Dunia Anak Tematis Liburan Sekolah : Melepas Buah Hati Berlibur Sendiri
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: Hobi VS Tugas Belajar
Tematis Liburan Sekolah: Pilih-Pilih Paket Wisata
Tematis Liburan Sekolah: Daftar Perbekalan Berlibur

 

Tumbuh Kembang 6-12 Tahun
HOBI VS TUGAS BELAJAR

Mendalami hobi sebetulnya merupakan stimulasi yang baik bagi perkembangan kecerdasan. Posisinya sama penting dengan belajar.

"Ya ampun Dino! Tiap hari kerjaan kamu main bola terus. Mama sampai heran. Pulang
sekolah main bola. Habis mandi main bola. Jadi kapan kamu mau belajar! Mulai besok kamu pokoknya jangan main bola lagi!" begitu ancaman Bu Anwar pada anaknya Dino yang baru duduk di kelas 2 SD.

Kejengkelan Bu Anwar memang dapat dimaklumi. Namun menurut Vera Ita Biliana, Psi., hobi anak sebaiknya jangan dibiarkan tanpa penanganan begitu saja. Lebih baik curahkan perhatian dan bantulah mengasahnya karena mungkin saja dari hobi tersebut muncul kelebihan lain yang kelak bisa menjadi modal buat anak. Terlebih lagi, menurut psikolog dari LPT (Lembaga Psikologi Terapan) Universitas Indonesia ini, hobi punya kaitan erat dengan kecerdasan. Di dalam hobi ada kegiatan yang bisa merangsang kerja seluruh tubuh, termasuk otak.

LAYAK DIKONTROL

Namun Vera menyadari kekhawatiran para orang tua, karena "kegilaan" anak pada hobi bisa membuatnya lupa waktu dan lupa segala. Untuk itulah diperlukan kontrol. Kalau tidak, hasil yang didapat dari hobi bukannya positif tapi malah negatif. Apalagi anak usia ini belum bisa menahan keinginan dan mengaturnya. Bila keranjingan sepakbola, dia akan menghabiskan seluruh waktunya untuk menendang-nendang bola. Seperti kasus Dino yang sampai melupakan tugas utamanya, belajar.

Kalau sudah begitu, tentu kecerdasan yang diharapkan tumbuh seimbang melalui belajar dan hobi akan sulit dicapai. Harus diingat, tidak semua kecerdasan bisa terstimulasi lewat kegiatan hobi. Sama juga, bahwa kecerdasan tidak akan terstimulasi hanya dengan materi pelajaran di sekolah. Yang juga perlu dipahami, anak bisa kehilangan motivasi belajar jika terus dipaksa belajar tanpa boleh menikmati hobi.

Jalan tengah yang ditawarkan Vera adalah membuat kesepakatan dengan anak. Tentukan kapan ia boleh beraktivitas sesuai hobinya, dan berapa lama waktunya. Terapkan sanksi yang adil jika ia melanggar kesepakatan tadi.

DARI MANA MUNCUL HOBI?

Hobi sebenarnya sudah mulai muncul sejak usia 3-4 tahun karena di usia ini konsep diri anak sudah mulai muncul. Ia sudah dapat menunjukkan jati dirinya dengan konsep "ini aku". Anak pun mulai menunjukkan ciri-ciri khas dengan mengatakan bahwa dirinya suka sesuatu, berenang, bermain bola, bernyanyi dan sebagainya. Hal inilah yang merupakan cikal bakal dari munculnya hobi. Di usia sekolah awal, hobi sudah bisa diarahkan menjadi keterampilan dengan cara mengasahnya.

Lalu dari mana hobi anak muncul? Menurut Vera, ada dua pengaruh yang bisa memunculkan minat terhadap suatu kegiatan. Pertama, pengaruh dari lingkungan. Misalnya, anak sering melihat kakak, orang tua, atau temannya bermain bulutangkis. Meskipun di awal tidak berminat, tapi bila anak terus-menerus menyaksikan permainan itu, bisa saja kemudian muncul rasa tertariknya untuk mencoba dan lama-lama menjadi hobi.

Kedua, pengaruh yang berasal dari kepribadian si anak sendiri sebagai bawaan lahir. Contohnya, karena tidak ada kesesuaian minat, anak tidak mengikuti jejak orang tuanya yang gemar sepak bola. Sebaliknya, walaupun orang tua tidak menunjukkan ketertarikan terhadap sepak bola, bila kegiatan ini sesuai dengan minatnya maka anak akan menekuninya tanpa diminta. Jadi dapat disimpulkan, kepribadian individu yang berbeda-beda menjelaskan mengapa hobi tiap anak dalam satu keluarga bisa berbeda-beda.

Irfan Hasuki . Foto: Ferdi/nakita

 

 

KIAT MENGEMBANGKAN HOBI ANAK

UNTUK pembaca, Vera menyarankan langkah-langkah berikut:

1. Amati apakah kegiatan yang dilakukan anak merupakan hobi atau sekadar iseng.

Waktu pengamatan yang diperlukan mungkin tidak sebentar karena membutuhkan kontinuitas. Tak ada patokan waktu pasti berapa lama pengamatan diperlukan untuk mengetahui keseriusan anak pada suatu kegiatan. Namun, anak baru bisa dikatakan punya hobi bila dia sudah mencurahkan sebagian besar waktunya untuk suatu kegiatan. Vera menjelaskan dengan contoh. Kalau anak hobi bermain playstation umumnya dia akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk bermain game. Begitu pula dengan anak yang hobi main bulu tangkis, menari, melukis, mengoleksi perangko, dan sebagainya. "Inilah ciri yang bisa kita lihat pada anak usia ini bila dia hobi terhadap suatu kegiatan," ujar Vera.

Kalau anak hanya sekadar senang, umumnya kegiatan tersebut tidak berlangsung lama. Suatu saat bila bosan dia akan meninggalkan aktivitas tersebut untuk beralih ke kegiatan lain. Berarti kegiatan tersebut, walau sering dilakukannya, tak bisa dikategorikan sebagai hobi. Bedanya dari hobi, meskipun tidak dilakukan sementara waktu, tetapi bukan berarti ia bosan dan berhenti seterusnya. Di waktu luang ia akan kembali pada kegiatan itu. "Hobi umumnya tidak akan hilang, dan akan
menjadi kegiatan yang berlanjut terus hingga anak dewasa. Setelah anak sibuk dengan pelajarannya, di waktu tertentu dia akan kembali lagi untuk melakukan hobinya tersebut."


2. Perkenalkan Kegiatan

Kalau terbukti anak hanya sekadar iseng dan masih bingung memilih kegiatan yang diminati, perkenalkan padanya bermacam ragam aktivitas. Mulai saja dari hobi orang tua. Kalau ayah atau ibu hobi melukis, ajaklah anak mencoba kegiatan tersebut. Begitu pula bila orang tua hobi menari, menyanyi, bermain bulu tangkis, tenis, sepak bola, komputer, dan sebagainya. Mungkin saja anak jadi jatuh cinta setelah diperkenalkan.

3. Beri Kesempatan

Kalau berdasarkan pengamatan ternyata anak benar-benar hobi melakukan suatu kegiatan, berikan kesempatan untuk menikmatinya. Hobi membaca dapat disalurkan dengan mengajaknya berkunjung ke toko buku atau perpustakaan. Jika ia senang bermain bola dapat dimasukkan ke suatu klub bola. Atau kalau ia selalu serius menekuni games biarkan ia menikmatinya. Dengan kesempatan yang diberikan diharapkan ia bisa lebih memahami hobi yang dimilikinya itu.

4. Buat Kesepakatan

Namun, orang tua perlu mengatur dan mengawasi aktivitas hobi tersebut. Buatlah jadwal bersama-sama dengan anak tentang kapan ia bisa menekuni hobinya dan kapan ia harus belajar dan mengerjakan tugas-tugas lainnya. Tekankan padanya kalau belajar tetap nomor satu, sedangkan hobi adalah kegiatan selingan yang dilakukan bila ada waktu senggang.

5. Tidak Memaksakan

Jangan juga terlalu berlebihan dalam memotivasi anak melakukan hobinya. Ketika ia sedang enggan membaca misalnya, biarkan saja dia asyik dengan kegiatan lainnya. Termasuk bila anak tak berminat memilih kegiatan yang kita tawarkan. Dengan paksaan, tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan dengan nyaman dan akhirnya kenikmatannya pun tidak dapat dirasakan.

6. Sarana

Sarana sangat mendukung anak dalam menyalurkan hobi. Namun sesuaikan sarana ini dengan situasi dan kondisi. Bukankah masalah dana harus menjadi pertimbangan utama?