Tematis
Liburan Sekolah
Tanpa Ayah-Ibu
MELEPAS
BUAH HATI
BERLIBUR SENDIRI
Benarkah
liburan sendiri bisa menambah wawasan dan menempa kemandirian
anak?
Masa
liburan merupakan masa yang paling dinanti-nanti anak sekolah.
Betapa tidak. Itu berarti mereka bisa lepas dari kebosanan dan
kepenatan belajar sekaligus refreshing ke tempat-tempat
berpanorama indah dan menyenangkan. Menangkap peluang menarik
ini, kini semakin banyak agen wisata yang menyediakan paket-paket
eksklusif bagi anak.
Selama beberapa hari mereka diajak
berwisata ke lokasi di dalam kota, di luar kota, bahkan di luar
provinsi atau di lain pulau. Beberapa program yang ditawarkan
bahkan mengharuskan mereka pergi sendirian. Orang tua hanya diperbolehkan
mengantar sampai tempat pemberangkatan. Begitu juga ketika menjemput
di tempat kedatangan yang telah ditentukan.
Benarkah
liburan tanpa orang tua bisa memperluas wawasan anak sekaligus
menempa kemandirian mereka? Menanggapi hal ini, Fitriani
F. Syahrul, M.Psi., angkat bicara. Menurutnya, manfaat
paket liburan seperti ini, selain bisa mengalami hal-hal baru
di tempat berlibur, anak juga terlatih hidup mandiri. Bukankah
saat jauh dari orang tua, mau tidak mau anak mesti melakukan semua
rutinitasnya sendirian? Dari mandi, berpakaian, berdandan, makan-minum,
dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu. Anak juga akan
terlatih bagaimana bersosialisasi dan beradaptasi dengan teman-teman
barunya. Jika kegiatannya berlangsung di alam bebas, anak akan
diajak hidup apa adanya, dengan kondisi yang mungkin serba kurang
atau terbatas dibanding kehidupannya sehari-hari.
PERLU KESIAPAN MENTAL
Namun, psikolog dari Yayasan Pendidikan Insan Kamil ini menandaskan
pentingnya mencermati kesiapan mental dan tingkat kemandirian
anak. Berdasarkan pengamatannya terhadap perkembangan anak umumnya,
Fitriani menyimpulkan, paket liburan tanpa orang tua lebih cocok
diikuti anak-anak usia 9-12 tahun. Alasannya, mereka biasanya
sudah bisa mandiri. Terutama dalam merawat tubuh dan mengatur
serta menjaga perlengkapan pribadinya dengan baik. Anak usia ini
juga sudah memiliki kemampuan sosialisasi, adaptasi, dan komunikasi
yang baik. Selain itu, mereka juga sudah bisa diandalkan untuk
mengatasi masalah yang mungkin muncul.
Sementara anak usia 6-9 tahun
secara garis besar belum dianjurkan untuk mengikuti paket liburan
seperti ini. Pertimbangannya, ketergantungan mereka terhadap orang
tua masih relatif besar. Mereka umumnya masih membutuhkan pertolongan
dalam menjalani rutinitas sehari-hari. "Contohnya, tidak
sedikit anak usia ini yang masih belum bisa mandi dan cebok sendiri
dengan sempurna."
Belum lagi jika disuruh mengemban
tanggung jawab untuk menjaga dan mengatur perlengkapan pribadinya.
Umumnya anak masih sembrono menggunakan atau menaruh perlengkapannya.
Jangan heran kalau di usia ini anak masih sering kehilangan barang-barang
milik pribadinya. Bisa-bisa repot kalau selagi liburan sebentar-sebentar
anak menangis heboh gara-gara kehilangan sabun, sikat gigi atau
entah apa lagi.
Meski begitu, tandasnya, kemandirian
dan kesiapan mental seorang anak sama sekali tidak hanya ditentukan
oleh usianya, tapi juga faktor-faktor lain. Di antaranya pengaruh
lingkungan dan pola asuh orang tua. Selain itu, patut diingat,
setiap anak merupakan individu unik yang tidak bisa disamaratakan.
Mau tidak mau orang tua yang tidak melatih anaknya mandiri sejak
dini, kelak akan repot sendiri dibuatnya.
Juga,
kendati bisa mandiri tidak semua anak siap beraktivitas di luar
rumah. Kesiapan inilah yang ikut menempa kondisi mental mereka.
Anak yang terbiasa beraktivitas di luar rumah, semisal sering
ikut camping, kegiatan pramuka atau outbound
bersama teman-temannya, umumnya lebih mudah beradaptasi dengan
kondisi apa pun yang serba berbeda dengan kehidupannya sehari-hari.
Aktivitas sehari-hari pun bisa dilakukan tanpa uluran atau bantuan
orang dewasa.
Hal penting yang menurut Fitriani
juga mesti dicatat adalah jangan pernah memaksakan kehendak kalau
anak memang belum siap mengikuti paket liburan semacam ini. Kalau
tahun ini ia belum berani, cobalah menawarkan hal serupa di tahun-tahun
mendatang. Selain itu, orang tua juga hendaknya jeli memilih paket
liburan yang akan diikuti. Untuk pemula, pilihlah yang lamanya
1-2 hari saja. Tanyakan bagaimana kondisi penginapannya, termasuk
fasilitas kamar tidur dan kamar mandinya, berapa jumlah pesertanya,
berapa umur rata-rata peserta, dan apa saja kegiatan yang dilakukan
selama liburan.
Komunikasikan informasi yang didapat
kepada anak secara lengkap. Dengan demikian, ia bisa mengetahui
keadaan dan kondisi yang akan ditemuinya nanti secara utuh. Selanjutnya
bisa diharapkan anak mampu menjalani berbagai keadaan yang akan
ditemuinya.
KOMUNIKASI
KONDISI ANAK
Yang tak kalah penting, tukas Fitriani pula, komunikasikan kondisi
anak kepada pihak panitia. Kesinambungan komunikasi dan kerja
sama orang tua dengan panitia sangat penting guna mendukung kelancaran
program tersebut. Masing-masing pihak diharapkan terbuka sama
lain dan saling memahami.
Hal ini penting agar panitia pun
bisa memahami masing-masing peserta secara individual. Jelaskan
pula karakter khas anak, semisal takut gelap, alergi terhadap
makanan tertentu, pemalu, atau justru cenderung bersikap agresif.
Dengan komunikasi seperti itu, pihak panitia diharapkan bisa melakukan
langkah antisipatif hingga kejadian yang tidak diharapkan bisa
diminimalisasikan. Contohnya program sosialisasi yang efektif
bagi anak yang pemalu.
Tanyakan
pula pada panitia apakah anak diperbolehkan membawa handphone.
Terlebih bila acara itu merupakan pengalaman pertama buat si anak.
Tidak ada salahnya jika orang tua meminta beberapa keringanan
jika kondisi anak memaksa demikian. Contohnya, orang tua boleh
"menemani" anaknya yang mengidap gangguan kesehatan
tertentu saat mengikuti paket tersebut. Tentu saja tidak perlu
secara ekstrem dengan terus-menerus mengikuti setiap langkahnua.
Melainkan cukup memantau keadaan anak dari kejauhan. Terhadap
anak tanpa gangguan kesehatan, namun tergolong "anak mami",
cara ini pun bisa diterapkan. Hingga lambat laun anak akan bisa
belajar beradaptasi.
Saeful
Imam. Foto: Ferdi/nakita