MENGENAL
GANGGUAN BELAJAR DISKALKULIA & DISGRAFIA
Banyak
orang tua langsung menduga anaknya bodoh atau malas ketika melihatnya
mengalami kesulitan membaca, berhitung atau mengikuti pelajaran
di sekolah. Padahal, bisa jadi si anak mengalami gangguan persarafan.
Beberapa
nomor lalu telah dibahas gangguan belajar yang menyangkut kemampuan
membaca atau disleksia. Disamping gangguan tersebut, sebetulnya
kita perlu mengenal gangguan belajar lainnya yang menyangkut kemampuan
berhitung (diskalkulia) dan menulis (disgrafia).
DISKALKULIA
Menurut Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Harmawan
Consulting, Jakarta, diskalkulia dikenal juga dengan istilah "math
difficulty" karena menyangkut gangguan pada kemampuan
kalkulasi secara matematis. Kesulitan ini dapat ditinjau secara
kuantitatif yang terbagi menjadi bentuk kesulitan berhitung (counting)
dan mengkalkulasi (calculating). Anak yang bersangkutan
akan menunjukkan kesulitan dalam memahami proses-proses matematis.
Hal ini biasanya ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dan
mengerjakan tugas yang melibatkan angka ataupun simbol matematis.
CIRI-CIRI
Inilah beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan:
1.
Tingkat perkembangan bahasa dan kemampuan lainnya normal, malah
seringkali mempunyai memori visual yang baik dalam merekam kata-kata
tertulis.
2.
Sulit melakukan hitungan matematis. Contoh sehari-harinya, ia
sulit menghitung transaksi (belanja), termasuk menghitung kembalian
uang. Seringkali anak tersebut jadi takut memegang uang, menghindari
transaksi, atau apa pun kegiatan yang harus melibatkan uang.
3.
Sulit melakukan proses-proses matematis, seperti menjumlah, mengurangi,
membagi, mengali, dan sulit memahami konsep hitungan angka atau
urutan.
4.
Terkadang mengalami disorientasi, seperti disorientasi waktu dan
arah. Si anak biasanya bingung saat ditanya jam berapa sekarang.
Ia juga tidak mampu membaca dan memahami peta atau petunjuk arah.
5.
Mengalami hambatan dalam menggunakan konsep abstrak tentang waktu.
Misalnya, ia bingung dalam mengurut kejadian masa lalu atau masa
mendatang.
6.
Sering melakukan kesalahan ketika melakukan perhitungan angka-angka,
seperti proses substitusi, mengulang terbalik, dan mengisi deret
hitung serta deret ukur.
7.
Mengalami hambatan dalam mempelajari musik, terutama karena sulit
memahami notasi, urutan nada, dan sebagainya.
8.
Bisa juga mengalami kesulitan dalam aktivitas olahraga karena
bingung mengikuti aturan main yang berhubungan sistem skor.
FAKTOR PENYEBAB
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi gangguan ini, di antaranya:
1.
Kelemahan pada proses penglihatan atau visual
Anak
yang memiliki kelemahan ini kemungkinan besar akan mengalami diskalkulia.
Ia juga berpotensi mengalami gangguan dalam mengeja dan menulis
dengan tangan.
2.
Bermasalah dalam hal mengurut informasi
Seorang
anak yang mengalami kesulitan dalam mengurutkan dan mengorganisasikan
informasi secara detail, umumnya juga akan sulit mengingat sebuah
fakta, konsep ataupun formula untuk menyelesaikan kalkulasi matematis.
Jika problem ini yang menjadi penyebabnya, maka anak cenderung
mengalami hambatan pada aspek kemampuan lainnya, seperti membaca
kode-kode dan mengeja, serta apa pun yang membutuhkan kemampuan
mengingat kembali hal-hal detail.
3.
Fobia matematika
Anak
yang pernah mengalami trauma dengan pelajaran matematika bisa
kehilangan rasa percaya dirinya. Jika hal ini tidak diatasi segera,
ia akan mengalami kesulitan dengan semua hal yang mengandung unsur
hitungan.
CARA PENANGGULANGAN
Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten
di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid
dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan
diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan
tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.
Bagaimanapun,
kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam
aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan
akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan.
Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun disarankan
melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar,
yaitu:
1.
Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti,
dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani
langkah-langkah
atau urutan dari proses keseluruhannya.
2.
Bisa juga dengan menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti
dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia
tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
3.
Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis
di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak.
Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu
anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
4.
Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas
sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya
jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam
seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan
dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.
5.
Sering-seringlah
mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara
menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan
ingatannya tentang angka.
6.
Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan
oleh anak.
7.
Lakukan
proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan
nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.
8.
Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan
strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan
anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi
kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang
tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan
yang disarankan.
DISGRAFIA
Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi
hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan
mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia
sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan
dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf
dan angka.
Kesulitan
dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan
belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Kesulitan
dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan
oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi
karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer
pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan.
Hanya saja ia memiliki hambatan.
Sebagai
langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa
disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan,
asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga
bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si
anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya.
CIRI-CIRI
Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan ini. Di antaranya
adalah:
1.
Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
2.
Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
3.
Ukuran
dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
4.
Anak
tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide,
pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan.
5.
Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap. Caranya memegang
alat tulis seringkali terlalu dekat bahkan hampir menempel dengan
kertas.
6.
Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah
terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
7.
Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti
alur garis yang tepat dan proporsional.
8.
Tetap
mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan
yang sudah ada.
MEMBANTU ANAK DISGRAFIA
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu
anak dengan gangguan ini. Di antaranya:
1.
Pahami keadaan anak
Sebaiknya
pihak orang tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan
keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak
membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap
itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru
maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan
tugas-tugas menulis yang singkat saja. Atau bisa juga orang tua
meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada
anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.
2.
Menyajikan tulisan cetak
Berikan
kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar
menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau
mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat mengatasi
hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan
sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.
3.
Membangun rasa percaya diri anak
Berikan
pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali
menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa
rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat
anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang
sedang dilakukannya.
4.
Latih anak untuk terus menulis
Libatkan
anak secara bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat
kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang
menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman,
menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua,
dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak
disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf
dan kata dalam bentuk tulisan konkret.
Marfuah
Panji Astuti. Ilustrator: Pugoeh