|
|
|
|
Dunia
Anak
SEKOLAH BIKIN STRES
Enggak
bakal terjadi bila guru mengajar "enak" dan mudah dimengerti
anak.
Banyak
orang tua mengeluh, pendidikan anak usia sekolah dasar di Indonesia
sangat memberatkan anak alias bikin stres. Lihat saja, betapa
gembiranya anak didik bila kalender merah atau gurunya berhalangan
hadir. Jadi, yang paling disukai anak didik adalah jam pelajaran
yang enggak ada gurunya atau hari libur. Mengapa ini bisa terjadi?
Menurut
Johana Ratrin H., Psi, jika yang digunakan sistem konvensional,
sangat besar kemungkinan anak mengalami stres. "Kalau sudah
begini biasanya anak malas belajar," jelas psikolog dari
Universitas Atma Jaya yang kerap dipanggil Jo.
Selain
itu, bisa terjadi juga pada sekolah yang sangat mementingkan prestasi
dan kejar target kurikulum. "Di sekolah seperti itu anak
diberikan semua ilmu pengetahuan yang ada alias borongan. Bisa
tak bisa, anak harus menyesuaikan diri dengan materi yang diajarkan
guru."
Yang
juga kerap jadi pemicu, jadwal pelajaran yang terlampau banyak,
sehingga membebani anak. "Bayangkan saja bagaimana anak tidak
stres jika satu hari harus belajar hingga 6 pelajaran dari jam
07.00 hingga jam 13.00."
Bukan
itu saja, jumlah siswa yang tak sebanding dengan jumlah guru dan
kapasitas ruangan, juga jadi pemicu. "Beban guru jadi terlalu
berat dalam mengajar. Sehingga kebanyakan guru hanya mengajar
sebatas menjalankan kewajibannya sebagai pengajar, yang mengajarkan
mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Padahal,
guru pun harus berfungsi sebagai pendidik, kan?"
Sementara
itu, papar Jo, sedikit sekali guru di Indonesia yang tahu cara
mengajar yang baik bagi murid-muridnya. "Umumnya mereka memberikan
hal sama dengan saat kita atau dirinya mengenyam pendidikan di
SD tempo dulu. Tiap harinya mencatat, mendengarkan, menyalin,
membaca, serta latihan. Kalau setiap hari ketemu yang itu-itu
saja, mereka akan bosan."
Ironisnya lagi, lanjut Jo, guru acap kali menempatkan dirinya
sebagai "si segala tahu", yang tak mau dikritik anak
didik. Mau tak mau, anak pun akan membenarkan semua yang dikatakan
guru. "Belum lagi jika anak harus berhadapan dengan guru
yang sangar atau suka marah, dan suka memberikan label bodoh pada
anak didiknya, sehingga murid sering ketakutan duluan. Tak heran
bila baru mendengar mata pelajarannya saja anak sudah stres duluan."
Padahal, papar Jo, hubungan guru dengan murid harus hangat, baik
di dalam kelas maupun di luar kelas.
TUNTUTAN KELEWAT TINGGI
Yang disayangkan pula, papar Jo, sistem pendidikan di Indonesia
kurang memahami perkembangan anak usia ini. "Banyak orang,
begitu juga guru, yang menganggap anak usia SD sudah seharusnya
bisa belajar lebih serius. Padahal, di usia ini pun konsep pemikiran
anak masih praoperasional." Ditambah lagi, lanjut Jo, "Yang
menyedihkan, sekolah kurang sekali mengasah kemampuan motorik
halus dan kasar anak. Padahal kebutuhan anak akan hal ini sangat
besar, lo."
Memang, akunya, ini bukan salah guru semata. "Problematika
pendidikan memang cukup kompleks. Tuntutan dan tanggung jawab
guru sangat besar, tapi penghasilannya tidak memadai. Belum lagi
minimnya pembekalan pendidikan mengenai anak usia ini. Kecuali
guru-guru di sekolah yang berskala internasional."
Sikap yang tidak bijaksana pula bila orang tua menambah stres
anak. Misalnya anak selalu di-drill alias tak pernah diberi
"napas" untuk mengistirahatkan otaknya. Pulang sekolah
harus pula ikut les ini-itu. Sudah capek di sekolah, di rumah
harus belajar untuk keesokan hari dan mengerjakan PR. Ikut banyak
kursus pula. "Siklus fisiologis tubuh, kan, setelah digunakan
butuh istirahat sebelum dipakai lagi. Dengan demikian kesegaran
tetap terjaga."
BUKAN KARENA PELAJARAN
Jadi, yang kerap kali membuat anak stres, papar Jo, bukanlah mata
pelajaran tertentu, seperti matematika, bahasa Inggris, bahasa
Indonesia, atau olahraga. "Karena semua pelajaran bisa saja
membuat stres jika situasi dan kondisi anak dihadapkan pada apa
yang disebutkan di atas."
Sementara kalaupun ada anak yang stres pada mata pelajaran tertentu,
paparnya, biasanya terjadi karena kemampuan anak dalam bidang
tersebut kurang. "Tapi sebenarnya bisa diminimalisir jika
cara mengajar guru disukai anak. Malah besar kemungkinannya anak
akan menyukai pelajaran tersebut."
Nah, untuk mengurasi stres karena sistem pembelajaran di sekolah,
seyogyanya orang tua juga turut membantu anak. "Janganlah
mengulang kesalahan yang pernah kita alami dulu. Biarkan anak
berkembang dan belajar sesuai dengan kemampuannya. Janganlah merasa
bangga bisa mengursuskan anak ke berbagai tempat dan menuntut
anak menjadi selalu nomor satu di sekolah."
Lantas, apa peran guru? "Buatlah acara belajar lebih fun."
Kuncinya, bermain. "Pokoknya guru harus membuat anak tertarik
dulu terhadap pelajaran yang akan disampaikan." Perbanyak
dengan mengelaborasi sesuatu yang konkret. Mengajak anak ke kebun
melihat tumbuhan yang dipelajarinya atau dalam matematika menggunakan
alat peraga sehingga anak bisa dengan mudah menyerap dan memahaminya,
"Oh, kalau 3 lilin x 3 lilin = 9 lilin. Itu hasil dari 3
lilin ditambah 3 lilin dan ditambah 3 lilin lagi."
Namun jika anak didikte, kemudian mengerjakan soal dengan sesuatu
yang sifatnya masih abstrak, terlalu berat bagi anak. "Lain
hal jika anak telah SMP atau SMA." Ini pun sifatnya sementara,
anak akan cepat lupa dengan apa yang diajarkan. "Inilah yang
memicu anak jadi stres belajar atau pada pelajaran tertentu. 'Pokoknya
2+2= 4, 4x4= 16, 10:10= 1. Kalau hapal, kamu mudah mengerjakan
soal."
Berikutnya, jumlah murid jangan terlalu banyak. Idealnya 20-25
anak. "Lebih baik lagi jika hanya 18 anak setiap kelasnya."
Dengan seperti ini guru bisa memberikan perhatian pada muridnya
secara menyeluruh, selain beban guru juga jadi tak terlalu berat.
Guru tidak melulu menjejali anak dengan materi-materi pelajaran,
tapi memancing anak untuk mau mengungkapkan pendapat dan mau berdiskusi
secara terbuka. Ajak anak berperan aktif dalam memecahkan masalah.
Biarkan anak mencari solusi dan menyelesaikan masalah secara bersama
dengan teman-temannya. "Manfaat yang diperoleh, anak bisa
menambah pengetahuan dari temannya, selain juga mengasah keterampilan
sosialnya."
Idealnya lagi, papar Jo, jadwal pelajaran anak paling banyak tiga
atau empat mata pelajaran dalam satu hari. Ini dimaksudkan supaya
kualitas atau lama belajar satu mata pelajaran lebih lama dan
bisa dilakukan dengan metode yang bervariasi supaya anak tidak
bosan. "Malah sebaiknya sepulang sekolah anak jangan diberi
pekerjaan rumah atau PR. Dengan demikian, anak pun punya kesempatan
untuk istirahat dan mengembalikan metabolisme tubuhnya."
Gazali Solahuddin.Foto:Zali/nakita
|
|
KARENA GURU TIDAK KREATIF
Victor
Suyanto, S.Pd, Kepala SD Yadika 3, Raden Saleh-Tangerang,
Banten
"Menurut pengamatan saya, pelajaran yang sering jadi
momok dan membuat stres adalah pelajaran matematika dan
IPS. Penyebabnya karena guru kurang memahami kemauan murid.
Juga kurangnya sarana dan kreativitas guru dalam mengajar.
Kebanyakan, monoton. Guru bicara di depan kelas, murid menyalin
rumus serta menjawab atau mengerjakan apa yang guru perintahkan.
Jadi, cara mengajarnya masih satu arah. Serta, guru maunya
menyampaikan semua materi pelajaran matematika sesuai target
waktu tanpa mau melihat, apakah murid-muridnya telah mengerti
tahap-tahap materi yang diajarkan.
Seharusnya, dalam mengajar guru banyak melakukan variasi,
misal dibuat games atau kuis. Sehingga anak-anak
tertarik dan mau belajar matematika. Jika anak tertarik,
akan mudah bagi mereka untuk memahami dan mencerna materi
yang diajarkan guru.
Selain itu, seringkali guru pun hanya membenarkan cara-cara
atau jalan keluar yang dia ajarkan, dan terlalu mementingkan
hasil akhir dari murid. Guru kurang menghargai pendapat
anak. Seharusnya bisa memahami dan mendorong anak memecahkan
soal matematika dengan cara dan teknik si anak sendiri.
Juga harus mendukung keberanian anak, sekalipun jawabannya
salah.
Sementara mata pelajaran IPS, karena cakupan dan bahasannya
terlalu luas. Bayangkan saja, anak usia SD harus belajar
mengenai 5 benua berikut isinya. Sebaiknya, cukuplah satu
benua saja. Pun dalam pelajaran IPS, khususnya mengenai
sejarah, anak susah sekali membayangkan atau menghayati
pelajaran ini. Dia harus mengingat dan mengetahui urutan-urutan
tahun kejadian dan apa yang terjadi pada saat itu, sedangkan
kejadiannya saja sudah ratusan tahun ke belakang.
Ditambah pula, kurangnya sarana alat peraga untuk membantu
guru, serta minimnya pengetahuan guru. Pasalnya guru pun
mengetahui hal tersebut dari buku. Bagaimana guru bisa mendeskripsikan
secara pasti pada anak. Misalnya, menerangkan Menara Eiffel.
Jika guru tidak tahu secara pasti menara tersebut, dia tak
bakalan bisa mendeskripsikan dengan bagus pada anak.Lagipula
guru mengajar borongan. Semua mata pelajaran dia sendiri
yang mengajarkan. Ya, sudah tentu penguasaannya sangat terbatas."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
TAK ADA PELAJARAN YANG BIKIN STRES
S abrina
Marianty (35), ibu dari Ciccio (7, kelas 1 SD Pelita Harapan)
dan Kristina Karmila (18)
"Menurut
pengamatanku, di sekolah Ciccio tidak ada, tuh, anak yang
bosan sekolah atau stres karena pelajaran. Begitu juga dengan
Ciccio. Dia suka sama semua pelajaran.
Banyak
yang beranggapan matematika, pelajaran yang banyak hapalan,
dan bahasa asing, tidak disukai dan bikin stres karena anak
kesulitan mempelajarinya. Itulah mengapa, banyak anak seringkali
diikutkan les atau pelajaran tambahan. Tapi hal itu sama
sekali tidak terjadi pada anakku. Itu mungkin karena cara
mengajar guru di sekolah Ciccio berbeda dan mengasyikan.
Mereka mengajar dengan cara bermain dan menggunakan banyak
alat peraga. Tak heran bila saya lihat, semua anak rata-rata
senang belajar.
Jadi,
tergantung pada cara mengajarnya. Karena hal ini juga dialami
kakaknya. Sekolah si kakak, kan, belajarnya masih monoton
dan sering membuat bosan anak-anak. Apalagi kalau pelajaran
hapalan, seperti sejarah atau IPS, putriku sangat tidak
suka dan sering kali stres menghadapinya. Nah, karena dia
malas belajar, hasil ujiannya pun minimal sekali."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
STRES
PELAJARAN BAHASA SUNDA
Helmi
Yahya (39), ayah dari Amerigo Salim (9), kelas 4 SD Al-Azhar
Kemang Pratama, Bekasi 
"Kalau mood belajarnya tinggi, pasti serius sekali
belajar. Tapi kalau lagi enggak mood, dia pun akan
suka-suka sendiri. Biarpun begitu, Amerigo juara kelas.
Malah beberapa waktu lalu, dia jadi juara kontes matematika
mewakili sekolahnya. Padahal anakku itu seperti anak lain,
lebih suka main daripada belajar.
Sepengetahuanku,
anakku tidak mempunyai persoalan, kecuali pada cara mengajar
gurunya. Pernah, dia protes dan hampir mogok sekolah. Waktu
itu, ia kelas 1, 2, dan 3. Untung sekarang sudah enggak
lagi. Menurutnya, gurunya itu enggak oke dalam mengajar.
Dia
paling senang matematika, olahraga dan komputer. Dia memang
mempunyai kesulitan belajar terhadap satu pelajaran yang
menurut saya sudah tidak perlu dan harus dipertimbangkan
lagi pemberiannya kepada anak-anak, yaitu bahasa Sunda.
Bagaimana mau efisien, jika sehari-harinya saja kami semua
dan sebagian masyarakat di Bekasi tidak mengenal bahasa
Sunda. Ya jadinya, kamilah yang sibuk bertanya kepada teman-teman
yang orang Sunda saat menerima limpahan PR dan pertanyaan
dari anak tentang bahasa Sunda. Kami, kan, bukan orang Sunda.
Pada pelajaran ini pula anakku sering stres karena memang
tidak mengerti."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
MATEMATIKA
PALING BERAT
Siti
Salsabila Kirana Himawan Sapargosastro Diharjo (7), kelas
1 SD High/Scope Jakarta Selatan
"Belajar di sini sama sekali enggak ngebosenin.
Belajarnya bisa sambil main, enggak diam saja di bangku.
Cuma pelajaran Matematika yang kurasa berat. Susah sekali,
deh! Tapi enggak sampai bikin aku stres, sih. Sebab, cara
ngajarnya enak. Guru selalu pake alat peraga
dan aku suka diajak membantunya. Kemarin aku belajar tentang
ukuran, di situ guru neranginnya sambil mengukur
sayur dengan penggaris. Pokoknya, sekalipun pelajarannya
berat aku tetap ikut belajar matematika, supaya pintar.
Lagian kalau enggak ikut atau bolos, rugi. Takut? Enggak,
tuh, apa yang perlu ditakutin?"
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
NGGAK
NGERTI PPKN
Yeji
Sung (10), kelas 4 SD High/Scope Jakarta Selatan 
"Di sekolahku, satu hari belajar empat mata pelajaran.
Belajarnya enggak melulu di kelas, kok. Misalnya di halaman.
PPKN, pelajaran paling susah buatku. Aku enggak ngerti.
Apalagi sewaktu aku baru bersekolah di sini. Wah, pelajaran
apaan, nih, aku sama sekali enggak tahu kalau ada pelajaran
seperti ini. Habis di negara asalku, Korea, enggak ada pelajaran
seperti ini. Aku, kan, orang Korea yang baru setahun di
Indonesia.
Walau
enggak ngerti, aku enggak ketakutan belajar apalagi
stres. Bagaimana mau stres, gurunya nyenengin dan
suka ngasih tahu aku kalau aku enggak ngerti.
Hehehe... Tapi kalau ujian, susah juga menjawab soal-soal
PPKN. Bolos? Enggak pernah, tuh!"
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
CAPEK,
BELAJARNYA LAMA
Abdurahman
Ayasy (6), kelas 1 SDIT Auliya, Tangerang, Banten
"Sekolahku
sangat menyenangkan. Tapi, capek. Habis belajarnya lama,
sih! Tapi, aku seneng pelajaran bahasa Inggris. Makanya,
jadi bisa ngomong Inggris. Matematika pun aku suka,
biarpun susah. Yang susah lagi, bahasa Arab. Cuma karena
gurunya enak ngajarnya, aku jadi bisa juga bahasa
Arab. Kalau masih susah juga? Gampang, nyontek aja
sama teman.
Enggak
masuk? Enggak, ah. Lagian di sekolah itu aku bisa pintar
dan ketemu hal-hal yang seru, juga bisa main. Kalau ngajar,
guru suka sambil main dan pakai benda-benda. Kadang pakai
buah-buahan. Enak, deh, bisa dimakan."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
MATEMATIKA
NYEREMIN
Ike
Astria (12), kelas 6 SDN Palmerah Pagi, Jakarta Pusat 
"Teman-teman suka ngasih tahu kalau aku
kesusahan ngadepin pelajaran matematika. Habis banyak
rumusnya dan membingungkan. Padahal aku suka lupa rumusnya.
Udah gitu, tiap hari ada pelajaran matematika. Wuih, aku
lumayan meringis mikirin gimana susahnya pelajaran
itu. Aku suka mendadak keringetan ngadepin pelajaran
yang satu ini. Apalagi kalau sahabat setiaku yang juara
kelas tidak ada di sampingku, wah, jangan tanya, deh, aku
akan ketakutan sekali kalau menghadapi pelajaran ini. Takut
disuruh maju dan ditanya oleh guru. Pokoknya, pelajaran
matematika nyeremin. Mana PR-nya banyak. Aku, sih,
pengennya matematika dihapus saja."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
PRAKTEK
KTK BIKIN PUSING
Bharata
Siagian (10), kelas 5 SD Yadika 3, Ciledug, Banten
"Buatku, pelajaran paling gampang dan aku suka
adalah matematika, bahasa Indonesia, PPKN, bahasa Inggris,
dan agama. Hanya ada satu pelajaran yang gampang-gampang
susah. Teorinya, sih, gampang, begitu juga ujian tulisnya.
Tapi prakteknya, selalu bikin aku pusing. Susah banget!
Itu, lo, KTK alias Keterampilan Tangan dan Kesenian. Murid
disuruh buat kerajinan atau prakarya sendiri yang beda dengan
teman-teman lainnya.
Iya,
sih, guru sebelum menyuruh aku membuat kerajinan atau keterampilan
pasti akan nerangin dulu bagaimana cara membuatnya. Tapi
tetap saja rumit. Aku tak bisa ngikutin contoh. Walaupun
PR-nya berkelompok dan waktunya cukup lama, tetap saja aku
enggak suka."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
PPKN
DIHAPUS SAJA
Ramadiyah
Fitri (9) kelas 3 SD Al-Hasanah, Tangerang, Banten
"Aku senang matematika dan IPS. Ujiannya gampang.
Aku pasti dapat nilai besar. Kalau disuruh maju ke depan
kelas pun, aku enggak takut. Begitu juga kalau ditanya mendadak
sama guru.
Yang
paling enggak enak, PPKN. Paling susah, tuh! Lagi pula,
kalau lagi pelajaran ini teman-teman suka ribut dan sangat
berisik. Aku deg-degan kalau sedang belajar pelajaran ini.
Takut ditanya guru dan enggak bisa ngejawab dengan
benar. Disuruh maju? Waduh, jangan sampai, deh!
Padahal
gurunya enak, lo, neranginnya. Tapi, aku banyak yang
enggak mengerti. Seperti, 'Rela berkorban artinya apa?'
Aku enggak tahu apa itu, apalagi jawabannya. Karena itu,
aku berharap, sih, kalau pelajaran ini dihapuskan saja.
Yang enggak suka pelajaran ini banyak, lo, bukan aku saja."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
|