|
|
MULAI
MELIRIK MAJALAH REMAJA
|
Dibilang
jangan mungkin percuma, karena majalah remaja ada di mana-mana.
Lalu harus bagaimana?
"Eh,
di majalah ada tulisan tentang double date," cetus Vira
pada teman-temannya. "Eh, kamu udah baca yang first
kiss belum. Ih, seru-seru ya pengalamannya," tanggap Dian.
"Iya, iya, pengalaman first kiss Pangeran William lucu
banget," imbuh Shiera. Obrolan itu terjadi di antara anak-anak kelas
6 SD. Membaca tentang double date? First kiss? Apa
tidak terlalu cepat untuk anak SD?
Jangankan anak kelas
6, yang masih duduk di kelas 4 pun rata-rata mulai suka majalah
remaja. Banyak hal yang mendorongnya, antara lain:
*
Ingin memuaskan keingintahuan.
*
Ingin menjadi bagian dari kelompok.
Kemasan lebih menarik.
Apalagi majalah remaja biasanya memunculkan wajah-wajah cantik/ganteng
sebagai model.
*
Mendongkrak imej. Bagaimana anak menilai imej majalah remaja
dipengaruhi penguatan dari keluarga maupun teman-teman. Ia merasa
menjadi bagian dari "anak gaul" bila sudah membaca majalah
remaja.
*
Terbatasnya bacaan yang sesuai. Tak bisa dipungkiri, majalah yang
sesuai untuk anak-anak "usia tanggung" memang tak banyak.
Pilihannya jadi majalah anak-anak atau majalah remaja sekalian.
BACAAN
BERSAMA
Agak sulit bagi orangtua untuk
membatasi bacaan anak. Apalagi pada dasarnya kebiasaan membaca
sangat positif. Bila dibatasi secara ketat, dikhawatirkan anak akan
curi-curi di belakang. Yang dapat dilakukan adalah memonitor bacaan
anak. Ada baiknya orangtua mengetahui bacaan mereka sehingga
orangtua bisa mereka-reka sejauh mana pengetahuan anak. Dengan bekal
tersebut, orangtua dapat mengarahkan anak sesuai nilai-nilai
keluarga.
Hal lain yang dapat dilakukan
adalah menjadikan bacaan anak sebagai bacaan bersama. Orangtua ikut
membaca majalah tersebut kemudian membahasnya bersama anak. Saat
berdiskusi itulah, orangtua bisa menjelaskan suatu topik sehingga
anak mengetahui dengan jelas. Misalnya topik double date itu
apa, bagaimana risikonya, sejauh mana batasan-batasan dari orangtua
dan sebagainya.
Untuk anak SD, mungkin
istilah-istilah yang dipakai dalam majalah remaja menimbulkan banyak
pertanyaan. Anak butuh mencerna dan memahaminya lebih lanjut.
Manfaatkan kebutuhan ini untuk manambah pengetahuannya. Gaya bahasa
yang relatif lebih matang juga merupakan stimulasi bagi perkembangan
bahasa anak. Apalagi bila anak mau membaca majalah versi bahasa
asing.
Sudah tentu, topik beragam yang
disajikan majalah remaja dapat memperkaya wawasan anak. Apalagi
banyak hal yang "malas" dibicarakan dengan orangtua dimuat
sebagai tulisan yang penjelasannya sangat gamblang. Pendekatannya
tentu saja harus dari sisi ilmiah, seperti first kiss dan double
date itu tadi.
TITIK
RAWAN
Meski memberikan banyak pengetahuan,
pendampingan dari orangtua jelas perlu. Bagaimanapun juga, majalah
remaja belum sepenuhnya sesuai dengan perkembangan anak SD. Titik
rawan meliputi, bahwa yang dibaca anak mungkin akan ditiru
mentah-mentah tanpa memikirkan konsekuensinya. Misal, anak
coba-coba pacaran, pegang tangan,
bahkan berciuman. Hal ini tentu saja bisa membawa serangkaian dampak
yang tak diharapkan.
Foto-foto glamor yang jamak muncul
di majalah remaja juga bisa mendorong budaya konsumtif. Semua baju
dan aksesori model terbaru ingin dibelinya.
Satu lagi, bila tanpa pendampingan
sama sekali, bukan tak mungkin dalam jangka panjang orangtua akan
terkaget-kaget dengan pola pikir dan cara pandang anak. Tanpa
disadari, bacaan bernuansa remaja sudah sedemikian rupa
memengaruhinya, sementara orangtua masih menganggapnya sebagai anak
kecil yang tidak tahu apa-apa. Hal ini tentu saja bisa memunculkan
masalah.
Marfuah Panji Astuti. Foto:
Ferdi/nakita
Narasumber:
Sali
Rahadiasih, M. Psi.,
dari
Lembaga Konsultasi Daya Insani
|