Bunda, coba cari, aku ada di mana?!" teriak si batita. Dan itu dilakukannya pagi, siang, sore, serta malam. Begitu ayah-ibunya pulang kantor, langsung diajak main petak umpet. Pendeknya, ia hobi sekali dengan permainan itu. Jika tak ditanggapi, si kecil pun ngambek, marah.
Kalau mau ditelusuri, menurut psikolog Mayke S. Tedjasaputra, permainan petak umpet yang gemar dimainkan batita ini merupakan kelanjutan permainan ciluk-ba dan mencari barang yang tersembunyi, di masa bayi. Semua permainan ini berkaitan dengan kemampuan/perkembangan kognisi mereka akan objek permanen. Maksudnya, si kecil tahu, walau seseorang/sesuatu tidak kelihatan tapi sebenarnya tetap ada (di situ). "Nah, dari ciluk-ba lalu berkembang jadi petak umpet. Biasanya permainan ini digemari anak usia batita hingga anak sekolah karena aturan permainannya cukup sederhana dan tak perlu keterampilan tertentu. Permainan ini juga mereka anggap amat menyenangkan," ujar pengasuh Rubrik Tanya Jawab Psikologi nakita ini.
BANYAK MANFAAT
Beda petak umpet ala batita dengan anak usia SD, lanjut Mayke, batita kadang belum begitu ngeh dengan peraturan yang ada dalam permainan tadi. Umpamanya, mata harus dipejamkan hingga hitungan ke-10 untuk menunggu teman lainnya bersembunyi, sebelum boleh membuka lagi matanya dan mencari. "Tapi karena mereka belum mengerti bahwa tiapp ermainan ada peraturan-peraturan yang harus ditaati, ya, mereka main semaunya saja. Baru diam sebentar, sudah mencari orang yang bersembunyi, misalnya."
Tak perlu heran juga bila tempat persembunyian yang dipilih si kecil, mudah ditemukan. Seperti di balik gorden atau hanya memasukkan kepala mungilnya ke dalam selimut. Semua ini tak berkaitan dengan kecerdasannya, lo. Menurut Mayke, pilihan tempat persembunyian itu lebih berkaitan dengan segi kemampuan berpikir batita yang masih terbatas.
Mereka hanya bisa membayangkan/berpikir,kalau wajah disembunyikan pasti tak bakalan terlihat orang lain. Mereka berpikir, "Kalau aku enggak bisa lihat Mama, berarti Mama juga enggak bisa lihat aku." Bersembunyi di tempat-tempat yang sulit dicari, biasanya baru akan dilakukan sewaktu mereka menginjak SD, kata psikolog lulusan UI ini.
Terlepas dari si kecil mematuhi aturan main atau tidak,setidaknya ia dapat belajar sesuatu dari permainan ini. Ia belajar peraturan permainan, masalah turn taking (bergiliran ada yang harus mencari, ada juga yang bersembunyi),sekaligus belajar bersosialisasi karena permainan ini melibatkan orang lain.
VARIASIKAN PERMAINAN
Kegiatan bermain petak umpet mungkin akan berbeda frekuensi "kemunculannya" pada satu batita dibandingkan batita lainnya. Semua ini, tutur Mayke, tergantung dari peran keluarga. "Kalau orang tuanya sering mengajak anak main petak umpet, otomatis anak juga akan menyukai permainan ini. "
Penyebab lain si kecil hobi main petak umpet adalah pengaruh minatnya sendiri. Ada anak yang suka permainan aktif, artinya secara fisik lebih banyak bergerak. Di sisi lain, adayang suka bermain pasif/permainan yang memerlukan ketekunan. Misalnya, yang menggunakan keterampilan jari-jemari seperti bermain lilin, menggunting dan menempel. Atau permainan yang lebih menggunakan imajinasi, misalnya mendengarkan cerita.
Nah, anak yang suka petak umpet biasanya lebih berminat pada permainan aktif karena permainan itu bersifat aktif. Ia harus lari, sembunyi,dan berpindah tempat mencari yang bersembunyi. Namun di mana pun minat si kecil, tak usah khawatir karena setiap anak adalah pribadi yang berbeda. Seperti yang dituturkan Mayke, "Semua ini wajar karena bila dikaitkan dengan multiple intelligent. Intelegensia anak memang berbeda-beda. Ada yang pandai dalam kinetetik atau gerakan sehingga dia lebih unggul dalam permainan yang memerlukan gerak. Mungkin saja anak yang aktif ini lebih suka pada kegiatan fisik karena dari segi ketubuhannya lebih cepat terampil dalam mempelajari suatu gerakan, seperti olahraga. Tapi mungkin dia akan lemah pada permainan yang membutuhkan keterampilan seperti menulis dan lainnya."
Hanya saja, sarannya, jangan sampai permainan si kecil hanya itu-itu saja. Umpamanya, seharian hanya main petak umpet. Bisa-bisa wawasannya jadi tidak berkembang alias terlalu sempit. "Bila anak hanya suka main petak umpet, aspek-aspek lain yang bisa didapat dari permainan lain tidak akan berkembang. Akhirnya pengetahuan anak jadi terbatas. Jadi, harus divariasikan dengan kegiatan bermain yang lain!"
Selain itu, walaupun petak umpet merupakan permainan fisik, kita tetap harus mencari alternatif permainan fisik lainnya. Umpamanya, permainan yang memungkinkan anak untuk melatih keseimbangan, seperti meniti tembok di teras rumah atau berjalan di atas papan. "Semua ini sangat penting untuk keseimbangan tubuh dan kerja sama otak yang nantinya mengarah pada keberhasilan kegiatan belajar juga."
PERMAINAN PASIF
Selain permainan aktif, si kecil pun harus diperkenalkan dengan bermain pasif. Sebab, permainan yang tidak banyak melibatkan fisik dapat melatih ketekunan dan konsentrasinya. Contoh permainan pasif adalah puzzle, main pasir, membentuk lilin atau mendengarkan cerita/melihat-lihat buku. Awalnya mungkin agak sulit mengalihkan anak yang biasa bermain aktif untuk banyak diam. Yang penting, orang tua tidak menuntut berlebihan. Misalnya, secara tiba-tiba menuntut si kecil harus tekun menyelesaikan permainan puzzle-nya. "Untuk waktu 15 menit saja, anak sudah terlalu dituntut. Untuk awalnya, lebih baik beri jangka waktu yang bisa diterimanya. Cukup 5 menit, misalnya."
Selain itu, cari kegiatan yang ia sukai. Dengan kata lain, amati kesukaannya. Mungkin ia tidak suka ketika diminta bermain puzzle yang kelihatan njelimet. Tapi bisa jadi ia akan tertarik ketika diminta memilah-milah kancing berdasar warna atau mengumpulkan balok yang berwarna sama. "Ayo, Dek, kumpulkan yag warna biru dengan biru, yang merah dengan merah!"
Alternatif kegiatan lain adalah "menggambar" yang menyenangkan. Misal, bila si kecil sudah bisa meniup, cairkan sumba pewarna kue lalu minta si kecil meniupnya dengan sedotan di atas sebuah kertas. "Atau bila takut berbahaya, gunakan cat air di kertas lalu minta ia untuk menggerak- gerakkan atau melipat kertas itu hingga akan menjadi pola tertentu. Anak pasti suka."
Faras Handayani.Foto: Rohedi/nakita