Saya punya keponakan (13 bulan) dari kakak perempuan. Setiap waktu makan tiba, keponakan saya selalu dicecoki nonton TV, terutama iklan. Menurut ibunya, jika tidak begitu, anaknya sulit makan. Memang si anak suka sekali menonton TV. Tapi saya sangat khawatir dengan perkembangan mentalnya, karena TV, kan, hanya menyuguhkan interaksi sepihak dan mungkin bisa membuat anak sulit bersosialisasi. Benar tidak, Bu?
Pernah saya mencoba membawa keponakan saya makan sambil jalan-jalan di luar rumah dan makan bersama anak kecil yang lain. Sepertinya ia senang dan makannya pun menjadi cepat serta lahap. Lalu saya sarankan "metode" ini ke kakak saya. Tapi ia cuek dan malah marah-marah. Mungkin karena kakak saya tak pernah mau keluar rumah dan malas ketemu tetangga. Soalnya suaminya jarang pulang dan kakak saya itu hobi mengurung diri di rumah. Aktivitasnya sehari-hari hanya menonton TV.
Menurut Ibu, bagaimana agar kakak saya mau dinasehati sehingga perangainya tak berakibat buruk buat anaknya. Kasihan keponakan saya. Soalnya ia lucu dan menggemaskan, tapi kelihatannya juga agak pendiam. Terima kasih atas saran Ibu.
Fitri Rahmawati - Bandung
Saudari Fitri,kelihatannya Anda kesal betul terhadap ulah kakak yang "kuper" (kurang pergaulan) dan Anda sebagai adik khawatir akan dampak negatif terhadap keponakan yang sedang lucu-lucunya.
Saya setuju sekali bahwa bila sebagian besar waktu anak dihabiskan di depan TV, apalagi dalam usia sekecil itu ikut menonton film/sinetron untuk orang dewasa, maka lebih banyak dampak negatif yang diterima si anak.
Bukan hanya menjadikan anak pasif dan kurang bersosialisasi, tapi juga dikhawatirkan ia meniru ucapan atau perbuatan negatif yang tertayang dalam film/ sinetron tertentu. Selain itu, kebiasaan menonton TV akan mempengaruhi minat belajar anak saat ia duduk di SD atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Tampaknya Anda lebih merasakan masalah bagaimana meng-handle kakak, yang menurut dugaan saya sedang mempunyai masalah dengan suaminya. Nah, mengingat kakak Anda sedang mempunyai masalah, ia perlu ditolong untuk mengatasi masalah tersebut dan bukan diberi saran dengan cara yang kurang bijaksana. Misalnya tanpa memahami apa sebenarnya masalah yang sedang dirasakan kakak Anda, Anda atau anggota keluarga lain menasihati dengan "keras". Tentu saja ia tak mau menerima nasihat Anda.
Barangkali Anda dapat meminta bantuan anggota keluarga yang dekat dengan kakak, mencoba untuk menampung dan mendengarkan masalah kakak. Atau meminta bantuan sesepuh yang dihormati untuk memberi nasihat. Bila dirasakan perlu bisa meminta bantuan orang tersebut untuk membujuk kakak Anda berkonsultasi ke seorang psikolog perkawinan.
Metode yang Anda terapkan yaitu menyuapi anak sambil berjalan dan bermain dengan teman-temannya, menurut hemat saya kurang tepat. Selain makanan bisa terkontaminasi oleh debu atau kotoran lain, anak juga menjadi kurang terlatih untuk mengikuti disiplin makan di meja makan.
Jika ia sulit makan, bisa dilakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Sajikan makanan secara bervariasi, menunya juga diubah dari hari ke hari. Misalnya dengan lauk pauk ikan, kadang telur dan sebagainya. Anak juga sering lebih antusias jika makan satu meja dengan orang-orang dewasa lainnya.
Mudah-mudahan Anda bisa lebih sabar dalam menghadapi kakak yang sedang bermasalah.
ANAK LELAKI, KOK, PENAKUT?
Saya ibu empat anak berumur 7, 6, 5, dan 2 tahun. Anak saya nomor tiga, laki-laki, tampaknya penakut sekali. Ke mana-mana mengekor saya terus. Bila mau masuk kamar atau ke kamar mandi, minta di antar. Siang bolong sekalipun. Saya jadi gemas, anak lelaki, kok, penakut. Padahal ia orangnya cukup periang dan cerewet. Cuma penakutnya itu lo, Bu.
Sekarang ia sering berantem dengan kakak sulungnya, juga lelaki. Mereka saya tempatkan dalam satu kamar. Si kakak ingin lampu yang remang-remang bila tidur. Sebaliknya si adik, jika lampu dimatikan pasti menjerit-jerit.
Saya mohon saran, Bu Mayke.
Cicih Sumayah - Cimahi
Bu Cicih,sejak kapan putra Ibu mulai menampakkan rasa takutnya dan apa yang ia takutkan? Apakah ia takut tempat gelap, takut hantu, sehingga juga takut bila harus berada sendirian? Coba Ibu mengingat-ingat, pernahkah ia menonton film horor yang cukup banyak ditayangkan di TV di siang hari atau juga sering ditakut-takuti oleh seseorang?
Menurut penelitian, mulai usia 3-6 tahun biasanya anak takut pada kegelapan, cemas bila harus berpisah dengan orang tua, berada sendirian, takut pada binatang, takut pada luka yang diderita. Di usia 6 tahun takut pada hantu atau halilintar (Papalia & Aamps, Olds, 1995). Rasa takut ini disebabkan anak-anak usia ini mempunyai fantasi cukup kuat dan belum dapat membedakan antara khayalan mereka dengan realitas yang ada. Biasanya rasa takut ini juga muncul dikarenakan ada rasa cemas anxiety, dan akan lebih dipicu oleh film atau ceritera yang menakutkan.
Untuk mengatasi masalah takut, sebaiknya orang tua mau "menerima" ketakutan anak, menganggap hal ini sesuatu yang wajar terjadi. Berikan dukungan pada anak dengan cara menyuruh anak mengekspresikan perasaan-perasaan negatif yang dialami dan tidak mengolok-olok, menghukum, mengancam, memarahi atau makin menakut-nakutinya.
Hindari untuk mengatakan, "Masa begitu saja takut? Tidak apa-apa, kok." Atau pernyataan-pernyataan lain yang membuat anak merasa dirinya tak berharga. Saat tidur malam, bisa diusahakan ibu atau ayah menemaninya sebentar sambil berceritera dan tetap membiarkan untuk memakai lampu remang-remang. Tapi juga kemukakan bahwa ibu/ayah akan meninggalkannya setelah ia tertidur. Cara lain ialah berbicara pada si kakak agar untuk sementara waktu memberi izin tidur dengan lampu kamar yang terang.
Semoga saran saya cukup dapat memberi solusi pada masalah yang Ibu hadapi.