Saya ibu dari seorang putri usia 5,5 bulan. Waktu lahir BB-nya 3,1 kg dan PB 48 cm. Saat ini BB-nya 6,2 kg dan PB 62 cm. Nafsu makannya tergolong baik, karena setiap makanan yang saya berikan selalu disantap habis, baik itu bubur susu, biskuit bayi, maupun jus buah.
Yang jadi masalah, ia tergolong aktif (berdasarkan nakita No.69/II/29 Juli 2000) sehingga agak malas tidur siang. Padahal, anak saudara saya yang berusia 3 bulan dengan BB hampir sama kalau tidur siang bisa sampai 3 jam. Itu pun kalau tak dibangunkan enggak akan bangun. Nah, anak saya tidurnya cuma 1,5 jam dan bisa sampai 2-3 kali tidur. Selebihnya ia lebih suka bermain atau sibuk sendiri dengan tengkurap, mengoceh, atau menendang-nendang mainan yang digantung di atas ayunannya. Kalau tidur malam bisa dibilang teratur; sebelum pukul 21.00 sudah tidur dan akan bangun untuk minum pukul 24.00, 02.00, 04.30.
Perlu Ibu ketahui, anak saya sangat dimanja oleh orang tua saya dan rasanya dia tahu sehingga kadang suka memanfaatkannya. Terbukti, kalau menginap di rumah orang tua, dia jadi lebih cengeng dan hal ini tak terjadi kalau sedang berada di rumah kami.
Apakah kelakuan anak saya normal-normal saja, Bu? Daya ingatnya tergolong baik, karena saya sering memberikan stimulus berupa permainan ringan atau lagu-lagu anak. Dia memberi respon senang kalau saya menyanyikan lagu yang disukainya. Mohon saran Ibu agar saya mengetahui sejauh mana perkembangan kepribadiannya. Terima kasih.
Rina M. - Jakarta
Bu Rina perlu bersyukur mempunyai putri yang aktif dan responsif. Masalah lamanya tidur masih wajar karena kalau dihitung, siang hari dia tidur
sekitar 3-4,5 jam sedangkan malam hari tidurnya pun teratur. Bahwa keponakan Ibu sekali tidur sampai 3 jam, itu merupakan kebutuhan yang sifatnya indiidual. Bila saya hubungkan dengan keadaan kota Jakarta sekarang ini, jika anak terlalu suka tidur akan mengalami kesulitan mengikuti irama hidup di ibu kota, misalnya, setelah dia sekolah, banyak tugas dan kegiatan yang perlu dilakukan. Yang penting anak Ibu tetap sehat, ceria, dan tak rewel.
Lagipula dalam keadaan terjaga, putri Ibu mengisi waktunya dengan kegiatan yang positif. Saya perkirakan dia termasuk anak yang mempunyai temperamen mudah, ceria, dapat mencari kesibukan untuk menyenangkan dirinya sendiri asalkan jangan sampai Ibu melupakan dia saking antengnya.
Saya tidak tahu seperti apa bentuk pemanjaan yang diberikan oleh orang tua Ibu, tapi sejak sekarang mumpung anak masih kecil, ajaklah orang tua berkompromi untuk tidak memanjakannya karena nanti akan menyulitkan penanganan anak setelah dia beranjak besar. Sayang sekali kalau anak mempunyai potensi yang baik menjadi 'rusak' karena pemanjaan (saya mohon maaf pada kakek-nenek).
TAK MENANGKAP YANG DIAJARKAN
Saya seorang ibu dari putra pertama usia 8 bulan dengan BB 8,5 kg dan PB 75 cm. Ia lahir lewat bedah sesar dan nilai apgarnya 7/8. Alhamdulillah, ia tumbuh sehat. Kalau saya lihat tabel pertumbuhan bayi, perkembangannya sesuai dengan tabel itu. Misal, tengkurap di usia 3 bulan, tumbuh gigi usia 5,5 bulan, dan sekarang mulai merangkak.
Tapi kenapa, kok, ia tak mau (tak bisa?) menangkap apa yang saya ajarkan, seperti tepuk tangan, dadah, mata genit, atau menunjuk anggota badannya bila ditanya seperti mata, tangan, atau kaki. Sedangkan saya sering melihat anak-anak teman saya sudah dapat melakukan apa yang diajarkan pada usia 7 bulan.
Apakah karena nilai apgarnya itu membuat ia lambat dalam menangkap apa yang diajarkan? Apakah kita sudah bisa melihat respon anak terhadap yang diajarkan sejak ia menginjak semester dua dalam kehidupannya? Apakah kemampuan anak saya dalam menangkap apa yang diajarkan dapat dikategorikan kurang pandai dan berpengaruh terus sampai usia sekolah nanti? Atas jawabannya, saya ucapan banyak terima kasih.
Rahmah - Jakarta
Test Apgar ditujukan untuk mengetahui kondisi fisik sesaat setelah bayi lahir. Menurut literatur, skor Apgar 7/8 tergolong baik. Berarti tak ada hal yang perlu dikhawatirkan sehubungan dengan kondisi fisik anak yang pada umumnya juga punya kaitan erat dengan perkembangan mental di kemudian hari. Perkembangan fisik serta motorik putra Ibu termasuk wajar yang dapat menjadi indikator bahwa perkembangan mentalnya seharusnya tak ada masalah.
Mengapa sampai saat ini dia belum mau meniru apa yang diajarkan? Ada beberapa hal yang perlu Ibu perhatikan. 1)Apakah Ibu sudah mencek pendengarannya, kalau-kalau ada gangguan? Apakah dia akan segera menengok ke sumber suara bila namanya dipanggil atau mendengar suara/bunyi lain? 2) Apakah bila diajak bicara dia mau memperhatikan dan menjawab dengan ocehan? 3)Apakah anak sudah dapat menggunakan bahasa tubuh untuk menyatakan kehendaknya? Misalnya, menunjuk permen sambil bersuara 'uh uh' atau mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda minta digendong? Kalau dia langsung menengok ke sumber suara, berarti pendengarannya baik. Jika dia mau memperhatikan, berarti tak ada gangguan perhatian dan bila dia dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi berarti tak ada masalah dengan pemahaman bahasa ataupun kecerdasan anak.
Dengan demikian kita tinggal menelaah kesiapan anak untuk menerima rangsang dan cara Ibu mengajarkan. Walaupun anak lain sudah bisa diajarkan pada usia 7 bulan, putra Ibu belum tentu siap untuk diajarkan tepuk tangan dsb. Selain itu bagaimana cara Ibu mengajarkannya menunjuk anggota tubuhnya? Perlu diajarkan satu persatu dan berulang-ulang. Jangan sekaligus beberapa hal diajarkan karena anak akan bingung. Ibaratnya yang tersusun di otaknya adalah benang kusut yang sulit diuntai. Jadi saya sarankan ikuti saja perkembangannya sampai 3 atau 4 bulan mendatang dan coba latih satu-persatu. Penting juga memelihara suasana yang menyenangkan saat mengajarkan anak. Jangan terkesan ada pemaksaan saking gemasnya Ibu karena dia tak juga kunjung mengerti. Bila sampai usia 11/12 bulan belum juga berhasil, Ibu dapat konsultasi ke psikolog anak yang akan melakukan evaluasi dan menentukan langkah-langkah penanganan selanjutnya.