Dunia Anak Tematis Liburan Sekolah : Melepas Buah Hati Berlibur Sendiri
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: Hobi VS Tugas Belajar
Tematis Liburan Sekolah: Pilih-Pilih Paket Wisata
Tematis Liburan Sekolah: Daftar Perbekalan Berlibur

Tematis Liburan Sekolah Tanpa Ayah-Ibu

 


MELEPAS BUAH HATI BERLIBUR SENDIRI

Benarkah liburan sendiri bisa menambah wawasan dan menempa kemandirian anak?

Masa liburan merupakan masa yang paling dinanti-nanti anak sekolah. Betapa tidak. Itu berarti mereka bisa lepas dari kebosanan dan kepenatan belajar sekaligus refreshing ke tempat-tempat berpanorama indah dan menyenangkan. Menangkap peluang menarik ini, kini semakin banyak agen wisata yang menyediakan paket-paket eksklusif bagi anak.

Selama beberapa hari mereka diajak berwisata ke lokasi di dalam kota, di luar kota, bahkan di luar provinsi atau di lain pulau. Beberapa program yang ditawarkan bahkan mengharuskan mereka pergi sendirian. Orang tua hanya diperbolehkan mengantar sampai tempat pemberangkatan. Begitu juga ketika menjemput di tempat kedatangan yang telah ditentukan.

Benarkah liburan tanpa orang tua bisa memperluas wawasan anak sekaligus menempa kemandirian mereka? Menanggapi hal ini, Fitriani F. Syahrul, M.Psi., angkat bicara. Menurutnya, manfaat paket liburan seperti ini, selain bisa mengalami hal-hal baru di tempat berlibur, anak juga terlatih hidup mandiri. Bukankah saat jauh dari orang tua, mau tidak mau anak mesti melakukan semua rutinitasnya sendirian? Dari mandi, berpakaian, berdandan, makan-minum, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu. Anak juga akan terlatih bagaimana bersosialisasi dan beradaptasi dengan teman-teman barunya. Jika kegiatannya berlangsung di alam bebas, anak akan diajak hidup apa adanya, dengan kondisi yang mungkin serba kurang atau terbatas dibanding kehidupannya sehari-hari.

PERLU KESIAPAN MENTAL

Namun, psikolog dari Yayasan Pendidikan Insan Kamil ini menandaskan pentingnya mencermati kesiapan mental dan tingkat kemandirian anak. Berdasarkan pengamatannya terhadap perkembangan anak umumnya, Fitriani menyimpulkan, paket liburan tanpa orang tua lebih cocok diikuti anak-anak usia 9-12 tahun. Alasannya, mereka biasanya sudah bisa mandiri. Terutama dalam merawat tubuh dan mengatur serta menjaga perlengkapan pribadinya dengan baik. Anak usia ini juga sudah memiliki kemampuan sosialisasi, adaptasi, dan komunikasi yang baik. Selain itu, mereka juga sudah bisa diandalkan untuk mengatasi masalah yang mungkin muncul.

Sementara anak usia 6-9 tahun secara garis besar belum dianjurkan untuk mengikuti paket liburan seperti ini. Pertimbangannya, ketergantungan mereka terhadap orang tua masih relatif besar. Mereka umumnya masih membutuhkan pertolongan dalam menjalani rutinitas sehari-hari. "Contohnya, tidak sedikit anak usia ini yang masih belum bisa mandi dan cebok sendiri dengan sempurna."

Belum lagi jika disuruh mengemban tanggung jawab untuk menjaga dan mengatur perlengkapan pribadinya. Umumnya anak masih sembrono menggunakan atau menaruh perlengkapannya. Jangan heran kalau di usia ini anak masih sering kehilangan barang-barang milik pribadinya. Bisa-bisa repot kalau selagi liburan sebentar-sebentar anak menangis heboh gara-gara kehilangan sabun, sikat gigi atau entah apa lagi.

Meski begitu, tandasnya, kemandirian dan kesiapan mental seorang anak sama sekali tidak hanya ditentukan oleh usianya, tapi juga faktor-faktor lain. Di antaranya pengaruh lingkungan dan pola asuh orang tua. Selain itu, patut diingat, setiap anak merupakan individu unik yang tidak bisa disamaratakan. Mau tidak mau orang tua yang tidak melatih anaknya mandiri sejak dini, kelak akan repot sendiri dibuatnya.

Juga, kendati bisa mandiri tidak semua anak siap beraktivitas di luar rumah. Kesiapan inilah yang ikut menempa kondisi mental mereka. Anak yang terbiasa beraktivitas di luar rumah, semisal sering ikut camping, kegiatan pramuka atau outbound bersama teman-temannya, umumnya lebih mudah beradaptasi dengan kondisi apa pun yang serba berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Aktivitas sehari-hari pun bisa dilakukan tanpa uluran atau bantuan orang dewasa.

Hal penting yang menurut Fitriani juga mesti dicatat adalah jangan pernah memaksakan kehendak kalau anak memang belum siap mengikuti paket liburan semacam ini. Kalau tahun ini ia belum berani, cobalah menawarkan hal serupa di tahun-tahun mendatang. Selain itu, orang tua juga hendaknya jeli memilih paket liburan yang akan diikuti. Untuk pemula, pilihlah yang lamanya 1-2 hari saja. Tanyakan bagaimana kondisi penginapannya, termasuk fasilitas kamar tidur dan kamar mandinya, berapa jumlah pesertanya, berapa umur rata-rata peserta, dan apa saja kegiatan yang dilakukan selama liburan.

Komunikasikan informasi yang didapat kepada anak secara lengkap. Dengan demikian, ia bisa mengetahui keadaan dan kondisi yang akan ditemuinya nanti secara utuh. Selanjutnya bisa diharapkan anak mampu menjalani berbagai keadaan yang akan ditemuinya.

KOMUNIKASI KONDISI ANAK

Yang tak kalah penting, tukas Fitriani pula, komunikasikan kondisi anak kepada pihak panitia. Kesinambungan komunikasi dan kerja sama orang tua dengan panitia sangat penting guna mendukung kelancaran program tersebut. Masing-masing pihak diharapkan terbuka sama lain dan saling memahami.

Hal ini penting agar panitia pun bisa memahami masing-masing peserta secara individual. Jelaskan pula karakter khas anak, semisal takut gelap, alergi terhadap makanan tertentu, pemalu, atau justru cenderung bersikap agresif. Dengan komunikasi seperti itu, pihak panitia diharapkan bisa melakukan langkah antisipatif hingga kejadian yang tidak diharapkan bisa diminimalisasikan. Contohnya program sosialisasi yang efektif bagi anak yang pemalu.

Tanyakan pula pada panitia apakah anak diperbolehkan membawa handphone. Terlebih bila acara itu merupakan pengalaman pertama buat si anak. Tidak ada salahnya jika orang tua meminta beberapa keringanan jika kondisi anak memaksa demikian. Contohnya, orang tua boleh "menemani" anaknya yang mengidap gangguan kesehatan tertentu saat mengikuti paket tersebut. Tentu saja tidak perlu secara ekstrem dengan terus-menerus mengikuti setiap langkahnua. Melainkan cukup memantau keadaan anak dari kejauhan. Terhadap anak tanpa gangguan kesehatan, namun tergolong "anak mami", cara ini pun bisa diterapkan. Hingga lambat laun anak akan bisa belajar beradaptasi.

Saeful Imam. Foto: Ferdi/nakita

 

 

BIKIN HEBOH TEMAN

Theodora Kirana Dewayani Rustan (9), kelas 3 SD Santa Laurensia, Serpong,
Tangerang, Banten

"Aku orangnya senang adventure dan kegiatan bertualang karena asyik berat, enggak ngebosenin, bisa nemu banyak hal baru dan juga teman baru. Apalagi biasanya adventure kayak gini jarang-jarang bisa kita temuin atau lakukan di tempat kita tinggal. Aku suka minta sama papa supaya mengikutkan aku di program-program seperti itu. Makanya aku jadi sering pergi berlibur sendiri enggak bareng keluargaku. Aku pernah ke Pulau Damar, ke penangkaran rusa dan penangkaran kupu-kupu. Trus yang paling jauh ke tempat penangkaran penyu di Pulau Pramuka, di wilayah Kepulauan Seribu.

Kalau liburan sendiri aku pasti dapet temen baru. Aku bisa bebas. Kalau sama papa-mama kan jadi suka bingung sendiri. Abis suka kebanyakan peraturan. Jadinya enggak serasa liburan deh. Lucunya, setiap pulang liburan sendiri aku suka cerita ke temen-temen sekolah. Mereka pada heboh padahal buatku sih hal-hal kayak gitu sudah biasa."

Zali. Foto: Ferdi/nakita

 

 

BARENG ORANG TUA BIKIN BETE

Cakra Cipta Adiguna (9), kelas 3 SD High/Scope Indonesia, Cilandak, Jakarta Selatan


"LIBURAN sekolah kali ini aku inginnya pergi ke Sydney, nginep di rumah tanteku. Tapi itu juga kalau papa dan mama ijinin aku pergi sendiri. Maksudku, papa dan mama sebatas nganterin aja dan enggak perlu ikut liburan ke sana. Abis liburan tahun kemarin aku malah kenyang dimarahin melulu sama mama. Jadi bete banget kan liburannya? Aku enggak boleh ke mana-mana. Masa sih liburan cuma di rumah melulu! Enggak seru kan?

Yang jelas aku seneng banget bisa liburan sendiri. Aku pernah berlibur bareng beberapa teman satu sekolah ke Kebun Binatang Ragunan. Waktu itu acaranya belajar bikin video klip. Jadi, perginya jelas didampingi orang dewasa, yaitu kakak yang ngajarin aku dan kakak yang ngadain program itu. Hasilnya? Wuih...asyik abis. Selain enggak banyak aturan, aku juga bisa bebas sekaligus bisa banyak belajar. Nah yang seperti ini nih baru yang namanya liburan."

Zali. Foto: Ferdi/nakita

 

 

HARUS DIDAMPINGI ORANG DEWASA

Ulima Maria (10), kelas 4 SD Budhaya II Santo Agustinus, Duren Sawit, Jakarta Timur

"LIBURAN sekarang aku enggak tahu nih mau ke mana. Sama sekali belum ada rencana. Pengennya sih pergi, tapi gimana nanti aja deh kan harus minta ijin dulu sama orang tua.

Menurutku sih liburan itu enaknya ya pergi sendiri dengan teman atau saudara yang seumur. Tapi syaratnya ya harus ada orang dewasa yang ngedampingin. Aku kan masih kecil belum tahu apa-apa. Dalam bayanganku liburan kayak begitu baru enak, rame dan bebas. He...he...tapi liburan dengan orang tua juga enak kok.

Aku pernah liburan dengan teman-teman sekolahku ke Museum Nasional dan Dunia Fantasi. Waktu itu mungkin cuma aku yang enggak bareng orang tua, tapi aku happy aja tuh. Lagian teman-temanku yang orang tuanya ikutan malah enggak mau deket-deket sama orang tuanya. Enggak tahu kenapa?

Zali. Foto: Vitri/nakita

 

 

BARU SEBATAS CITA-CITA

Muhammad Haidar Rauf (11), kelas 5 SD IT Iqro, Pondok Gede, Bekasi


"LIBURAN sendiri? Wah...asyik berat tuh! Aku sih pengennya liburan sendiri ke rumah eyang yang ada di luar kota atau ke tempat main yang pasti dijamin seru. Tapi sayang itu semua baru sebatas angan-angan. Selama ini setiap kali liburan, apalagi ke luar kota aku enggak pernah bisa pergi sendiri. Selalu saja ada yang ngikut, kalau enggak ibu, ya ayahku. Malah pernah juga waktu ke Semarang, rombongan keluarga ikut semua, dari nenek, saudara ayah, sampe tante.

Sewaktu acara jalan-jalan bareng teman-teman sekolah, eh orang tua murid wajib ikut juga. Padahal kan enaknya enggak usah aja ya. Toh sudah ada ibu dan bapak guru yang ngejagain kita. Untungnya, sekolah suka ngadain acara kemping seperti ke Cibubur dan ke Ragunan. Menurutku lumayanlah buat refreshing. Paling enggak bisa ngerasain sehari semalam tanpa harus diawasi orang tua. Ha...ha...ternyata enak juga lo."

Faras. Foto: Dok. Pribadi

 

 

NAIK PESAWAT SENDIRI

Tantie Priharjantie (37), ibunda Nadita Tirie (12), kelas 6 SD Bunda Maria Cimanggis, Depok, Jabar


"LIBURAN sekolah kemarin, kami melepas Dita berlibur sendiri ke rumah neneknya di Manado. Saya dan papanya hanya mengantarkan sampai bandara Soekarno-Hatta. Selanjutnya dia naik pesawat sendiri selama 5 jam (karena ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Manado, Red.). Selain itu, pesawat pun harus transit di Makassar selama 1 jam.

Saya sih, percaya diri aja melepasnya liburan sendirian. Sebelum berangkat kami sudah tanya, benar kamu berani pergi sendiri. Karena anaknya berani, ya kami juga enggak khawatir. Sebelum ini sih, dia sudah beberapa kali pergi sendiri tanpa didampingi orang tua. Yang pertama ke Jawa Timur bersama kerabat saya lalu pernah juga kemping 3 hari di Jatiluhur.

Saya percaya banyak manfaat yang bisa didapat anak dengan berlibur sendiri. Yang jelas itu melatih rasa percaya dirinya, sekaligus berani membuat keputusan sendiri selama perjalanan. Sebelum berangkat kami hanya berpesan, baca petunjuk yang ada di bandara. Kalau masih bingung juga, tanya petugas yang berseragam."

Uttiek. Foto: Dok. Pribadi

 

 

TIDAK BERANI LEPAS ANAK SENDIRI

I. Made Asdiana (38), ayahanda Putu Novitri Handayani (12), kelas 5 SDN 07, Pondok Labu, Jakarta Selatan

"WAH... melepas anak liburan sendiri? Saya belum berani. Mungkin nanti setelah anak duduk di bangku SMU saya baru berani melepas anak pergi sendiri. Apalagi anak saya kan perempuan. Nanti kalau ada apa-apa di jalan gimana? Kalau anak laki-laki sih mungkin masih bisalah saya pikir-pikirkan.

Untungnya, anak saya juga belum pernah minta liburan sendiri ke rumah neneknya di Bali. Bahkan selama ini kalau pergi tidak bareng orang tuanya, dia juga enggak mau, kok. Lain lagi kalau perginya bareng rombongan sekolah. Itu berarti ada guru yang bertanggung jawab. Nah, kalau yang seperti itu sih saya akan izinkan. Intinya, sederhana saja kok: harus ada orang dewasa yang mendampingi.

Memang sih saya tahu akan banyak manfaat yang didapat dengan melepas anak pergi berlibur sendiri. Tapi kalau saya, sekali lagi terus terang belum berani! Bagaimana kalau di jalan sampai terjadi sesuatu yang tak diharapkan? Belum lagi nanti kalau kendaraan yang membawanya kenapa-kenapa. Wah, daripada terus kepikiran, mendingan tidak sekalian deh!"

Uttiek. Foto: Vitri/nakita