Tumbuh
Kembang 6-12 Tahun
ANAK "KETAGIHAN" DILADENI? SALAH ORANG TUA
Biar
tak berlanjut hingga dewasa, kita harus mengarahkannya dengan
sikap tegas.
Sering,
kan, pagi-pagi kita repot membangunkan anak, memandikan, sampai
menyuapi sarapan. Bahkan, si ibu pula yang harus mengantar ke
sekolah. Kalau masih TK, wajar. Tapi ini anak SD, lo.
Menurut
Ike R. Sugiarto, Psi. jelas ini bukan kebiasaan baik. "Di
usia sekolah, seharusnya anak bisa melakukannya sendiri,"
tutur psikolog dari Klinik Anakku, Jakarta. Apalagi bila orang
tua malah mentolerir kebiasaan si anak, "Dia jadi terlalu
tergantung pada orang tua serta tak pernah mandiri." Jangan
harap pula anak punya rasa tanggung jawab dan punya keterampilan
tertentu karena selalu ada yang melayani dan membantu.
Yang
lebih celaka, dia menganggap dirinya bos sementara orang tua dipandang
rendah. "Anak juga bisa tantrum, gampang meledak,
melawan, berkata kasar, jika permintaannya tak terpenuhi. "Cara
mengatasinya? "Cuma satu. Orang tua harus tegas! Jadi, anak
tahu, tak semua keinginannya bisa dituruti."
MULAI
DARI AWAL LAGI
Kemandirian,
kata Ike,seharusnya sudah diajarkan saat usia 3-5 tahun. Kalau
baru dilakukan di usia SD, "Terlambat karena anak sudah sulit
diatur gara-gara terbiasa dilayani." Apalagi,
tiap anak memiliki periode tertentu untuk dirangsang kemampuannya.
Misalnya, usia 0-1 tahun, adalah saat tepat untuk mengembangkan
kepercayaannya. Usia 1-3 tahun untuk mengembangkan kemandirian,
dan seterusnya. "Jika rangsangan diberikan melewati periode
tadi, ia akan menemukan kesulitan, baik dalam proses belajar maupun
adaptasinya."
Kendati
terlambat, daripada keterusan, akan lebih baik bila anak diajarkan
mandiri. Jangan lupa, kemandirian sangat penting bagi anak. Terlebih
sudah di usia SD. Selain karena tuntutan belajarnya mulai banyak,
ia juga tak bisa terus-menerus dibantu orang tuanya. Bukankah
ia sudah banyak melakukan aktivitas di luar sekolah bersama teman-temannya,
seperti acara berkemah. Nah, ia bakal kerepotan jika tak ada yang
melayani.
Secara
bertahap, saran Ike, bantuan orang tua harus dilepas. Cara mengajarkannya
persis mengajari anak prasekolah alias mulai dari awal lagi. "Berat,
memang. Apalagi anak sudah terbiasa dilayani." Soal menyisir
rambut, misalnya. Mula-mula ajari cara menyisir, biarkan ia mencoba,
dan baru beri bantuan jika tak rapi.
Sekali
lagi, tekan Ike, "Sikap tegas orang tua amat diperlukan."
Biarkan pula anak menanggung konsekuensinya. Maksudnya, jika ia
"ngambek" gara-gara harus pakai sepatu sendiri
dan sengaja mengulur-ulur waktu saat mengenakannya sehingga terlambat
masuk sekolah, biar saja ia menanggung konsekuensinya, yaitu beban
hukuman dari pihak sekolah atau guru. "Jadi, besok-besok
ia kapok mengulangi perbuatannya."
SITUASI
TERTENTU
Begitu
banyak manfaat kemandirian bagi anak. Di sisi lain, tak berarti
orang tua sama sekali tak boleh membantu anak. "Tetap boleh,
tapi pada situasi dan kondisi tertentu," kata Ike. Misalnya,
u Saat anak sakit
Biasanya karena sakit, kondisi tubuh anak jadi lemah sehingga
gairahnya untuk beraktivitas pun menurun. Dalam kondisi ini bantuan
orang tua masih bisa ditolerir. Tapi segera hentikan bantuan ketika
anak sudah sembuh agar tak keterusan.
u Terlambat bangun
Bangun kesiangan bisa membuat anak terlambat berangkat sekolah.
Intervensi orang tua diperlukan di sini, selain juga harus mencari
solusi agar anak tidak bangun terlambat. Misalnya, melarang anak
menonton teve hingga larut malam. Sebaiknya juga tak semua dibantu
orang tua. Misalnya, anak memakai seragam, orang tua membantu
merapikan buku-bukunya.
u Punya gangguan motorik
Misalnya penderita Cerebral Palsy (CP). Bantuan orang
tua masih diperlukan selama kemampuan motoriknya belum membaik.
Saat
membantu anak dalam kasus bangun terlambat atau sakit, lanjut
Ike, "orang tua harus menjelaskan, bantuannya semata diberikan
pada situasi tertentu. "Karena kamu sakit, jadi Ibu layani.
Tapi kalau sudah sembuh, ya, harus sudah bisa sendiri, ya."
Bersikaplah konsisten dengan ucapan itu.
Baik
juga bila sesekali anak diberi contoh langsung semisal teman atau
saudara sebayanya yang mandiri. Izinkan anak menginap di rumahnya
atau ajak suadaranya bermalam di rumah sehingga ia bisa belajar
serta meniru kemandirian saudaranya. Tapi, kata Ike, "Jangan
mempermalukan anak dengan membanding-bandingkan." Contohnya,
"Lihat, tuh, teman-teman kamu sudah bisa sendiri. Kamu, kok,
enggak bisa? Payah!" Anak jadi tak terdorong untuk mandiri,
melainkan malah rendah diri.
Saeful
Imam.Foto:Ferdy/nakita