 |
Tanya Jawab Psikologi
Dra. Mayke Tedjasaputra
Psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan-UI
|
|
|
PERNAH KEJANG DAN KINI BELUM BISA BICARA
Putra semata wayang saya yang kini berusia 4 tahun belum juga pandai bicara. Hanya kalau terpaksa minta minum dia bilang, "mum", dan kalau menangis sering panggil, "mama." Itu juga hanya spontan saja, karena saya sedang bekerja di toko, sehingga tak ada di sisinya. Sebagai informasi, suami saya belum bekerja kembali setelah kontraknya habis.
Anak saya yang lahir dengan BB 2900 gr dan PB 45 cm, sekarang BB-nya 30 kg dan TB 72,5 cm. Sehari-hari, ia tinggal dengan nenek dan kakeknya di rumah. Ia tidak diperbolehkan main di luar rumah, cukup di dalam. Lama-kelamaan dia jadi nakal, segala mainannya dirusak, dan menjerit-jerit, tapi kami tidak mengerti kata-katanya.
Pada usia 3,5 tahun, dia sakit buang-buang air besar selama 2 minggu. Karena waktu itu saya hentikan susu formulanya (dari lahir dia tidak minum ASI), setelah sembuh dia tidak mau lagi minum susu sampai sekarang. Juga waktu usia 3 tahun, dia pernah panas tinggi sampai kejang-kejang. Setelah diberi pengobatan tradisional, dia sembuh.
Juga, kalau minum air putih dia tidak mau sedikit, sehingga kalau kencing lamanya sampai kurang lebih 5 menit. Akhirnya anak saya diurut, takut kalau-kalau menderita hernia, tapi tetap saja dia kencing terus setelah minum air putih banyak. Kesimpulannya, bagaimana supaya anak saya bicaranya baik dan benar, Bu?
Irmayanthi - Jakarta
Mengingat sampai usia 4 tahun putra Ibu belum dapat berbicara dan pernah mengalami panas tinggi yang diikuti dengan kejang-kejang, maka sebaiknya segera bawa dia ke Bagian Ilmu Tumbuh Kembang Anak. Ibu dapat mengunjungi beberapa rumah sakit, antara lain RSAB Harapan Kita, RSCM atau rumah sakit lain yang lokasinya berdekatan dengan rumah Ibu. Di Bagian IlmuTumbuh Kembang Anak, putra ibu akan mendapatkan penanganan terpadu dari para dokter spesialis anak sehingga penanganannya juga akan lebih tepat. Untuk penyakit seperi panas yang disertai kejang perlu dipantau terus karena dikhawatirkan akan muncul kejang berikutnya. Mengenai buang air kecil yang berlangsung sekitar 5 menit, dapat Ibu konsultasikan juga ke dokter spesialis anak.
Ibu juga perlu melakukan konsultasi ke psikolog guna mencari tahu mengapa putra Ibu mengalami keterlambatan dalam perkembangan bicara. Apakah hanya sekadar perkembangan bicaranya yang terlambat atau ada gangguan lain seperti gangguan perkembangan, keterbelakangan mental dan sebagainya.
Salah satu klinik psikologi anak yang dapat Ibu kunjungi adalah di Bagian Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi UI, Kampus UI, Depok. Telepon yang dapat dihubungi adalah 786 8280 pesawat 1302, antara jam 08.00-15.00. Biaya untuk konsultasi adalah Rp 100.000 untuk satu paket pemeriksaan (sampai selesai).
Dengan diketahuinya gangguan yang dialami anak, maka dapat dilakukan penanganan yang tepat. Salah satu di antaranya adalah mengikuti terapi wicara yang terdapat di klinik tertentu atau di beberapa rumah sakit. Ibu juga akan mendapat pengarahan mengenai tindakan lain yang perlu dilakukan di rumah dan di luar rumah.
Bila kemampuan bicara anak tidak segera ditangani, maka perkembangan kecerdasan, emosi, dan sosialnya akan terganggu. Anak menjadi rendah diri, mudah marah dan kecewa sebab orang lain tidak memahami apa keinginannya. Gangguan bicara juga menjadi kendala saat dia harus mengikuti pendidikan. Sementara teman-teman sebayanya sudah lancar berbicara, belajar menulis, membaca, putra Ibu akan ketinggalan.
Kemampuan berteman dengan teman sebaya akan terhambat sebab ia sulit berkomunikasi dengan anak lain. Teman-temannya tidak paham apa yang ia katakan dan sebaliknya ia sulit mengemukakan apa yang ia inginkan.
Sebaiknya putra Ibu jangan dikurung di rumah, ia harus berbaur dengan anak lain agar belajar bersosialisasi, sering mendengar ucapan-ucapan anak lain. Bila ia di rumah hanya dengan kakek neneknya, maka ia menjadi bosan sebab kakek-nenek kurang seru untuk diajak main, apalagi bila mereka tidak lagi selincah orang muda dan banyak melarang. Maka tidak heran bila putra Ibu sering menjerit-jerit.
Sekian dulu penjelasan yang dapat diberikan dan hendaknya Ibu bertukar pikiran dengan suami dalam rangka menangani si kecil. Minta pada suami agar ia ikut turun tangan mengasuh dan mengajak anak bermain dan berbicara.
|
|
Tanya Jawab Kesehatan Anak
Dr. Najib Advani SpAK MMed Paed,
Dokter Spesialis Anak Konsultan-Ahli Jantung Anak (Bagian Kesehatan Anak FKUI RSCM) dan Staf Pengajar FKUI-RSCM
|
|
|
CIRI IMUNISASI BERHASIL
Putra saya (5,5 bulan), TB 69 cm & BB 7,6 kg, PB lahir 52 cm dan TB 3,4 kg. Ia sudah 3 kali diimunisasi DPT. Saat imunisasi pertama, badannya tak panas sama sekali, dan saat imunisasi kedua panasnya 37,21 derajat C, dan yang ketiga sempat 38,19 derajat C. Yang ingin saya tanyakan, kenapa pada saat imunisasi pertama badannya tak panas? Apakah betul kalau habis diimunisasi DPT, badan tak panas berarti vaksinnya tak berfungsi? Padahal ia diimunisasi jenis DPT yang panas. Juga kalau imunisasi BCG, bila tak ada bekasnya berarti vaksinnya tak berfungsi atau gagal? Perlukah diulang? Saya mohon jawaban Dokter, terima kasih.
Santi - Jakarta
Imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) yang selama ini umum dipakai sebagian besar (tidak selalu) menimbulkan demam. Demam ini timbul akibat komponen vaksin Pertusis yang utuh (seluler). Belakangan ini dipasarkan vaksin DPT yang aseluler yang tidak menimbulkan demam, hanya saja mahal harganya. Reaksi demam atau tidak, tidak dapat dijadikan ukuran berfungsi atau tidaknya vaksin. Pada imunisasi DPT ada kecenderungan makin tua usia, reaksi demam makin hebat sehingga DPT yang seluler tidak boleh diberikan pada anak usia 5 tahun ke atas dan diganti dengan DT saja (tanpa Pertusis) atau vaksin DPT aseluler. Pada imunisasi BCG yang berhasil, timbul bekas berupa jaringan parut yang menandakan timbulnya reaksi tubuh yang menandakan timbulnya kekebalan. Jika tidak ada bekasnya, kekebalan yang terbentuk kurang dan boleh diulang kembali.
BINTIK PUTIH DI KELOPAK MATANYA
Saya ibu seorang putra (7 bulan). Akhir-akhir ini ia sering menggosok-gosokkan tangannya ke daerah mata, lebih-lebih jika mengantuk, gosokannya akan lebih keras lagi. Tangannya berhenti menggosok-gosok bila sambil menetek saya tiup pelan-pelan sekitar matanya, sehingga dia pun merasa nyaman.
Di sekitar matanya, tepatnya di daerah kulit yang ditumbuhi bulu mata, saya perhatikan terdapat bercak putih tapi tidak bengkak. Sebelumnya kecil saja, tapi lama-kelamaan membesar meski tidak begitu jelas (bercak putih melebar). Apa bercak putih itu? Bagaimana cara menghilangkannya? Berbahayakah menggosok mata seperti yang sering dilakukan putra saya? Juga, putra saya selalu berkeringat, baik di kepala, tubuh, maupun wajahnya, berbahayakah? Terima kasih.
Lilyana Farida - Wonosobo, Jateng
Agak sulit buat saya untuk menjawab pertanyaan Ibu tanpa melihat sendiri kondisi si kecil. Bercak putih di kelopak mata bagian luar dapat saja merupakan suatu reaksi alergi atau jamur atau suatu gangguan pigmen kulit. Menggosok mata yang terlalu keras dapat menimbulkan memar atau lecet di mata. Mengenai banyak berkeringat pada anak yang fisiknya normal, tak perlu dikawatirkan. |
|
Tanya Jawab Kebidanan dan Kandungan
Dr. Judi Januadi Endjun SpOG
Dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan
Rumah Sakit Gatot Subroto
|
|
|
SELAMA HAMIL JADI BAU BADAN
Saya (33) ibu seorang putra umur 11 bulan dan sekarang sedang hamil 8 bulan. Persalinan pertama dengan sesar karena panggul kecil. Atas anjuran dokter, persalinan kedua sebaiknya dengan sesar pula. BB sebelum hamil anak pertama 55 kg dan sekarang 75 kg. Karena paha saya besar daerah selangkangan sering gatal dan menghitam akibat garukan. Obat apa yang bisa menghilangkan vlek hitam tersebut yang tak memberi dampak membahayakan bagi janin?
Apakah dengan bertambahnya usia kehamilan mempengaruhi banyaknya keringat yang keluar dan cenderung jadi bau badan? Padahal saya sudah mandi 2 kali sehari dan melap badan sesering mungkin dan sebelumnya pun tidak pernah bermasalah dengan bau badan. Terima kasih atas penjelasan dokter.
Sari - Bandung
Berapa berat bayi pertama Ibu? Berapa tinggi badan Ibu? Apakah sudah dilakukan pemeriksaan panggul (klinis dan radiologis)? Ini penting untuk memastikan jenis dan ukuran panggul Ibu karena Ibu tidak cukup memberikan data bagi saya. Kecurigaan adanya kesempitan panggul bisa diperkirakan bila tinggi Ibu kurang dari 145 cm; pada kehamilan pertama saat usia kehamilan 36 minggu kepala belum masuk pintu atas panggul; atau pada periksa dalam ditemukan tanda-tanda panggul sempit.
Sedangkan tanda panggul sempit pada persalinan misalnya kepala tidak bertambah turun; pembukaan mulut rahim tidak bertambah; ada moulage tulang kepala janin (tulang kepala saling tumpang tindih berlebihan). Selain itu, pada pemantauan lembar PARTOGRAF ditemukan penyimpangan dari kurva normal.
Bila panggul Ibu memang sempit, maka Ibu tidak dapat melahirkan normal bayi dengan berat lebih besar dari 2500 gram. Pertambahan berat yang berlebihan akan membuat penimbunan lemak berlebih, terutama di daerah panggul, perut, dan paha sehingga menyulitkan pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan. Disamping memudahkan terjadinya infeksi, terutama jamur karena pada daerah lipatan akan terjadi peningkatan kelembaban. Obat jamur seperti metronidazol aman bagi wanita hamil, tapi tentu saja harus dengan resep dokter, lo.
TIDAK MENSTRUASI, TAPI TES KEHAMILAN NEGATIF
Saya (26) ibu seorang putra 11 bulan. Sejak kelahirannya Juli tahun lalu saya baru mendapat haid 2 kali yaitu tanggal 27 Desember dan 19 Maret lalu. Karena penasaran, saya periksa kehamilan di klinik terdekat, tapi hasilnya negatif. Perlu dokter ketahui sejak gadis sampai sekarang saya masih suka minum rebusan daun sirih segelas setiap hari.
Yang ingin saya tanyakan, mengapa setelah melahirkan, haid saya jadi tidak teratur padahal sebelumnya lancar-lancar saja? Apakah ada efek samping minum rebusan daun sirih? Belakangan ini saya juga rajin minum beras kencur. Seberapa besar kemungkinannya jika saya ingin punya anak lagi? Saat ini saya belum ber-KB dan masih menyusui.
Syisi - Sukabumi, Jabar
Menyusui, apalagi menyusui secara eksklusif, artinya selama enam bulan pertama bayi Ibu hanya memperoleh ASI, dapat berfungsi juga sebagai cara ber-KB (keluarga berencana metoda alamiah). Kadar prolaktin yang tinggi dalam tubuh Ibu akibat masih menyusui akan menghambat terjadinya pertumbuhan dan perkembangan sel telur. Bila sel telur telah mencapai ukuran normal untuk masa subur (diameternya sekitar 18-20 mm) dan kemudian pecah, terjadilah ovulasi. Dua minggu setelah ovulasi, biasanya terjadi menstruasi, kecuali bila Ibu menjadi hamil.
Saat ini Ibu masih menyusui dan masih ada pengaruh dari hormon prolaktin terhadap pulihnya kesuburan dan haid normal, sehingga haid Ibu masih belum teratur. Ibu tidak perlu khawatir dengan belum pulihnya haid yang normal tersebut. Bila masih ragu, sebaiknya Ibu berkonsultasi dengan spesialis kandungan di Sukabumi.
Mengenai rebusan daun sirih saya belum pernah menelitinya, hingga tak dapat menjawabnya dengan lebih tepat. Dari pengalaman sehari-hari banyak wanita yang meminum rebusan daun sirih dan "katanya" tidak apa-apa. Penjelasan yang lebih rinci dapat Ibu tanyakan ke Dinas Kesehatan di Sukabumi, mungkin ada data tentang pemakainan obat tradisional tersebut. Terima kasih atas pertanyaannya. |
|
Tanya Jawab Gizi Anak
DR. Dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A.
Dokter Spesialis Anak - Divisi Nutrisi dan Metabolik
(Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM)
|
|
|
HANYA SUKA SARI MAKANAN
Dokter, putra saya (17 bulan) BB 10 kg dan TB 67 cm, masih ASI, tapi makannya susah sekali, hanya mau nasi lembek. Jika diberi nasi biasa, akan dikeluarkan lagi padahal giginya sudah tumbuh. Saya juga heran, kalau makan sayur, si kecil hanya mau kuahnya saja. Begitu juga dengan ayam, daging atau ikan, setelah diisap sarinya, ampasnya dikeluarkan lagi. Apakah gizinya tercukupi dengan hanya memakan sarinya saja? Tapi ia sehat dan lincah, juga jarang sakit.
Selain itu, Dok, saya ingin tanya tentang efek samping bumbu penyedap rasa. Sebab, kalau tidak memakai bumbu penyedap rasa, putra saya tak suka makanan itu, biarpun sudah diganti pakai kecap atau gula. Ia juga suka makan makanan olahan, seperti baso, sosis, atau nugget, apakah ada dampaknya jika diberikan setiap hari karena hanya makanan itu yang dia suka. Terima kasih.
Nofa Adriani - Jakarta
Kemampuan mengunyah makanan memang keterampilan yang harus dipelajari. Jika tidak terkunyah dengan baik, makanan tersebut sulit ditelan sehingga anak terlihat seperti tersedak atau akan muntah jika berusaha menelannya. Jika hal ini terjadi berulang, maka anak berusaha menghindarinya dengan cara hanya mengisap sarinya kemudian membuang ampasnya. Hal ini tidak terjadi kalau serat makan tersebut sudah dihaluskan, ini terbukti dengan kesukaannya pada baso, sosis atau nugget yang berasal dari cincangan daging.
Bagaimana menyiasatinya, tentu saja Ibu dapat memberikan daging ayam atau sapi dalam bentuk dicincang, misalnya dibuat perkedel atau disuwiri halus seperti jika makan soto atau bubur ayam.
Produk olahan sebaiknya tidak dikonsumsi secara rutin, karena selain mengandung pengawet dan penyedap rasa, juga biasanya kandungan garamnya tinggi. Penyedap rasa dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada orang yang peka atau alergi terhadapnya (Chinese Restaurant Syndrome), sedangkan efek toksisitasnya pada manusia sampai saat ini belum terbukti. Yang perlu diwaspadai justru kandungan garamnya yang tinggi karena dapat berisiko hipertensi di kemudian hari.
Data-data antropometris yang Ibu berikan cukup membingungkan. Apakah benar PB putra Ibu hanya 67 cm? PB tersebut sebenarnya ideal untuk bayi lelaki berusia ± 6 bulan, jadi untuk 17 bulan, si kecil termasuk berperawakan pendek (10 cm di bawah persentil-3 grafik NCHS 2000), (benarkah?). BB idealnya adalah 7,8 kg, jadi 10 kg termasuk kegemukan. Jika memang demikian, sebaiknya Ibu berkonsultasi ke dokter spesialis anak yang mendalami masalah endokrinologi untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan hormonal sebagai penyebab perawakan pendek tersebut.
|
|
Ahli Gigi Anak
Drg. Taty Zubaidah Carnain, Sp.KGA
(SubBagian Pedodanti/Kedokteran Gigi Anak SMF Gigi dan Mulut RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo)
|
|
|
SEJAK BAYI SUDAH MENGGOSOK GIGI MENGGUNAKAN PASTA
Putri saya (1;2) lahir dengan BB 3800 gr dan PB 51 cm. Sekarang, BB-nya 10,5 kg dan sejak umur 2 bulan sudah tidak minum ASI, tapi susu formula.
Pada saat giginya tumbuh, umurnya 7 bulan. Sejak itu, setiap kali ia melihat saya atau ayahnya menggosok gigi, ia selalu minta giginya disikat juga. Akhirnya, saya belikan dia sikat gigi khusus bayi beserta pasta giginya. Kegiatan itu dilakukan sampai sekarang.
Yang ingin saya tanyakan, akan berpengaruhkah pasta gigi itu pada pertumbuhan giginya? Karena setiap kali dia melakukannya sendiri, pasta giginya pasti ditelannya. Terus terang, saya takut karena dia tidak mau berkumur/minum air putih. Atas penjelasan Dokter, saya ucapkan terima kasih.
Ibu X - di kota Y
Jumlah kandungan fluor pada setiap pasta gigi yang dipasarkan sudah harus memenuhi standar internasional. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir.
Agar anak yang belum bisa berkumur tidak menelan pasta giginya, kegiatan menggosok gigi ini tetap harus dilakukan oleh orang tua. Sesudah selesai, barulah anak Ibu boleh menyikat giginya sendiri.
Namun, sebelum itu, sekalah giginya dengan kasa atau kapas yang dibasahi air hangat matang, yang sudah disiapkan sebelumnya. Kalau toh tertelan juga, jumlahnya tidak akan terlalu banyak. Begitu seterusnya. Perlu diingat, waktu untuk menyikat giginya cukup sebentar-sebentar, tapi berulang-ulang prosedurnya.
CAMILAN KERAS MAU, NASI TIDAK
Pertumbuhan putri saya (2;5) cukup baik. TB 91 cm, dan BB 14 kg. Masalahnya, sampai saat ini pertumbuhan giginya terlambat. Gigi pertamanya baru tumbuh saat dia berusia 13 bulan, sedangkan mulai berjalan saat usia 11 bulan. Sampai saat ini giginya baru 12 buah (depan atas bawah 8, samping 4). Gigi taringnya belum tumbuh padahal kawan-kawannya sudah.
Mengenai pola makannya, tidak ada kesulitan. Hanya saja sampai saat ini dia masih makan nasi lembek. Kalau makan nasi keras dia muntah dan akhirnya tidak mau makan sama sekali. Tapi saya juga memberinya makanan camilan yang agak keras, seperti biskuit, kerupuk, apel, dan pir.
Kira-kira mengapa pertumbuhan gigi anak saya lambat, Dok? Apakah giginya masih bisa tumbuh? Kira-kira sampai umur berapa normalnya sampai gigi susu ini menjadi lengkap?
Satu lagi, ia mulai bisa mengucapkan kata-kata saat berumur 1 tahun. Sejak itu kosakatanya sangat banyak, juga dia bisa dengan cepat mengatakan sesuatu. Hanya saja ngomongnya kurang begitu jelas, sehingga terkadang orang kurang paham jika tidak diulang, kecuali kami keluarganya. Sementara, anak kawan saya di umur yang sama memang bicaranya satu-satu tapi sangat jelas. Bagaimana mengenai hal ini?
Siti Ruliyah - Batam
Bila camilan keras yang diberikan kepadanya dikunyah dan ditelan dengan baik, maka ada kemungkinan anak Ibu hanya belum terbiasa dan malas mengunyah nasi yang agak keras. Itu karena nasi adalah makanan wajib dan rutin bagi dirinya.
Cobalah mengatasinya dengan cara, misalnya setelah disuapi nasi, sodorkan juga potongan kerupuk kepadanya. Bisa juga dengan cara bersyarat, seperti setelah setiap satu suapan nasi dikunyah dan ditelannya, maka ia akan diberi satu gigitan biskuit kesukaannya. Dengan diberi rangsangan demikian, umumnya ia akan mengunyah dan menelan nasinya.
Pemberian nasinya pun bertahap. Dari yang agak keras lalu ke yang keras. Memang butuh waktu dan kesabaran. Namun Ibu lebih beruntung katrena ada beberapa anak yang terpaksa diberi nasi dan lauk pauk yang diblender karena anak tidak mau mengunyah sama sekali.
Gigi susu akan tumbuh secara lengkap dan menyeluruh pada usia 2-3 tahun. Jumlahnya 10 di rahang atas dan 10 di rahang bawah. Untuk anak Ibu, jumlahnya masih termasuk normal. Tidak perlu membandingkannya dengan anak lain karena peristiwa tumbuh gigi ini individual sekali sifatnya, karena banyak faktor mempengaruhinya.
Begitu pula dengan kemampuan bicara anak. Untuk saat ini, apabila ada perkataannya yang tidak jelas, segera perbaiki dengan mencontohkan cara mengatakan yang jelas agar anak mengerti mana ucapan yang benar. Ia pun akan meniru kita sampai bisa berkata jelas. |
|
Ahli Gizi Ibu
Dr. Saptawati Bardosono, M.Sc.
Dokter Gizi
(SEAMEO-TROPMED-RCCN Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)
|
|
|
MASAKAN TRADISIONAL USAI BERSALIN
Dokter yang baik, saya (28) baru sekitar sebulan lalu melahirkan anak pertama. Benarkah ada makanan-makanan tertentu untuk membantu pemulihan kondisi si ibu setelah proses persalinan, selain konon juga sangat berguna meningkatkan kualitas ASI? Mama dan ibu mertua saya jadi rajin membawakan masakan ayam arak, sop ayam merah, ayam jahe dan masakan lainnya yang mengingat namanya saja saya mengalami kesulitan.
Dari sudut kesehatan, apakah menu tadi benar-benar berkhasiat/memiliki kandungan zat-zat tertentu yang bermanfaat untuk memulihkan kondisi si ibu setelah bersalin? Terus terang tanpa terfokus pada manfaatnya, saya agak sulit menelannya mengingat rasanya yang serba aneh. Benarkah menu-menu tadi juga bisa meningkatkan kualitas maupun kuantitas ASI? Oh ya, berat saya setelah melahirkan 65 kg setelah sempat melonjak jadi 80 kg untuk tinggi 165 cm. Mohon penjelasan dan terima kasih banyak sebelumnya.
Dita - Palangkaraya
Ibu Dita, selamat atas kelahiran anak pertama Ibu. Keadaan Ibu saat ini cukup baik dengan indeks massa tubuh sebesar 23,9 (normalnya antara 18,525). Setelah proses persalinan, seorang wanita memang membutuhkan zat-zat gizi yang cukup untuk proses pemulihan tubuh, terutama rahim sekaligus persiapan untuk menyusui. Peningkatan kebutuhan akan hampir semua jenis zat gizi ini dapat dipenuhi dari makanan yang mengandung kecukupan zat gizi yang seimbang antara kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta air.
Menu masakan ayam yang disuguhkan oleh orang tua biasanya didasarkan atas pengalaman turun-temurun dari nenek moyang, yang pasti ada manfaatnya. Dengan mengonsumsi menu tersebut yang kaya akan sumber protein dan lemak dibarengi dengan nasi sebagai sumber karbohidrat, sayur, buah dan susu sebagai sumber vitamin dan mineral, tentunya kesehatan Anda akan meningkat, sehingga cukup kuat untuk mengurus bayi selama hampir 24 jam sehari. Karena menu tadi selalu dihidangkan dalam bentuk sup, maka kebutuham Ibu akan cairan pun dapat terpenuhi agar dapat memproduksi ASI yang berkuantitas dan berkualitas. Menurut hemat saya, selain masakannya, perhatian dan kasih sayang dari orangtua sangat bermanfaat bagi Ibu yang memang sedang membutuhkan banyak perhatian dari orang-orang terdekat di masa-masa ini.
|
|
|
|