Dunia Anak: Agar Kasus Tragis Haryanto Tidak Terulang Lagi
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun: Mengenal Gangguan Belajar Diskalkulia & Disgrafia
Dunia Sekolah: Sekolah Tanpa PR, Suatu Pilihan

 

Dunia Anak

AGAR KASUS TRAGIS HARYANTO TIDAK TERULANG LAGI

Namanya mendadak tenar sekaligus membuat kita para orang tua dan pendidik terhenyak. Bagaimana tidak, bocah polos yang masih duduk di kelas 6 SD ini ternyata berupaya mengakhiri hayatnya hanya karena sebab sepele. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kisah tragis seperti ini tidak terulang lagi?

 

 

 

 

 

Sejak kabar mengenai upaya bunuh dirinya dimuat di berbagai harian tanggal 24 Agustus lalu, hingga turunnya tulisan ini, sosok Haryanto (12) siswa kelas 6 SD Muarasanding IV Garut, Jawa Barat, tetap jadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan hangat.

Kisahnya yang terangkat ke permukaan sungguh mengenaskan: ia melakukan perbuatan nekat itu hanya lantaran tak mampu membayar ongkos materi pelajaran keterampilan sebesar Rp 2.500. Sementara kasus bunuh diri di kalangan anak, apa pun bentuknya, terbilang langka di Indonesia. Ini bisa dimengerti mengingat mayoritas penduduknya dikenal memiliki kehidupan beragama yang relatif kuat dan menganggap bunuh diri sebagai perbuatan tercela, bahkan dosa.

Tak heran bila kasusnya kemudian jadi pembicaraan banyak orang atau malah jadi kajian serius banyak pihak, seperti kalangan dokter, psikologi/psikiatri dan dunia pendidikan. Kita semua seperti tertohok dengan kejadian ini. Bagaimana mungkin seorang bocah SD punya keberanian untuk melakukan bunuh diri? Dari mana anak seusia ini, yang seharusnya masih berpola pikir sederhana mendapat inspirasi untuk melakukan tindakan nekat tersebut?

Menurut Sherly Saragih Turnip, Psi, meski tergolong "istimewa", kasus ini sebetulnya bukanlah kasus bunuh diri pertama di kalangan anak di Indonesia. "Kalau jadi kasus yang pertama kali terekspos, memang benar," tukas psikolog yang pernah menangani pasien usia 8-9 tahun yang melakukan percobaan bunuh diri dengan pisau dapur karena diperkosa tetangganya.

Berdasarkan masukan-masukan yang diperolehnya, Sherly yakin ada cerita yang tidak terangkat oleh pemberitaan yang bisa mengungkap mengapa Haryanto melakukannya. Boleh jadi ia memang memiliki tingkat kecerdasan dan daya tangkap di bawah rata-rata. Pasalnya, anak yang aktif secara fisik ini pernah berupaya menabrakkan diri ke motor atau mobil yang tengah melintas di dekat lokasi ia dan kawan-kawannya bermain. Tindakan itu dilakukan karena sekali waktu Haryanto merasa diuntungkan dengan uang ganti rugi pemberian pengendara motor yang menabraknya.

Nah, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan dan daya tangkap baik atau minimal rata-rata, menurut Sherly, pastilah akan berpikir berulang kali untuk mencari uang dengan cara menabrakkan diri seperti yang kemudian dilakukannya. Setidaknya anak tahu persis bahwa tindakan semacam itu merupakan tindakan "konyol" yang bisa menyebabkan luka parah atau malah kematian.

Sherly juga menduga perolehan nilai Haryanto yang selalu di bawah rata-rata kelas sedikit banyak berkaitan dengan cara berpikirnya yang kelewat naif. Dalam arti, ia tak mampu berpikir panjang memprediksikan risiko yang harus dihadapinya. Yang ada di pikirannya hanyalah "kenikmatan sesaat" berupa perolehan uang.

Keinginan menyakiti diri yang berujung pada tindakan bunuh diri ini juga diperkuat oleh kepribadian Haryanto yang impulsif alias tak bisa menahan diri. Dalam keseharian, contohnya, diizinkan atau tidak oleh guru, ia pasti akan keluar dari kelas meninggalkan pelajaran kalau memang itu yang dimauinya. Berdasarkan hal itu Sherly menduga bahwa Haryanto sebenarnya tidak benar-benar bermaksud bunuh diri. Ia hanya minta perhatian lebih dari orang tua maupun teman-teman. Toh, di mata gurunya sewaktu duduk di kelas 5, Haryanto adalah siswa istimewa. Perhatian dan pengertian tulus dari sang guru membuatnya luluh dengan mau menuruti apa yang dikatakannya dan tak pernah bikin ulah.

JANGAN ANGGAP REMEH

Bukan tidak mungkin pula Haryanto mengharapkan sesuatu dari orang lain yang telah membuatnya tertekan. Hal ini menjadi semacam "pelajaran" bagi orang-orang yang telah memposisikannya sebagai makhluk tak berdaya, sehingga ia terpuruk pada kebosanan menjalani kemiskinan dan kebodohan.

Sherly juga menduga, kemungkinan besar Haryanto adalah anak yang selama ini hampir tidak pernah didengarkan atau diperhatikan dengan sepenuh hati, baik itu pendapatnya, keinginannya, rasa ingin tahunya, hingga keinginannya untuk berbagi. Sungguh tragis bukan?

Apa pun alasannya, peristiwa bunuh diri yang dilakukan seorang anak tak seharusnya terjadi. Namun agaknya, daftar kisah tragis ini justru akan bertambah panjang. Kira-kira seminggu setelah peristiwa Haryanto, terjadi lagi peristiwa gantung diri (30/8) oleh siswa SD Argosari, Malang, bernama Muhammad Firdaus atau Abang (11). Hanya saja, kepergian anak yang dikenal penurut, baik, dan dermawan itu sarat dengan misteri, sehingga sulit menebak motivasinya dalam melakukan tindakan senekat itu.

Supaya kasus seperti ini tidak terulang lagi, Sherly menganjurkan agar orang tua dan guru mau bersikap terbuka terhadap masalah apa pun yang dihadapi anak. "Sikap terbuka ini harus ditunjukkan dengan sikap nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan tidak menganggap remeh apa pun yang dikemukakan anak, selain menunjukkan minat terhadap kesehariannya dengan menanyakan apa yang dialami dan dirasakannya sepanjang hari tadi tanpa nada menggurui, memerintah ataupun memaksakan. Orang tua sebaiknya mengarahkan anak untuk belajar berpikir menghadapi masalahnya."

Gazali Solahuddin. Foto: Zali/nakita & Dok. RS Hasan Sadikin

 

 

Beruntung Tulang Lehernya Tak Patah


Menurut dr. Suganda Sp.A(K), Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin yang menangani Haryanto, anak ini kemungkinan besar mengalami cacat, meski belum bisa diprediksikan bentuknya seperti apa.

Berapa lama tubuh Haryanto tergantung di seutas kabel memang tidak ada yang bisa memastikan. "Menurut laporan pihak keluarga, sih, 10 menit. Tapi kami menduga lebih dari itu, karena kalau di bawah 10 menit pasti cepat sadar, sementara sudah lebih dari 24 hari dia belum siuman. Kalaupun dia masih bertahan hidup, itu karena kasus gantung dirinya tergolong inkomplet, dimana korban tidak sepenuhnya tergantung karena kaki atau jemarinya masih menempel ke tanah. Tulang lehernya pun tidak patah, demikian juga saraf-saraf dan pembuluh darah di sekitar leher. Tapi itu baru dugaan, karena kami belum berani memeriksa bagian dalam. Yang jadi target utama kami sekarang adalah penyelamatan otaknya. Setelah otaknya tak lagi bengkak, baru dilihat seberapa jauh kerusakan yang terjadi," paparnya panjang lebar.

Zali. Foto: Zali/nakita

 

 

Bertingkah Laku Aneh

Anjar Hermansyah (10), teman sekelas sekaligus tetangga dekat, teman mengaji dan main bola, kelas 6 SDN Muarasanding IV, Garut


"Sejak kecil aku temenan sama dia. Sama-sama ke mesjid, ngaji, temen main maupun di sekolah, karena kebetulan kami sekelas. Dia anaknya baik dan rajin salat. Ngajinya juga hebat. Main bal oge Ato jago. Anjena kiper jago ngajleng newak bal. (Main bola dia juga jago. Dia itu kiper hebat yang bisa menangkap bola sambil lompat).

Ato juga suka minjem uang sama saya dan saya, mah, kasihkan saja, habis kasihan. Waktu kelas 5, dia pernah ketabrak motor, makanya sekarang kalau jalan ingkud-ingkudan (agak pincang). Sama yang punya motor dia dikasih uang. Eh, besoknya si Ato katanya malah pengen ditabrak lagi supaya dapat uang. Pernah juga sewaktu sedang main bola, tiba-tiba dia lari ke tengah jalan raya yang sedang ramai lalu lintasnya. Untung saja Aldi, teman saya dan Ato juga, narik dia ke pinggir jalan. Untungnya juga, mobil yang waktu itu sedang lewat langsung berhenti. Gimana atuh kalo tak keburu ngerem, maot sigana (meninggal sepertinya)."

Zali. Foto: Zali/nakita

 

 

Perbuatan Buruk

Galih Satrio Pambudio (9;5), kelas 4 SD Islam Al-Abrar, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat


"Bunuh diri? Jangan dong. Itu, kan, perbuatan buruk. Mendingan kita melakukan perbuatan yang baik-baik saja, seperti membantu orang tua atau menolong orang lain. Kalau ada anak SD yang ingin bunuh diri, itu artinya dia ada masalah. Sebaiknya dia segera dibawa ke dokter, barangkali dia menderita sakit tertentu. Orang tua seharusnya juga memperhatikan dan mengawasinya lebih ketat."

Hilman. Foto: Hilman/nakita

 

 

Ngeri Dan Aneh

Shiva Desnia (9), kelas 4 SD Pertiwi Sukasari III Bogor

"Aku pernah lihat acara televisi yang menayangkan berita soal bunuh diri. Kebetulan aku nonton bareng ayah, hingga bisa langsung tanya apa, sih, bunuh diri itu. Kata ayah, itu perbuatan yang dilarang agama, jadi jelas berdosa bila dilakukan. Pokoknya aku enggak mau lagi, deh, lihat tayangan seperti itu, apalagi yang badannya mengeluarkan banyak darah. Ngeri dan aneh rasanya kalau ada anak SD yang ingin bunuh diri."

Hilman. Foto: Dok. Pribadi

 

 

Nyesel Nurutin Ajakannya

Kamil Sundara (11), teman dekat Haryanto di sekolah, kelas 6 SDN Muarasanding IV, Garut


"Waktu itu memang ada tukang keterampilan ngademo di depan kelas. Pak guru oge ada, tapi lalu ke kantor heula. Jadi cuma kami yang langsung bertransaksi dengan pedagang itu. Harita kata si tukang dagang bayarannya bisa dicicil 3 hari, uangnya dititipkan saja sama Pak Guru. Yang jelas, Pak Guru, mah, enggak pernah sama sekali nyuruh-nyuruh kami beli karena enggak ada sangkut pautnya dengan nilai sekolah. Makanya ada 4 teman perempuan yang enggak beli.

Kalau Ato bunuh diri gara-gara keterampilan itu, saya jadi heran. Soalnya, Ato justru anu ngajak abdi sareng sadayana meser (Ato yang ngajak saya dan teman-teman beli). Waktu saya bilang enggak punya uang, dia malah makin serius. Saya nyesel kenapa sampai mau nurutin ajakan si Ato. Kalau enggak diturutin, mungkin Ato juga enggak beli dan enggak bakal ada kejadian ini."

Zali. Foto: Zali/nakita

 

 

Menyakiti Diri Sendiri

Siti Halida Zia (9 tahun), kelas 4 SD Ciomas V, Bogor


"Zia kasihan kalau memang ada anak SD bunuh diri gara-gara enggak bisa bayar kegiatan sekolah. Padahal sekolah itu, kan, penting buat masa depannya. Kalau memang ada masalah dengan sekolah, sebetulnya orang tua, kan, bisa membicarakannya dengan guru-guru atau kepala sekolah."

Hilman. Foto: Hilman/nakita

 

 

 

Merasa Berdosa

Yana Suryana (40), ayah Haryanto, kuli panggul di pasar Ciawitali, Garut


"Sebetulnya dia anak kebanggaan keluarga. Anjeuna cicingeun, teu seueur saur. Pami aya cariosan anu teu marenah kanu salirana, anjeuna, mah, ngeleh wae (Dia orangnya pendiam, tak banyak omong. Kalau ada omongan yang tidak mengenakkan, dia selalu ngalah). Kepada orang tua, dia juga tak pernah membantah. Ke adik-adiknya juga enggak pernah galak, meski adik nomor duanya suka nakal. Memang, sih, saya enggak terlalu dekat, tapi saya enggak pernah keras sama dia.

Makanya saya kaget sekali ada kejadian begini. Apalagi waktu kejadian, saya memang tidak sedang di rumah. Ibunya bilang, sih, dia minta uang sambil ngotot dan nangis meraung-raung. Padahal biasanya enggak pernah seperti itu. Dia tahu, kok, kondisi orang tuanya yang enggak mampu. Saya merasa berdosa sekali tak bisa memenuhi apa yang jadi kewajiban saya."

Zali. Foto: Zali/nakita

 

 

Baru Pertama Kali Ngotot

Karni (39), ibu Haryanto, ibu rumah tangga dengan 3 orang anak


"Di hari kejadian, sebelum berangkat sekolah, dia sudah saya kasih uang Rp 1000 untuk jajan dengan adiknya. Sebelumnya dia memang sudah minta uang Rp 2500, tapi tidak saya kasih karena benar-benar enggak ada uang. Bapaknya baru sembuh dan selama 2 hari belum kerja lagi. Sampai-sampai saya pinjam uang Rp 2000 ke tetangga buat beli minyak tanah. Nah, waktu itulah Ato maksa, katanya harus bayar sekarang karena tinggal dia yang belum bayar. Waktu saya jelasin kalau saya bener-bener enggak punya uang dia malah nangis sekeras-kerasnya sambil jalan menuju pojok rumah. Sempat saya dekati dia sambil bilang supaya enggak nangis, karena kalau nangis juga percuma, kami betul-betul enggak punya uang.

Karena tetap nangis, saya masuk dapur mau masak sayur bayem. Selagi ngupas bawang, saya sempat dengar suara gedebuk dari arah belakang rumah. Karena saya tahu Ato ada di sekitar situ, saya sauti, 'Ato kamu, teh, nanaonan?' tapi enggak ada sahutan. Baru setelah kelar ngupas bawang, saya keluar dan tanya sama adiknya yang kebetulan baru pulang sekolah. 'Rizal ari Aa tos angkat?' Dia bilang, 'Lihat saja sendiri di belakang, tadi, mah, bawa kabel.'

Waktu saya dekati Ato, saya baru tahu ada kabel di lehernya. Langsung dia saya angkat, tapi enggak kuat, makanya saya cuma bisa jerit-jerit. Untungnya ada tetangga yang dengar jeritan saya lalu manggil-manggil tetangga lain di depan rumah. Setelah itu saya enggak ingat apa-apa lagi."

Zali. Foto: Zali/nakita

 

 

Membayari Hutangnya

Drs. Rd. Rustiana (44), guru kelas 6 Haryanto di SD Muarasanding IV, Garut.


"Sebelum musibah terjadi, menjelang istirahat pertama dia minta izin pulang mau ambil uang. Saya izinkan dengan pertimbangan rumahnya relatif dekat, cuma sekitar 300 meter. Selain khawatir dia malu pada teman-temannya karena rupanya tinggal dia yang belum bayar ataupun menyicil pada si pedagang.

Nah, karena Haryanto pulang dan si tukang dagang sudah datang, sayalah yang membayarinya lebih dulu. Andai dia berterus terang tidak ada uang, sebetulnya juga tidak apa-apa. Toh, keterampilan tersebut bukan kewajiban dari sekolah. Sayangnya, musibah sudah terjadi dan saya tidak tahu harus berbuat apa, sementara masyarakat memvonis saya sebagai pihak yang bersalah."

Zali. Foto: Zali/nakita

 

 

Anak "Istimewa"

Lina Lasmini (42), guru Haryanto sewaktu kelas 5, SDN Muarasanding IV, Garut

"Terus terang saya memang lebih mengenal Haryanto dibanding Pak Rustiana. Di mata saya, dia murid baik. Hanya saja kecerdasannya terbilang kurang karena dia sukar menangkap pelajaran. Saya pesankan pula, bahwa Ato termasuk anak yang perlu dapat perhatian lebih, karena hanya dengan cara itulah dia mungkin bisa maju."

Zali. Foto: Zali/nakita