FirstFlag
Tanya Jawab Psikologi

Dra. Mayke Tedjasaputra
Psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan-UI

BAYI AKTIF DAN MALAS TIDUR SIANG

Saya ibu dari seorang putri usia 5,5 bulan. Waktu lahir BB-nya 3,1 kg dan PB 48 cm. Saat ini BB-nya 6,2 kg dan PB 62 cm. Nafsu makannya tergolong baik, karena setiap makanan yang saya berikan selalu disantap habis, baik itu bubur susu, biskuit bayi, maupun jus buah.

Yang jadi masalah, ia tergolong aktif (berdasarkan nakita No.69/II/29 Juli 2000) sehingga agak malas tidur siang. Padahal, anak saudara saya yang berusia 3 bulan dengan BB hampir sama kalau tidur siang bisa sampai 3 jam. Itu pun kalau tak dibangunkan enggak akan bangun. Nah, anak saya tidurnya cuma 1,5 jam dan bisa sampai 2-3 kali tidur. Selebihnya ia lebih suka bermain atau sibuk sendiri dengan tengkurap, mengoceh, atau menendang-nendang mainan yang digantung di atas ayunannya. Kalau tidur malam bisa dibilang teratur; sebelum pukul 21.00 sudah tidur dan akan bangun untuk minum pukul 24.00, 02.00, 04.30.

Perlu Ibu ketahui, anak saya sangat dimanja oleh orang tua saya dan rasanya dia tahu sehingga kadang suka memanfaatkannya. Terbukti, kalau menginap di rumah orang tua, dia jadi lebih cengeng dan hal ini tak terjadi kalau sedang berada di rumah kami.

Apakah kelakuan anak saya normal-normal saja, Bu? Daya ingatnya tergolong baik, karena saya sering memberikan stimulus berupa permainan ringan atau lagu-lagu anak. Dia memberi respon senang kalau saya menyanyikan lagu yang disukainya. Mohon saran Ibu agar saya mengetahui sejauh mana perkembangan kepribadiannya. Terima kasih.

Rina M. - Jakarta

Bu Rina perlu bersyukur mempunyai putri yang aktif dan responsif. Masalah lamanya tidur masih wajar karena kalau dihitung, siang hari dia tidur

sekitar 3-4,5 jam sedangkan malam hari tidurnya pun teratur. Bahwa keponakan Ibu sekali tidur sampai 3 jam, itu merupakan kebutuhan yang sifatnya indiidual. Bila saya hubungkan dengan keadaan kota Jakarta sekarang ini, jika anak terlalu suka tidur akan mengalami kesulitan mengikuti irama hidup di ibu kota, misalnya, setelah dia sekolah, banyak tugas dan kegiatan yang perlu dilakukan. Yang penting anak Ibu tetap sehat, ceria, dan tak rewel.

Lagipula dalam keadaan terjaga, putri Ibu mengisi waktunya dengan kegiatan yang positif. Saya perkirakan dia termasuk anak yang mempunyai temperamen mudah, ceria, dapat mencari kesibukan untuk menyenangkan dirinya sendiri asalkan jangan sampai Ibu melupakan dia saking antengnya.

Saya tidak tahu seperti apa bentuk pemanjaan yang diberikan oleh orang tua Ibu, tapi sejak sekarang mumpung anak masih kecil, ajaklah orang tua berkompromi untuk tidak memanjakannya karena nanti akan menyulitkan penanganan anak setelah dia beranjak besar. Sayang sekali kalau anak mempunyai potensi yang baik menjadi 'rusak' karena pemanjaan (saya mohon maaf pada kakek-nenek).

TAK MENANGKAP YANG DIAJARKAN

Saya seorang ibu dari putra pertama usia 8 bulan dengan BB 8,5 kg dan PB 75 cm. Ia lahir lewat bedah sesar dan nilai apgarnya 7/8. Alhamdulillah, ia tumbuh sehat. Kalau saya lihat tabel pertumbuhan bayi, perkembangannya sesuai dengan tabel itu. Misal, tengkurap di usia 3 bulan, tumbuh gigi usia 5,5 bulan, dan sekarang mulai merangkak.

Tapi kenapa, kok, ia tak mau (tak bisa?) menangkap apa yang saya ajarkan, seperti tepuk tangan, dadah, mata genit, atau menunjuk anggota badannya bila ditanya seperti mata, tangan, atau kaki. Sedangkan saya sering melihat anak-anak teman saya sudah dapat melakukan apa yang diajarkan pada usia 7 bulan.

Apakah karena nilai apgarnya itu membuat ia lambat dalam menangkap apa yang diajarkan? Apakah kita sudah bisa melihat respon anak terhadap yang diajarkan sejak ia menginjak semester dua dalam kehidupannya? Apakah kemampuan anak saya dalam menangkap apa yang diajarkan dapat dikategorikan kurang pandai dan berpengaruh terus sampai usia sekolah nanti? Atas jawabannya, saya ucapan banyak terima kasih.

Rahmah - Jakarta

Test Apgar ditujukan untuk mengetahui kondisi fisik sesaat setelah bayi lahir. Menurut literatur, skor Apgar 7/8 tergolong baik. Berarti tak ada hal yang perlu dikhawatirkan sehubungan dengan kondisi fisik anak yang pada umumnya juga punya kaitan erat dengan perkembangan mental di kemudian hari. Perkembangan fisik serta motorik putra Ibu termasuk wajar yang dapat menjadi indikator bahwa perkembangan mentalnya seharusnya tak ada masalah.

Mengapa sampai saat ini dia belum mau meniru apa yang diajarkan? Ada beberapa hal yang perlu Ibu perhatikan. 1)Apakah Ibu sudah mencek pendengarannya, kalau-kalau ada gangguan? Apakah dia akan segera menengok ke sumber suara bila namanya dipanggil atau mendengar suara/bunyi lain? 2) Apakah bila diajak bicara dia mau memperhatikan dan menjawab dengan ocehan? 3)Apakah anak sudah dapat menggunakan bahasa tubuh untuk menyatakan kehendaknya? Misalnya, menunjuk permen sambil bersuara 'uh uh' atau mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda minta digendong? Kalau dia langsung menengok ke sumber suara, berarti pendengarannya baik. Jika dia mau memperhatikan, berarti tak ada gangguan perhatian dan bila dia dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi berarti tak ada masalah dengan pemahaman bahasa ataupun kecerdasan anak.

Dengan demikian kita tinggal menelaah kesiapan anak untuk menerima rangsang dan cara Ibu mengajarkan. Walaupun anak lain sudah bisa diajarkan pada usia 7 bulan, putra Ibu belum tentu siap untuk diajarkan tepuk tangan dsb. Selain itu bagaimana cara Ibu mengajarkannya menunjuk anggota tubuhnya? Perlu diajarkan satu persatu dan berulang-ulang. Jangan sekaligus beberapa hal diajarkan karena anak akan bingung. Ibaratnya yang tersusun di otaknya adalah benang kusut yang sulit diuntai. Jadi saya sarankan ikuti saja perkembangannya sampai 3 atau 4 bulan mendatang dan coba latih satu-persatu. Penting juga memelihara suasana yang menyenangkan saat mengajarkan anak. Jangan terkesan ada pemaksaan saking gemasnya Ibu karena dia tak juga kunjung mengerti. Bila sampai usia 11/12 bulan belum juga berhasil, Ibu dapat konsultasi ke psikolog anak yang akan melakukan evaluasi dan menentukan langkah-langkah penanganan selanjutnya.

Tanya Jawab Kesehatan Anak

Dr. Najib Advani SpAK MMed Paed,
Dokter Spesialis Anak Konsultan-Ahli Jantung Anak (Bagian Kesehatan Anak FKUI RSCM) dan Staf Pengajar FKUI-RSCM

BAB DIRANGSANG DENGAN OBAT

Saya mempunyai seorang putri (6 minggu). Lahir normal dengan BB 3.065 kg dan TB 49 cm. Ketika di rumah sakit BAB-nya rata-rata 3-4 kali sehari. Namun setelah pulang ke rumah BAB-nya hanya 1 kali sehari. Sejak usia 9 hari tidak keluar lagi. Saya sudah bawa ke dokter spesialis anak dan BAB-nya keluar setelah dipancing. Selain itu dokter juga memberi obat untuk merangsang BAB, namun ternyata tak keluar juga. Setelah itu dokter memberikan obat yang dimasukkan lewat dubur untuk membantu mengencerkannya. Namun sebelum diberikan obat ini dokter menyarankan untuk menggunakan sabun yang sudah diruncingkan terlebih dulu. Ternyata cara ini cukup berhasil. Sampai saat ini cara tersebut masih saya lakukan dengan selang waktu 3-4 hari. Yang menjadi pertanyaan saya adalah:

1. Apa yang menyebabkan BAB tak dapat keluar dengan sendirinya?

2. Berbahayakah cara yang saya lakukan ini?

3. Sampai usia berapa hal ini akan berlangsung?

4. Apakah ada pengaruh dari ASI, karena setelah pulang ke rumah, saya minum jamu godok (secang)?

5. Apakah ada pengaruh dari susu formula, karena saya kadang kala memberinya tambahan 1-2 botol per hari. Terima kasih atas jawabannya.

Andreana Yunizar - Jakarta Selatan

Agaknya putri Ibu menderita konstipasi yaitu kesulitan dalam mengeluarkan kotoran. Penyebab dari faktor ini sangat bervariasi, di antaranya ketidakcocokan terhadap susu yang diberikan. Susu tertentu yang mengandung garam kalsium tinggi dapat memicu timbulnya konstipasi pada bayi tertentu. Sedapat mungkin berikanlah ASI dan hindari susu formula karena ASI adalah yang terbaik. Sering juga ditemukan hal sama pada orangtua penderita. Jadi ada juga yang bersifat keturunan.

Sebenarnya jika BAB terjadi beberapa hari sekali namun si bayi tak rewel dan juga kotoran tak keras serta tidak sulit saat mengeluarkannya, maka hal ini tak jadi masalah.

Pemberian sabun seperti yang Ibu lakukan, meskipun tak berbahaya, sebaiknya jangan rutin, tapi atas indikasi yang jelas yaitu ia tidak buang air besar beberapa hari, rewel, kesakitan, dan kotorannya keras serta sulit dikeluarkan.

Tentang jamu godok, saya tidak tahu pasti. Tapi Ibu dapat melakukan tes dengan jalan berhenti dulu minum jamu tersebut. Jika setelah berhenti selama beberapa hari BAB si bayi jadi membaik, maka berarti mungkin jamu merupakan faktor penyebab.

Kelainan ini belum tentu menetap. Tak jarang saat bayi mulai diberikan makanan padat saat usia di atas 4 bulan maka buang airnya bisa membaik.

Tanya Jawab Kebidanan dan Kandungan

Dr. Judi Januadi Endjun SpOG
Dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan
Rumah Sakit Gatot Subroto

PUNYA ANAK DENGAN BAYI TABUNG

Dalam edisi nakita yang lalu saya pernah membaca artikel mengenai bayi tabung. Mengingat tingkat keberhasilan yang sangat kecil dari proses bayi tabung, saya ingin menanyakan aspek apa saja yang terkait dengan kegagalan proses bayi tabung tersebut?

Satu hal lagi yang ingin saya tanyakan setiap bulan seorang wanita akan mengalami ovulasi dan dalam jangka waktu ovulasi tersebut akan mengalami puncak ovulasi. Apa yang disebut puncak ovulasi, apakah titik terbesar dari ukuran sel telur atau jumlah terbanyak dari sel telur? Saya sangat berharap jawaban dari Dokter. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Netty idawati via email

Bayi tabung adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah kesulitan mendapat keturunan (anak). Sayang sekali cara ini sangat mahal dan mempunyai angka keberhasilan ibu menjadi hamil sekitar 30-40 persen. Penyebab kegagalan tersebut antara lain penolakan tubuh, infeksi, gangguan hormon, kelainan pada rahim atau sebab lain yang tak diketahui. Bila Ibu menginginkan penjelasan yang lebih rinci, silakan berkonsultasi dengan dokter di Poliklinik Endokrinologi Reproduksi RSPAD Gatot Soebroto atau RSCM atau Klinik Morula RS Bunda Jakarta.

Ovulasi adalah pecahnya folikel atau sel telur pada saat masa subur. Ini hanya terjadi pada folikel yang normal dan diperkirakan terjadi 14 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Pada siklus haid yang normal, perkiraan ovulasi terjadi dalam 36 jam pada saat diameter folikel lebih besar lagi, kira-kira 25-30 mm. Penentuan perkiraan masa subur tidak dapat dilakukan hanya satu kali, tetapi melalui pengamatan serial perkembangan folikel dengan USG melalui vagina.

Masa subur ini hanya berlangsung kira-kira 24 jam. Setelah itu sel telur akan rusak dan tidak bisa dibuahi. Penentuan perkiraan masa subur bisa juga melalui analisa hormon pada air liur atau darah, pemeriksaan lendir mulut rahim, pengukuran suhu tubuh basal (pagi hari sewaktu bangun tidur dan belum melakukan aktivitas fisik), pemeriksaan sel-sel permukaan mulut rahim (sitologi) atau pengambilan sel-sel selaput lendir rahim (mikro-kuret).

Semua metode di atas harus dikonsultasikan dengan dokter Ibu karena semua pemeriksaan-pemeriksaan tersebut tidak memiliki ketepatan 100 persen dan masing-masing memiliki ciri dan kendala tersendiri. Demikianlah jawaban dari saya, terima kasih atas pertanyaannya.

MUNTAH BERLEBIHAN SEMASA HAMIL

Dulu waktu kehamilan anak pertama (sekarang sudah 2 tahun 4 bulan) saya mengalami muntah terus tanpa berhenti sejak menstruasi terlambat 10 hari hingga usia kandungan hampir 3 bulan. Awalnya muntah biasanya selang 5-10 menit sekali tanpa ada gangguan sakit lainnya. Tapi ketika mual muntah sudah berlebihan (tidak sewajarnya ibu hamil muda), dokter memberi saya obat anti muntah/mual tapi tetap tak membantu. Karena berat badan saya terus turun dan tak satu pun makanan/minuman dapat masuk akhirnya saya diinfus selama 3 hari (sebelum hamil TB 154 cm BB 41 kg, waktu diinfus BB tinggal 37 kg). Setelah diinfus kondisi membaik (tidak pucat lagi) tapi muntah masih terus berlanjut seperti sebelum diinfus. Setelah minum obat/vitamin sekitar 2 minggu kondisi saya membaik dan muntah hanya pagi hari setelah bangun tidur. Pada usia kandungan 3 bulan dan seterusnya sakit hanya sesekali misalnya batuk dan pilek disertai demam.

Saya melahirkan 15 hari lebih cepat dari waktu perkiraan dengan proses normal dan cepat. Berat badan bayi 2,7 kg dan TB 50 cm. namun ASI tak lancar meski sudah diberi bermacam-macam vitamin. Sehingga anak saya diberi susu kaleng. Pertanyaan saya:

1. Apakah penyebab muntah yang berkepanjangan tersebut? Apakah ada kemungkinan akan terulang kembali pada kehamilan kedua?

2. Saat ini saya KB suntik sebulan sekali dan tidak pernah ganti-ganti (BB 48 kg TB 154cm). Bulan lalu saya terlambat suntik karena suatu hal sehingga bulan ini saya terlambat menstruasi. Karena takut dan belum siap hamil lagi saya minta obat (Gynaecosid; komposisi Methyloestrenolone 5 mg, Methyloestradiol 0,3 mg) ke dokter agar tidak hamil dulu. Waktu minum obat itu saya baru terlambat mens 2 hari. Setelah minum obat 4 butir (2 butir malam sebelum tidur, 2 hari berturut-turut). Kata dokter setelah 5 hari saya akan mens dan ternyata benar. Waktu ke dokter itu saya juga diberi tahu kalau lebih 5 hari tidak mens maka disarankan saya menerima kehamilan itu. Apakah benar apabila setelah minum obat ternyata saya hamil tidak akan ada gangguan (cacat) pada bayi?

3. Yang terakhir, putri saya kulitnya putih dan matanya sipit. Padahal saya dan suami berkulit coklat dan mata lebar, hidung kami juga tidak pesek. Yang mirip kami hanya bibir dan bentuk muka yang oval agak bulat. Mengapa bisa demikian? Karena setiap kami pergi banyak yang bilang, kok, nggak mirip sama mama-papanya.

Demikian pertanyaannya Semoga dokter menjawabnya. Terima kasih.

Wulandhari - Banyuwangi

Muntah-muntah yang berlebihan pada wanita hamil disebut juga hiperemesis gravidarum. Keadaan ini harus segera diatasi karena dapat membahayakan ibu dan janin yang dikandung. Penyebabnya adalah hormon kehamilan (hCG) dan diperparah faktor gangguan/stres kejiwaan. Bila penyebab hiperemesis tersebut tidak dapat diatasi, maka kemungkinan akan berulang pada kehamilan berikutnya.

Hal penting yang harus Ibu perhatikan adalah Ibu harus siap secara fisik dan mental untuk menghadapi kehamilan selanjutnya. Artinya, kehamilan tersebut dikehendaki, mendapat dukungan penuh dari keluarga (terutama suami) dan Ibu dalam keadaan sehat.

Obat pemancing haid yang Ibu peroleh memang dimaksudkan untuk merangsang datangnya haid. Bila kehamilan sudah terjadi, umumnya obat ini akan gagal. Bila terlambat haid, sebaiknya lakukan tes kehamilan sendiri dengan memeriksa urin. Setelah ada hasilnya, segera berkonsultasi dengan dokter. Jangan mengkonsumsi obat-obatan sembarangan tanpa resep dokter, karena hal ini dapat membahayakan ibu dan atau janin.

Wajah bayi kadang-kadang tidak mirip kedua orang tuanya, tapi bisa saja mirip dengan kakek atau neneknya. Yang penting Ibu dan suami harus yakin bahwa itu anak Ibu dan Bapak. Setiap keraguan yang terjadi akan berdampak tak baik bagi perkembangan anak tersebut maupun bagi kedua orang tuanya. Bila masih ragu, Ibu dapat melakukan analisa kromosom atau genetik untuk memastikan apakah anak tersebut memang benar keturunan Ibu dan Bapak. Masalah ini jangan dianggap enteng, Ibu dan Bapak harus menyelesaikannya. Ibu dapat berkonsultasi dengan dokter di bagian anak FK UNAIR/RS. Dr. Soetomo di Surabaya. Demikianlah jawaban dari saya, semoga bermanfaat. Terima kasih banyak atas pertanyaannya.

Konsultasi Ahli edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari