FirstFlag
ASTAGA, SI PRASEKOLAH BICARA SADIS!

Akibat arus informasi, kata-kata sadis sampai juga ke telinga anak. Pemahaman yang terbatas, mendorongnya mengucapkan kata-kata itu secara tidak tepat. Bagaimana menjelaskannya?

Sebagai orang tua kita pasti terkaget-kaget kalau si prasekolah melontarkan kata-kata yang tergolong sadis. Semisal, "Ibu mau enggak aku cekik?" Kali lain, "Nanti Papa aku bunuh, lo!" Berbeda dengan orang tua yang serasa jantungnya copot mendengar kata-kata sedemikian vulgar, si kecil umumnya justru kelihatan enteng saja atau malah senang. Boleh jadi dikiranya istilah-istilah tersebut termasuk sejenis humor untuk "menggoda" orang lain.

Konselor keluarga dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Rani Noe'mon menyebutkan anak usia ini pada dasarnya tak mengerti arti kata-kata menyeramkan semacam itu. Dengan kata lain, "Bagi anak prasekolah, istilah kekerasan masih dipahami secara abstrak. Terlebih jika itu kata-kata asing yang baru pertama kali didengarnya. Lalu, mereka mencari-cari apa arti sesungguhnya sekaligus mempersepsikan sesuai dengan tingkat pemahamannya."

Nah, dalam rangka mencari penjelasan secara komprehensif itulah, biasanya anak akan melontarkan kata-kata "horor" kepada orang-orang di sekitarnya. "Jadi, mereka sama sekali tidak bermaksud mengata-ngatai ayah-ibu atau orang-orang di sekitarnya dengan kata-kata bermuatan kekerasan tadi. Melainkan sebatas menunggu reaksi atau tanggapan apa, sih, rentetan akibatnya bila kata-kata itu diucapkan. Jelas, di sini peran orang tua amat penting untuk pandai-pandai menjelaskan istilaah-istilah kekerasan itu kepada anak."

TAK PERLU KELABAKAN

Mengingat rasa ingin tahu yang biasanya masih amat tinggi, hati-hati pula kala menerangkannya. "Jangan sampai orang tua malah kelabakan, sebab kalau sudah begini, penjelasan orang tua bisa-bisa malah tak kalah menyeramkan buat anak. Sementara jika penjelasan itu tak segera diberikan, anak akan mencari-carinya sendiri atau menyimpulkan arti kata-kata sadis tadi menurut versinya sendiri."

Hal senada ditegaskan pula oleh psikolog dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Rahmitha P. Soendjojo. Menurutnya, kalau anak sampai mengucapkan kata-kata semacam itu kemungkinan besar ia hanya meniru atau mengucapkan kembali kata-kata "aneh" yang baru pertama kali didengarnya berdasarkan visualisasi dari tayangan kekerasan di televisi.

Peniruan akan semakin menjadi jika frekuensinya menyaksikan tayangan kekerasan dan sejenisnya cukup tinggi. "Celakanya, sebaran informasi mengenai dunia kriminal begitu gencar sekarang. Akibatnya, anak jadi 'kebal' terhadap kata-kata keras dan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Lebih celaka bila anak tak hanya menyaksikan hal-hal berbau kekerasan tadi melalui televisi, melainkan menyaksikan atau malah mengalaminya sendiri."

RAJIN MENAMBAH WAWASAN

Nah, supaya anak tak tertarik untuk mendengar maupun mengucapkan kata-kata sadis semacam itu, baik Mitha maupun Rani menyarankan agar orang tua melakukan berbagai upaya berikut:

* Jangan langsung panik menanggapi ucapannya yang seperti itu, apalagi memarahinya karena hanya akan membuat anak bingung.

* Katakan dengan tegas bahwa sebetulnya istilah-istilah keras tersebut tak patut diucapkan karena mengandung makna yang tak baik.

* Saat menjelaskan, orang tua mesti percaya diri. Jika tidak, bukan tidak mungkin anak malah mengira dibohongi. Caranya, berusahalah untuk selalu menambah wawasan dan pengetahuan agar selalu siap ketika diberondong aneka pertanyaan.

* Sebisa mungkin, kala memberi penjelasan, jangan lupa selipkan nilai-nilai agama, seperti soal baik-buruk.

* Jelaskan arti kata-kata yang menyeramkan tadi dengan padanan kata atau asosiasi yang mudah dipahami. Jangan langsung mempersepsikannya dengan sesuatu yang berbau kriminal.

* Sampaikan dengan bahasa mereka dan harus sesuai dengan usia, tingkat pemahaman dan perkembangan jiwanya. Jangan sampai menjelaskannya kelewat detail seperti menjelaskan pada orang dewasa yang justru membuat anak syok.

* Jika kebetulan tak tahu, jangan malu bilang tak tahu. Berjanjilah untuk mencari tahu arti kata itu dan menjelaskannya kemudian. Jangan sampai anak malah mencari-cari keterangan dari orang lain yang bukan tidak mungkin malah menyesatkan.

* Kalaupun anak mengucapkan kata-kata keras tersebut dalam rangka cari perhatian, sebaiknya orang tua "pura-pura" tak mendengar. Jika tidak mendapat tanggapan seperti yang diharapkan, biasanya anak akan sadar bahwa mencari perhatian dengan cara tersebut tidak berkenan bagi orang tuanya.

* Kalaupun sikap "pura-pura" tak mendengar seperti itu ternyata tak mempan juga, orang tua dapat menunjukkan reaksi dan sikap tak suka kala mendengar kata-kata seperti itu diucapkan. Kalau perlu, katakan dengan tegas padanya, "Mama-Papa enggak suka kamu bilang begitu. Kan, Papa pernah bilang kata itu artinya enggak bagus," contohnya.

TAK PERLU MENDETAIL

Berikut beberapa kata keras yang menurut Rani kerap dilontarkan anak dan membutuhkan penjelasan orang tua.

* Disiksa

Jelaskan bahwa menyiksa artinya melakukan sesuatu yang tak menyenangkan terhadap objek tertentu secara berkali-kali. Karena dilakukan secara semena-mena, tindakan itu menimbulkan kesakitan atau bahkan membuat seseorang terluka, maka menyiksa termasuk perbuatan tak baik yang dilarang agama. Yang pertama mesti diingat, orang tua jangan mengasosiasikan kata tersebut dengan sesuatu yang mengerikan. Pilihkan atau perhalus dengan pilihan kata lain, semisal "Kalau si Pus kamu pukul dengan sapu atau kamu tarik-tarik ekornya, dia pasti akan kesakitan. Kasihan, kan?"

* Dikeroyok

Sampaikan bahwa dikeroyok itu hampir sama dengan disiksa, tapi dilakukan oleh banyak orang. Kalau suatu saat anak mempertanyakan adanya kasus penjahat yang dikeroyok, jelaskan secara proporsional. Jelaskan bahwa tindakan si penjahat maupun para pelaku pengeroyokan itu sama-sama perbuatan buruk. "Kita tak boleh menghakimi penjahat dengan main keroyok begitu. Kan, ada pengadilan dan polisi yang menanganinya."

* Ditusuk

Untuk memudahkan penjelasan, kata ini bisa diasosiasikan dengan sate ayam yang pasti pernah dinikmatinya. Tapi, pastikan bahwa ia tahu bahwa menusuk dengan benda tajam apa pun bisa menimbulkan rasa sakit atau malah luka di tubuh. Kedepankan bahayanya agar anak berhati-hati dengan tindak kekerasan yang satu ini.

* Ditembak

Bisa dipastikan anak mendapat kata dan pemahaman soal ini dari adegan tembak-menembak yang dilihatnya dari tayangan teve. Jelaskan bahwa orang tertentu boleh memiliki senjata api, tapi itu pun hanya boleh digunakan untuk tujuan membela diri atau menaklukkan penjahat yang mencoba melawan seperti yang dilakukan polisi. Ini sangat perlu agar anak tak memiliki persepsi salah.

* Disembelih

Gunakan asosiasi untuk menjelaskan kata ini, seperti penyembelihan ayam, sapi, dan hewan lain sebelum diolah menjadi santapan lezat. Ada baiknya masukkan nuansa keagamaan, seperti penyembelihan hewan kurban untuk merayakan hari Idul Qurban. Dengan begitu, anak sekaligus belajar mengenal makna dosa dan pahala. "Pokoknya, jangan langsung terfokus pada persoalan kriminalitas semata.

* Diperkosa

Yang satu ini termasuk kata paling sensitif, hingga butuh kehati-hatian ekstra. Ajarkan anak untuk menjaga dirinya sekaligus mengenali sentuhan yang merupakan ungkapan kasih sayang dan sentuhan yang menjurus ke arah pelecehan seksual. Katakan padanya, untuk tidak membiarkan siapa pun memegang-megang, mencolek-colek, atau mengelus-elus bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Mintalah anak untuk berteriak atau segera lari mengadukannya pada orang lain jika telah diperlakukan yang membuatnya merasa tidak nyaman.

LANGKAH-LANGKAH ANTISIPATIF

Rani tak menyangkal bila orang tua sering kesulitan mengontrol aktivitas anak. Terlebih jika kedua orang tua bekerja, hingga kedekatan interaksi dengan anak pun jadi terhambat. Menyiasatinya, lakukan beberapa langkah antisipatif berikut:

* Kurangi atau batasi aktivitas menonton televisi maupun berakrab-akrab dengan media cetak yang mengumbar atau setidaknya menyosialisasikan kekerasan pada anak.

* Buatkan jadwal nonton TV sesuai dengan mata acara yang cocok dengan usia anak. Mau tidak mau orang tua mesti rajin menyeleksi mata acara yang tak jarang berubah.

* Jika memungkinkan, dampingi anak ketika menonton. Kalaupun tidak, bina kerjasama dengan pengasuh atau orang dewasa lain di rumah untuk bersikap konsisten dalam menegakkan aturan tadi. Jangan sampai selama orang tua tak ada di rumah, anak dibiarkan nonton sesukanya.

* Jika di saat nonton bersama tiba-tiba muncul adegan berupa tindakan kekerasan, segera alihkan salurannya. Tapi jangan lupa sertai pemindahan saluran ini dengan penjelasan yang masuk akalnya. Tanpa penjelasan, anak justru penasaran.

* Jangan salah, lo! Film kartun anak pun banyak yang memuat adegan kekerasan, seperti kejar-kejaran yang diakhiri dengan penganiayaan sampai si musuh tak berdaya. Jelaskan pada anak bahwa perilaku itu tak baik ditiru. Jangan sampai mendiamkannya saja atau malah menertawakannya, hingga anak berkesimpulan bahwa tindak kekerasan semacam itu merupakan sesuatu yang lucu dan menyenangkan.

* Jalin kerjasama yang baik dengan guru di playgrup/TK-nya karena lingkungan "sekolah" juga berpengaruh besar pada anak. Bukan mustahil anak meniru kata-kata keras tadi dari teman-temannya.

* Yang terpenting, selalu jalin kedekatan komunikasi dengan anak. Sehingga ketika anak bertanya tentang hal-hal baru, dia tak sungkan mengutarakannya langsung pada orang tua.

DAMPAK NEGATIF YANG MESTI DIWASPADAI

Berikut sederet dampak merugikan bila penjelasan orang tua dilakukan secara kurang tepat, seperti yang dikatakan Rani.

* Anak akan merasa tak aman dan tak nyaman. Ke mana-mana dia akan merasa waswas dan selalu curiga terhadap hal-hal yang dilihatnya.

* Orang tua yang terlalu khawatir biasanya selalu wanti-wanti ini dan itu. Akibatnya, anak akan tumbuh jadi sosok penakut atau malah cenderung paranoid alias gampang curiga atau sulit mempercayai orang lain. Bisa-bisa ia takut keluar rumah atau harus selalu minta diantar-jemput, hingga perkembangan jiwanya pun akan terhambat.

* Keinginan dalam diri anak untuk melakukan tindak kekerasan atau karakter jahat akan meningkat.

* Anak jadi kurang menaruh peduli pada kesulitan dan penderitaan orang lain.  

Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh

Dunia Prasekolah edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari