Dunia Anak: Sekolah Bikin Stres
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun/1:Anak "Ketagihan" Diladeni? Salah Orang Tua
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun/2:Ketika Anak Mulai "Genit
Dunia Sekolah:Memilih Eskul

 

Dunia Anak
SEKOLAH BIKIN STRES

Enggak bakal terjadi bila guru mengajar "enak" dan mudah dimengerti anak.

Banyak orang tua mengeluh, pendidikan anak usia sekolah dasar di Indonesia
sangat memberatkan anak alias bikin stres. Lihat saja, betapa gembiranya anak didik bila kalender merah atau gurunya berhalangan hadir. Jadi, yang paling disukai anak didik adalah jam pelajaran yang enggak ada gurunya atau hari libur. Mengapa ini bisa terjadi?

Menurut Johana Ratrin H., Psi, jika yang digunakan sistem konvensional, sangat besar kemungkinan anak mengalami stres. "Kalau sudah begini biasanya anak malas belajar," jelas psikolog dari Universitas Atma Jaya yang kerap dipanggil Jo.

Selain itu, bisa terjadi juga pada sekolah yang sangat mementingkan prestasi dan kejar target kurikulum. "Di sekolah seperti itu anak diberikan semua ilmu pengetahuan yang ada alias borongan. Bisa tak bisa, anak harus menyesuaikan diri dengan materi yang diajarkan guru."

Yang juga kerap jadi pemicu, jadwal pelajaran yang terlampau banyak, sehingga membebani anak. "Bayangkan saja bagaimana anak tidak stres jika satu hari harus belajar hingga 6 pelajaran dari jam 07.00 hingga jam 13.00."

Bukan itu saja, jumlah siswa yang tak sebanding dengan jumlah guru dan kapasitas ruangan, juga jadi pemicu. "Beban guru jadi terlalu berat dalam mengajar. Sehingga kebanyakan guru hanya mengajar sebatas menjalankan kewajibannya sebagai pengajar, yang mengajarkan mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Padahal, guru pun harus berfungsi sebagai pendidik, kan?"

Sementara itu, papar Jo, sedikit sekali guru di Indonesia yang tahu cara mengajar yang baik bagi murid-muridnya. "Umumnya mereka memberikan hal sama dengan saat kita atau dirinya mengenyam pendidikan di SD tempo dulu. Tiap harinya mencatat, mendengarkan, menyalin, membaca, serta latihan. Kalau setiap hari ketemu yang itu-itu saja, mereka akan bosan."

Ironisnya lagi, lanjut Jo, guru acap kali menempatkan dirinya sebagai "si segala tahu", yang tak mau dikritik anak didik. Mau tak mau, anak pun akan membenarkan semua yang dikatakan guru. "Belum lagi jika anak harus berhadapan dengan guru yang sangar atau suka marah, dan suka memberikan label bodoh pada anak didiknya, sehingga murid sering ketakutan duluan. Tak heran bila baru mendengar mata pelajarannya saja anak sudah stres duluan." Padahal, papar Jo, hubungan guru dengan murid harus hangat, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

TUNTUTAN KELEWAT TINGGI

Yang disayangkan pula, papar Jo, sistem pendidikan di Indonesia kurang memahami perkembangan anak usia ini. "Banyak orang, begitu juga guru, yang menganggap anak usia SD sudah seharusnya bisa belajar lebih serius. Padahal, di usia ini pun konsep pemikiran anak masih praoperasional." Ditambah lagi, lanjut Jo, "Yang menyedihkan, sekolah kurang sekali mengasah kemampuan motorik halus dan kasar anak. Padahal kebutuhan anak akan hal ini sangat besar, lo."

Memang, akunya, ini bukan salah guru semata. "Problematika pendidikan memang cukup kompleks. Tuntutan dan tanggung jawab guru sangat besar, tapi penghasilannya tidak memadai. Belum lagi minimnya pembekalan pendidikan mengenai anak usia ini. Kecuali guru-guru di sekolah yang berskala internasional."

Sikap yang tidak bijaksana pula bila orang tua menambah stres anak. Misalnya anak selalu di-drill alias tak pernah diberi "napas" untuk mengistirahatkan otaknya. Pulang sekolah harus pula ikut les ini-itu. Sudah capek di sekolah, di rumah harus belajar untuk keesokan hari dan mengerjakan PR. Ikut banyak kursus pula. "Siklus fisiologis tubuh, kan, setelah digunakan butuh istirahat sebelum dipakai lagi. Dengan demikian kesegaran tetap terjaga."

BUKAN KARENA PELAJARAN

Jadi, yang kerap kali membuat anak stres, papar Jo, bukanlah mata pelajaran tertentu, seperti matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, atau olahraga. "Karena semua pelajaran bisa saja membuat stres jika situasi dan kondisi anak dihadapkan pada apa yang disebutkan di atas."

Sementara kalaupun ada anak yang stres pada mata pelajaran tertentu, paparnya, biasanya terjadi karena kemampuan anak dalam bidang tersebut kurang. "Tapi sebenarnya bisa diminimalisir jika cara mengajar guru disukai anak. Malah besar kemungkinannya anak akan menyukai pelajaran tersebut."

Nah, untuk mengurasi stres karena sistem pembelajaran di sekolah, seyogyanya orang tua juga turut membantu anak. "Janganlah mengulang kesalahan yang pernah kita alami dulu. Biarkan anak berkembang dan belajar sesuai dengan kemampuannya. Janganlah merasa bangga bisa mengursuskan anak ke berbagai tempat dan menuntut anak menjadi selalu nomor satu di sekolah."

Lantas, apa peran guru? "Buatlah acara belajar lebih fun." Kuncinya, bermain. "Pokoknya guru harus membuat anak tertarik dulu terhadap pelajaran yang akan disampaikan." Perbanyak dengan mengelaborasi sesuatu yang konkret. Mengajak anak ke kebun melihat tumbuhan yang dipelajarinya atau dalam matematika menggunakan alat peraga sehingga anak bisa dengan mudah menyerap dan memahaminya, "Oh, kalau 3 lilin x 3 lilin = 9 lilin. Itu hasil dari 3 lilin ditambah 3 lilin dan ditambah 3 lilin lagi."

Namun jika anak didikte, kemudian mengerjakan soal dengan sesuatu yang sifatnya masih abstrak, terlalu berat bagi anak. "Lain hal jika anak telah SMP atau SMA." Ini pun sifatnya sementara, anak akan cepat lupa dengan apa yang diajarkan. "Inilah yang memicu anak jadi stres belajar atau pada pelajaran tertentu. 'Pokoknya 2+2= 4, 4x4= 16, 10:10= 1. Kalau hapal, kamu mudah mengerjakan soal."

Berikutnya, jumlah murid jangan terlalu banyak. Idealnya 20-25 anak. "Lebih baik lagi jika hanya 18 anak setiap kelasnya." Dengan seperti ini guru bisa memberikan perhatian pada muridnya secara menyeluruh, selain beban guru juga jadi tak terlalu berat. Guru tidak melulu menjejali anak dengan materi-materi pelajaran, tapi memancing anak untuk mau mengungkapkan pendapat dan mau berdiskusi secara terbuka. Ajak anak berperan aktif dalam memecahkan masalah. Biarkan anak mencari solusi dan menyelesaikan masalah secara bersama dengan teman-temannya. "Manfaat yang diperoleh, anak bisa menambah pengetahuan dari temannya, selain juga mengasah keterampilan sosialnya."

Idealnya lagi, papar Jo, jadwal pelajaran anak paling banyak tiga atau empat mata pelajaran dalam satu hari. Ini dimaksudkan supaya kualitas atau lama belajar satu mata pelajaran lebih lama dan bisa dilakukan dengan metode yang bervariasi supaya anak tidak bosan. "Malah sebaiknya sepulang sekolah anak jangan diberi pekerjaan rumah atau PR. Dengan demikian, anak pun punya kesempatan untuk istirahat dan mengembalikan metabolisme tubuhnya."

Gazali Solahuddin.Foto:Zali/nakita


KARENA GURU TIDAK KREATIF

Victor Suyanto, S.Pd, Kepala SD Yadika 3, Raden Saleh-Tangerang, Banten


"Menurut pengamatan saya, pelajaran yang sering jadi momok dan membuat stres adalah pelajaran matematika dan IPS. Penyebabnya karena guru kurang memahami kemauan murid. Juga kurangnya sarana dan kreativitas guru dalam mengajar. Kebanyakan, monoton. Guru bicara di depan kelas, murid menyalin rumus serta menjawab atau mengerjakan apa yang guru perintahkan. Jadi, cara mengajarnya masih satu arah. Serta, guru maunya menyampaikan semua materi pelajaran matematika sesuai target waktu tanpa mau melihat, apakah murid-muridnya telah mengerti tahap-tahap materi yang diajarkan.

Seharusnya, dalam mengajar guru banyak melakukan variasi, misal dibuat games atau kuis. Sehingga anak-anak tertarik dan mau belajar matematika. Jika anak tertarik, akan mudah bagi mereka untuk memahami dan mencerna materi yang diajarkan guru.

Selain itu, seringkali guru pun hanya membenarkan cara-cara atau jalan keluar yang dia ajarkan, dan terlalu mementingkan hasil akhir dari murid. Guru kurang menghargai pendapat anak. Seharusnya bisa memahami dan mendorong anak memecahkan soal matematika dengan cara dan teknik si anak sendiri. Juga harus mendukung keberanian anak, sekalipun jawabannya salah.

Sementara mata pelajaran IPS, karena cakupan dan bahasannya terlalu luas. Bayangkan saja, anak usia SD harus belajar mengenai 5 benua berikut isinya. Sebaiknya, cukuplah satu benua saja. Pun dalam pelajaran IPS, khususnya mengenai sejarah, anak susah sekali membayangkan atau menghayati pelajaran ini. Dia harus mengingat dan mengetahui urutan-urutan tahun kejadian dan apa yang terjadi pada saat itu, sedangkan kejadiannya saja sudah ratusan tahun ke belakang.

Ditambah pula, kurangnya sarana alat peraga untuk membantu guru, serta minimnya pengetahuan guru. Pasalnya guru pun mengetahui hal tersebut dari buku. Bagaimana guru bisa mendeskripsikan secara pasti pada anak. Misalnya, menerangkan Menara Eiffel. Jika guru tidak tahu secara pasti menara tersebut, dia tak bakalan bisa mendeskripsikan dengan bagus pada anak.Lagipula guru mengajar borongan. Semua mata pelajaran dia sendiri yang mengajarkan. Ya, sudah tentu penguasaannya sangat terbatas."

Zali.Foto:Zali/nakita



TAK ADA PELAJARAN YANG BIKIN STRES

Sabrina Marianty (35), ibu dari Ciccio (7, kelas 1 SD Pelita Harapan) dan Kristina Karmila (18)

"Menurut pengamatanku, di sekolah Ciccio tidak ada, tuh, anak yang bosan sekolah atau stres karena pelajaran. Begitu juga dengan Ciccio. Dia suka sama semua pelajaran.

Banyak yang beranggapan matematika, pelajaran yang banyak hapalan, dan bahasa asing, tidak disukai dan bikin stres karena anak kesulitan mempelajarinya. Itulah mengapa, banyak anak seringkali diikutkan les atau pelajaran tambahan. Tapi hal itu sama sekali tidak terjadi pada anakku. Itu mungkin karena cara mengajar guru di sekolah Ciccio berbeda dan mengasyikan. Mereka mengajar dengan cara bermain dan menggunakan banyak alat peraga. Tak heran bila saya lihat, semua anak rata-rata senang belajar.

Jadi, tergantung pada cara mengajarnya. Karena hal ini juga dialami kakaknya. Sekolah si kakak, kan, belajarnya masih monoton dan sering membuat bosan anak-anak. Apalagi kalau pelajaran hapalan, seperti sejarah atau IPS, putriku sangat tidak suka dan sering kali stres menghadapinya. Nah, karena dia malas belajar, hasil ujiannya pun minimal sekali."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

STRES PELAJARAN BAHASA SUNDA

Helmi Yahya (39), ayah dari Amerigo Salim (9), kelas 4 SD Al-Azhar Kemang Pratama, Bekasi

"Kalau mood belajarnya tinggi, pasti serius sekali belajar. Tapi kalau lagi enggak mood, dia pun akan suka-suka sendiri. Biarpun begitu, Amerigo juara kelas. Malah beberapa waktu lalu, dia jadi juara kontes matematika mewakili sekolahnya. Padahal anakku itu seperti anak lain, lebih suka main daripada belajar.

Sepengetahuanku, anakku tidak mempunyai persoalan, kecuali pada cara mengajar gurunya. Pernah, dia protes dan hampir mogok sekolah. Waktu itu, ia kelas 1, 2, dan 3. Untung sekarang sudah enggak lagi. Menurutnya, gurunya itu enggak oke dalam mengajar.

Dia paling senang matematika, olahraga dan komputer. Dia memang mempunyai kesulitan belajar terhadap satu pelajaran yang menurut saya sudah tidak perlu dan harus dipertimbangkan lagi pemberiannya kepada anak-anak, yaitu bahasa Sunda. Bagaimana mau efisien, jika sehari-harinya saja kami semua dan sebagian masyarakat di Bekasi tidak mengenal bahasa Sunda. Ya jadinya, kamilah yang sibuk bertanya kepada teman-teman yang orang Sunda saat menerima limpahan PR dan pertanyaan dari anak tentang bahasa Sunda. Kami, kan, bukan orang Sunda. Pada pelajaran ini pula anakku sering stres karena memang tidak mengerti."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

MATEMATIKA PALING BERAT

Siti Salsabila Kirana Himawan Sapargosastro Diharjo (7), kelas 1 SD High/Scope Jakarta Selatan

"Belajar di sini sama sekali enggak ngebosenin. Belajarnya bisa sambil main, enggak diam saja di bangku. Cuma pelajaran Matematika yang kurasa berat. Susah sekali, deh! Tapi enggak sampai bikin aku stres, sih. Sebab, cara ngajarnya enak. Guru selalu pake alat peraga dan aku suka diajak membantunya. Kemarin aku belajar tentang ukuran, di situ guru neranginnya sambil mengukur sayur dengan penggaris. Pokoknya, sekalipun pelajarannya berat aku tetap ikut belajar matematika, supaya pintar. Lagian kalau enggak ikut atau bolos, rugi. Takut? Enggak, tuh, apa yang perlu ditakutin?"

Zali.Foto:Zali/nakita


 

NGGAK NGERTI PPKN

Yeji Sung (10), kelas 4 SD High/Scope Jakarta Selatan

"Di sekolahku, satu hari belajar empat mata pelajaran. Belajarnya enggak melulu di kelas, kok. Misalnya di halaman. PPKN, pelajaran paling susah buatku. Aku enggak ngerti. Apalagi sewaktu aku baru bersekolah di sini. Wah, pelajaran apaan, nih, aku sama sekali enggak tahu kalau ada pelajaran seperti ini. Habis di negara asalku, Korea, enggak ada pelajaran seperti ini. Aku, kan, orang Korea yang baru setahun di Indonesia.

Walau enggak ngerti, aku enggak ketakutan belajar apalagi stres. Bagaimana mau stres, gurunya nyenengin dan suka ngasih tahu aku kalau aku enggak ngerti. Hehehe... Tapi kalau ujian, susah juga menjawab soal-soal PPKN. Bolos? Enggak pernah, tuh!"

Zali.Foto:Zali/nakita


 

CAPEK, BELAJARNYA LAMA

Abdurahman Ayasy (6), kelas 1 SDIT Auliya, Tangerang, Banten

"Sekolahku sangat menyenangkan. Tapi, capek. Habis belajarnya lama, sih! Tapi, aku seneng pelajaran bahasa Inggris. Makanya, jadi bisa ngomong Inggris. Matematika pun aku suka, biarpun susah. Yang susah lagi, bahasa Arab. Cuma karena gurunya enak ngajarnya, aku jadi bisa juga bahasa Arab. Kalau masih susah juga? Gampang, nyontek aja sama teman.

Enggak masuk? Enggak, ah. Lagian di sekolah itu aku bisa pintar dan ketemu hal-hal yang seru, juga bisa main. Kalau ngajar, guru suka sambil main dan pakai benda-benda. Kadang pakai buah-buahan. Enak, deh, bisa dimakan."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

MATEMATIKA NYEREMIN

Ike Astria (12), kelas 6 SDN Palmerah Pagi, Jakarta Pusat

"Teman-teman suka ngasih tahu kalau aku kesusahan ngadepin pelajaran matematika. Habis banyak rumusnya dan membingungkan. Padahal aku suka lupa rumusnya. Udah gitu, tiap hari ada pelajaran matematika. Wuih, aku lumayan meringis mikirin gimana susahnya pelajaran itu. Aku suka mendadak keringetan ngadepin pelajaran yang satu ini. Apalagi kalau sahabat setiaku yang juara kelas tidak ada di sampingku, wah, jangan tanya, deh, aku akan ketakutan sekali kalau menghadapi pelajaran ini. Takut disuruh maju dan ditanya oleh guru. Pokoknya, pelajaran matematika nyeremin. Mana PR-nya banyak. Aku, sih, pengennya matematika dihapus saja."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

PRAKTEK KTK BIKIN PUSING

Bharata Siagian (10), kelas 5 SD Yadika 3, Ciledug, Banten

"Buatku, pelajaran paling gampang dan aku suka adalah matematika, bahasa Indonesia, PPKN, bahasa Inggris, dan agama. Hanya ada satu pelajaran yang gampang-gampang susah. Teorinya, sih, gampang, begitu juga ujian tulisnya. Tapi prakteknya, selalu bikin aku pusing. Susah banget! Itu, lo, KTK alias Keterampilan Tangan dan Kesenian. Murid disuruh buat kerajinan atau prakarya sendiri yang beda dengan teman-teman lainnya.

Iya, sih, guru sebelum menyuruh aku membuat kerajinan atau keterampilan pasti akan nerangin dulu bagaimana cara membuatnya. Tapi tetap saja rumit. Aku tak bisa ngikutin contoh. Walaupun PR-nya berkelompok dan waktunya cukup lama, tetap saja aku enggak suka."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

PPKN DIHAPUS SAJA

Ramadiyah Fitri (9) kelas 3 SD Al-Hasanah, Tangerang, Banten

"Aku senang matematika dan IPS. Ujiannya gampang. Aku pasti dapat nilai besar. Kalau disuruh maju ke depan kelas pun, aku enggak takut. Begitu juga kalau ditanya mendadak sama guru.

Yang paling enggak enak, PPKN. Paling susah, tuh! Lagi pula, kalau lagi pelajaran ini teman-teman suka ribut dan sangat berisik. Aku deg-degan kalau sedang belajar pelajaran ini. Takut ditanya guru dan enggak bisa ngejawab dengan benar. Disuruh maju? Waduh, jangan sampai, deh!

Padahal gurunya enak, lo, neranginnya. Tapi, aku banyak yang enggak mengerti. Seperti, 'Rela berkorban artinya apa?' Aku enggak tahu apa itu, apalagi jawabannya. Karena itu, aku berharap, sih, kalau pelajaran ini dihapuskan saja. Yang enggak suka pelajaran ini banyak, lo, bukan aku saja."

Zali.Foto:Zali/nakita