Dunia Anak: Kiat Memilih Sekolah
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun:"Payah, Udah Gede Masih Tidur Sama Papa-Mama!
Dunia Sekolah:Keamanan Dan Kenyamanan Toilet Di Sekolah

 

Dunia Sekolah
KEAMANAN DAN KENYAMANAN TOILET DI SEKOLAH

Tak cukup hanya soal kebersihan yang mesti selalu dijaga. Yang jelas toilet murid pria dan murid wanita harus dipisah. Bila memungkinkan letaknya haruslah berjauhan.

Soalnya, toilet di sekolah sering dikaitkan dengan masalah keamanan para siswa sendiri, terutama siswa perempuan. Bukannya apa-apa, tempat ini tidak menutup kemungkinan terjadinya pelecahan seksual. Semisal murid pria mengintip sesama teman wanitanya yang tengah berganti baju olahraga atau malah sedang buang air. Lo, kenapa hal ini bisa terjadi? Alasannya, selain berhubungan dengan fungsi toilet itu sendiri, juga berkaitan dengan sifat-sifat khas perkembangan anak-anak usia SD.

Menurut Henny E. Wirawan, M. Hum, Psi, anak SD, khususnya murid pria, cenderung memiliki rasa ingin tahu yang amat besar terhadap hal-hal yang justru ditabukan, seperti seks. Nah, budaya masyarakat yang menganggap pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu malah memperparah hal ini. Anak usia SD masih sering dianggap terlalu kecil untuk mendengar/mengerti soal seks.

Padahal, tegas Henny, "Itu salah besar. Mestinya dari kecil, anak sudah diberitahu apa yang benar atau salah dan apa yang boleh maupun tak boleh dalam urusan yang menyangkut kehidupan seksual. Jika di rumah mereka tidak pernah mendapat penjelasan yang memadai mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan serta bagaimana seharusnya laki-laki memperlakukan wanita, boleh jadi para murid pria tidak akan pernah tahu bahwa mengintip lawan jenis sudah termasuk pelecehan seksual," ujar Pudek I Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara Jakarta ini.

AJAK BICARA

Di sisi lain, anak perempuan yang sudah memasuki kelas 4, 5, dan 6, umumnya sudah mendapat haid pertama. Organ seksual sekundernya, seperti membesarnya payudara, makin terlihat. Sebaliknya, pertumbuhan anak laki-laki tidak sepesat teman-teman wanitanya. Nah, perbedaan anatomi tubuh yang mencolok antara anak perempuan dan laki-laki ini juga ikut mendorong murid pria melakukan tindakan-tindakan asusila tersebut. Terlebih lagi bila ada bujukan-bujukan dari teman. "Berani enggak lu ngintip kamar mandi cewek?" Dengan adanya "tantangan" seperti ini biasanya anak jadi nekat. Buat mereka, menerima tantangan dari teman membuat anak merasa diterima, lebih dihargai, dan dianggap sebagai jagoan oleh teman-temannya.

Padahal, menurut Henny, dampak pada murid wanita yang pernah terkena pelecehan seksual tidaklah ringan. Perasaan terpukul campur aduk jadi satu dengan rasa malu dan marah. Meski kesannya masalah ini akan menghilang dengan sendirinya, tapi jika tidak ditangani akan membekas pada diri si anak. Bila sudah pernah terjadi pelecehan seksual di lingkungan sekolah, sarannya, jangan pernah dibiarkan. Dalam arti harus buru-buru ditangani agar tidak jadi kebiasaan. "Menjadi tugas guru dan psikolog maupun wali murid untuk me-recovery pengalaman traumatis anak yang menjadi korban."

Lebih baik gunakan pendekatan dalam menangani masalah ini. Umpamanya, selintas guru membahas soal pelecehan seksual di kelas. Pancinglah murid untuk mengemukakan pendapatnya bila ada kejadian semacam itu. Semisal dengan melempar pengandaian kalau pernah ada yang diintip di kamar mandi. "Jangan segan datang pada ibu-bapak guru dan ceritakan apa yang kalian alami supaya segera bisa ditolong." Dengan mengeluarkan unek-unek, diharapkan beban yang selama ini dipikul/ditutup-tutupi akan terasa lebih ringan.

Pelaku pelecehan, lanjut Henny, jelas mesti memperoleh sanksi/hukuman karena secara moral anak-anak SD sudah tahu mana yang benar dan yang salah serta mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Toh, jenis sanksinya tak perlu berupa hukuman fisik atau dengan kekerasan. Yang penting, hukuman yang diberikan haruslah membuat si pelaku jera mengingat yang dilakukannya adalah perbuatan tercela. "Punishment yang pas adalah meminta maaf kepada pihak yang telah dilecehkan." Awalnya, pelaku haruslah ditanya apakah sadar atau tidak akan kesalahan yang diperbuatnya. Setelah itu, ia pun harus bersedia menjumpai korban yang pernah terkena tindakan tercelanya dan selanjutnya berjanji tidak akan mengulanginya kembali." Walau jenis hukuman ini sudah membuat si pelaku merasa malu, untuk beberapa waktu sebaiknya anak tetap harus diawasi.

JANGAN BERI CELAH

Yang patut disadari, bilang Henny, ketika murid tertentu punya niat jahil mengintip temannya, bisa dipastikan ia memerlukan usaha untuk mewujudkan niatnya itu. Semisal harus mencari tangga atau alat untuk memanjat agar bisa melongok ke dalam toilet lewat kaca atau dinding.

Untuk itulah, demi keamanan, idealnya sekolah harus memperhatikan struktur bangunan toilet. Yang pasti, tegas Henny, toilet murid pria haruslah terpisah cukup jauh dari toilet wanita. Kalaupun sudah telanjur berdampingan harus dipikirkan jalan lain, semisal memasang dinding pengaman yang permanen.

Jangan pula lupa/abaikan bagian jendela toilet. Jaga sedemikian rupa, hingga dari luar orang tidak dapat mengintip ke dalam. Usahakan agar kaca nako yang sering terpasang di kamar mandi sebaiknya dirancang agar tidak mudah untuk dijadikan sebagai tempat mengintip. Semisal dengan cara memasangnya ke arah bawah. Sedangkan jika dana yang tersedia relatif besar, toilet yang tidak memenuhi syarat keamanan, sebaiknya, ya, direnovasi atau sekalian dirombak saja.

Semua pihak, termasuk pihak sekolah, pastilah menginginkan setiap murid merasa aman di sekolah, juga saat berada di dalam toilet. Jangan sampai ke toilet saja menjadi pengalaman yang menakutkan. Itu sebab, agar semua merasa aman, maka masalah pintu, jendela, dinding dan ventilasi di toilet tidak membuka kemungkinan anak mengalami pelecehan.

Selanjutnya, jika soal keamanan sudah diperhatikan, tetap dibutuhkan pengontrolan secara berkala. Ketika toilet sudah dibangun bukan berarti tugas sudah selesai, lo. Pengontrolan di sini antara lain meliputi apakah pintu toilet bisa tertutup rapat dan apakah kuncinya masih berfungsi baik atau tidak. Pengontrolan bisa dilakukan seminggu atau sebulan sekali yang berguna agar para murid tetap merasa terjaga/terjamin keamanannya.

Faras Handayani.Foto:Rohedi/nakita