Tumbuh
Kembang
KETIKA ANAK MULAI 'GENIT'
Tak
perlu menanggapinya berlebihan, apalagi disertai larangan dan
kekangan yang justru memunculkan protes keras.
Sebelum
berangkat ke sekolah, si Buyung terlihat sibuk mematut diri di
depan cermin.
Rambutnya diolesi gel/minyak rambut hingga terlihat rapi sekaligus
mengkilap. Lain lagi si Upik yang repot mematut-matut warna bandana
model terbaru agar terlihat serasi
dengan baju seragamnya plus semprotan parfum disebarkan ke seluruh
tubuh. Genit?
Ternyata,
kata psikolog Dra. Psi. Tisna Chandra, wajar saja dan orang
tua tak perlu kebakaran jenggot dibuatnya. "Usia 9-12 tahun
memang masa transisi, perpindahan dari masa kanak-kanak ke masa
remaja." Masa ini biasanya dimulai setelah terjadi perubahan
biologis, yaitu haid, pembesaran di bagian tubuh tertentu atau
tumbuhnya rambut halus di daerah pubis/kemaluan dan mimpi basah
pada anak lelaki. Tapi bisa juga terjadi sebelum perubahan-perubahan
itu terjadi. "Anak sekarang, kan, dapat haidnya lebih cepat.
Begitu juga anak lelaki yang lebih dini mendapat mimpi basah karena
selain gizinya lebih bagus juga pengaruh lingkungan yang luar
biasa besar. Nah, perubahan inilah inti dari mengapa anak mulai
memperhatikan/mengutamakan penampilannya."
Seiring
dengan peralihan tersebut, anak juga mengalami perubahan fisik.
Hormon-hormon tertentu mulai bekerja, yang kemudian memunculkan
aroma tertentu dari ketiak. Karena tak mau tubuhnya bau dengan
alasan malu atau tak ingin mengganggu teman/lingkungan, anak mulai
menggunakan minyak wangi atau deodoran. Ia juga mulai memperhatikan
soal penampilan, tak secuek ketika kanak-kanak.
ALASAN
BERUBAH
Berikut
sejumlah alasan perubahan pada anak dalam masa transisi.
l Ingin Ubah Image
Anak emoh dibilang anak kecil lagi. Dia berusaha meniru perilaku
dan penampilan orang dewasa. Semisal, pakai gel rambut, minyak
wangi, potongan rambut dan busana yang trendy. Di sisi lain, anak
masih belum lepas dari kebiasaannya selama ini, seperti bermanja-manja
pada orang tua. Kontradiksi inilah yang kerap membuat bingung
orang tua. Yang pasti, anak ingin mengubah image dirinya dari
anak kecil menjadi remaja. Makanya, ia berusaha keras menjaga
image ini sambil secara perlahan melepas sifat kanak-kanaknya.
l Tertarik Lawan Jenis
Sangat wajar jika di usia ini anak sudah mulai tertarik pada
lawan jenis. Nah, dalam rangka menarik lawan jenis itulah anak
mulai mengutamakan penampilannya. Penampilan diri yang terjaga
membuat anak merasa lebih percaya diri.
l Memang Senang Rapi
Buat anak tertentu, menjaga penampilan merupakan hal yang
harus benar-benar diperhatikan. Anak tipe ini biasanya tak kelewat
peduli apakah karena penampilannya akan ada orang yang tertarik
pada dirinya atau tidak. Yang jelas, penampilan yang benar-benar
terjaga tadi bisa membuatnya merasa nyaman. Mereka ini umumnya
sejak kecil sudah ditanamkan/dibiasakan berpenampilan baik.
l Meniru
Bila
di usia prasekolah peniruan anak sebatas kata-kata atau perilaku
yang sederhana, di usia praremaja sudah bersifat kompleks. Tak
cuma sebatas kata-kata, sifat, perilaku ataupun kebiasaan tertentu,
tapi juga hal-hal spesifik secara detail. Misalnya, apa saja yang
dipakai saat berdandan. Peniruan ini tak harus dari orang tua,
tapi juga bisa datang dari kakak, teman, atau tokoh idola. Gaya
rambut F4, misalnya.
MEMANG
PERLU ATAU INGIN?
Menurut
Tisna, perilaku anak seperti ini bisa berdampak positif, yakni
anak jadi lebih memperhatikan penampilan dirinya hingga terlihat
lebih rapi dan lebih enak dilihat. Di usia awal sekolah anak cenderung
berpenampilan jorok, semisal pakai baju sembarangan, kaki dan
tangannya penuh bekas luka akibat terjatuh serta rambut yang acak-acakan.
Nah, bila anak kini mulai mengutamakan penampilannya, orang tua
juga ikut diuntungkan karena tak harus repot mengatur ini-itu.
Hanya
saja, pesan Tisna, meski mulai memperhatikan penampilan dirinya,
anak masih tetap di bawah asuhan orang tua. Mau tidak mau orang
tua perlu mengarahkan agar bisa positif. Soalnya, tanpa pengarahan
yang tepat, bisa-bisa penampilan maupun perilaku anak jadi negatif.
Pengarahan salah, ujar Tisna mencontohkan, di antaranya dapat
memunculkan sikap konsumtif, gengsian, dan tak mau "kalah
set" dengan temannya. Maunya cuma sepatu mahal kayak sang
teman, misalnya.
Padahal,
yang sering dijadikan "patokan" peniruan bukan cuma
sepatu, tapi juga aksesori lain sampai ke HP, dan sebagainya.
Di sini, kata Tisna, orang tua mesti tegas dan tak selalu menuruti
kemauan anak. "Selalu pertanyakan kembali, apakah permintaannya
betul-betul merupakan kebutuhan atau sebatas keinginan."
Bila sepatu lama masih bagus dan nyaman dipakai, bujuk anak untuk
tetap memakainya.
Yang
tak kalah penting, tandas Tisna, jangan lupa untuk senantiasa
menumbuhkan rasa percaya diri anak. Dengan demikian ia punya pendirian/motivasi
sendiri dan tak gampang terpengaruh apalagi ikut-ikutan. Soalnya,
anak jadi cenderung berperilaku konsumtif.
ARAHKAN
& "NIKMATI"
Tak
perlu juga marah-marah, "Ngapain, sih, gengsi-gengsian,
memangnya kamu anak konglomerat?" Sebab, anak tak akan memperoleh
rasa percaya diri, melainkan tertekan atau bahkan mungkin berontak.
Diakui Tisna, anak usia ini kadang berpenampilan aneh dan cenderung
nyentrik. Saat tergila-gila pada trend tertentu, ia tak
peduli ayah-ibunya setuju atau tidak. "Yang penting aku tampil
keren," begitu pikirnya. Sayangnya, ketidaksetujuan orang
tua muncul dalam bentuk respon negatif yang malah menimbulkan
kemarahan, protes keras, atau ketidaksenangan anak. Akibatnya,
komunikasi antara orang tua dengan anak akan rusak.
Padahal,
komunikasi yang terganggu akan berdampak merugikan. Anak jadi
kehilangan rasa percaya diri dan tak tahu harus bicara pada siapa.
Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang branded oriented alias
berorientasi pada merek tertentu yang mungkin saja berkembang
jadi pribadi matre. Ia juga akan tumbuh jadi pembangkang, hingga
masalah makin sulit dicarikan solusinya.
Jadi,
saran Tisna, bersikaplah bijaksana dengan tetap mengarahkan, tapi
bukan mengendalikan anak mengingat emosinya bisa meledak-ledak
seketika. "Orang tua juga harus menghadapi sekaligus 'menikmati'
perubahan yang terjadi pada anak sebagai sesuatu yang sangat normal
dan pasti dialami semua anak."
Yang
juga kurang bijaksana, lanjut Tisna, jika orang tua justru "mengajari"
anak dengan membelikan barang mahal atau menyuruh ikut trend hanya
karena soal gengsi alias tak mau kalah dengan orang tua lain yang
anaknya keren dan berpakaian serbamahal. "Hati-hati karena
bisa jadi bumerang. Anak jadi sangat bergantung pada benda-benda
tersebut dan saat tak memilikinya, ia jadi tak percaya diri."
Irfan
Hasuki.Foto:Ferdy/nakita