|
|
|
|
Dunia
Sekolah
MEMILIH ESKUL
Banyak
kegiatan ekstrakulikuler yang ditawarkan oleh sekolah. Bagaimana
memilih yang pas buat anak kita?
Di
sekolah dasar, anak-anak diharapkan memiliki kemampuan membaca,
menulis, menghitung, mengenal dasar-dasar keagamaan, kewarganegaraan,
memiliki emosi berupa kepedulian pada orang lain, menerapkan nilai-nilai
empati, etika, estetika, dan keterampilan hidup sederhana. "Namun
Karena keterbatasan waktu, tidak semua tujuan itu tercapai melalui
kegiatan intrakulikuler di dalam kelas," kata Dra. Nurhattati
Fuad, M.Pd dari Laboratorium Manajemen Pendidikan Universitas
Negeri Jakarta.
Untuk
itulah perlu diadakan kegiatan ekstrakulikuler, sehingga semua
tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan di sekolah akan terwujud.
"Jelas, kan, tujuan kegiatan ekstrakulikuler ini adalah mendukung
pencapaian kegiatan intrakulikuler," simpul Nurhattati.
Lewat kegiatan ekstrakulikuler, seorang siswa dapat lebih mendalami
mata pelajaran atau hobi yang menjadi minatnya. Jika diikuti dengan
sungguh-sungguh dan tidak terpaksa, kegiatan itu akan ikut membentuk
pengembangan kepribadian anak. "Dalam sebuah kelompok ekstrakulikuler,
ia bisa memupuk kemampuan memimpin dan bekerjasama dengan orang
lain. Dan yang lebih pasti, anak dapat mengisi waktu senggangnya
dengan hal-hal yang produktif. Apalagi, penekanan kurikulum pendidikan
sekarang lebih ke arah kepribadian yang utuh menyeluruh."
POIN-POIN MEMILIH EKSTRAKULIKULER
Biarkan anak-anak memilih sendiri kegiatan ekstrakulikuler yang
menjadi minatnya. Orang tua hanya membantu memberi gambaran dengan
berpegang pada kemampuan tidak akan memupuk salah satu potensi
kemampuan di usianya seperti berikut:
*Sosialisasi dengan lingkungan, sehingga ia bisa berteman dengan
baik, dan memiliki kepedulian terhadap orang lain karena anak
SD cenderung masih 'lengket' pada orang tuanya.
*Membaca, menulis, dan menghitung. Misalnya, kegiatan kepustakaan
yang tahu menghargai anak-anak yang bisa menyelesaikan beberapa
buku dalam waktu tertentu.
*Menyadari pentingnya kesehatan. Misalnya, kegiatan dokter kecil
ataupun Usaha Kesehatan Sekolahnya. Dengan begitu anak bisa belajar
tentang perlunya kebersihan lingkungan dan kesehatan diri.
*Melatih disiplin, misalnya Pramuka atau cabang kesenian yang
membutuhkan konsentrasi seperti teater atau mengarang.
*Mengembangan fisik, misalnya sepak bola, renang, dan basket.
Selain jadi lebih sehat, anak juga menjadi lebih terarah aktivitas
fisiknya.
*Mengutamakan dinamika kelompok. Misalnya, kegiatan yang dikemas
dengan sistem permainan, sehingga anak tidak menjadi bosan dan
jenuh.
Marfuah Panji Astuti.Foto:Dok.nakita
|
|
Tips Untuk Orang Tua
Ada
beberapa hal yang bisa disarankan jika orang tua harus memilihkan
kegiatan ekstrakulikuler bagi anak-anaknya:
1. Orang tua harus mengetahui bakat dan minat anak.
Amati ketertarikan anak, lebih banyak ke bidang apa, ajak
diskusi anak dan guru mengenai minat anak, atau bisa juga
libatkan ahli dengan mengikuti tes potensi untuk anak. Sehingga
anak dapat diketahui dengan jelas bakat dan minatnya itu
kearah mana. Ada anak yang berbakat verbal, numerik, kinetik
(gerak), dan sebagainya.
2. Memilihkan kegiatan yang sesuai dengan potensi
yang telah diketahui tadi.
3. Memantau kegiatan yang dilakukan anak. Bermanfaat
atau tidak? Misalnya anak yang biasanya hanya mau main playstation
setelah ikut kegiatan Pramuka menjadi lebih bisa mendisiplinkan
diri. Berarti kegiatan ekstrakulikuler ini ada manfaatnya.
4. Ketika hendak memasukkan anak ke sekolah, orang
tua sebaiknya juga menanyakan kegiatan ekstrakulikuler yang
diselenggarakan di sekolah itu. Tidak hanya pelajaran intrakulikuler
saja yang ditanyakan.
5. Bila jarak rumah dan sekolah jauh, sehingga anak
menjadi kelelahan karena harus kembali ke sekolah untuk
mengikuti kegiatan ekstrekulikuler, hal itu sebaiknya juga
menjadi pertimbangan orang tua. Jangan samapi kegiatan ekstrakulikuler
ini akhirnya akan mengganggu kegiatan intrakulikuler.
Uttiek
|
|
Pilih Eskul Atau Les
Seandainya
ada pilihan ikut les atau ekstrakulikuler, mana yang harus
didahulukan? Idealnya, semua kegitan yang dibutuhkan siswa
ini dapat dipenuhi oleh sekolah. Namun, karena keterbatasan
dalam banyak hal, maka banyak orang tua 'lari' mencarikan
tempat les untuk anak-anaknya. Jika orang tua memilih memberikan
les-les tambahan untuk anaknya, di situ sebaiknya juga ada
anak-anak lain. Kalau semua dilakukan sendirian, maka akhirnya
hanya akan membentuk individu-individu yang egois. Pun,
sampai batasan tertentu anak sebaiknya tetap mengikuti kegiatan
ekstrakulikuler di sekolah. Di sinilah dituntut peran sekolah
untuk membuat kegiatan ekstrakulikuler itu menjadi semenarik
mungkin.
Uttiek
|
|
|