TAK PERLU MENGHINDARI COKELAT
Hasil temuan terbaru para ahli, ternyata tak selamanya makanan atau minuman cokelat berdampak buruk. Justru jika dikonsumsi dalam jumlah tak berlebihan, cokelat sangat baik buat kesehatan jantung. Sebab, cokelat mengandung cukup banyak antioksidan (flavonoid) seperti yang banyak terdapat pada buah-buahan. Dr. Edell, sang peneliti, menyebutkan 40 gram cokelat mengandung 400 miligram flavonoid.
Kecuali itu, minuman cokelat hangat juga ampuh mengurangi gumpalan darah beku, serta membuat permukaan bagian dalam pembuluh darah tidak tegang. Kondisi ini cukup baik karena akan memelihara tekanan darah tetap normal dan mencegah penggumpalan pada saluran arteri.
Manfaat lainnya, sebagai penghancur kolesterol; cokelat akan menurunkan oksidasi kolesterol jahat (LDL/Low Density Lipoprotein). Dengan begitu pembentukan plak pada pembuluh arteri oleh LDL pun semakin kecil frekuensinya.
Nah, jika dibandingkan dengan permen atau makanan lain yang mengandung banyak gula, cokelat ternyata tak berdampak buruk bagi kesehatan gigi. Sebab cokelat justru mengandung sebuah substansi yang mampu mencegah munculnya plak pada gigi.
Hanya saja memang cokelat bukanlah makanan sempurna, karena disamping mengandung sedikit unsur kafein, juga mengandung lemak serta kalori tinggi. Sehingga kalau kita mengkonsumsinya terlalu banyak, selain membuat tubuh semakin membengkak, jantung pun jadi tak sehat.
OBAT SEMBELIT BUATAN SENDIRI
Kala si kecil mengalami sulit buang air besar atau sembelit, kita sering merasa tak berdaya untuk menolongnya. Memberi obat pencahar pada anak kecil jelas tak dianjurkan. Nah, ahli gizi Lilik Sri Hartati Raubun, SKM, memberi resep sederhana dan aman untuk mengatasi sembelit. Caranya, sediakan 100 cc air lalu tambahkan minimal 20 gr atau sekitar 2 sendok makan gula. Untuk mengencerkan cairan gula yang agak kental ini, tubuh akan menyerap cairan-cairan dinding usus yang secara alami akan menimbulkan diare osmose. Soalnya semakin banyak cairan yang ditarik dari
dinding usus, tinja akan kian lunak. Dengan analogi ini, teh pahit dijadikan pilihan untuk "mengobati" diare. Sementara makanan manis kerap jadi larangan untuk dikonsumsi anak karena "dituduh" menyebabkan mencret.
3 H BUAT WANITA BEKERJA
Berperan ganda atau bahkan multiperan, jelas membutuhkan energi dan daya tahan luar biasa. Untuk berangkat dan pulang kantor saja, pasti sudah menyita energi. Apalagi bila harus menggunakan kendaraan umum atau terjebak macet di jalan. Untuk bisa membawakan semua perannya dengan baik, M. Elisabeth Arman, SPsi, 3H yang baik mutlak dibutuhkan wanita, yakni health/kesehatan, husband/suami dan helper/pembantu.
Tanpa kondisi kesehatan yang prima, ia pasti akan sakit-sakitan melulu atau bahkan "babak belur". Sedangkan syarat H ke-2, setidaknya suami harus penuh pengertian dan bisa bekerja sama, termasuk dalam mengurus anak di waktu malam. Tanpa suami seperti ini, porsi tidurnya pasti terganggu, hingga saat bekerja malah lebih sering ngantuk, gampang uring-uringan dan tak produktif. Sama halnya bila H ke-3 tidak memenuhi syarat. Tanpa pembantu yang bisa diandalkan untuk mengurusi tetek bengek keperluan keluarga, mustahil, deh, para ibu bisa bekerja dengan tenang di kantor. Iya kan, Bu?
KOMPLIKASI PERSALINAN LAMA
* Ibu akan mengalami kelelahan, kekurangan cairan, nadi dan suhu pun meningkat.
* Terasa sakit saat kontraksi rahim, terutama pada perut bagian bawah.
*Persalinan disertai infeksi dengan tanda: suhu tubuh meningkat, bagian bawah rahim terasa sakit dan tegang.
* Terdapat tanda akan pecahnya rahim.
* Bibir vagina pun bisa terjadi pembengkakan (odema).
MENGATASI KEBIASAAN JELEK
Di masa tumbuh kembang, tak sedikit kebiasaan buruk atau jelek dilakukan si kecil. Diantaranya, menggigit-gigit kuku, mengisap jari, mengorek-korek hidung, memain-mainkan rambutnya sendiri (entah diputar-putar atau ditarik-tarik, biasanya terjadi pada anak perempuan), dan melakukan aksi menahan napas.
Ada anak yang melakukannya sebagai alat atau sarana hiburan, iseng, atau sedang bosan, tapi juga ada yang lantaran ingin mendapat perhatian orang tua. Biasanya berawal dari meniru, entah teman, saudara, atau orang dewasa di lingkungannya, yang akhirnya jadi kebiasaan. Khusus kebiasaan menggigit-gigit kuku, menurut hasil penelitian, juga karena faktor genetik yang kuat.
Namun, apa pun penyebab dan tujuannya, kebiasaan ini tentulah tak bagus. Jadi, harus dihilangkan. Berikut caranya:
* Jangan beri perhatian. Bila si kecil melihat kita tak ambil peduli dengan perilakunya itu, ia pun jadi malas atau enggan melakukannya lagi. Soalnya, ia merasa percuma saja melakukan bila tak ada respon dari orang tua. Cara ini cukup jitu, terutama untuk anak yang suka menahan napas. Bukankah lama-lama ia pun akan merasa tersiksa dengan tak bernapas ?
* Jika ia tetap melakukannya, ajak bicara dan beri pengertian. Misal, "Bunda enggak suka melihat kamu mengigit-gigit kuku. Kelihatannya, kok, jorok, ya." Atau, "Kalau kamu selalu mengorek-korek hidung, nanti enggak ada yang mau dekat dengan kamu, lo. Kan, mengorek-korek hidung itu jorok."
* Libatkan ia dalam proses penghentian kebiasaan itu. Tanyakan padanya, apa yang ia pikirkan untuk menghentikan kebiasaannya itu. Cara ini bisa sukses, terlebih bila kita "memergoki" si kecil tengah diolok-olok teman-temannya lantaran kebiasaan jeleknya itu.
* Tegaskan secara positif dan jelaskan perilaku lain sebagai pengganti kebiasannya itu. Misal, "Bunda lebih suka melihat kuku-kuku Kakak bersih terawat dengan cara digunting, bukan digigit-gigit."
* Beri pujian bila ia bisa menghentikan kebiasaannya itu. Bila perlu, beri juga hadiah.
Tentu kita harus sabar dan konsisten, ya, Bu-Pak, dalam proses penghilangan kebiasaan jelek ini. Kalau tidak, ya, jangan harap kebiasaannya itu bakal hilang.
PUJI IA DENGAN TULUS
Reward atau hadiah berupa pujian sungguh baik diberikan pada anak. Soalnya, pujian memotivasi anak untuk berbuat lebih baik lagi dalam segala hal. Namun pujian harus tulus dan jujur, karena di usia ini anak sudah mengerti akan kejujuran dan ketulusan. Jadi, Bu-Pak, bila kita tak jujur dan tulus, si kecil pasti tahu.
Nah, agar pujian yang kita berikan sungguh tepat, simak tips berikut.
* Kita harus yakin si kecil memang pantas mendapat pujian.
* Sampaikan pujian dengan wajar, tak berlebihan.
* Saat memuji, tegaskan perilaku/omongannya yang dipuji itu. Misal, "Ayah bangga sekali pada Kakak waktu Kakak menolong teman yang jatuh dari sepeda tadi."
Sebaliknya, bila ia mengalami kegagalan, jangan mencemooh tapi tentramkan hatinya, lalu beri semangat padanya bahwa kegagalan adalah guru yang terbaik untuk meraih sukses di kemudian hari.
MENGHADAPI BAYI CEREWET
Beberapa bayi sejak lahir selalu bersikap manis dan jarang menangis, tapi ada pula yang "cerewet" dalam arti si kecil selalu menangis keras bila ada sesuatu yang tak nyaman sedikit saja. Salah satu cirinya, super sensitif; ia sangat peka terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Sedikit saja ada perubahan yang membuatnya merasa tak nyaman, ia langsung menangis kuat. Sudah gitu, ditenangkannya pun tak mudah.
Nah, bila Ibu-Bapak kebetulan punya bayi cerewet, tak usah putus atas. Coba pelajari, kontak fisik seperti apa yang disukai si kecil. Biasanya bayi menyukai kontak kulit dengan kulit. Misal, dibelai dan ditepuk. Namun ada pula yang suka dipeluk erat-erat. Perhatikan pula posisi yang membuat nyaman ketika ia digendong; apakah ia lebih suka rebah di atas bahu, berbaring di dada, atau lainnya?
Bila si kecil tetap "cerewet", yang perlu kita lakukan adalah waktu untuk bersantai. Misal, mandi air hangat atau curi kesempatan untuk tidur selagi si kecil nyenyak di boksnya. Bisa juga mengajaknya berjalan-jalan di luar rumah dengan kereta dorongnya. Cara ini, selain bisa melepas ketegangan kita, juga menyenangkan si kecil.
i/Hendi,F/zali,S/Hani,YP/Zali,Yanti,Indah