FirstFlag
Tanya Jawab Psikologi

Dra. Mayke Tedjasaputra
Psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan-UI

SI BUYUNG OGAH BICARA

Saya khawatir dengan putra kami (25 bulan) yang hingga kini belum juga bisa bicara, walaupun kami sudah sering mengajarinya. Kadang hari ini ia mau diajarkan, tapi besoknya sudah tak mau lagi, begitu selalu. Bila dipanggil namanya, ia juga tak pernah mau menengok. Tapi bila mendengar penjual ice cream menjajakan dagangannya, ia langsung dengar, padahal kami belum dengar dengan jelas. Begitu juga bila di TV ada acara yang disukainya, ia akan berjoget sampai ke ruang tamu. Bahkan bila kami pindahkan salurannya, tetap saja ia bisa dengar.

Bila ia sedang suka, kadang kami dengar juga kata "emoh" atau "lupa" dari mulutnya. Tapi hanya itu. Ia juga kalau minta sesuatu harus selalu dituruti. Bila tidak, ia akan menangis sampai menjerit-jerit dan kejang. Saat bayi, ia memang suka menangis lama, tiap malam ia menangis hingga pagi baru berhenti. Apakah hal ini berdampak pada perkembangan jiwanya? Apa pula yang harus kami lakukan?

Ny. Kristiana-Cilacap

Menurut penelitian, anak lelaki memang cenderung lebih lambat dalam perkembangan bicaranya. Apakah anak Ibu sudah dapat diajak berkomunikasi, mengerti apa yang kita suruh, dapat menunjuk benda yang kita tanyakan (bahasa reseptif)? Bahasa reseptif berkembang lebih dulu daripada bahasa ekspresif (yang diucapkan). Bila tak ada masalah dengan bahasa reseptifnya, maka saya perkirakan perkembangan kognisi (berpikir, mengingat, dan lainnya) tak terganggu.

Masalah lain yang perlu menjadi perhatian Ibu sebenarnya adalah atensi (perhatian) anak. Dari apa yang Ibu kemukakan, nampaknya ia kurang mau memperhatikan apa yang dikemukakan kepadanya, bahkan cenderung mengabaikan. Apakah sejak bayi ia sudah terbiasa diajak berkomunikasi, menatap mata lawan bicaranya, dan memberi respon terhadap apa yang dikemukakan lawan bicaranya dengan tertawa atau berceloteh? Ataukah sejak bayi ia lebih banyak didiamkan untuk asyik sendiri, sehingga tak terbiasa memperhatikan lawan bicaranya, dan akibatnya sampai sekarang ia cenderung mengikuti apa yang menarik perhatiannya saja tanpa mau mempedulikan permintaan orang lain? Bila sejak usia bayi ia sudah sering diajak berkomunikasi namun sampai sekarang ia tak memperhatikan apa yang diminta lawan bicaranya, maka ada kemungkinan ia mengalami gangguan perhatian (attention deficit disorder). Tak ada salahnya Ibu berkonsultasi pada seorang psikolog dan ahli syaraf anak untuk mendeteksi dan mengatasi gangguan.

Beberapa upaya yang sementara ini dapat Ibu lakukan adalah:

* Memangku anak dan mengajaknya bermain, seperti main pok ame-ame atau ciluk ba, yang tujuannya menarik perhatian anak.

* Mengajak anak bermain, seperti menunjuk bagian-bagian muka Ibu dan anak berdasarkan suruhan Ibu. Lakukan dalam suasana yang menarik.

* Mengajak anak memasangkan pena dengan tutupnya, bermain menuang air ke wadah, berlari dan berhenti mengikuti aba-aba dari Ibu, dan masih banyak lagi permainan untuk melatih atensi anak.

Kelihatannya anak Ibu cukup berkeras mempertahankan keinginannya. Sebaiknya tak memenuhi permintaan anak, walaupun ia menangis terus karena dikhawatirkan ia tak belajar untuk mengendalikan diri. Bila anak menangis, usahakan menggendongnya dan menenangkannya (bila ia mau). Isilah waktu luang Ibu-Bapak bersama anak, sehingga ia merasa dirinya dikasihi dan diperhatikan.

ANAK MENANGIS KALA DI KELAS

Putra saya sekarang berusia 2 tahun. Saat berusia 1 tahun 10 bulan, ia sudah saya masukkan ke kelompok bermain. Kini sudah 3 bulan ia ber"sekolah", dan selama itu ia tak pernah mau ditinggal di "sekolah". Ia selalu rewel dan kadang malah minta pulang, padahal anak-anak lainnya tak seperti itu. Memang dalam kelompoknya, ia anak yang terkecil. Tapi menurut orang tua lainnya, mereka juga memasukkan anaknya waktu usianya 2 tahun lebih sedikit. Namun tak sampai sebulan, anak mereka sudah dapat dilepas dan tak menangis.

"Sekolah" itu cukup ketat. Peraturannya untuk menemani anak di "sekolah" hanya 1-2 minggu saja, setelah itu anak harus sepenuhnya bersama guru. Setiap kali saya serahkan ia ke gurunya, ia pasti menolak dan menangis. Setelah dibujuk gurunya, tangisnya pun berhenti, tapi beberapa saat kemudian ia akan menangis lagi. Apakah ia bosan? Memang tangisnya sekarang agak berkurang dibanding saat pertama kali. Namun walau di "sekolah" ia sering menangis, di rumah sedikit-sedikit ia bisa menyanyikan lagu yang diajarkan gurunya, berdoa, berbaris, dan ia juga tahu apa nama barang/mainan yang diberikan gurunya.

Apakah benar anak saya masih terlalu kecil dan belum waktunya di"sekolah"kan? Saya takut saat ia harus sekolah ternyata ia tak mau sekolah. Kalau saya keluarkan ia dari kelompok bermainnya, rasanya, kok, sayang, saya sudah keluarkan uang yang cukup lumayan. Jadi, apa yang harus saya lakukan?

Birgitta Yantie-Jakarta

Ibu Brigita, kesiapan anak masuk dalam kelompok bermain memang berbeda-beda. Ada yang sudah siap, tapi ada pula yang tidak. Umumnya anak yang kurang percaya diri dan merasa lebih aman serta terlindungi dalam lingkup rumah, kurang suka untuk mengikuti program semacam itu. Bila dikaitkan dengan perkembangan psikososialnya, usia sekitar 2-3 tahun anak mengalami kecemasan berpisah dengan orang tua. Tapi bila anak cukup percaya diri, biasanya lambat-laun ia dapat mengatasi masalah ini.

Sebenarnya, bila di rumah orang tua dapat menyelenggarakan kegiatan bermain, berkomunikasi dengan anak, perkembangan bicara tak terhambat, dan anak mempunyai banyak kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya, tak perlu memasukkannya ke kelompok bermain. Umumnya kelompok bermain dipilih bila kesempatan-kesempatan tersebut tak didapat anak di lingkungan rumah. Misalnya, tak ada teman sebaya di sekitar rumah, interaksi dengan orang-orang dewasa yang ada di rumah sangat terbatas, atau jarang bertemu dengan orang-orang lain. Jadi, untuk menentukan apakah akan tetap membiarkan anak mengikuti kelompok bermain atau tidak, sangat bergantung kepada beberapa pertimbangan yang sudah saya ungkapkan itu.

Solusi lain, bila Ibu dapat bernegosiasi dengan pengelola program untuk diizinkan menemani anak dalam jarak tertentu dan makin lama jarak tersebut bertambah jauh sampai anak merasa aman di "sekolah" sehingga akhirnya tak usah ditemani, saya rasa itu solusi terbaik. Selain itu, hendaknya Ibu cukup tegar untuk tak menunjukkan ekspresi was-was saat putra Ibu harus berangkat "sekolah". Di rumah, anak perlu dilatih untuk lebih percaya diri. Misalnya, dengan memberi kesempatan kepadanya agar melakukan apa yang sudah bisa dilakukannya, tanpa banyak bantuan orang dewasa.

Tanya Jawab Kesehatan Anak

Dr. Najib Advani SpAK MMed Paed,
Dokter Spesialis Anak Konsultan-Ahli Jantung Anak (Bagian Kesehatan Anak FKUI RSCM) dan Staf Pengajar FKUI-RSCM

AMANDEL MEMBESAR

Dokter, saya mempunyai bayi laki-laki berusia 7 bulan dengan BB 7,5 kg. Pada usia 6 bulan pernah mencapai BB 8 kg. Begini dokter, pada usia satu minggu, anak saya pernah mengalami sesak nafas. Setelah saya periksakan ke dokter anak, ternyata anak saya menderita alergi. Dan setelah diberi obat tetes oleh dokter anak, sesak nafasnya sembuh. Tapi sekarang saya perhatikan anak saya sering sakit (pilek, batuk, dan sesak nafasnya kumat kembali). Bahkan sudah hampir dua minggu belum sembuh juga, kendati sudah dibawa ke dokter dan diberi obat. Yang mau saya tanyakan, apakah anak saya termasuk bayi yang kurus, dan faktor apa yang menyebabkan BB anak saya turun? Apakah karena penyakit yang diderita anak saya atau ada faktor lain? Karena setelah saya perhatikan, di bawah dagu sebelah kanan anak saya besar sebelah seperti ada benjolan berbentuk oval, sehingga pipinya kelihatan tembem sebelah kanan. Tapi sepertinya tidak sakit, karena setiap saya pegang, anak saya tidak merasa kesakitan.

Apakah pembesaran itu karena kelenjar gondok yang tidak sama besar dengan sebelah kiri, atau ada penyakit lain (amandel), dan apa pula amandel dan kelenjar gondok tersebut, Dokter? Apakah akan terasa sakit kalau dipegang? Apakah penyakit itu berbahaya, dan bagaimana cara mengobatinya? Apakah bisa hilang dengan sendirinya? Dan pada usia berapa anak boleh diimunisasi hepatitis B. Untuk dokter ketahui, sampai sekarang dia masih saya beri ASI ditambah susu formula, karena saya bekerja.

Neneng Ryviana- Bekasi

Melihat dari usia putra Ibu yang 7 bulan dan beratnya yang 7.5 kg, dapat dikatakan ia tidak kurus. Jika sebelumnya beratnya 8 kg berarti ada penurunan berat badan. Jika ia sering sakit tentu berat badannya sukar naik atau bahkan turun. Jika ia sering batuk pilek dan sesak mungkin ia menderita alergi terhadap sesuatu. Sebaiknya hindari debu, asap, cuaca dingin, kapuk maupun bulu binatang.

Tentang benjolan di bawah dagu mungkin itu suatu kelenjar getah bening yang membengkak. Amandel atau tonsil adalah suatu jaringan yang terdapat di bagian belakang mulut kiri dan kanan yang berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang masuk ke rongga mulut. Sedangkan kelenjar gondok atau kelenjar tiroid adalah suatu kelenjar yang terletak di leher bagian depan dan berfungsi mengeluarkan hormon tiroid. Untuk memastikan benjolan tersebut dan mengetahui berbahaya atau tidak perlu dilihat dan diperiksa dahulu. Untuk ini sebaiknya Ibu menghubungi dokter anak terdekat. Imunisasi hepatitis B dapat diberikan sejak bayi baru lahir dan berguna untuk mencegah terkenanya penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B.

MATA TERUS BERAIR

Dokter Najib, saya memiliki seorang anak perempuan berusia 7 bulan dengan berat 7,4 kg. Dia lahir dengan berat 3,5 kg dan panjang 50 cm. Semenjak lahir hingga kini mata anak saya sering berkaca-kaca dan apabila menangis, airmatanya banyak sekali. Apakah ini merupakan suatu tanda-tanda penyakit dan apakah berbahaya bagi kesehatannya? Disamping itu anak saya juga sering bersin dan tampak seperti sedang flu. Saya pernah membawanya ke dokter anak untuk menanyakan masalah tersebut dan setelah diperiksa, kata dokter tersebut tidak apa-apa. Tapi saya masih khawatir mengenai masalah tersebut. Saya mohon penjelasan dokter.

Wahyu Handayani - Bogor

Mata manusia selalu mengeluarkan air mata yang berfungsi sebagai 'pelumas' sehingga gerakan bola mata tidak mengakibatkan keausan akibat gesekan dengan kelopak mata bagian dalam. Kelenjar yang mengeluarkan air mata ini terletak di bagian samping atas dari masing-masing mata. Kedipan mata membuat air mata jadi merata membasahi mata. Air mata ini selanjutnya dialirkan ke rongga hidung melalui saluran yang dikenal sebagai duktus nasolakrimalis. Air mata ini berfungsi protektif (melindungi). Jika ada suatu partikel masuk ke mata, secara refleks produksi air mata bertambah sehingga bisa menyapu benda tersebut keluar. Jika saluran keluar yang menuju hidung tersumbat, maka air mata akan tergenang di mata sehingga mata tampak berkaca-kaca. Jika akibat tersumbatnya saluran ini terjadi infeksi, maka akan terjadi 'belekan'. Putri Ibu mungkin menderita sumbatan pada duktus nasolakrimalis-nya atau mungkin suatu alergi atau iritasi. Untuk memastikan hal ini sebaiknya Ibu menghubungi dokter mata terdekat. Tentang bersin mungkin saja timbul akibat suatu iritasi atau alergi. Sebaiknya hindari debu, asap dan bau-bauan yang kiranya dapat membuat bersinnya kambuh.

Tanya Jawab Kebidanan dan Kandungan

Dr. Judi Januadi Endjun SpOG
Dokter Ahli Kebidanan dan Kandungan
Rumah Sakit Gatot Subroto

PENGARUH ROKOK PADA JANIN

Saya wanita berusia 23 tahun. Sejak usia 16 tahun saya merokok dan kadang-kadang meminum minuman beralkohol. Tetapi, sejak menikah pada usia 21 tahun, saya 'berhenti' merokok (bisa dihitung dalam sebulan). Tetapi alkohol kadang-kadang masih saya konsumsi, khususnya jika ada perayaan di kantor.

Sejak menikah, saya tidak ikut KB karena saya ingin cepat hamil dan punya anak. Sekarang saya sedang hamil 7 bulan dan suami meminta saya berhenti bekerja (suami kebetulan satu tempat kerja). Saya mengetahui bahwa saya hamil saat kehamilan berusia 9 minggu. Sebelum itu, saya masih meminum minuman beralkohol. Yang ingin saya tanyakan:

1. Kenapa saya baru hamil setelah 2 tahun menikah? Apakah itu disebabkan banyaknya alkohol dan nikotin yang masuk ke dalam tubuh?

2. Bagaimana dengan kandungan saya, Dok. Apakah sehat dan normal, karena sebelum usia 9 minggu kehamilan saya masih meminum minuman beralkohol? Perlukah saya tes USG atau pemeriksaan lain untuk mengetahui keadaan janin saya?

4. Benarkah kehamilan akan membuat daya seks menurun? Soalnya itu terjadi pada diri saya. Beruntung, suami mau mengerti.

Atas jawaban Dokter saya ucapkan banyak terima kasih.

Dien - Jakarta

Cepat atau lambatnya seorang wanita menjadi hamil tergantung banyak faktor, terutama faktor kesehatan kedua pasangan. Faktor lain yang berperan adalah keteraturan siklus haid, hal ini berkaitan dengan masa subur yang hanya kira-kira satu hari dan terjadinya hampir selalu 14 hari dari siklus haid YANG AKAN DATANG. Kesehatan suami yang perlu diperhatikan adalah hentikan kebiasaan merokok, meminum minuman beralkohol, dan pemakaian zat/obat berbahaya serta menjaga kesehatan buah zakar. Jangan memakai celana dalam ketat atau sering mandi sauna, hindari bekerja di tempat yang suhunya tinggi atau memakai zat kimia berbahaya.

Kesehatan istri memerlukan pemeliharaan yang lebih rumit karena hal ini berkaitan langsung dengan pemeliharaan kesehatan janin selama 9 bulan di dalam kandungan. Misalnya sudah harus menghentikan kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan pemakaian zat/obat berbahaya sebelum dan selama kehamilan. Hindari kemungkinan terpapar dengan infeksi, misalnya jangan mengunjungi kerabat yang menderita penyakit infeksi, lakukan imunisasi sebelum kehamilan (misalnya imunisasi campak Jerman), jangan memelihara atau mengurus hewan peliharaan yang dapat menularkan penyakit (misalnya kucing dapat menularkan penyakit toksoplasma).

Lakukan kebiasaan hidup dan kebiasaan makan yang sehat, makanlah makanan yang alami, halal, dan memenuhi kecukupan gizi yang seimbang (empat sehat lima sempurna) dan hindari vetsin, zat pengawet/zat pewarna berbahaya. Dampak alkohol dan merokok bagi janin adalah tidak baik, bisa terjadi gangguan perkembangan dan pertumbuhan janin.

Sebaiknya dilakukan pemantauan secara serial dengan USG untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan janin Ibu, juga beberapa pemeriksaan laboratorium lainnya. Mengenai daya seks dalam kehamilan, umumnya memang berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan hormon dan fisik Ibu serta anjuran agar tidak melakukan senggama pada tiga bulan pertama dan tiga bulan terakhir kehamilan.

Sebenarnya bila kondisi Ibu dan janin dalam keadaan baik, maka Ibu dapat melakukan hubungan suami istri seperti biasa. Yang perlu diperhatikan mungkin adalah penyesuaian posisi senggama akibat perut Ibu yang semakin membesar. Tanyakan pada dokter kandungan Ibu, apakah ada hal-hal tertentu yang tidak memperbolehkan Ibu melakukan hubungan suami istri. Demikianlah jawaban singkat dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

KEGUGURAN BERULANG

Saya ibu rumah tangga yang sudah 4 kali mengalami keguguran dan setiap kali keguguran selalu di usia kehamilan 3 bulan dan terjadi secara spontan. Keguguran yang ketiga terjadi pada Mei 99 saat kehamilan 12 minggu. Padahal, waktu itu saya cukup istirahat dan rajin kontrol ke dokter. Keguguran dimulai dari adanya perdarahan sedikit, tetapi sekitar 12 jam kemudian, baru terjadi keguguran.

Keguguran terakhir terjadi pada 14 Januari silam saat usia kehamilan 2 bulan 3 minggu. Perlu Dokter ketahui, sebelum kehamilan ke-4, saya diberi obat essenso dan dalfarol, baru kemudian saya hamil. Saat kehamilan berusia 2 bulan satu minggu, saya kontrol lagi ke dokter dan diberi obat Folamil dan Vica Natal. Tetapi, saat usia kehamilan 2 bulan 3 minggu, tepatnya 13 Januari 2000 pukul 03.40, saya mengalami perdarahan, meski hanya sedikit dan hanya berupa bercak merah di celana dalam.

Pukul 14.00 saya ke dokter untuk menanyakan masalah tersebut. Oleh dokter saya diberi obat Natur-E dan Essenso. Sesampai di rumah kira-kira pukul 14.30, kembali terjadi perdarahan walau cuma sedikit.

Pukul 20.00 saya merasa mulas, tetapi saya baru kembali ke klinik pukul 01.00. Oleh bidan klinik saya diberi suntikan dan diberi obat. Pukul 03.00, ketika saya ke WC, keluar segumpal darah agak keputih-putihan seperti berserat. Saat itulah saya baru tahu kalau saya keguguran. Yang ingin saya tanyakan:

1. Mengapa setiap kali keguguran selalu di usia kehamilan 3 bulan, padahal apa-apa yang dilarang dokter sudah saya patuhi. Apa, sih, penyebab keguguran yang saya alami itu, Dok? Mengapa setiap kali setelah keguguran kaki saya sering kram?

2. Bisakah keguguran disebabkan sperma suami yang lemah?

3. Apakah kadar Ph dalam urine mempengaruhi kehamilan dan menyebbabkan keguguran? Perlu Dokter ketahui, saya seringkali merasa nyeri saat buang air kecil, baik saat hamil maupun tidak.

4. Apa obatnya dan dimana saya harus berobat?

5. Kapan saya boleh hamil lagi?

Demikian surat saya dan terima kasih atas jawabannya.

Ny. Deiby - Tondano

Keguguran lebih dari 3 kali secara berturut-turut disebut abortus habitualis, dan hal ini memerlukan penanganan yang serius dan mencakup bidang keahlian lain. Ada beberapa langkah pemeriksaan yang harus dilakukan: 1)Pemeriksaan kesehatan umum Ibu dan suami, misalnya GTT (penapisan terhadap kencing manis), dan laboratorium darah rutin; 2)Pemeriksaan kesehatan khusus suami: analisa sperma (sesuai dengan standar WHO); 3)Pemeriksaan kesehatan khusus istri: analisa hormon (FSH, LH, PRL, E2 dan P4), pemeriksaan infeksi TORCH-KM, pemeriksaan anticardiolipin/antiphospholipid (antibodi), pemeriksaan T3, T4, dan TSH (fungsi kelenjar gondok), pemeriksaan ketidakcocokan golongan darah dan rhesus, USG transvaginal untuk menilai alat kandungan dan perkembangan sel telur, HSG untuk menilai apakah saluran leher rahim dan rongga rahim normal atau tidak (misalnya terjadi inkompetensia serviks atau ada mioma uteri di permukaan rongga rahim), dan analisa genetika/kromosom (suami-istri.); dan 4)Pemeriksaan jaringan janin, misalnya pemeriksaan patologi anatomi, dan analisa kromosom.

Keguguran yang terjadi pada kehamilan 3 bulan umumnya disebabkan kelainan genetik atau kromosom pada janin. Sayangnya pemeriksaan ini sulit dilakukan dan memerlukan biaya yang sangat mahal. Kelainan pada sperma dapat menyebabkan kualitas embrio yang dihasilkan tidak baik, dan bila hal ini terjadi, maka keguguran sulit dihindari. PH urin bisa berubah menjadi abnormal, misalnya bila terjadi infeksi bakteri pada kandung kencing (sistitis bakterialis).

Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebar ke alat-alat di sekitarnya, termasuk ke kandungan yang berisi embrio sehingga terjadi keguguran. Untuk mencari penyebab keguguran Ibu dan bagaimana mengatasinya, sebaiknya Ibu berkonsultasi dengan dokter kandungan di Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran/Rumah Sakit setempat agar dapat dilakukan penanganan bersama spesialis lain yang terkait (ahli penyakit dalam, laboratorium, genetika, radiologi dll).

Bila semuanya normal, Ibu dapat kembali hamil kira-kira tiga bulan pasca kuret. Yang terpenting, ketahui apa penyebabnya dan segera atasi kelainan yang ada. Ibu dapat membaca beberapa tulisan saya sebelum ini mengenai keguguran berulang. Bila masih belum jelas, silakan Ibu berkirim surat kembali. Terima kasih banyak atas pertanyaannya.

Konsultasi Ahli edisi:  

buku tamu grup diskusi halaman utama mailing list newsletter halaman muka
Tabloid Nova         Intisari