Dunia Anak: Mulai Melirik Majalah Remaja

Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: Boleh Main Internet Asal...

Dunia Anak

MULAI MELIRIK MAJALAH REMAJA

Dibilang jangan mungkin percuma, karena majalah remaja ada di mana-mana. Lalu harus bagaimana?

"Eh, di majalah ada tulisan tentang double date," cetus Vira pada teman-temannya. "Eh, kamu udah baca yang first kiss belum. Ih, seru-seru ya pengalamannya," tanggap Dian. "Iya, iya, pengalaman first kiss Pangeran William lucu banget," imbuh Shiera. Obrolan itu terjadi di antara anak-anak kelas 6 SD. Membaca tentang double date? First kiss? Apa tidak terlalu cepat untuk anak SD?

Jangankan anak kelas 6, yang masih duduk di kelas 4 pun rata-rata mulai suka majalah remaja. Banyak hal yang mendorongnya, antara lain:

* Ingin memuaskan keingintahuan.

* Ingin menjadi bagian dari kelompok.

Kemasan lebih menarik. Apalagi majalah remaja biasanya memunculkan wajah-wajah cantik/ganteng sebagai model.

* Mendongkrak imej. Bagaimana anak menilai imej majalah remaja dipengaruhi penguatan dari keluarga maupun teman-teman. Ia merasa menjadi bagian dari "anak gaul" bila sudah membaca majalah remaja.

* Terbatasnya bacaan yang sesuai. Tak bisa dipungkiri, majalah yang sesuai untuk anak-anak "usia tanggung" memang tak banyak. Pilihannya jadi majalah anak-anak atau majalah remaja sekalian.

BACAAN BERSAMA

Agak sulit bagi orangtua untuk membatasi bacaan anak. Apalagi pada dasarnya kebiasaan membaca sangat positif. Bila dibatasi secara ketat, dikhawatirkan anak akan curi-curi di belakang. Yang dapat dilakukan adalah memonitor bacaan anak. Ada baiknya orangtua mengetahui bacaan mereka sehingga orangtua bisa mereka-reka sejauh mana pengetahuan anak. Dengan bekal tersebut, orangtua dapat mengarahkan anak sesuai nilai-nilai keluarga.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah menjadikan bacaan anak sebagai bacaan bersama. Orangtua ikut membaca majalah tersebut kemudian membahasnya bersama anak. Saat berdiskusi itulah, orangtua bisa menjelaskan suatu topik sehingga anak mengetahui dengan jelas. Misalnya topik double date itu apa, bagaimana risikonya, sejauh mana batasan-batasan dari orangtua dan sebagainya.

Untuk anak SD, mungkin istilah-istilah yang dipakai dalam majalah remaja menimbulkan banyak pertanyaan. Anak butuh mencerna dan memahaminya lebih lanjut. Manfaatkan kebutuhan ini untuk manambah pengetahuannya. Gaya bahasa yang relatif lebih matang juga merupakan stimulasi bagi perkembangan bahasa anak. Apalagi bila anak mau membaca majalah versi bahasa asing.

Sudah tentu, topik beragam yang disajikan majalah remaja dapat memperkaya wawasan anak. Apalagi banyak hal yang "malas" dibicarakan dengan orangtua dimuat sebagai tulisan yang penjelasannya sangat gamblang. Pendekatannya tentu saja harus dari sisi ilmiah, seperti first kiss dan double date itu tadi.

TITIK RAWAN

Meski memberikan banyak pengetahuan, pendampingan dari orangtua jelas perlu. Bagaimanapun juga, majalah remaja belum sepenuhnya sesuai dengan perkembangan anak SD. Titik rawan meliputi, bahwa yang dibaca anak mungkin akan ditiru mentah-mentah tanpa memikirkan konsekuensinya. Misal, anak 

coba-coba pacaran, pegang tangan, bahkan berciuman. Hal ini tentu saja bisa membawa serangkaian dampak yang tak diharapkan.

Foto-foto glamor yang jamak muncul di majalah remaja juga bisa mendorong budaya konsumtif. Semua baju dan aksesori model terbaru ingin dibelinya.

Satu lagi, bila tanpa pendampingan sama sekali, bukan tak mungkin dalam jangka panjang orangtua akan terkaget-kaget dengan pola pikir dan cara pandang anak. Tanpa disadari, bacaan bernuansa remaja sudah sedemikian rupa memengaruhinya, sementara orangtua masih menganggapnya sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Hal ini tentu saja bisa memunculkan masalah.

Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi/nakita

Narasumber:

Sali Rahadiasih, M. Psi.,

dari Lembaga Konsultasi Daya Insani

TIP AMAN

1. Cari tahu isi majalah pilihan anak dengan membacanya lebih dahulu.

2. Tiap anak punya kebutuhan berbeda. Sebaiknya sediakan bacaan untuk masing-masing anak. Tak cukup satu majalah sekaligus untuk kakak dan adik kalau usianya terpaut jauh. Informasi yang dibutuhkan keduanya tentu berbeda.

3. Jadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas bersama. Kalau perlu diskusikan ramai-ramai topik hangat yang sedang dibacanya.

4. Luruskan pandangan anak sekiranya orangtua merasa pemahanannya tentang sebuah tulisan kurang tepat atau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut keluarga.

RUBRIK KESEHATAN

Puri Ventika M.L. (11), kelas 5 SD Perguruan Advent, Salemba, Jakpus

"Selain majalah Bobo, majalah lainnya yang aku baca adalah Kawanku. Aku senang cerpen-cerpennya dan liputan-liputan khususnya. Misalnya kalau ada liputan soal lingkungan. Soalnya aku suka banget liputan tentang lingkungan. Aku, kan, anggota Pathfinder International, yaitu organisasi pramuka yang ada di gereja.

Terus terang aku kurang tertarik dengan halaman mode atau rubrik tentang nge-date sama cowok. Aku males bacanya. Mungkin karena belum waktunya baca. Lagian aku lebih suka tulisan yang bikin aku pinter. Misalnya tentang haid atau mewaspadai penyakit. Soalnya aku pengen jadi dokter. Nah, di Kawanku sering ada gituan tuh."

Santi. Foto: Dok. Pribadi

 

HALAMAN MODE

Velica Safia Jonathan (8), kelas 3 SD Tirta Marta, Pondok Indah, Jaksel

"Aku cuma sesekali baca Kawanku, enggak langganan. Aku cuma langganan Bobo dan Princess. Kalau di majalah Kawanku, aku cuma senang lihat modenya. Kayaknya senang lihat baju-bajunya meskipun bajuku sendiri masih dibelikan mama. Soal lainnya enggak aku baca. Aku memang cuma tertarik sama baju-baju. Di majalah lain, yang aku lihat juga baju-baju. Senang kalau lihat model bajunya keren. Yang lainnya jarang aku baca karena aku memang belum tertarik. Apalagi cerita soal cowok."

Santi. Foto: Ferdi/nakita

 

LEBIH SUKA MAJALAH LUAR NEGERI

Maura Magnalia Madyaratri (12), kelas 6 SD Mentari, Cinere, Depok

"Ibuku pernah membelikan majalah Dolly. Bapakku juga mendukung karena majalah ini berbahasa Inggris. Menurutku isinya bagus karena saran-sarannya kebanyakan mengulas tentang emosional dan personal problem masa remaja. Meskipun aku masih praremaja, enggak ada salahnya aku menyiapkan diri masuk dunia remaja dengan membaca bacaan mereka. Contohnya ada ulasan tentang be yourself dan enggak perlu takut ditinggal teman kalau kita memegang prinsip. Itu kan bagus banget.

Juga ada artikel tentang bagaimana menyiapkan menstruasi. Meski aku belum haid, aku sudah tahu bila hal itu terjadi. Majalah ini memang girls world banget. Ada juga kisah nyata tentang perjuangan remaja menghadapi penyakit atau bully di sekolah. Ini kan mengajarkan kita empati. Lebih enak baca majalah asing karena disamping kita belajar bahasanya, kita juga tahu perspektif dan pandangan remaja di negara lain."

Santi. Foto: Wahyu/Dok. Girls

 

REFERENSI MUSIK

Qisthina Suhardi (11), kelas 5 SD Al Syukro, Jaksel

"Aku baca majalah Hai karena ayahku selalu bawa pulang. Memang sih majalah ini untuk remaja, terutama remaja pria. Tapi yang aku baca adalah referensi musiknya. Selain itu ada chord-chord gitar. Karena aku main gitar, aku bisa menirukan lagu-lagu yang ada chord gitarnya.

Aku juga baca soal film. Di majalah Hai, kan, ada resensi filmnya. Contohnya, film X-Man. Aku bisa tahu ceritanya meskipun aku belum boleh nonton filmnya di bioskop karena umur. Artikel lainnya jarang aku baca karena aku lebih suka baca soal film dan musik."

Santi. Foto: Dok. Pribadi

 

PENGGEMAR LIGA INGGRIS

Jannes William Alexander (10), kelas 5 SD Bunda Maria, Cimanggis, Depok

"Aku paling suka baca tabloid Bola. Meskipun enggak berlangganan, tapi kalau terbit selalu beli. Papa-mamaku enggak marah karena mereka tahu aku suka bola. Lagian harganya enggak mahal. Kalau baca, biasanya sih pulang sekolah. Aku paling suka baca score sama profil pemain sepak bola. David Beckham itu favoritku lo! Kalau majalah anak-anak aku masih suka baca Bobo. Tapi ceritanya aja. Sekarang lebih suka baca Bola."

Santi. Foto: Jody/nakita

 

HARGA MOBIL

Rozak Faizatul Allesiansyah (9), kelas 3 SDN 05 Joglo, Jakbar

"Aku masih langganan majalah anak-anak. Tapi aku baca juga majalah tentang mobil. Yang suka dibelikan bapakku adalah Autobild dan TopGear. Soalnya bapakku juga suka baca majalah tentang mobil. Paling suka ulasan tentang mobil baru. Meskipun mobil itu belum masuk Indonesia, aku sudah tahu spesifikasinya, engine-nya apa, dan teknologi terbarunya gimana. Aku juga senang baca daftar harga-harga mobil bekas ataupun mobil baru. Aku suka diledek ibuku, kayak yang mau beli mobil aja. Biarin, emangnya aku suka, sih. Kalau gede aku ingin jadi pembalap."

Santi. Foto: Dok. Pribadi

 

TERTAWA LIHAT GAMBAR JOROK

Budi Marwanto (44), orangtua Christian Evander Adinugroho (12 tahun, kelas 6 SD Santo Markus II

"Anakku suka baca Hai, Hot Games dan Angkasa. Tapi paling suka Angkasa, meski sebenarnya majalah itu bukan untuk anak-anak. Mungkin karena dia senang lihat gambar pesawat, peralatan tempur, dan sebagainya. Kalau baca artikel yang belum dia mengerti biasanya sih dia lewatkan saja, kok. Paling, kalau ada karikatur atau gambar yang rada jorok dia cuma tertawa. Buat saya enggak masalah anak baca majalah remaja. Dia, kan, hanya cari yang benar-benar dia butuhkan."

Uttiek. Foto: Dok. nakita

 

YANG PENTING ILMIAH

Nurul Arifin (40), orangtua Maura Magnalia Madyaratri (12 tahun, kelas 6 SD Mentari)

"Maura langganan Cosmogirl dan satu majalah remaja terbitan Australia. Memang, sih, isinya agak lebih 'maju' untuk anak seusianya. Misalnya tentang double date, first kiss dan sebagainya. Tapi buat saya enggak masalah, sepanjang pengetahuan itu disampaikan secara ilmiah. Di majalah itu, kan, banyak tulisan tentang aktivitas remaja yang usianya tidak jauh dari dia. Bagaimana serunya pengalaman mereka dan yang paling penting ada tip dari ahli bagaimana gaya hidup remaja yang sehat. Buat saya pengaruh buruk bisa dari mana saja, sumber informasi, kan, tidak hanya dari bacaan. Tontonan seperti MTV pun banyak pengaruhnya untuk anak seusia Maura."

Uttiek. Foto: Dok