Dunia Anak: Sekolah Bikin Stres
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun/1:Anak "Ketagihan" Diladeni? Salah Orang Tua
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun/2:Ketika Anak Mulai "Genit
Dunia Sekolah:Memilih Eskul

 

Tumbuh Kembang
KETIKA ANAK MULAI 'GENIT'

Tak perlu menanggapinya berlebihan, apalagi disertai larangan dan kekangan yang justru memunculkan protes keras.

Sebelum berangkat ke sekolah, si Buyung terlihat sibuk mematut diri di depan cermin.
Rambutnya diolesi gel/minyak rambut hingga terlihat rapi sekaligus mengkilap. Lain lagi si Upik yang repot mematut-matut warna bandana model terbaru agar terlihat serasi
dengan baju seragamnya plus semprotan parfum disebarkan ke seluruh tubuh. Genit?

Ternyata, kata psikolog Dra. Psi. Tisna Chandra, wajar saja dan orang tua tak perlu kebakaran jenggot dibuatnya. "Usia 9-12 tahun memang masa transisi, perpindahan dari masa kanak-kanak ke masa remaja." Masa ini biasanya dimulai setelah terjadi perubahan biologis, yaitu haid, pembesaran di bagian tubuh tertentu atau tumbuhnya rambut halus di daerah pubis/kemaluan dan mimpi basah pada anak lelaki. Tapi bisa juga terjadi sebelum perubahan-perubahan itu terjadi. "Anak sekarang, kan, dapat haidnya lebih cepat. Begitu juga anak lelaki yang lebih dini mendapat mimpi basah karena selain gizinya lebih bagus juga pengaruh lingkungan yang luar biasa besar. Nah, perubahan inilah inti dari mengapa anak mulai memperhatikan/mengutamakan penampilannya."

Seiring dengan peralihan tersebut, anak juga mengalami perubahan fisik. Hormon-hormon tertentu mulai bekerja, yang kemudian memunculkan aroma tertentu dari ketiak. Karena tak mau tubuhnya bau dengan alasan malu atau tak ingin mengganggu teman/lingkungan, anak mulai menggunakan minyak wangi atau deodoran. Ia juga mulai memperhatikan soal penampilan, tak secuek ketika kanak-kanak.

ALASAN BERUBAH

Berikut sejumlah alasan perubahan pada anak dalam masa transisi.
l Ingin Ubah Image
Anak emoh dibilang anak kecil lagi. Dia berusaha meniru perilaku dan penampilan orang dewasa. Semisal, pakai gel rambut, minyak wangi, potongan rambut dan busana yang trendy. Di sisi lain, anak masih belum lepas dari kebiasaannya selama ini, seperti bermanja-manja pada orang tua. Kontradiksi inilah yang kerap membuat bingung orang tua. Yang pasti, anak ingin mengubah image dirinya dari anak kecil menjadi remaja. Makanya, ia berusaha keras menjaga image ini sambil secara perlahan melepas sifat kanak-kanaknya.
l Tertarik Lawan Jenis
Sangat wajar jika di usia ini anak sudah mulai tertarik pada lawan jenis. Nah, dalam rangka menarik lawan jenis itulah anak mulai mengutamakan penampilannya. Penampilan diri yang terjaga membuat anak merasa lebih percaya diri.
l Memang Senang Rapi
Buat anak tertentu, menjaga penampilan merupakan hal yang harus benar-benar diperhatikan. Anak tipe ini biasanya tak kelewat peduli apakah karena penampilannya akan ada orang yang tertarik pada dirinya atau tidak. Yang jelas, penampilan yang benar-benar terjaga tadi bisa membuatnya merasa nyaman. Mereka ini umumnya sejak kecil sudah ditanamkan/dibiasakan berpenampilan baik.
l Meniru
Bila di usia prasekolah peniruan anak sebatas kata-kata atau perilaku yang sederhana, di usia praremaja sudah bersifat kompleks. Tak cuma sebatas kata-kata, sifat, perilaku ataupun kebiasaan tertentu, tapi juga hal-hal spesifik secara detail. Misalnya, apa saja yang dipakai saat berdandan. Peniruan ini tak harus dari orang tua, tapi juga bisa datang dari kakak, teman, atau tokoh idola. Gaya rambut F4, misalnya.

MEMANG PERLU ATAU INGIN?

Menurut Tisna, perilaku anak seperti ini bisa berdampak positif, yakni anak jadi lebih memperhatikan penampilan dirinya hingga terlihat lebih rapi dan lebih enak dilihat. Di usia awal sekolah anak cenderung berpenampilan jorok, semisal pakai baju sembarangan, kaki dan tangannya penuh bekas luka akibat terjatuh serta rambut yang acak-acakan. Nah, bila anak kini mulai mengutamakan penampilannya, orang tua juga ikut diuntungkan karena tak harus repot mengatur ini-itu.

Hanya saja, pesan Tisna, meski mulai memperhatikan penampilan dirinya, anak masih tetap di bawah asuhan orang tua. Mau tidak mau orang tua perlu mengarahkan agar bisa positif. Soalnya, tanpa pengarahan yang tepat, bisa-bisa penampilan maupun perilaku anak jadi negatif. Pengarahan salah, ujar Tisna mencontohkan, di antaranya dapat memunculkan sikap konsumtif, gengsian, dan tak mau "kalah set" dengan temannya. Maunya cuma sepatu mahal kayak sang teman, misalnya.

Padahal, yang sering dijadikan "patokan" peniruan bukan cuma sepatu, tapi juga aksesori lain sampai ke HP, dan sebagainya. Di sini, kata Tisna, orang tua mesti tegas dan tak selalu menuruti kemauan anak. "Selalu pertanyakan kembali, apakah permintaannya betul-betul merupakan kebutuhan atau sebatas keinginan." Bila sepatu lama masih bagus dan nyaman dipakai, bujuk anak untuk tetap memakainya.

Yang tak kalah penting, tandas Tisna, jangan lupa untuk senantiasa menumbuhkan rasa percaya diri anak. Dengan demikian ia punya pendirian/motivasi sendiri dan tak gampang terpengaruh apalagi ikut-ikutan. Soalnya, anak jadi cenderung berperilaku konsumtif.

ARAHKAN & "NIKMATI"

Tak perlu juga marah-marah, "Ngapain, sih, gengsi-gengsian, memangnya kamu anak konglomerat?" Sebab, anak tak akan memperoleh rasa percaya diri, melainkan tertekan atau bahkan mungkin berontak. Diakui Tisna, anak usia ini kadang berpenampilan aneh dan cenderung nyentrik. Saat tergila-gila pada trend tertentu, ia tak peduli ayah-ibunya setuju atau tidak. "Yang penting aku tampil keren," begitu pikirnya. Sayangnya, ketidaksetujuan orang tua muncul dalam bentuk respon negatif yang malah menimbulkan kemarahan, protes keras, atau ketidaksenangan anak. Akibatnya, komunikasi antara orang tua dengan anak akan rusak.

Padahal, komunikasi yang terganggu akan berdampak merugikan. Anak jadi kehilangan rasa percaya diri dan tak tahu harus bicara pada siapa. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang branded oriented alias berorientasi pada merek tertentu yang mungkin saja berkembang jadi pribadi matre. Ia juga akan tumbuh jadi pembangkang, hingga masalah makin sulit dicarikan solusinya.

Jadi, saran Tisna, bersikaplah bijaksana dengan tetap mengarahkan, tapi bukan mengendalikan anak mengingat emosinya bisa meledak-ledak seketika. "Orang tua juga harus menghadapi sekaligus 'menikmati' perubahan yang terjadi pada anak sebagai sesuatu yang sangat normal dan pasti dialami semua anak."

Yang juga kurang bijaksana, lanjut Tisna, jika orang tua justru "mengajari" anak dengan membelikan barang mahal atau menyuruh ikut trend hanya karena soal gengsi alias tak mau kalah dengan orang tua lain yang anaknya keren dan berpakaian serbamahal. "Hati-hati karena bisa jadi bumerang. Anak jadi sangat bergantung pada benda-benda tersebut dan saat tak memilikinya, ia jadi tak percaya diri."

Irfan Hasuki.Foto:Ferdy/nakita