|
|
BOLEH
MAIN INTERNET ASAL....
|
Manfaatnya?
Pasti ada! Dampak negatifnya? Bisa kok dihindari!
Bagaimanapun,
kita memang tak bisa membendung penggunaan internet oleh anak,
apalagi melarangnya. Secara kognitif, anak usia sekolah memang sudah
siap untuk mengenal dan belajar mengenai internet. Di antaranya,
anak bisa mendapatkan beragam pengetahuan, sehingga wawasannya
menjadi bertambah luas.
Ia juga bisa mencari segala sesuatu
yang berkaitan dengan minatnya lewat situs maya. Hanya dengan
mengetikkan kata kuncinya saja, akan tampil beragam informasi yang
diperlukan. Tidak heran, kan kalau semakin banyak saja anak yang
menyukai internet.
Dengan bisa mengoperasikan internet
akan timbul kebanggaan tersendiri pada anak. Betapa tidak? Hanya
dalam waktu singkat, dia sudah menjelajahi situs-situs yang mungkin
belum dikenal temannya. Kemudian, apa yang ditemukannya di internet
bisa pula dijadikan bahan pembicaraan antarteman maupun dengan
orangtua dan orang dewasa lainnya. Kita pun sebagai ayah dan ibunya
tentulah ikut bangga memiliki anak yang kaya pengetahuan dan luas
wawasannya.
BISA NYANDU
Yang jadi persoalan, dampak buruk
internet juga tak sedikit. Paling nyata adalah biaya telepon yang
membengkak lantaran keseringan main internet. Soalnya, internet juga
bisa bikin orang jadi kecanduan. Ada lo yang namanya penyakit
internet mania, dan hal ini "diderita" oleh beberapa anak
usia rata-rata 10 tahun. Kalau sudah terkena penyakit ini, anak bisa
duduk berjam-jam di depan komputer sampai lupa waktu, hanya untuk
menjelajahi situs-situs yang diminatinya plus chatting.
Kekhawatiran lain, kemudahannya
mengakses pornografi. Ketahuilah, ada sekitar 280 juta halaman porno
dari 4,2 juta situs porno yang ada di seluruh dunia. Dan ternyata,
lebih dari 80% anak usia sekolah pernah mengakses pornografi. Paling
tinggi, 20% mengakses dari internet. Sisanya dari koran, tabloid,
DVD, VCD, telepon genggam, games dan acara televisi. Demikian
hasil observasi Yayasan Kita dan Buah Hati pada tahun 2005 terhadap
1.705 responden anak kelas 4-6 SD di Jabodetabek.
Mungkin saja awalnya anak memang
tak sengaja masuk ke situs-situs porno, sebab bukan tidak mungkin
situs jenis itu menggunakan nama tokoh kartun yang disukai anak.
Dari situ, anak mungkin terdorong untuk "melongok" lebih
jauh dan lebih luas lagi. Dampaknya jelas sangat mencemaskan.
Soalnya, di usia sekolah, secara alamiah organ seks sudah aktif
sehingga anak bisa saja terangsang seksualnya sebelum menginjak usia
akil balig. Kalau sudah begitu, anak sulit berkonsentrasi pada
pelajaran, lambat berpikir, menjadi pemarah atau agresif karena tak
tahu bagaimana meredakan hasrat seksualnya, bahkan mungkin ia akan
melakukan onani atau hubungan seksual yang sesungguhnya.
ATURAN MAIN
Meski dampaknya cukup mengerikan,
kurang bijak kalau kita melarang anak menjelajah situs-situs dunia
maya. Bisa disiasati, kok, agar aman! Caranya antara lain:
*
Batasi waktu main internet hanya 1-2 jam sehari.
*
Ingatkan anak bahwa dunianya bukanlah dunia yang selalu maya, bahwa
dia hidup di dunia nyata. Untuk itu, dia pun harus bergaul dengan
teman-temannya, bermain, mengembangkan kemampuan motoriknya seperti
lari-lompat, lempar, dan lainnya, membantu pekerjaan orangtua di
rumah, dan sebagainya.
* Ajak
anak untuk melakukan aktivitas fisik yang menyehatkan seperti
bermain dan berolahraga. Di usia SD akhir, anak juga mulai memasuki
usia pubertas dan dorongan seksual yang dirasakannya bisa
tersalurkan dengan aktivitas fisik. Terutama bagi anak laki-laki
untuk keseimbangan testosteronnya.
*
Orangtua hendaknya juga jangan gagap teknologi agar bisa mengontrol
penggunaan internet oleh anak. Sesekali, ikutlah "piknik"
bersama anak dengan masuk ke dalam dunianya.
*
Selalu jalin komunikasi yang efektif layaknya seorang sahabat dengan
anak.
Dedeh Kurniasih. Foto: Agus/nakita
Konsultan
Ahli:
Elly
Risman, Psi.,
psikolog
sekaligus Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati
|