Dunia Anak: Mulai Melirik Majalah Remaja

Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: Boleh Main Internet Asal...

Tumbuh Kembang 6-12 Tahun

BOLEH MAIN INTERNET ASAL....

Manfaatnya? Pasti ada! Dampak negatifnya? Bisa kok dihindari!

Bagaimanapun, kita memang tak bisa membendung penggunaan internet oleh anak, apalagi melarangnya. Secara kognitif, anak usia sekolah memang sudah siap untuk mengenal dan belajar mengenai internet. Di antaranya, anak bisa mendapatkan beragam pengetahuan, sehingga wawasannya menjadi bertambah luas.

Ia juga bisa mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan minatnya lewat situs maya. Hanya dengan mengetikkan kata kuncinya saja, akan tampil beragam informasi yang diperlukan. Tidak heran, kan kalau semakin banyak saja anak yang menyukai internet.

Dengan bisa mengoperasikan internet akan timbul kebanggaan tersendiri pada anak. Betapa tidak? Hanya dalam waktu singkat, dia sudah menjelajahi situs-situs yang mungkin belum dikenal temannya. Kemudian, apa yang ditemukannya di internet bisa pula dijadikan bahan pembicaraan antarteman maupun dengan orangtua dan orang dewasa lainnya. Kita pun sebagai ayah dan ibunya tentulah ikut bangga memiliki anak yang kaya pengetahuan dan luas wawasannya.

BISA NYANDU

Yang jadi persoalan, dampak buruk internet juga tak sedikit. Paling nyata adalah biaya telepon yang membengkak lantaran keseringan main internet. Soalnya, internet juga bisa bikin orang jadi kecanduan. Ada lo yang namanya penyakit internet mania, dan hal ini "diderita" oleh beberapa anak usia rata-rata 10 tahun. Kalau sudah terkena penyakit ini, anak bisa duduk berjam-jam di depan komputer sampai lupa waktu, hanya untuk menjelajahi situs-situs yang diminatinya plus chatting.

Kekhawatiran lain, kemudahannya mengakses pornografi. Ketahuilah, ada sekitar 280 juta halaman porno dari 4,2 juta situs porno yang ada di seluruh dunia. Dan ternyata, lebih dari 80% anak usia sekolah pernah mengakses pornografi. Paling tinggi, 20% mengakses dari internet. Sisanya dari koran, tabloid, DVD, VCD, telepon genggam, games dan acara televisi. Demikian hasil observasi Yayasan Kita dan Buah Hati pada tahun 2005 terhadap 1.705 responden anak kelas 4-6 SD di Jabodetabek.

Mungkin saja awalnya anak memang tak sengaja masuk ke situs-situs porno, sebab bukan tidak mungkin situs jenis itu menggunakan nama tokoh kartun yang disukai anak. Dari situ, anak mungkin terdorong untuk "melongok" lebih jauh dan lebih luas lagi. Dampaknya jelas sangat mencemaskan. Soalnya, di usia sekolah, secara alamiah organ seks sudah aktif sehingga anak bisa saja terangsang seksualnya sebelum menginjak usia akil balig. Kalau sudah begitu, anak sulit berkonsentrasi pada pelajaran, lambat berpikir, menjadi pemarah atau agresif karena tak tahu bagaimana meredakan hasrat seksualnya, bahkan mungkin ia akan melakukan onani atau hubungan seksual yang sesungguhnya.

ATURAN MAIN

Meski dampaknya cukup mengerikan, kurang bijak kalau kita melarang anak menjelajah situs-situs dunia maya. Bisa disiasati, kok, agar aman! Caranya antara lain:

* Batasi waktu main internet hanya 1-2 jam sehari.

* Ingatkan anak bahwa dunianya bukanlah dunia yang selalu maya, bahwa dia hidup di dunia nyata. Untuk itu, dia pun harus bergaul dengan teman-temannya, bermain, mengembangkan kemampuan motoriknya seperti lari-lompat, lempar, dan lainnya, membantu pekerjaan orangtua di rumah, dan sebagainya.

* Ajak anak untuk melakukan aktivitas fisik yang menyehatkan seperti bermain dan berolahraga. Di usia SD akhir, anak juga mulai memasuki usia pubertas dan dorongan seksual yang dirasakannya bisa tersalurkan dengan aktivitas fisik. Terutama bagi anak laki-laki untuk keseimbangan testosteronnya.

* Orangtua hendaknya juga jangan gagap teknologi agar bisa mengontrol penggunaan internet oleh anak. Sesekali, ikutlah "piknik" bersama anak dengan masuk ke dalam dunianya.

* Selalu jalin komunikasi yang efektif layaknya seorang sahabat dengan anak.

Dedeh Kurniasih. Foto: Agus/nakita

Konsultan Ahli:

Elly Risman, Psi.,

psikolog sekaligus Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati

MEMBLOKIR SITUS BERBAHAYA
Berikut langkah-langkahnya :

Klik 'Internet Explorer'

* Tool

* Internet Options

* Security

* Restricted Sites

* Sites (Tuliskan nama situsnya; misal www.porno.com) lalu klik Ok. Kalau lebih dari satu situs, ketik lagi nama situsnya.

Cara lain dengan menggunakan software gratis dari situs internet. Manfaatkan mesin pencari seperti www.google.com lalu tulis kata kunci seperti internet security for kids atau child safety online dan sederet alamat situs akan terpampang di monitor. Anda memang harus mengunjungi alamat-alamat yang ada untuk mengetahui mana yang menawarkan software gratis sesuai spesifikasi yang diinginkan. Software pemblokir juga banyak dijual di toko2 program komputer. Tinggal pasang dan setel mengikuti langkah-langkah perintahnya di komputer.

TIP & TRIK AMAN BERINTERNET

1. Beri penjelasan mengenai internet.

Baik soal manfaatnya maupun hal negatif yang bisa ditemui anak. Tentang hal yang negatif, tak bisa dengan melarang misalnya, "Nanti, jangan lihat yang porno, ya." Jelaskan saja dengan bahasa yang mudah dimengerti. Contoh, "Kalau kamu temui di internet gambar orang telanjang, malu kan, ya. Masa sih ada orang enggak pakai baju terus dilihat banyak orang. Jadi, gambar seperti itu enggak sopan dan enggak layak untuk kamu lihat."

2. Tempatkan komputer di ruang terbuka dengan monitor tidak menghadap dinding.

Ini terkait dengan sikap orang yang berinternet. Umumnya, membuka situs yang "terlarang" lebih suka dilakukan di tempat yang agak tertutup. Soalnya akan malu kalau dilihat orang. Jadi, hendaknya orangtua juga membudayakan sikap malu tersebut. Komputer di tempat terbuka akan membuat anak merasa malu jika ia membuka situs terlarang. Selain itu, orangtua juga dapat dengan mudah melihat apa yang dikerjakan anak di depan komputer.

3. Browsing bareng anak.

Sama halnya seperti mengajak anak belanja ke supermarket, browsing bersama anak akan membuat orangtua tahu apa seleranya, ke mana saja anak menjelajah, dan sekaligus orangtua bisa memberi bimbingan agar anak tidak masuk ke area yang tak diinginkan.

4. Cek situs yang dikunjungi anak.

Meski orangtua tak bisa mengawasi saat anak berinternet, cek apa yang sudah dilakukan anak. Orangtua bisa melihat dari jejak situs-situs yang telah dikunjungi anak. Bila ada situs yang dirasa mencurigakan, bisa dibuka untuk mengetahuinya.

5. Pakai program sebagai filter.

Cara ini bisa dilakukan orangtua untuk memblok situs-situs mana yang tak ingin dikunjungi anak.

Narasumber:

Wigrantoro Roes Setiyadi,

Ketua Masyarakat Telematika Indonesia