| RAJIN
UCAPKAN AMIT-AMIT
Misalnya,
karena tuntutan skenario Tuyul dan Mbak Yul, Jacklyn terpaksa
melakukan adegan perkelahian meskipun sedang mengandung. Untungnya,
kegiatan yang terbilang membahayakan kehamilan, seperti menendang,
melompat, dan lari-lari, ini tidak mengundang masalah. Karena tidak "ngaruh"
inilah akhirnya banyak yang bilang kalau tubuh Jacklyn rada-rada "badak".
"Padahal,
kandunganku mengalami plasenta previa, lo. Biasanya, plasenta previa
seringkali menimbulkan masalah. Entah perdarahan, sering timbul kontraksi,
atau mual berlebihan. Ternyata aku tidak pernah mengalami semuanya. Betul
kata temen-temenku kalau tubuhku, tuh, badak, soalnya meski aktivitasku
berlebihan, aku tenang-tenang saja," ujarnya.
Tak hanya itu
pengalamannya. "Aku, kan, syuting bareng orang-orang yang bertubuh
kecil dan besar, padahal aku sedang hamil," terangnya. Jadilah,
setiap hari Jacklyn mengumbar kata amit-amit bila setiap kali Ucil, lawan
mainnya di sinetron Tuyul dan Mbak Yul, menggodanya.
Sebenarnya,
Jacklyn tidak percaya dengan mitos-mitos tersebut. "Kalau
keturunannya tinggi-tinggi, kayaknya enggak mungkin ngelahirin anak
yang kerdil, deh," tukasnya. Namun karena orang tuanya selalu
berpesan, maka kata amit-amitlah yang sering keluar. Selain juga ia tidak
boleh membenci orang-orang yang tubuhnya terlalu kecil atau besar.
REQUEST
LAGU DI KAMAR OPERASI
Karena sudah
tahu bakal dioperasi sesar, sebenarnya Jacklyn sudah menentukan tanggal
kelahiran anaknya. Namun, sekitar setengah bulan dari jadwal yang sudah
dibuat, tiba-tiba perutnya terasa mulas. "Waktu itu aku lagi ikut
bazar Femmy Permatasari, tiba-tiba datang mulas." Namun, berhubung
intensitas mulasnya tidak begitu tinggi, Jacklyn mengacuhkan saja. Baru
sorenya ia ke dokter. Dari hasil USG ketahuan kalau air ketubannya sudah
keruh, sehingga keesokan harinya ia harus masuk kamar operasi untuk sesar
Malam sebelum sesar,
Jacklyn tidak bisa tidur karena dihantui rasa sakit luar biasa. Namun, ia
yakin bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan kepada ibu yang akan melahirkan
"Ternyata keyakinanku benar, aku memiliki kekuatan luar biasa,"
ucapnya terharu. Salah satu penguat lainnya, ternyata bayangan kamar
operasi yang gelap gulita tidak terbukti. "Ruang operasinya begitu
nyaman, suster-susternya sangat ramah, dan aku bisa me-request lagu,"
ujarnya. Jadilah, ketika operasi berlangsung, Jacklyn malah ikut bernyanyi.
Tahu-tahu Michael James (2,5) sudah lahir.
Baru
ketika pengaruh biusnya hilang, muncullah rasa sakit yang lumayan menyiksa.
"Tapi anehnya, ketika suster membawa Michael ke hadapanku, rasa sakit
itu hilang. Begitu bayiku dibawa lagi, rasa sakitnya muncul lagi,"
ujar Jacklyn sambil tertawa geli. "Mungkin ini keajaiban Tuhan, ya,
betapa rasa sayang dan bahagia bisa menghapus rasa sakit luar biasa."
MANFAAT
MENGAJAR DI TK
Setelah
melahirkan, Jacklyn yang sebelumnya sangat sibuk dengan syuting, kini
berusaha mengurangi aktivitasnya. "Dalam satu waktu, aku hanya
menerima satu tawaran syuting sinetron. Aku tidak mau lebih dari itu. Biar
bagaimanapun, anak butuh banyak perhatian dari orang tuanya," ujar
istri dari Wicky V. Olindo (30) ini.
Memang, akunya,
pengasuhan anak bisa diserahkan kepada babysitter, tapi menurutnya, gaya
pendidikan yang diberikan seringkali tidak sesuai dengan yang diinginkan
orang tua. "Jadi, babysitter bersifat membantu saja. Seperti
membuatkan susu, makanan, memandikan, sedangkan masalah pendidikan tetap
tugas orang tuanya."
Sebelum hamil, Jacklyn
pernah menjadi guru di TK Montessouri. Pengalaman ini dirasakan sangat
berharga untuk merawat dan mengasuh Michael. "Banyak ilmu yang
kudapat saat mengajar di TK. Di sana, kan, sistem pendidikannya membuat
anak lebih mandiri, tidak tergantung pada orang tua seratus persen. Jadi
aku menerapkan semua yang kudapat," jelasnya.
Salah satu contoh,
setiap usai bermain, Jacklyn membiasakan anaknya untuk membereskannya
sendiri, tidak boleh menyuruh babysitter, apalagi orang tuanya.
"Kini setiap kali bermain, Michael akan meletakkan kembali mainannya
di tempat semula."
Bukan itu saja,
kemandirian Michael pun terlihat menonjol. Kalau hendak buang air kecil
misalnya, dia akan membuka celana kemudian berlari menuju toilet dan
kencing di sana. Memang, akunya, beberapa kali anaknya tidak bisa menahan
kencing, tapi menurutnya itu lumrah karena anaknya masih dalam proses
belajar. "Aku begitu surprise karena toilet training
ini sudah bisa dilakukan sejak usianya 2 tahun."
Sebenarnya,
kemandirian ini sudah diajarkan Jacklyn sejak Michael lahir. Misalnya,
ketika bayinya menangis, maka tidak serta merta akan diangkat dan
digendong. Ia melihat dulu apa yang sebenarnya dibutuhkan anak saat itu.
Mungkin saja bayinya cuma ingin disusui, diusap-usap, dikipas-kipas, atau
yang lainnya. "Sebab, sebenarnya bayi punya rasa 'kediktatoran', dia
sudah bisa membuat orang tua mengikuti kemauannya, yakni dengan menangis.
Bila kita biasa menggendongnya kala menangis, maka dia akan mengulanginya
lagi untuk digendong." Kebiasaan seperti inilah yang menurut Jacklyn
akan membuat anak tidak mandiri.
HARUS
SATU SUARA
Jacklyn pun
lalu menceritakan bahwa kini anaknya sedang sangat aktif, bahkan termasuk
superaktif. "Michael tidak pernah bisa diam sedikit pun. Dia selalu
jumpalitan, lari ke sana-kemari, melompat-lompat, berteriak-teriak, dan
sebagainya." Untuk itu, ia mengaku dirinya cukup kerepotan dengan
ulah sang anak, karenanya ia berusaha mencari sistem pendidikan yang tepat.
Apalagi selain superaktif, anaknya juga cenderung lebih kreatif.
"Terbukti, daya
tangkapnya sangat cepat. Di usia 9 bulan dia sudah bisa menyetel VCD dan
mengaturnya di televisi. Dia bisa melakukannya hanya dengan melihat ketika
aku melakukannya," ungkap sang ibu.
Untuk merangsang
kreativitasnya, Jacklyn memberikan berbagai fasilitas, mulai dari kertas
gambar, puzzle, hingga beragam mainan kreatif. Jacklyn pun selalu
memperkenalkan beragam warna yang ada di mainan. Dampak positifnya, di
usia 1,5 tahun Michael sudah hafal 10 jenis warna.
Bukan
hanya merangsang kreativitas anak, ia pun menganggap perlu menerapkan
disiplin pada anaknya. Misalnya, mana yang boleh dilakukan anak dan tidak.
"Untuk melakukannya dibutuhkan kekompakan suara antara aku dan suami.
Bila tidak, anak malah jadi bingung, mana yang sebenarnya boleh dilakukan
dan tidak. Jadi, ketika aku larang Michael memainkan alat kosmetik,
ayahnya pun harus demikian. Jangan sampai aku bilang tidak boleh, papanya
malah mengizinkan, nanti jadi rancu," ujarnya menutup perbincangan.
Irfan
Hasuki. Foto: Vitri/nakita
|