FirstFlag
HINDARI INFEKSI PASCAOPERASI SESAR

Operasi sesar memang merupakan solusi atas persalinan berisiko. Namun, sesar sendiri bukannya tanpa risiko. Salah satunya, infeksi setelah operasi. Penyebab terjadinya infeksi di bekas luka operasi, menurut dr. Hj. Hasnah Siregar SpOG., bukan saja perilaku ibu yang tidak higienis. Beberapa faktor sebelum, di saat, dan sesudah operasi juga berpengaruh besar pada kemungkinan terjadinya infeksi. Berikut penjelasan ginekolog dari RSAB Harapan Kita, Jakarta ini.

FAKTOR PENYEBAB SEBELUM MELAHIRKAN:

* Diabetes

Kandungan gula dalam darah (glukosa) yang tinggi akibat sedikitnya produksi hormon insulin, merupakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangbiakan bakteri dan kuman. Akibatnya jika terjadi infeksi sedikit saja biasanya akan sulit diobati. Kesulitan lain, disamping mengobati infeksi, ibu pun harus menekan kadar gula darahnya ke batas normal.

Kondisi ini diperparah dengan seringnya penderita diabetes mengalami komplikasi neuropati atau mati rasa, hingga tak bisa merasakan apa-apa, termasuk bila ada luka di bagian tubuhnya. Akibatnya, yang bersangkutan jadi kurang waspada. Tak heran kalau ada bagian-bagian tubuh yang mulai terinfeksi sering tak diindahkan. Padahal, infeksi pada penderita diabetes harus cepat mendapat penanganan. Selain itu, kerap terjadi arterioklerosis/kekakuan dinding pembuluh darah yang membuat aliran darah mengalami perlambatan, hingga menguntungkan bagi si kuman.

Berikut hal-hal yang mesti dilakukan pengidap diabetes, terutama ibu hamil.

* Makanlah makanan yang bergizi cukup dan seimbang. Lakukan olahraga secara teratur agar bentuk tubuh selalu proporsional. Bila kelewat gemuk, diabetes akan lebih sulit ditangani.

* Hindari terlalu banyak makan makanan manis, asin, dan berlemak karena akan kian mempertinggi kadar gula darah. Amat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan berserat. Jenis makanan ini selain mampu melancarkan metabolisme, juga dapat mengurangi kadar gula darah.

* Patuhi apa yang dianjurkan dokter, lakukan kontrol secara teratur dan sediakan obat-obatan yang diresepkan. Bila sewaktu-waktu gula darah meningkat, obat tersebut bisa segera digunakan.

* Jaga kebersihan kulit, kuku, maupun makanan agar bakteri dan kuman penyakit tak mudah masuk ke tubuh.

* Penyakit Kronis

Penyakit kronis, seperti tuberkulosis maupun berbagai infeksi seperti infeksi pada serviks ataupun vaginitis dan sebagainya, sangat memungkinkan bakteri atau kuman yang ada untuk sewaktu-waktu menjalar ke bagian tubuh lain dan berkembang biak di tempat baru. Sewaktu ada perlukaan sesar, bisa saja proses penyembuhannya terganggu karena bakteri, kuman, virus ataupun jamur yang kini bercokol di daerah tersebut.

Itulah mengapa, jika tahu dirinya menderita berbagai penyakit kronis, selain kontrol teratur ke dokter, ibu pun harus benar-benar memperhatikan kondisinya, dan menjaga daya tahan tubuh sampai menjaga kebersihan dalam kesehariannya.

* Anemia

Pada penderita anemia, jumlah sel darah merahnya (hemoglobin atau Hb) rendah atau malah di bawah normal. Selama kehamilan dan saat melahirkan, ibu dengan Hb di bawah 8g/dl sangat mudah terserang infeksi, karena berdasarkan penelitian, mereka yang kadar Hb-nya kurang dari 10 g/dl memiliki kadar sel darah putih rendah. Padahal sel darah putih ini berguna menghalau bakteri/kuman yang masuk. Dengan begitu infeksi pun amat gampang terjadi, terlebih ketika terjadi perlukaan pada bagian tubuh si ibu. Padahal, ibu hamil yang memiliki Hb rendah, sewaktu melahirkan Hb-nya amat berpeluang menjadi semakin rendah karena banyaknya darah yang keluar. Hal inilah yang bisa "mengundang" terjadinya infeksi.

Kadar Hb yang rendah umumnya bisa dirasakan lewat tanda-tanda badan lemah, lelah, kurang berenergi, nafsu makan rendah, konsentrasi dan stamina menurun, gangguan sakit kepala, serta pandangan berkunang-kunang, terutama saat berdiri dari posisi duduk. Bahkan, penderita anemia yang tergolong berat, bisa mengalami sesak napas atau lemah jantung.

Hb rendah biasanya disebabkan kekurangan zat gizi pembentuk darah berupa asam folat dan vitamin B12. Yang tersering, karena kekurangan zat besi. Kondisi ini bisa diatasi dengan minum suplemen zat besi yang berguna untuk meningkatkan kadar Hb.

Sebagai antisipasi berkurangnya Hb di saat persalinan, ibu hamil butuh asupan zat besi yang cukup besar, yakni sekitar 40 mg per hari. Sayangnya, cara ini memberikan efek seperti mual, diare, muntah, dan lainnya. Jika demikian, ibu hamil harus rajin mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti telur, susu, hati, ikan, daging, kacang-kacangan (tempe, tahu, kedelai, kacang hijau), sayuran berwarna hijau tua (kangkung, bayam, daun katuk), dan buah-buahan (jeruk, jambu biji, pisang). Langkah ini dapat dilanjutkan setelah bersalin untuk tetap menstabilkan kadar Hb dalam tubuh, hingga tidak mudah terserang penyakit.

Untuk memudahkan penyerapan zat besi, ibu dapat menambah konsumsi vitamin C, daging, ayam, dan ikan. Sebaliknya, substansi penghambat proses penyerapan zat besi seperti teh dan kopi patut dihindari. Tentu saja, sambil tetap berkonsultasi dengan dokter spesialis agar masalah infeksi, penyakit kronis maupun gangguan pencernaan yang muncul dapat teratasi dengan baik.

Nah, karena berbagai risiko besar menanti bersamaan dengan kehamilan dan persalinan, Hasnah menyarankan agar sebelum hamil, setiap wanita menjaga sekaligus memeriksakan kondisi kesehatannya lebih dahulu. Barangkali saja, ia mengidap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan yang membutuhkan penanganan serius dan penyembuhkan total agar tidak berdampak pada kehamilannya. Sayangnya, yang terjadi di sini, "Banyak ibu telanjur hamil dengan berbagai masalah, hingga penanganannya lebih kompleks."

FAKTOR PENYEBAB SAAT MELAHIRKAN

* Ketuban Pecah Dini

Peristiwa ini ditandai dengan keluarnya cairan dari vagina. Baunya amat khas. Bila warnanya hijau dan baunya menyengat, sangat mungkin cairan itu sudah dipenuhi bakteri. Nah, kalau bakteri ini tidak dibasmi tuntas, kemungkinan besar mereka akan menjalar ke luka bekas sesar dan menimbulkan infeksi.

Biasanya saat mengetahui ketuban pecah dini, dokter yang menangani persalinan akan menentukan apakah cairannya terkontaminasi kuman atau tidak. Jika terlihat tanda-tanda seperti itu, maka kepada ibu akan segera diberikan obat antibiotik yang dapat menangkal infeksi. Langkah antisipasi ini juga perlu dilakukan meski air ketuban terbilang normal atau berwarna bening. Di antaranya dengan memperhatikan kebersihan tubuh dan lingkungan sekitar.

* Persalinan Lama

Kemungkinan ini bisa terjadi bila penanganan terhadap ibu melahirkan dilakukan secara kurang profesional. Misalnya, tempat bersalin tidak memiliki peralatan dan fasilitas persalinan yang memadai, padahal bayinya bermasalah, seperti plasenta previa, sungsang ataupun ukurannya terlalu besar.

Keterbatasan fasilitas dan keahlian ini memaksa ibu melahirkan dalam waktu yang sangat lama, bahkan sampai berjam-jam. Proses bersalin yang cukup lama memberi kesempatan pada berjangkitnya bakteri maupun kuman. Nah, bila bakteri atau kuman ini berkembang, selain akan menimbulkan infeksi di organ reproduksi si ibu, nantinya juga berkemungkinan menimbulkan infeksi di bekas luka sesar.

* Kondisi Tidak Steril

Hal utama yang pantang dilupakan saat bersalin adalah kondisi steril dari semua faktor yang mendukungnya, seperti peralatan yang digunakan, tim dokter yang menangani, para asisten dokter, dan ruangan bersalin. Bila tidak, bakteri atau kuman yang ada sewaktu-waktu dapat memunculkan infeksi, terlebih kalau proses persalinannya lewat sesar. Infeksi ini tidak saja terjadi di bekas luka sesar, tapi bisa menjalar sampai ke organ vital lainnya, seperti otak, paru-paru, hati, jantung. Kalau sudah begini, dikhawatirkan dampaknya amat fatal, yakni nyawa ibu tak bisa tertolong lagi.

FAKTOR PENYEBAB USAI BERSALIN

Lewat masa bersalin, bukan berarti ibu terbebas dari kemungkinan terkena infeksi. Bahkan meskipun tidak ada faktor penyebab sebelum dan saat hamil, ibu tetap tidak boleh lalai karena masa-masa awal penyembuhan luka sesar masih amat rentan terkena infeksi. Berikut beberapa faktor penyebab infeksi setelah bersalin.

* Alergi Jahitan

Beberapa ibu melahirkan ternyata ada yang alergi terhadap benang jahit sesar. Alergi ini biasanya ditandai dengan kulit yang kemerahan atau terasa gatal-gatal. Bila ibu tidak cermat atau malah bersikap cuek dan tak menjaga kebersihan tubuh maupun lingkungannya, bukan tidak mungkin akan mengundang datangnya bakteri atau kuman yang pada giliran berikutnya akan menyebabkan infeksi.

* Tidak Higienis

Di hari ketiga setelah persalinan, biasanya perban penutup operasi dibuka. Bila kondisinya bagus, seperti tidak ada pengerasan dan tidak ada kelainan apa pun, sebetulnya ibu tak perlu cemas. Yang penting, jagalah kebersihan tubuh sebaik mungkin. Meski perban sudah boleh dilepas, dan kondisi kulit bagus, tapi kalau setelah itu ibu kurang menjaga kebersihan, mungkin saja bakteri akan berkembang biak di situ yang nantinya menimbulkan infeksi.

* Gizi Kurang

Bisa saja setelah melahirkan, ibu kurang memperhatikan kondisi tubuh maupun kesehatannya lantaran kelewat sibuk mengurus si kecil. Padahal, kecukupan gizi seimbang ini sangat diperlukan disamping kebersihan. Selain baik untuk produksi ASI, daya tahan tubuh ibu maupun si kecil juga akan terjaga sehingga mampu menangkal bakteri atau kuman yang mencoba masuk.

Perhatian ekstra ini harus betul-betul diupayakan sampai luka sesar benar-benar kering dan sembuh. Bila tidak, mungkin saja dua minggu setelah operasi baru terjadi infeksi.

TERPAKSA JAHIT ULANG

Ciri-ciri luka sesar yang mulai terinfeksi, menurut Hasnah adalah terjadinya pembengkakan dan warna kemerahan pada bekas jahitan yang disebut dengan infiltrat. Biasanya di daerah jahitan pun muncul rasa sakit.

Bila terjadi demikian, ibu dianjurkan untuk segera mengompresnya dengan obat kompres yang umum dipakai, seperti rivanol. Pengompresan ini harus terus dilakukan sampai kondisi kulit normal kembali, yaitu tidak merah lagi, dan tidak sakit lagi.

Tentu saja bila kompres itu tidak menampakkan hasil, segeralah konsultasi ke dokter. Biasanya dokter akan memberikan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi, disamping kompres antiseptik yang harus tetap dilakukan. Biasanya sehari sampai dua kali.

Infeksi yang memburuk biasanya terjadi jika ibu kurang tanggap terhadap kondisi tadi. Dikiranya, kulit merah dan bengkak itu merupakan salah satu implikasi dari operasi yang dijalaninya. Akibatnya, bekas jahitan sesar bisa-bisa kembali terbuka dan bernanah. Penanganannya pun akan semakin sulit. Selain kompres dan pemberian obat antibiotika, nanahnya pun harus diperiksa di laboratorium untuk mengidentifikasi jenis kandungan bakteri atau kuman. Kalau sudah ketahuan apa jenisnya, antibiotika yang paling sesuailah yang dipakai untuk menghantam penyebab infeksi tersebut.

"Ibu pun harus dioperasi ulang untuk merapatkan jahitan yang terbuka. Tentu saja sebelum dilakukan operasi, dokter akan menilai, sampai sebatas mana jahitan itu terbuka dan sedalam apa lukanya. Kalau yang terbuka hanya dua lapis paling luar saja biasanya hanya dirawat dengan obat subkutikular tanpa perlu dilakukan operasi. Dari pengalaman, pengobatan seperti ini cukup efektif, kok," ujar Hasnah. Akan tetapi, bila infeksi sudah tergolong parah, mau tidak mau operasi ulang harus ditempuh. Terlebih kalau bagian yang terbuka mencapai 4 lapis, yakni fascia, maka operasi harus dilakukan dengan proses penjahitan dari awal lagi.

Proses operasi ulangan ini tentu saja menjadi lebih rumit dan sulit karena selain harus mengerjakan dari awal, nanah yang ada dalam luka itu pun harus sudah hilang atau luka harus kering. Bila operasi dipaksakan saat kondisi luka masih bernanah, hasilnya akan sia-sia. Selain jahitannya akan terbuka kembali, tindakan ini juga malah akan membahayakan ibu. Terutama ancaman nyawa karena bakteri atau kuman penyebab infeksi malah bisa ikut aliran darah dan menjalar ke semua organ penting lain. Bisa terjadi sepsis (infeksi ke seluruh tubuh) yang kalau sampai ke otak disebut dengan sepsikemia."

Untuk menghindari infeksi berulang, selain minum obat rutin, ibu harus menjaga kebersihan. Sedangkan bagi ibu yang menderita diabetes, tentu harus rajin mengontrol kadar gula darahnya dan teratur menjalani pengobatan. Itulah mengapa Hasnah menegaskan pentingnya deteksi infeksi secepat mungkin. Semakin dini, kemungkinan penanganannya juga dapat dilakukan lebih mudah.

PEMULIHAN SETELAH SESAR

* Nyeri di sekitar bekas sayatan bedah.

Ketika efek anestesi hilang, luka di atas bekas sayatan akan mulai terasa nyeri dan biasanya dokter akan memberikan obat pereda nyeri.

* Mual dan muntah.

Sebetulnya tidak terlalu menjadi masalah, tapi bila sangat mengganggu, mintalah obat antimual-muntah pada dokter Anda.

* Latihan pernapasan dan batuk.

Bisa membantu mengeluarkan sisa-sisa anestesi karena mengembangkan paru-paru, hingga bersih dan terhindar dari pneumonia.

* Pelepasan kateter setelah 24 jam.

Mulanya akan sulit buang air kecil.

* Pelepasan infus.

Umumnya setelah lewat 24 jam, infus akan dilepas.

* Kemungkinan sembelit.

Baru beberapa hari kemudian Anda bisa buang air besar. Hal ini biasa terjadi dan bantulah dengan makanan yang mengandung serat.

* Berolahraga.

Sebelum diperbolehkan bangun, lakukan gerakan untuk jari kaki. Selain itu, sering-seringlah mengubah posisi tidur agar tidak terjadi penggumpalan darah di tubuh.  

Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh

Menyambut Si Kecil edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari