ANAK
BERWISATA SENDIRI
ASYIK,
MANDIRI, DAN CERDAS!
|
Pilih
penyelenggara program wisata yang sudah oke kredibilitasnya.
"Hati-hati
ya! Ingat, kan, apa yang Ibu bilang tadi?" ucap Erna sesaat
sebelum
Giaz (10), buah hatinya masuk ke dalam bus. Giaz mengangguk, dia
ingat betul apa saja yang harus dilakukannya selama dalam perjalanan
wisata ini. Tidak boleh telat makan, minta pertolongan panitia
kalau butuh sesuatu, menjaga kesopanan dan patuh pada aturan.
Bus besar itu pun mulai bergerak, membawa Giaz berkeliling kota
Jakarta mengunjungi berbagai museum. Ini adalah pengalaman baru
buat Giaz, berwisata tanpa didampingi kedua orangtuanya.
Apakah
Erna nekat karena berani melepas anak SD-nya berwisata sendiri
ke museum? Enggak juga kok. Saat ini sudah memungkinkan anak bertamasya
sendiri tanpa didampingi orangtua. Namun bukan berarti benar-benar
sendirian, lo. Melainkan ikut paket wisata yang khusus diselenggarakan
buat anak-anak. Penyelenggaranya bisa pihak sekolah atau sebuah
event organizer (EO). Paket wisata tersebut dirancang sedemikian
rupa agar keamanan dan kenyamanan anak yang pergi tanpa orangtua
dapat terjamin.
KREDIBILITAS
PENYELENGGARA
Toh,
kehati-hatian orangtua tetap diperlukan. Jangan sembarangan memilih
paket wisata. Pilihlah EO yang sudah terkenal kredibilitasnya.
Lalu, pertimbangkan hal-hal di bawah ini:
*
Kesesuaian program dengan usia anak
Jenjang
usia sekolah dasar cukup panjang. Minat anak kelas 1 SD tentu
akan berbeda dengan yang sudah kelas 6. Ini berarti program wisata
bagi mereka pun sebaiknya tidak disamakan. Jadi, jangan sekadar
puas bila dalam brosur tertulis "Tersedia program-program
menarik untuk anak". Lebih baik, cari tahu bentuk riil program
tersebut dan apa saja yang akan dikerjakan anak selama bepergian.
Kalau merasa tidak cocok, tak perlu dipaksakan.
Sangat
baik bila paket wisata untuk anak diselingi dengan berbagai game,
seperti tebak lagu, lomba menari yang paling heboh, bernyanyi
bareng, dan sebagainya. Tentu permainannya disesuaikan dengan
tema wisata dan usia peserta. Game seperti ini akan menyemarakkan
suasana sehingga anak akan merasa lebih relaks, gembira, juga
mendapatkan pengalaman yang seru dengan teman-temannya.
*
Jumlah pengayom
Si
usia sekolah masih membutuhkan perhatian ekstra. Lantaran itu,
pihak penyelenggara idealnya menyediakan 1 pengayom untuk menangani
4 anak. Kalau jumlah peserta ada 20 anak berarti pengayom yang
dibutuhkan minimal 5 orang. Hal ini untuk memperkecil risiko anak
hilang mengingat para peserta cilik masih asing dengan lokasi
yang mereka datangi.
*
Bekali dan arahkan
Berikan
pengarahan kepada anak sebelum berangkat. Misalnya di mana anak
harus meletakkan tas saat berada di dalam mobil. Terkesan sepele,
namun jika anak tidak tahu lantas memangku tasnya yang berat tentu
akan mengganggu kenyamanannya. Beri tahu juga tindakan yang harus
dilakukan ketika dia akan muntah atau sakit.
*
Profesionalisme penyelenggara
Pastikan
panitia benar-benar bekerja secara profesional dan dapat menjamin
segala kebutuhan dan keselamatan anak. Ketidakprofesionalan akan
menimbulkan efek negatif pada anak, umpamanya, ketidaknyamanan
sehingga perjalanan terasa menjemukan. Kalau sudah begitu, manfaat
dari wisata ini tidak akan didapat anak. Anak pun bisa terlantar
baik secara fisik, telat diberikan konsumsi misalnya, atau secara
psikis, seperti merasa tertekan karena dibentak-bentak.
*
Ajak bicara
Sepulang
anak dari bepergian, ajak ia berbicara tentang pengalaman yang
baru saja dilewatinya. Sambutlah ceritanya dengan positif agar
anak bisa bercerita banyak. Keinginannya bercerita secara antusias
bisa menunjukkan keberhasilan program wisata yang diikuti anak.
Jangan sekali-kali memberi respons negatif, misalnya dengan perkataan,
"Masak gitu aja asyik. Lebih asyik pergi dengan ayah dong!"
misalnya. Hal seperti ini hanya akan membuat anak merasa tidak
dihargai.
MANDIRI
DAN CERDAS
Berwisata
tanpa orangtua mendatangkan banyak hal positif buat pertumbuhan
kepribadian anak. Misalnya kemandirian. Dengan bepergian tanpa
orangtua berarti anak harus mengurus semuanya sendiri; makan,
membawa tas, mengganti baju, dan sebagainya. Dari aktivitas seperti
ini kemandirian anak dapat terasah. Pada awalnya beberapa anak
bisa mengalami kesulitan. Namun setelah 2 atau 3 kali mengikuti
program wisata seperti ini, ia akan terbiasa untuk melakukan semuanya
sendiri.
Lalu,
di dalam perjalanan anak akan dihadapkan dengan berbagai pilihan;
apakah dia pilih makan snack atau buah yang dibawanya dari rumah,
haruskah ia menahan pipis atau memberi tahu panitia agar dapat
memberhentikan bus dahulu, dan lainnya. Di sinilah anak berusaha
memutuskan mana yang harus dilakukannya. Meski akhirnya ia meminta
pendapat teman sekalipun, ini tetap merupakan suatu pilihan yang
mesti dilakukan anak.
Paket
wisata yang diikuti anak pun bisa sangat beragam, tergantung pada
tema. "Bermain di Sawah", umpamanya, mengajak anak menghayati
cara kerja para petani di sawah. Ada juga tur ke Bali untuk mengenal
tradisi penduduknya yang unik. Salah satunya, anak-anak diajak
bermain layang-layang tradisional di sebuah lapangan luas dan
belajar tentang kekuatan angin, arah angin, keterampilan membuat
layang-layang, dan sejarahnya. Kunjungan-kunjungan ini tentu akan
menambah wawasan anak. Wawasan yang terus bertambah secara tidak
langsung akan meningkatkan kecerdasannya.
Ada
juga paket wisata bertujuan membangun karakter anak lewat aktivitas
outbond. Misalnya, memanjat tali-temali, memecahkan sebuah masalah,
melakukan kerja sama, dan banyak lagi. Pada dasarnya, paket wisata
untuk anak adalah baik selama tujuannya mengembangkan wawasan
dan karakter positif anak.
Irfan
Hasuki. Foto: Dok. Bobo
Konsultan
ahli:
Ike
Sugianto, Psi.,
dari Fakultas Psikologi,
Universitas Tarumanagara Jakarta