Tanpa
PR, anak tetap bisa menguasai pelajaran. Asalkan, sekolahnya sudah
mempertimbangkan penerapan metode ini.
Pekerjaan
rumah atau PR seringkali menjadi beban bagi murid-murid sekolah.
Tak heran kala guru membebaskan mereka dari PR, maka muncullah
teriakan, "Asyik! hari ini enggak ada PR!" Mereka seakan
dibebaskan dari berbagai tekanan. Mereka bisa bermain tanpa harus
memikirkan tugas sekolah. Melihat fenomena seperti itu, sebenarnya
mungkinkah bila sekolah tak memberikan PR kepada muridnya?
Menurut
Dra. Angie S. Anggari, Principal Sekolah Madania,
Parung, "Sebenarnya, sah-sah saja bila sekolah membuat kebijakan
untuk tidak memberikan PR kepada murid-muridnya." Setiap
sekolah, menurutnya, berhak menentukan kebijakan masing-masing,
karena sekolah dibebaskan membuat peraturan sendiri. Salah satunya,
memberi tugas tambahan di rumah berupa PR atau malah membebaskan
anak dari PR.
Biasanya,
setiap kebijakan yang diterapkan sudah dipikirkan alasan dan tujuannya,
termasuk kebijakan tidak memberikan PR kepada anak didik. Menurut
Anggie, umumnya karena sekolah beranggapan bahwa ketika berada
di rumah, anak sudah terlalu letih untuk memikirkan pelajaran-pelajaran
di sekolah.
Tambahan
PR juga bisa memicu stres, terutama pada murid di sekolah-sekolah
yang menerapkan jam pelajaran full day, dari pagi hingga
sore. "Bila setibanya di rumah anak masih dibebani lagi dengan
PR, tentu akan membuatnya sibuk hanya dengan sekolah dan tugas
sekolah."
Kemudian,
anak butuh berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang tua,
juga dengan komunitas di lingkungan rumahnya. Hal ini tidak akan
terjadi bila anak melulu disibukkan dengan urusan sekolah. "Di
sekolah, anak sudah mendapat pelajaran secara formal. Nah, di
rumah ia harus mendapatkan pelajaran informal dari keseharian.
Ketika sedang menyaksikan TV bersama orang tuanya, misalnya, saat
itu anak bisa menanyakan maksud-maksud tayangan yang dilihatnya.
Dari situ bisa timbul diskusi yang menyenangkan."
Komunikasi
seperti itu, juga dapat mempererat hubungan antara orang tua dengan
anak. Berbeda bila anak harus berkutat dengan pelajaran di sekolah
terus, kesempatan bersosialisasinya akan tersita habis.
Selanjutnya
banyak yang beranggapan bahwa PR yang diberikan tidak dikerjakan
anak, melainkan oleh orang tua, kakak, pengasuh, atau yang lainnya.
Inilah yang terkadang membuat sekolah merasa percuma memberikan
PR.
Pro-kontra
terjadi, karena di lain pihak banyak orang tua yang menginginkan
anaknya diberi PR. Tujuannya agar pelajaran yang sudah diberikan
di sekolah bisa dilatih di rumah. Ketiadaan PR, menurut mereka
akan membuat anak bebas bermain, tanpa memikirkan pelajaran di
sekolah. Inilah yang ditakutkan.
JANGAN MEMAKSA TANPA PR
Sebelum meniadakan PR, sekolah harus lebih dulu memastikan materi
pelajaran yang diberikan kepada anak didik sudah memenuhi kurikulum
yang ditetapkan. Bila sudah, silakan saja membebaskan murid tanpa
PR. Kalau belum, jangan memaksakan diri. Bagaimanapun, PR bisa
menjadi alternatif bagi upaya pemenuhan kurikulum.
Sekolah
yang menerapkan sistem belajar tanpa PR biasanya sudah memiliki
sistem pendidikan terpadu yang sudah digodok oleh tim ahli sekolah.
Misalnya, melalui penerapan belajar secara full day atau
waktu belajar yang lebih panjang, sehingga belajar tanpa PR bisa
direalisasikan. Dengan waktu sekolah yang lebih panjang, guru
bisa memvariasikan tugas sekolah, menyeragamkan pola belajar,
atau memperbanyak materi pelajaran. "Pokoknya," ujar
Angie, "sistem dan tatacaranya tergantung pada kebijakan
sekolah masing-masing. Yang penting, meski tanpa PR, kurikulum
tetap terpenuhi."
Berbeda
halnya dengan sekolah setengah hari. Dengan PR pun, seringkali
kurikulum yang ditetapkan tidak terpenuhi. Bila hal ini yang terjadi,
sebaiknya PR tetap diberikan kepada anak. Selain punya waktu lebih
banyak di rumah, dengan bantuan orang tua, anak bisa membagi waktunya
kapan harus beristirahat, bermain, atau mengerjakan PR.
PR KELAS BAWAH DAN ATAS
Jadi, tidak bisa semua sekolah bebas dari PR. Toh, PR juga menyimpan
banyak manfaat. "Salah satunya, anak bisa memperkuat pelajaran
yang sudah diberikan," ujar Angie.
Hanya
saja, lanjutnya, perlu dipikirkan jangan sampai PR yang diberikan
malah menjadi tambahan beban. Misalnya, karena materi pelajaran
tidak selesai dikerjakan di sekolah. Apalagi, PR yang diberikan
melampaui batas sehingga membuat anak tidak sempat bersosialisasi,
tertekan, bahkan stres.
PR
yang diberikan, menurut Angie, jelas harus ada batasannya, terutama
pada sekolah full day atau anak yang ikut kegiatan
ekstrakurikuler. Soalnya, sesampai anak di rumah pasti sudah sangat
letih. Bila PR yang diberikan tidak memikirkan kondisi dan kebutuhan
anak, maka bukan manfaat positif yang didapat, tetapi bisa saja
negatif.
Yang
perlu diperhatikan, untuk kelas rendah, seperti kelas 1 dan 2
SD, hindari pemberian PR berupa soal-soal isian. Alasannya, di
usia ini anak masih mengalami penyesuaian belajar dari tahap informal
ke formal. Pemberian soal bisa sangat membosankan.
Oleh
karena itu, sebaiknya mereka diberi PR berupa proyek. Misalnya,
ditugaskan mengukur panjang dan lebar tempat tidurnya, menceritakan
isi buku yang dibacakan orang tua ketika mau tidur, atau meminta
anak untuk bertanya ke orang tua kapan dan di mana dia dilahirkan.
Proyek seperti ini, selain tidak membebani, juga menyediakan kesempatan
berinteraksi antara anak dengan orang tuanya.
Barulah
di kelas 3 sampai 6, PR yang diberikan bisa berupa soal-soal,
karena umumnya di usia ini anak sudah terbiasa dengan pola belajar
formal. Hanya saja, jumlah soal yang diberikan harus disesuaikan
dengan kemampuan anak. Jadi, jangan menyamaratakan jumlah soal.
Misalnya, kalau si A punya kemampuan mengerjakan 10 soal dalam
waktu 30 menit, maka belum tentu demikan dengan si B. "Intinya,
kita harus melihat berapa lama anak mampu mengerjakannya, lalu
kita sesuaikan. Untuk itu, pihak sekolah harus selalu mengevaluasi
perkembangan murid-muridnya dari data masing-masing anak,"
ungkap Angie.
Idealnya,
PR tidak diberikan setiap hari, tetapi setiap minggu dengan mengitung
angka minimal dan maksimalnya. Menurut Angie, minimal pemberian
PR adalah 1,5 jam dalam satu minggu. Berarti, kalau satu kali
PR dikerjakan dalam waktu 30 menit, murid-murid bisa diberi PR
3 kali dalam satu minggu. Sedangkan waktu maksimalnya adalah 3
jam.
Bila
untuk mengerjakan PR diperlukan waktu 1 jam, berarti pemberiannya
bisa dilakukan 3 kali dalam seminggu. Agar berjalan efektif, maka
setiap guru harus melakukan koordinasi, supaya pemberian PR tidak
tumpang tindih.
Pemberian
PR pun sudah semestinya dilakukan pada anak yang kurang mampu
memahami pelajaran tertentu. "Contohnya, di sekolah kami
ada anak yang kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Indonesia setelah
lama tinggal di luar negeri. Untuk menyejajarkan dengan anak lain,
maka ia diberi PR tambahan," ujar Angie. Namun, tugas tambahan
ini perlu dikonfirmasikan dulu kepada orang tua agar terjalin
kerja sama yang baik antara sekolah dengan anak. Dengan begitu
tugas tambahan yang diberikan bisa membawa hasil maksimal.
Sebenarnya,
bila sekolah memang tidak memberikan PR, orang tua tak perlu terlalu
khawatir. Yang penting, ingatkan anak untuk terus melatih dan
memantapkan pelajaran-pelajaran yang telah atau akan dihadapinya.
"Tugas orang tualah untuk mengingatkan anak, tidak hanya
melulu tergantung pada sekolah," demikian Angie.
Irfan
Hasuki. Foto: Iman/nakita