Dunia Anak: Anak Berwisata Sendiri Asyik, Mandiri, Dan Cerdas!
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: "Aduh, Tulisan Kok Kayak Ceker Ayam, Sih?"

Tumbuh Kembang 6-12 Tahun

"ADUH, TULISAN KOK KAYAK CEKER AYAM, SIH?"

Selama masih terbaca, berarti tulisan anak tidak jelek.

Istilah ceker ayam, ceker bebek, atau tulisan dokter kerap ditujukan pada tulisan yang "amburadul". Sering hal ini membuat orangtua gusar, "Aduh, Kak, tulisanmu kok kayak ceker ayam sih? Mata Bunda sampai sakit nih membacanya. Belajar menulis yang bagus dong!"

Yang dimaksud tulisan jelek sebetulnya bermacam-macam. Ada yang hurufnya bertumpuk, penggunaan huruf besar dan kecil bercampur-baur, besar kecil huruf berbeda-beda dalam satu tulisan, ukuran spasi yang tidak sama, margin yang tidak beraturan, atau tulisan yang turun naik.

Namun, sebetulnya orangtua tak bisa menilai tulisan anak berdasarkan bentuknya yang indah dilihat atau tidak. Cukup nilai saja kerapiannya, keterbacaannya, dan kesesuaiannya dengan kaidah penulisan.

Rapi berarti tulisan tidak acak-acakan, margin kiri rata, spasi sama, dan besar kecil huruf sama. Sedangkan yang dimaksud terbaca adalah orang lain mudah membaca hasil tulisannya. Tentang kaidah, maksudnya penempatan huruf besar kecil dan tanda baca benar, tak ada huruf yang bertumpuk, tak ada cara penulisan yang campur aduk, jika mau menggunakan huruf balok maka semuanya huruf balok, jika ingin menggunakan huruf sambung maka semuanya disambung.

Lain halnya kalau tulisan anak hanya terlihat kruwel-kruwel atau bentuk huruf dan kalimatnya tidak sedap di mata, asalkan bisa dibaca dengan mudah itu berarti tulisan anak tidak jelek. Apalagi hal itu masih wajar kita temukan pada anak usia sekolah dasar, terutama anak kelas 1 sampai 4.

Setelah masuk kelas 4, barulah biasanya anak berkreasi, mengeksplor bentuk tulisan yang indah. Kemampuan ini tak dapat pelajari secara formal karena muncul dari dalam diri sesuai dengan bakat anak. Karenanya, memang tak semua anak memiliki tulisan indah sekalipun ia memiliki jiwa seni dan bakat seni rupa yang tinggi. Mengapa? Karena kemampuan menulis indah tergantung pula pada tingkat kemampuan motorik halus, terutama kelenturan jari-jemari. Hanya saja hati-hati, tulisan modifikasi yang terlihat indah malah sering tak terbaca, bukan? Hasilnya tidak efektif. Misal, menulis huruf i titiknya di bawah, menulis huruf a diberi dua titik di atasnya, huruf e menghadap ke kiri, dan lainnya.

TELUSURI SEBAB TULISAN JELEK

Lalu, mengapa ada anak yang tidak dapat menulis dengan baik? Kemungkinan karena ada masalah pada fisiknya. Bisa juga karena ada masalah pada emosinya. Selebihnya, karena ia tidak cukup mendapatkan pembelajaran menulis dengan baik.

Inilah cara penelusuran masalahnya:

1. Jika kemampuan motorik halus kurang baik.

Biasanya anak mengerti seperti apa dia harus menulis, termasuk cara dan bentuk tulisan yang harus dibuatnya supaya bisa terbaca dengan baik. Akan tetapi karena kemampuan motorik halusnya terhambat, anak jadi susah mengendalikan jari-jemari dan tangannya.

Umumnya anak-anak dengan masalah ini bertubuh gemuk. Ciri lainnya, anak susah sekali mengambil benda-benda kecil, kesulitan memasukan anak kunci ke lubang kunci, dan kalau mewarnai cenderung keluar garis.

Nah, jika kita yakin si anak bermasalah dengan kemampuan motoriknya, maka sebelum ke tahap menulis, latihlah dulu motorik halusnya. Selain itu, tangani pula masalah fisiknya seperti kegemukan dengan meminta bantuan ahli, seperti psikolog, terapis, dan dokter.

2. Punya masalah pada persepsi dan memori visual.

Anak-anak yang mempunyai gangguan disleksia akan mengalami gangguan pada persepsinya. Anak mengalami kesulitan untuk membedakan huruf-huruf tertentu, huruf A dan O, misalnya. Anak merasa sudah membuat huruf A, tapi pada kenyataannya yang ditulis adalah huruf O.

Sementara anak-anak yang mempunyai rentang perhatian pendek kurang mampu mengingat pelajaran menulis dan pengenalan huruf yang diterima. Jadi, tulisan yang ia torehkan adalah tulisan sekenanya saja.

Untuk dapat mendeteksi masalah-masalah semacam ini, anak mesti mengikuti tes tumbuh kembang pada psikolog perkembangan.

3. Proses pembelajaran yang tidak baik.

Barangkali sebelumnya anak tidak mendapat bimbingan menulis yang baik, pelajaran yang disampaikan terlalu cepat, apa yang disampaikan tidak bisa diterima anak, hasil koreksian yang diterima anak terlambat, dan lainnya.

4. Memiliki masalah emosional dan motivasi yang rendah.

Anak-anak ini cenderung kurang memberi perhatian pada kegiatan akademik. Ciri-cirinya, tulisan cenderung kecil, menurun atau naik turun, tidak konsisten, banyak kesalahan pada tanda baca, atau banyak huruf dan angka yang hilang.

Kondisi ini dialami juga oleh anak-anak yang memiliki problem khusus, seperti autis, asperger, hiperaktif, ADHD (attention deficit disorder). Selain itu, anak-anak yang mempunyai problem emosional pribadi, anak-anak brokenhome, merasa diabaikan oleh orangtua, sebal dan kesal pada orang rumah, masuk dalam kelompok ini.

MINTA BANTUAN GRAFOLOG

Pada anak-anak kebutuhan khusus, tentu kita tak bisa berharap banyak. Hasil yang kita targetkan harus sesuai dengan kemampuan si anak. Lain hal pada anak-anak normal, kondisi tulisannya yang jelek bisa kita ubah dengan cara menyembuhkan penyebab tulisan jelek si anak. Jika anak punya masalah emosi pribadi, cari tahu apa sih yang menyebabkan dia kesal. Biasanya jika permasalahan intinya sudah teratasi, selama tak ada masalah pada motorik halusnya, tanpa banyak latihan, anak sudah mampu menulis dengan baik. Malah ada juga lo, yang tanpa latihan tulisannya langsung bagus.

Mencari tahu penyebab tulisan jelek pada anak, memang bukan pekerjaan mudah. Orangtua harus mau menelusuri satu per satu, ada tidak masalah pada motoriknya, atau ada tidak masalah pada emosinya. Masalah emosi bisa kita gali dengan cara sharing bersama anak. Tanyakan, apa yang membuat perasaannya tidak enak pada saat pembelajaran diberikan, misalnya. Jika masalah menulis ini masih sulit dicari atau ditangani sendiri, mintalah bantuan pada seorang grafolog yang bisa mendiagnosis problem dan kondisi anak lewat tulisan.

Gazali Solahuddin. Foto: Iman/NAKITA

Konsultan ahli:

Nungki Suwardi, S.Psi., grafolog dari Klinik Dokter Bersama Suwardi, Plumpang, Jakarta

 

 

AGAR TULISAN TIDAK JELEK

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Nah, agar tulisan si buah hati tidak jelek, kita dapat melakukan cara-cara berikut ini:

1. Bimbing dan dampingi anak saat keterampilan menulisnya mulai dibentuk.

2. Jika anak melakukan kesalahan, perbaiki segera.

3. Analisa dengan tepat problem anak. Mungkin anak sudah mampu mengeja dengan baik, namun tidak mampu mengikuti kecepatan si pendikte sehingga tulisannya menjadi buruk dan tidak terbaca.

4. Pasang contoh tulisan yang benar di meja anak sehingga ia bisa langsung membandingkan dan mengoreksi kesalahan tulisannya.

5. Lakukan latihan berulang kali. Namun tetap batasi karena latihan dalam jumlah banyak dan ekstra intensif tak terbukti dapat memperbaiki tulisan anak.

6. Lakukan aktivitas pendukung untuk melatih koordinasi dan keterampilan sensor motorik, seperti menggunting, menempel, tracing (menelusuri titik atau garis), mewarnai, finger painting.

7. Perhatikan pula posisi anak saat menulis. Tinggi kursi dan meja harus nyaman, sesuai dengan tinggi badan anak dan kaki anak bisa menjejak di lantai.

8. Jika anak belum mahir memegang alat tulis, berilah alat tulis yang ukurannya agak besar dari standar dan berbentuk segitiga (triangular) agar nyaman dipegang anak. Bisa juga mengakali dengan alat tulis biasa, tapi kita beri isolasi terlebih dahulu di sekeliling alat tulis.

 

 

TAHAP AWAL BELAJAR MENULIS

Supaya tulisan anak baik dan bagus, sebelum belajar menulis huruf dan membuat kalimat, berikan latihan sebagai berikut:

1. Membuat garis ke atas, ke bawah, samping kanan dan kiri.

2. Membuat gambar geometrik dengan bantuan titik-titik.

3. Menghubungkan gambar dengan bantuan titik-titik.

4. Menggambar garis horizontal dari kiri ke kanan dan sebaliknya.

5. Menggambar garis vertikal dari atas ke bawah dan sebaliknya.

6. Menggambar lingkaran dan kurva.

7. Menggambar garis miring secara vertikal.

8. Meniru bentuk sederhana.

9. Menyebutkan angka/huruf, membedakannya dan menuliskannya satu per satu.

 

MENULIS SAMBUNG LEBIH SULIT TAPI LEBIH CEPAT

Menulis sambung memang lebih sulit daripada menulis huruf balok, karena anak harus belajar menyambungkan huruf per huruf. Itulah mengapa saat belajar menulis, huruf baloklah yang pertama kali diperkenalkan. Meski demikian, kemampuan menulis sambung sangat penting karena cara itu lebih cepat sehingga menghemat waktu dan membutuhkan sedikit tenaga. Keletihan dapat dikurangi saat anak harus menulis atau menyalin tugas-tugas sekolah.

 

TULISAN BURUK DAN PENANGANANNYA

Berikut tip-tip remedial untuk beberapa masalah tulisan yang
buruk:

1. Tulisan miring kanan/kiri atau tidak beraturan.

Posisikan kertas tegak lurus di depan anak. Bubuhkan garis vertikal di kertas dan contoh tulisan yang kita inginkan. Instruksikan anak agar menyalin tulisan tegak lurus mengikuti garis dan contoh tulisan yang telah ada.

2. Huruf dan spasi terlalu rapat dan saling menindih atau renggang.

Beri contoh tulisan dengan jarak huruf (spasi) yang sewajarnya. Minta anak menyalinnya kalimat per kalimat dan segera koreksi jika salah.

3. Tulisan terlalu besar atau kecil dan keluar dari garis.

Tulisan yang terlalu besar umumnya ditempatkan melebihi garis yang disediakan. Jika ukurannya jauh lebih kecil daripada ruang di antara garis, berarti tulisannya terlalu kecil. Cara memperbaiki tulisan yang kelewat besar dan kecil, sediakan kertas bergaris tiga untuk menulis halus. Minta anak menggambar lingkaran-lingkaran kecil di tengah garis dengan ukuran pas tanpa boleh keluar dari garis. Setelah mampu, ajari anak menulis huruf per huruf dan beri tahu di mana posisi tiap huruf seharusnya. Setelah itu buatlah kalimat dan minta anak menyalinnya sesuai contoh. Pergunakan terus kertas garis tiga hingga anak terlatih dengan ukuran yang pas untuk menulis sebelum memutuskan mencoba belajar menulis di kertas bergaris tunggal.

4. Tulisan terlalu ditekan atau malah lemah seperti benang.

Tulisan yang terlalu ditekan biasanya timbul di balik kertas. Minta anak menulis dengan mengurangi tekanan pada alat tulisnya. Lakukan latihan berulang kali hingga tulisan tidak menembus dan anak mampu mengukur tekanan yang tepat untuk menulis. Jika masih ditekan, selipkan tisu ke dalam telapak tangan yang digunakan untuk menulis. Dengan begitu biasanya tekanan tangan akan berkurang. Untuk tulisan yang lemah, ganti pensil yang keras dengan pensil lunak, seperti pensil 2B, dan latihlah anak menulis hingga tercapai tekanan yang kita harapkan.