya harus benar-benar tepat dan disesuaikan dengan kondisi maupun kebutuhan masing-masing anak." 

Lalu, kapan suplemen imunitas ini perlu diberikan? "Jika anak susah makan atau kurang suka pada sayur, buah-buahan, dan makanan bergizi lainnya, pantaslah kita berikan suplemen untuk menjaga daya tahan tubuhnya." 

Namun, pemberiannya haruslah di bawah pemantauan dokter. Zakiudin mengingatkan para orang tua agar jangan latah. Jangan mentang-mentang bayi tetangga yang mengonsumsinya terlihat sehat, kuat, dan energik lantas kita ikut-ikutan. Asal tahu saja, menurut Zakiudin, suplemen yang sama belum tentu berkhasiat sama pada setiap anak. 

Zakiudin pun mengingatkan bahwa suplemen, baik yang berupa sirup maupun minuman/makanan, sebenarnya tidak perlu diberikan kepada bayi jika kebutuhan gizinya memang sudah terpenuhi. Itulah mengapa budaya mengonsumsi suplemen, kalaupun sudah kadung menjadi kebiasaan pada kalangan dewasa, janganlah ditularkan pada anak. "Kasihan mereka. Antibodi dan kekuatan imun mereka masih sangat baik karena belum terkontaminasi bahan-bahan nonalamiah," begitu komentar dokter spesialis anak dan konsultan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang mendalami alergi dan imunologi ini. 

Kendati begitu, bukan berarti anak sama sekali tidak boleh mengonsumsi suplemen imunitas. "Bayi bisa saja mengonsumsinya. Tentu, bila tujuannya untuk membantu memulihkan kondisi tubuhnya sehabis sakit ataupun menjauhkannya dari berbagai rongrongan yang akan menimbulkan keluhan penyakit sementara antibodi alami dalam tubuhnya belum mampu melawan rongrongan tadi." 

Kapan persisnya suplemen imunitas untuk bayi diperlukan? "Susah sekali menentukannya secara awam. Apalagi jika sudah menyangkut soal dosis." Itulah sebabnya, pemberian suplemen harus selalu berada di bawah kontrol dokter. "Sebelum memberikan suplemen, dokter pasti akan mengevaluasi riwayat kesehatan si bayi sekaligus mengukur tingkat kebutuhan suplemen yang harus dikonsumsinya," lanjutnya.

Dijelaskan Zakiudin, gangguan kekebalan tubuh bisa saja diakibatkan tubuh bayi sendiri. Mungkin saja, sudah merupakan bawaan lahir bahwa kekebalan tubuhnya tidak terbentuk sempurna, meski bisa juga karena faktor luar, semisal bahan-bahan yang diperlukan untuk membentuk antibodi yang didapat lewat makanan relatif kurang. Hal-hal itulah yang akan dijadikan pertimbangan dokter untuk memberi suplemen imunitas tambahan.

VITAMIN DULU BARU ZAT IMUNITAS

Perlu diketahui suplemen imunitas untuk bayi umumnya dikemas dalam bentuk sirup. Suplemen ini pada dasarnya bisa berbentuk vitamin atau zat-zat tertentu yang dapat merangsang kekebalan tubuh. Nah, konsumsi yang harus diwaspadai adalah suplemen imunitas yang kandungannya berupa zat-zat selain vitamin. Inilah yang menjadi alasan mengapa ketika anak sakit, dokter tetap mendahulukan pemberian tambahan vitamin ketimbang tambahan zat imunitas lain. 

Suplemen berupa vitamin sebetulnya bisa diberikan sendiri karena relatif aman. Kalaupun sampai terjadi kelebihan akan dikeluarkan sendiri oleh tubuh. Hanya saja ini pun tetap perlu hati-hati mengingat ada beberapa vitamin, yakni A, D, E, K, yang bila berlebihan akan ditimbun dalam lemak. "Jadi, sebaiknya tetap dalam pengawasan dokter," sarannya.

Zakiudin pun meminta agar media ikut meluruskan pendapat salah kaprah tentang vitamin. "Masyarakat tahunya, kan, vitamin itu berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Itu salah besar. Yang benar, vitamin itu diperlukan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh."

Jika sakitnya berkelanjutan atau berulang cepat, biasanya barulah dokter meresepkan suplemen imunitas bagi bayi. Dengan kata lain, pemberian suplemen imunitas dengan kandungan zat-zat tertentu baru diberikan jika sakit yang diderita si kecil tidak bisa diatasi oleh kekebalan tubuhnya sendiri atau anak memang memiliki gangguan kekebalan tubuh sejak lahir. Begitu pula jika misalnya obat antibiotika yang diberikan kepada anak tidak mampu mengatasi penyakit-penyakitnya yang ternyata disebabkan virus.

Jadi, tandas Zakiudin, pemberian suplemen imunitas tidak bisa diberikan sembarangan atau dijadikan menu setiap hari. "Wah kalau khasiatnya bisa sehebat itu, berikan saja setiap hari agar anak dijamin tidak bakalan sakit," misalnya. Disamping itu, memberikan suplemen secara serampangan bisa membawa dampak yang tidak ringan. Menurutnya, selain buang-buang uang, juga akan membebani tubuh si bayi. "Ingat, lo, obat itu adalah racun yang dikendalikan. Bisa dibayangkan bagaimana jika pemberiannya pada anak, apalagi pada bayi, dilakukan serampangan."

Jika sistem kekebalan tubuh anak sudah baik, tapi suplemen terus diberikan, maka kelebihan zat imunitas malah akan menyerang tubuh si bayi. Muncullah apa yang dinamakan penyakit autoimun. Bisa juga tubuhnya akan lebih dulu mengalami kelelahan, sehingga rangsangan dari zat-zat suplemen tidak bisa lagi memberi pengaruh yang diharapkan. "Ini yang biasa disebut kelelahan sistem imun."

ASI MENGANDUNG IMUNITAS TERBAIK

Ada baiknya bila para ibu mengikuti anjuran Departemen Kesehatan maupun WHO untuk memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia enam bulan. Ini penting mengingat ASI memang telah terbukti mengandung imunitas terbaik bagi bayi yang tidak bisa digantikan oleh susu formula. Akan tetapi bukan berarti bayi yang mendapat ASI eksklusif dipastikan daya tahan tubuhnya baik. Apalagi jika si ibu kurang mengonsumsi makan-makanan yang bergizi. "Nah, dalam kondisi seperti inilah fungsi suplemen imunitas bisa berperan untuk membantu tubuh si bayi membentuk antibodi, termasuk untuk menangkal penyakit," papar Zakiudin.

Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/nakita
 

Dunia Bayi edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari