Dunia
Sekolah
KEAMANAN DAN KENYAMANAN TOILET DI SEKOLAH
Tak
cukup hanya soal kebersihan yang mesti selalu dijaga. Yang jelas
toilet murid pria dan murid wanita harus dipisah. Bila memungkinkan
letaknya haruslah berjauhan.
Soalnya,
toilet di sekolah sering dikaitkan dengan masalah keamanan para
siswa sendiri, terutama siswa perempuan. Bukannya apa-apa, tempat
ini tidak menutup kemungkinan terjadinya pelecahan seksual. Semisal
murid pria mengintip sesama teman wanitanya yang tengah berganti
baju olahraga atau malah sedang buang air. Lo, kenapa hal ini
bisa terjadi? Alasannya, selain berhubungan dengan fungsi toilet
itu sendiri, juga berkaitan dengan sifat-sifat khas perkembangan
anak-anak usia SD.
Menurut
Henny E. Wirawan, M. Hum, Psi, anak SD, khususnya murid
pria, cenderung memiliki rasa ingin tahu yang amat besar terhadap
hal-hal yang justru ditabukan, seperti seks. Nah, budaya masyarakat
yang menganggap pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu malah
memperparah hal ini. Anak usia SD masih sering dianggap terlalu
kecil untuk mendengar/mengerti soal seks.
Padahal,
tegas Henny, "Itu salah besar. Mestinya dari kecil, anak
sudah diberitahu apa yang benar atau salah dan apa yang boleh
maupun tak boleh dalam urusan yang menyangkut kehidupan seksual.
Jika di rumah mereka tidak pernah mendapat penjelasan yang memadai
mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan serta bagaimana seharusnya
laki-laki memperlakukan wanita, boleh jadi para murid pria tidak
akan pernah tahu bahwa mengintip lawan jenis sudah termasuk pelecehan
seksual," ujar Pudek I Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara
Jakarta ini.
AJAK
BICARA
Di
sisi lain, anak perempuan yang sudah memasuki kelas 4, 5, dan
6, umumnya sudah mendapat haid pertama. Organ seksual sekundernya,
seperti membesarnya payudara, makin terlihat. Sebaliknya, pertumbuhan
anak laki-laki tidak sepesat teman-teman wanitanya. Nah, perbedaan
anatomi tubuh yang mencolok antara anak perempuan dan laki-laki
ini juga ikut mendorong murid pria melakukan tindakan-tindakan
asusila tersebut. Terlebih lagi bila ada bujukan-bujukan dari
teman. "Berani enggak lu ngintip kamar mandi cewek?"
Dengan adanya "tantangan" seperti ini biasanya anak
jadi nekat. Buat mereka, menerima tantangan dari teman membuat
anak merasa diterima, lebih dihargai, dan dianggap sebagai jagoan
oleh teman-temannya.
Padahal,
menurut Henny, dampak pada murid wanita yang pernah terkena pelecehan
seksual tidaklah ringan. Perasaan terpukul campur aduk jadi satu
dengan rasa malu dan marah. Meski kesannya masalah ini akan menghilang
dengan sendirinya, tapi jika tidak ditangani akan membekas pada
diri si anak. Bila sudah pernah terjadi pelecehan seksual di lingkungan
sekolah, sarannya, jangan pernah dibiarkan. Dalam arti harus buru-buru
ditangani agar tidak jadi kebiasaan. "Menjadi tugas guru
dan psikolog maupun wali murid untuk me-recovery pengalaman traumatis
anak yang menjadi korban."
Lebih
baik gunakan pendekatan dalam menangani masalah ini. Umpamanya,
selintas guru membahas soal pelecehan seksual di kelas. Pancinglah
murid untuk mengemukakan pendapatnya bila ada kejadian semacam
itu. Semisal dengan melempar pengandaian kalau pernah ada yang
diintip di kamar mandi. "Jangan segan datang pada ibu-bapak
guru dan ceritakan apa yang kalian alami supaya segera bisa ditolong."
Dengan mengeluarkan unek-unek, diharapkan beban yang selama ini
dipikul/ditutup-tutupi akan terasa lebih ringan.
Pelaku
pelecehan, lanjut Henny, jelas mesti memperoleh sanksi/hukuman
karena secara moral anak-anak SD sudah tahu mana yang benar dan
yang salah serta mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Toh,
jenis sanksinya tak perlu berupa hukuman fisik atau dengan kekerasan.
Yang penting, hukuman yang diberikan haruslah membuat si pelaku
jera mengingat yang dilakukannya adalah perbuatan tercela. "Punishment
yang pas adalah meminta maaf kepada pihak yang telah dilecehkan."
Awalnya, pelaku haruslah ditanya apakah sadar atau tidak akan
kesalahan yang diperbuatnya. Setelah itu, ia pun harus bersedia
menjumpai korban yang pernah terkena tindakan tercelanya dan selanjutnya
berjanji tidak akan mengulanginya kembali." Walau jenis hukuman
ini sudah membuat si pelaku merasa malu, untuk beberapa waktu
sebaiknya anak tetap harus diawasi.
JANGAN
BERI CELAH
Yang
patut disadari, bilang Henny, ketika murid tertentu punya niat
jahil mengintip temannya, bisa dipastikan ia memerlukan usaha
untuk mewujudkan niatnya itu. Semisal harus mencari tangga atau
alat untuk memanjat agar bisa melongok ke dalam toilet lewat kaca
atau dinding.
Untuk
itulah, demi keamanan, idealnya sekolah harus memperhatikan struktur
bangunan toilet. Yang pasti, tegas Henny, toilet murid pria haruslah
terpisah cukup jauh dari toilet wanita. Kalaupun sudah telanjur
berdampingan harus dipikirkan jalan lain, semisal memasang dinding
pengaman yang permanen.
Jangan
pula lupa/abaikan bagian jendela toilet. Jaga sedemikian rupa,
hingga dari luar orang tidak dapat mengintip ke dalam. Usahakan
agar kaca nako yang sering terpasang di kamar mandi sebaiknya
dirancang agar tidak mudah untuk dijadikan sebagai tempat mengintip.
Semisal dengan cara memasangnya ke arah bawah. Sedangkan jika
dana yang tersedia relatif besar, toilet yang tidak memenuhi syarat
keamanan, sebaiknya, ya, direnovasi atau sekalian dirombak saja.
Semua
pihak, termasuk pihak sekolah, pastilah menginginkan setiap murid
merasa aman di sekolah, juga saat berada di dalam toilet. Jangan
sampai ke toilet saja menjadi pengalaman yang menakutkan. Itu
sebab, agar semua merasa aman, maka masalah pintu, jendela, dinding
dan ventilasi di toilet tidak membuka kemungkinan anak mengalami
pelecehan.
Selanjutnya,
jika soal keamanan sudah diperhatikan, tetap dibutuhkan pengontrolan
secara berkala. Ketika toilet sudah dibangun bukan berarti tugas
sudah selesai, lo. Pengontrolan di sini antara lain meliputi apakah
pintu toilet bisa tertutup rapat dan apakah kuncinya masih berfungsi
baik atau tidak. Pengontrolan bisa dilakukan seminggu atau sebulan
sekali yang berguna agar para murid tetap merasa terjaga/terjamin
keamanannya.
Faras
Handayani.Foto:Rohedi/nakita