HOBI
VS TUGAS
BELAJAR
Mendalami
hobi sebetulnya merupakan stimulasi yang baik bagi perkembangan
kecerdasan. Posisinya sama penting dengan belajar.
"Ya
ampun Dino! Tiap hari kerjaan kamu main bola terus. Mama sampai
heran. Pulang
sekolah main bola. Habis mandi main bola. Jadi kapan kamu mau
belajar! Mulai besok kamu pokoknya jangan main bola lagi!"
begitu ancaman Bu Anwar pada anaknya Dino yang baru duduk di kelas
2 SD.
Kejengkelan
Bu Anwar memang dapat dimaklumi. Namun menurut Vera Ita
Biliana, Psi., hobi anak sebaiknya jangan dibiarkan tanpa
penanganan begitu saja. Lebih baik curahkan perhatian dan bantulah
mengasahnya karena mungkin saja dari hobi tersebut muncul kelebihan
lain yang kelak bisa menjadi modal buat anak. Terlebih lagi, menurut
psikolog dari LPT (Lembaga Psikologi Terapan) Universitas Indonesia
ini, hobi punya kaitan erat dengan kecerdasan. Di dalam hobi ada
kegiatan yang bisa merangsang kerja seluruh tubuh, termasuk otak.
LAYAK
DIKONTROL
Namun Vera menyadari kekhawatiran
para orang tua, karena "kegilaan" anak pada hobi bisa
membuatnya lupa waktu dan lupa segala. Untuk itulah diperlukan
kontrol. Kalau tidak, hasil yang didapat dari hobi bukannya positif
tapi malah negatif. Apalagi anak usia ini belum bisa menahan keinginan
dan mengaturnya. Bila keranjingan sepakbola, dia akan menghabiskan
seluruh waktunya untuk menendang-nendang bola. Seperti kasus Dino
yang sampai melupakan tugas utamanya, belajar.
Kalau sudah begitu, tentu kecerdasan
yang diharapkan tumbuh seimbang melalui belajar dan hobi akan
sulit dicapai. Harus diingat, tidak semua kecerdasan bisa terstimulasi
lewat kegiatan hobi. Sama juga, bahwa kecerdasan tidak akan terstimulasi
hanya dengan materi pelajaran di sekolah. Yang juga perlu dipahami,
anak bisa kehilangan motivasi belajar jika terus dipaksa belajar
tanpa boleh menikmati hobi.
Jalan tengah yang ditawarkan Vera
adalah membuat kesepakatan dengan anak. Tentukan kapan ia boleh
beraktivitas sesuai hobinya, dan berapa lama waktunya. Terapkan
sanksi yang adil jika ia melanggar kesepakatan tadi.
DARI
MANA MUNCUL HOBI?
Hobi sebenarnya sudah mulai muncul
sejak usia 3-4 tahun karena di usia ini konsep diri anak sudah
mulai muncul. Ia sudah dapat menunjukkan jati dirinya dengan konsep
"ini aku". Anak pun mulai menunjukkan ciri-ciri khas
dengan mengatakan bahwa dirinya suka sesuatu, berenang, bermain
bola, bernyanyi dan sebagainya. Hal inilah yang merupakan cikal
bakal dari munculnya hobi. Di usia sekolah awal, hobi sudah bisa
diarahkan menjadi keterampilan dengan cara mengasahnya.
Lalu dari mana hobi anak muncul?
Menurut Vera, ada dua pengaruh yang bisa memunculkan minat terhadap
suatu kegiatan. Pertama, pengaruh dari lingkungan. Misalnya, anak
sering melihat kakak, orang tua, atau temannya bermain bulutangkis.
Meskipun di awal tidak berminat, tapi bila anak terus-menerus
menyaksikan permainan itu, bisa saja kemudian muncul rasa tertariknya
untuk mencoba dan lama-lama menjadi hobi.
Kedua,
pengaruh yang berasal dari kepribadian si anak sendiri sebagai
bawaan lahir. Contohnya, karena tidak ada kesesuaian minat, anak
tidak mengikuti jejak orang tuanya yang gemar sepak bola. Sebaliknya,
walaupun orang tua tidak menunjukkan ketertarikan terhadap sepak
bola, bila kegiatan ini sesuai dengan minatnya maka anak akan
menekuninya tanpa diminta. Jadi dapat disimpulkan, kepribadian
individu yang berbeda-beda menjelaskan mengapa hobi tiap anak
dalam satu keluarga bisa berbeda-beda.
Irfan
Hasuki . Foto: Ferdi/nakita