Dunia Anak: Anak Berwisata Sendiri Asyik, Mandiri, Dan Cerdas!
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: "Aduh, Tulisan Kok Kayak Ceker Ayam, Sih?"

Dunia Anak

ANAK BERWISATA SENDIRI

ASYIK, MANDIRI, DAN CERDAS!

Pilih penyelenggara program wisata yang sudah oke kredibilitasnya.

"Hati-hati ya! Ingat, kan, apa yang Ibu bilang tadi?" ucap Erna sesaat sebelum Giaz (10), buah hatinya masuk ke dalam bus. Giaz mengangguk, dia ingat betul apa saja yang harus dilakukannya selama dalam perjalanan wisata ini. Tidak boleh telat makan, minta pertolongan panitia kalau butuh sesuatu, menjaga kesopanan dan patuh pada aturan. Bus besar itu pun mulai bergerak, membawa Giaz berkeliling kota Jakarta mengunjungi berbagai museum. Ini adalah pengalaman baru buat Giaz, berwisata tanpa didampingi kedua orangtuanya.

Apakah Erna nekat karena berani melepas anak SD-nya berwisata sendiri ke museum? Enggak juga kok. Saat ini sudah memungkinkan anak bertamasya sendiri tanpa didampingi orangtua. Namun bukan berarti benar-benar sendirian, lo. Melainkan ikut paket wisata yang khusus diselenggarakan buat anak-anak. Penyelenggaranya bisa pihak sekolah atau sebuah event organizer (EO). Paket wisata tersebut dirancang sedemikian rupa agar keamanan dan kenyamanan anak yang pergi tanpa orangtua dapat terjamin.

KREDIBILITAS PENYELENGGARA

Toh, kehati-hatian orangtua tetap diperlukan. Jangan sembarangan memilih paket wisata. Pilihlah EO yang sudah terkenal kredibilitasnya. Lalu, pertimbangkan hal-hal di bawah ini:

* Kesesuaian program dengan usia anak

Jenjang usia sekolah dasar cukup panjang. Minat anak kelas 1 SD tentu akan berbeda dengan yang sudah kelas 6. Ini berarti program wisata bagi mereka pun sebaiknya tidak disamakan. Jadi, jangan sekadar puas bila dalam brosur tertulis "Tersedia program-program menarik untuk anak". Lebih baik, cari tahu bentuk riil program tersebut dan apa saja yang akan dikerjakan anak selama bepergian. Kalau merasa tidak cocok, tak perlu dipaksakan.

Sangat baik bila paket wisata untuk anak diselingi dengan berbagai game, seperti tebak lagu, lomba menari yang paling heboh, bernyanyi bareng, dan sebagainya. Tentu permainannya disesuaikan dengan tema wisata dan usia peserta. Game seperti ini akan menyemarakkan suasana sehingga anak akan merasa lebih relaks, gembira, juga mendapatkan pengalaman yang seru dengan teman-temannya.

* Jumlah pengayom

Si usia sekolah masih membutuhkan perhatian ekstra. Lantaran itu, pihak penyelenggara idealnya menyediakan 1 pengayom untuk menangani 4 anak. Kalau jumlah peserta ada 20 anak berarti pengayom yang dibutuhkan minimal 5 orang. Hal ini untuk memperkecil risiko anak hilang mengingat para peserta cilik masih asing dengan lokasi yang mereka datangi.

* Bekali dan arahkan

Berikan pengarahan kepada anak sebelum berangkat. Misalnya di mana anak harus meletakkan tas saat berada di dalam mobil. Terkesan sepele, namun jika anak tidak tahu lantas memangku tasnya yang berat tentu akan mengganggu kenyamanannya. Beri tahu juga tindakan yang harus dilakukan ketika dia akan muntah atau sakit.

* Profesionalisme penyelenggara

Pastikan panitia benar-benar bekerja secara profesional dan dapat menjamin segala kebutuhan dan keselamatan anak. Ketidakprofesionalan akan menimbulkan efek negatif pada anak, umpamanya, ketidaknyamanan sehingga perjalanan terasa menjemukan. Kalau sudah begitu, manfaat dari wisata ini tidak akan didapat anak. Anak pun bisa terlantar baik secara fisik, telat diberikan konsumsi misalnya, atau secara psikis, seperti merasa tertekan karena dibentak-bentak.

* Ajak bicara

Sepulang anak dari bepergian, ajak ia berbicara tentang pengalaman yang baru saja dilewatinya. Sambutlah ceritanya dengan positif agar anak bisa bercerita banyak. Keinginannya bercerita secara antusias bisa menunjukkan keberhasilan program wisata yang diikuti anak. Jangan sekali-kali memberi respons negatif, misalnya dengan perkataan, "Masak gitu aja asyik. Lebih asyik pergi dengan ayah dong!" misalnya. Hal seperti ini hanya akan membuat anak merasa tidak dihargai.

MANDIRI DAN CERDAS

Berwisata tanpa orangtua mendatangkan banyak hal positif buat pertumbuhan kepribadian anak. Misalnya kemandirian. Dengan bepergian tanpa orangtua berarti anak harus mengurus semuanya sendiri; makan, membawa tas, mengganti baju, dan sebagainya. Dari aktivitas seperti ini kemandirian anak dapat terasah. Pada awalnya beberapa anak bisa mengalami kesulitan. Namun setelah 2 atau 3 kali mengikuti program wisata seperti ini, ia akan terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri.

Lalu, di dalam perjalanan anak akan dihadapkan dengan berbagai pilihan; apakah dia pilih makan snack atau buah yang dibawanya dari rumah, haruskah ia menahan pipis atau memberi tahu panitia agar dapat memberhentikan bus dahulu, dan lainnya. Di sinilah anak berusaha memutuskan mana yang harus dilakukannya. Meski akhirnya ia meminta pendapat teman sekalipun, ini tetap merupakan suatu pilihan yang mesti dilakukan anak.

Paket wisata yang diikuti anak pun bisa sangat beragam, tergantung pada tema. "Bermain di Sawah", umpamanya, mengajak anak menghayati cara kerja para petani di sawah. Ada juga tur ke Bali untuk mengenal tradisi penduduknya yang unik. Salah satunya, anak-anak diajak bermain layang-layang tradisional di sebuah lapangan luas dan belajar tentang kekuatan angin, arah angin, keterampilan membuat layang-layang, dan sejarahnya. Kunjungan-kunjungan ini tentu akan menambah wawasan anak. Wawasan yang terus bertambah secara tidak langsung akan meningkatkan kecerdasannya.

Ada juga paket wisata bertujuan membangun karakter anak lewat aktivitas outbond. Misalnya, memanjat tali-temali, memecahkan sebuah masalah, melakukan kerja sama, dan banyak lagi. Pada dasarnya, paket wisata untuk anak adalah baik selama tujuannya mengembangkan wawasan dan karakter positif anak.

Irfan Hasuki. Foto: Dok. Bobo

Konsultan ahli:

Ike Sugianto, Psi.,
dari Fakultas Psikologi,
Universitas Tarumanagara Jakarta

 

KE PABRIK TEPUNG

Muhammad Dandi Nur Iqbal Zulkarnaen (7), kelas 2 SD Lab School, Rawamangun, Jaktim

"AKU pernah ikut tur ke pabrik tepung. Seru deh, mesinnya besar-besar. Paling suka waktu melihat mesin yang bisa mencetak tepung menjadi bentuk-bentuk binatang. Anak-anak yang ikut tur lumayan banyak, sekitar 50-an. Kalau ada kesempatan ikut tur seperti itu lagi, aku pengin ikut, tapi bukan ke pabrik

tepung lagi, maunya ke pabrik mainan."

Uttiek. Foto: Agus/nakita

 

BELUM PERNAH IKUT

Salma Dhiya (7), kelas 2 SD IKKT, Slipi, Jakbar

"AKU belum pernah ikut paket wisata sendirian. Kalau sama mama sih pernah. Tapi sebenarnya aku enggak takut lo, kalau harus ikut acara sendirian. Mama kali yang takut. Belum lama ini aku ikut acara ke Taman Safari di Cisarua. Perginya ramai-ramai, sama mama juga, melihat binatang yang enggak dikerangkeng."

Uttiek. Foto: Agus/nakita

 

PANAS TAPI ASYIK

Muhammad Farhan (8), kelas 3 SD Nasional I, Pondok Gede, Bekasi

"WAKTU itu aku jalan sama Om Adep dari Sahabat Museum. Kita jalan ke tempat-tempat bersejarah, seperti Menara Syahbandar, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Jembatan Kota Intan dan banyak lagi. Panas sih, tapi asyik. Walaupun capek, tapi kalau ada acara seperti itu aku mau ikut lagi. Apalagi aku baru pertama kali ngelihat bekas galangan kapal di acara itu. Aku udah telpon Om Adep kok, minta diajakin kalau bikin acara lagi."

Uttiek. Foto: Uttiek/nakita

 

PERTAMA KALI KE MUSEUM

Marchi Riska Milenia (6), kelas 2 SD Islam Al Janah, Pondok Rangon, Bekasi, Jabar

"AKU pernah ikut acara seperti itu. Perginya ke museum. Itu pertama kalinya aku melihat museum. Kita mengunjungi Museum Wayang. Banyak sekali wayang yang dipajang di sana. Pemandunya banyak bercerita, aku senang ndengerinnya. Tapi ceritanya apa saja, aku sudah lupa. Waktu itu aku perginya sama sepupuku. Kalau ada yang ngajakin lagi, aku mau. Apalagi kalau melihat pabrik pesawat terbang."

Uttiek. Foto: Uttiek/NAKITA

 

KE BALI TANPA MAMI

Jeremia Rafeli Kriswong (10), kelas 5 SD BPK Penabur, Bintaro, Tangerang

"LIBURAN sekolah kemarin aku ikut wisata ke Bali yang diselenggarakan Bobo. Pesertanya anak-anak seusiaku tanpa ditemani mami-papinya. Perjalanannya menyenangkan. Meskipun aku pernah ke Bali sebelumnya, tapi banyak tempat yang belum pernah aku kunjungi, seperti taman burung, bermain di sawah, bermain layang-layang di pantai dan banyak lagi. Pengalaman paling berkesan waktu aku bertemu dengan pemandu wisata yang mengusai bahasa Inggris, Jepang, Korea dan Mandarin dengan lancar, padahal dia orang Indonesia lo."

Uttiek. Foto: Dok. Pribadi

 

BAWA PULANG SUSU GRATIS

Fatimah Al Fritta Rindani (9), kelas 4 SD Al-Azhar 4, Kebayoran, Jaksel

"BARU 2 minggu yang lalu aku ikut tur ke peternakan sapi di Sukabumi. Perjalanannya 2,5 jam dari Jakarta dengan bus pariwisata. Di sana dijelasin tentang sejarah peternakan itu, bagaimana merawat sapi, memberi makan dan sebagainya. Aku enggak mau pegang sapinya, bukannya takut, tapi rasanya geli. Kita juga diajak melihat cara memerah sapi, mengolahnya menjadi susu segar dan yogurt. Kita boleh minum susu segar sepuasnya di sana. Waktu pulang aku juga dibawain sekantong susu segar dan yogurt rasa blueberry."

Uttiek. Foto: Dok. Pribadi

 

BISA MELIHAT LANGSUNG

Sisca Susilawati (32) Orangtua Nadya Kamila (9 tahun, kelas 4 SD Islam Karya Mukti, Bogor)

"Nadya beberapa waktu lalu ikut wisata mengunjungi hanggar pesawat Garuda. Sebelum ke sana dia tahu kalau pesawat itu hanya bisa terbang saja. Eh, ternyata bisa masuk bengkel dan diservis mesinnya juga. Nadya juga jadi mengenal awak-awak pesawat, seperti pilot, pramugari dan teknisinya.

Yang paling menarik perhatiannya adalah para pramugari yang menunjukkan atraksi menyelamatkan diri dari pesawat yang jatuh di tengah lautan saat hujan deras. Mereka harus melawan tiupan angin dan derasnya hujan untuk sampai ke perahu karet yang sudah menunggunya di atas air. Nadya sangat antusias menceritakan seluruh pengalamannya ke teman-temannya di rumah."

Irfan. Foto: Irfan/NAKITA

 

HARUS BERUNSUR PENDIDIKAN

Bambang Hermanto (48) Orangtua Sekar Hati Dwi Putri (9 tahun, kelas 6 SDN Mojo III/222, Surabaya)

"ANAK saya sering berwisata dengan sekolahnya ke tempat-tempat bersejarah, seperti candi Borobudur, Prambanan, atau Jatim Park. Sebelum berangkat, saya selalu titip pesan kepada dewan guru agar Sekar tidak ditempatkan satu kamar dengan anak yang nakal soalnya takut dipengaruhi macam-macam. Apalagi perginya kan lebih dari satu hari. Saya juga pesan agar ia menjaga diri baik-baik. Tapi terlepas dari itu, wisata seperti ini sangat bermanfaat baginya."

Irfan. Foto: Dok. Pribadi