Dari seorang makluk yang tak berdaya, kini si kecil telah berkembang menjadi seorang anak yang mulai banyak bergerak, banyak bicara dan bertanya ini-itu, mulai menunjukkan otonominya, serta mulai tumbuh kepribadiannya. Nah, menghadapi perkembangan anak yang demikian, tentunya tugas ibu menjadi semakin berkembang sesuai kebutuhan anak usia ini.
Yang jelas, di usia ini peran ibu sebagai perawat masih terus berlangsung. Kendati si kecil sudah tak lagi sepenuhnya bergantung pada ibu, toh, ia tetap membutuhkan ibu untuk merawat kesehatan fisiknya. "Nah, tugas ibu adalah memberikan nutrisi yang baik," ujar Dra. Shinto B. Adelar, MSc.-. Untuk itu, ibu perlu tahu kebutuhan gizi si kecil di usia ini. Tak ada salahnya bila ibu berkonsultasi kepada dokter anak.
MELATIH FISIK ANAK
Tentunya ibu juga perlu melihat kegiatan fisik anak supaya seimbang. Lewat kegiatan bermain, lihatlah, apakah kegiatan fisik anak sudah cukup atau belum. "Sebaiknya permainan untuk anak usia ini tak hanya yang bersifat stationery karena anak masih harus mengembangkan, paling tidak, keseimbangan tubuhnya," kata Shinto. Jadi, kegiatan atau permainan di luar ruangan juga perlu untuk merangsang otot dan melatih keseimbangan anak.
Perlu diketahui, bila keseimbangannya tak baik akan berpengaruh di masa prasekolah dan sekolah kelak. Misalnya, anak jalannya jadi seperti kapal oleng sehingga ia menjadi bahan ejekan teman-temannya. Padahal sebetulnya anak normal tapi karena kebiasaan yang tak benar akhirnya jadi begitu.
Jadi, Bu, Anda juga punya tugas untuk melatih fisik anak karena otot besar anak usia ini masih harus dilatih. Berenang dan naik sepeda sangat dianjurkan untuk kegiatan fisik anak usia ini. Bermain bola, menangkap, atau melempar juga bagus untuk koordinasi. Biasanya, anak usia ini juga senang meniti semisal jalan di pinggir trotoar. Nah, ajaklah si kecil melakukannya.
PEMBERI SIMULASI
Sebenarnya, menurut Shinto, di usia ini ibu lebih banyak sebagai pemberi stimulasi untuk perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan, terutama dalam pengembangan kecerdasan, emosi, dan sosial. Jadi, bila anak bertanya dan ibu memberi respons, misalnya, "sebetulnya bukan cuma menyangkut soal inteligensi tapi juga bisa nilai-nilai moral tentang baik dan buruk atau malah berhubungan dengan usaha untuk mengembangkan emosi dan kontrol diri anak; tergantung dari jenis pertanyaan yang diajukan anak," terangnya.
Dalam hal pengembangan kecerdasan, lanjut Shinto, ibu tak hanya memberikan stimulasi tapi juga menyediakan fasilitas agar perkembangan kecerdasan anak berjalan dengan baik. "Jika anak bertanya, ibu harus memberikan jawaban yang benar, sederhana, dan bisa diterima anak."
Jadi, jawaban sebaiknya jangan dipermainkan. Misalnya, anak bertanya, "Kenapa, sih, Ade enggak boleh main di rumah itu, Ma?" dan ibu menjawab, "Oh, Ade enggak boleh main di sana karena rumah itu rumah setan." Jawaban seperti ini akan ditanggapi anak bukan sebagai gurauan karena ia, kan, belum mengerti. "Ia justru tengah belajar untuk mengerti mana yang gurauan dan bukan. Jadi, sulit baginya untuk membedakan." Lagi pula, bila pertanyaan anak tak ditanggapi secara serius, nanti pengetahuan yang diterimanya akan salah juga.
Kemampuan berpikir anak usia ini juga sedang tumbuh sehingga ia membutuhkan stimulasi; sama seperti pensil yang harus diraut agar tak tumpul. "Apalagi bila anak baru bisa berbicara. Bisa saja sebetulnya ia tak membutuhkan jawaban. Ia bertanya cuma sebagai latihan bertanya." Nah, ibu harus peka, mana yang cuma sekadar bertanya dan mana yang betul-betul membutuhkan jawaban serius alias anak memang ingin tahu. Tentunya bila anak memang tahu, ibu harus memberikan jawaban yang benar. Selain agar pengetahuan yang diterimanya juga benar, jawaban tersebut juga akan tertanam di benak anak. Jangan remehkan daya ingat anak, lo.
MENGAJAK ANAK BICARA
Yang juga tak boleh diabaikan ialah aspek bahasa karena bahasa penting sebagai sarana untuk mengungkapkan isi pikiran anak. "Bila kosa kata anak tak banyak, tentu ia tak bisa mengungkapkan isi pikirannya, bukan?" ujar Shinto. Nah, tugas ibu untuk melatih anak mengembangkan bahasanya. "Jadi, ibu harus banyak mengajak anak berbicara, menjelaskan, memberi tahu nama-nama seperti nama benda dan binatang, serta lainnya."
Ibu pun harus memperkenalkan segala macam emosi kepada anak bahwa tertawa bisa karena senang, lucu, atau geli lantaran digelitik; menangis bisa karena sedih, matanya kelilipan, atau saking senangnya sehingga keluar air mata. Kemudian, ketika ada orang tertawa, misalnya, ibu bisa bilang, "De, bapak itu tertawa; barangkali ia senang, ya." Dengan demikian anak bisa melihat antara tampilan perilaku dengan perasaan yang mungkin dialami oleh seseorang.
Hal ini berarti, ibu juga punya tugas melatih anak untuk belajar mengendalikan emosinya agar ia bisa melampiaskan emosinya dengan cara-cara yang tepat. "Enggak benar, kan, bila anak melampiaskan rasa senang secara berlebihan, misalnya, sampai melompat-lompat di atas sofa. Atau, kala sedih dan marah lantas melempar-lempar barang." Nah, ibu harus melatih anak untuk mengemukakan emosinya dengan benar.
Untuk itu, ibu sebaiknya mengajak anak berbicara sehingga anak tahu, apa yang sebetulnya ia rasakan. "Namun ini hanya bisa dilakukan bila ibu punya kemampuan menghayati perasaan anak. Ibu mencoba menempatkan dirinya di posisi anak, lalu berdasarkan itu, ibu menjelaskannya." Dengan demikian, anak bisa mengenali perasannya dan mengungkapkannya secara tepat. Komunikasi antara ibu dan anak pun jadi tak terhambat. Kalau tidak, "selain anak tak bisa mengungkapkan perasaannya, ia juga tak bisa mengemukakan emosinya dengan cara yang tepat."
MANDIRI DAN SOSIAL
Tugas ibu yang lainnya ialah mengajari anak melakukan sesuatu sendiri karena di usia ini anak sudah mulai menunjukkan otonominya. Jadi, bila sebelumnya anak selalu dipakaikan baju, misalnya, nah, sekarang ibu harus menuntun anak untuk memakai sendiri bajunya. Si kecil pasti senang, lo, Bu, apalagi jika ia berhasil melakukannya.
Selain itu, ibu juga bertugas mensosialisasikan anak. Jangan lupa, anak usia ini masih sangat egosentris. Jadi, ia harus belajar untuk hidup bermasyarakat agar bisa mengendalikan keinginannya dan berbagi dengan teman-temannya, baik dalam hal benda maupun pengertian. Apalagi di usia ini lingkungan kehidupan anak juga mulai meluas, bahkan banyak yang sudah masuk kelompok bermain. Bila ia tak pernah belajar bagaimana berbagi mainan, misalnya, atau belajar mengikuti kegiatan kelompok, maka di usia selanjutnya ia bisa mengalami kesulitan penyesuaian sosial.
Nah, Bu, itulah sejumlah tugas yang harus kita laksanakan untuk mengembangkan si kecil di usia ini. Dalam pelaksanaannya tentulah dibutuhkan kreativitas dari kita untuk mengembangkannya. Bukan begitu?
Hasto Prianggoro