Tumbuh
Kembang 6-12 Tahun
"PAYAH,UDAH GEDE MASIH TIDUR SAMA PAPA-MAMA!"
Sampai
usia berapa sebetulnya anak boleh tidur bareng orang tua? Yang
pasti, siapkan masa transisi dengan baik agar anak tak syok.
Mana
yang benar, anak harusnya tidur terpisah atau justru bareng orang
tuanya? Nah, menurut Ratih Andjayani Ibrahim, Psi, MM,
memang ada dua "kubu" berbeda. Yang satu beranggapan,
anak yang tidur dengan ayah-ibunya bisa tumbuh jadi anak tak mandiri
karena kelewat lengket dengan orang tua. "Jadi, menurut mereka,
sejak bayi anak harus sudah tidur terpisah. Hasilnya, anak memang
relatif lebih mandiri meski ada kecenderungan pribadinya kurang
hangat. Hubungan dengan ayah-ibunya pun kurang baik."
Sedangkan
kubu yang lain berpendapat, tiap manusia perlu pengakuan orang
lain bahwa dirinya eksis sehingga ia merasa aman dan diterima.
Otomatis ia pun akan tumbuh jadi pribadi yang "aman".
"Tapi yang namanya rasa aman dan diterima, baru bisa muncul
lewat proses panjang. Bukan saat dewasa ia baru dibelai dengan
sentuhan. Ya, sudah telat, dong," ujar Ratih. Nah, proses
itu, antara lain dengan tidur bersama anak, termasuk lewat belaian
dan sentuhan saat meninabobokannya.
PISAH
SEJAK USIA SD
Memang,
tak selamanya juga anak harus tidur dengan orang tua karena tak
baik juga bagi perkembangannya. Kapan tepatnya ia harus tidur
sendiri? Sayangnya, belum ada jawaban pasti yang didasari penelitian.
Bahkan tak ada riset yang dapat menunjukkan hasil pasti mana yang
lebih baik, tidur terpisah atau justru bersama karena semua penelitian
bersifat longitudinal.
Saran
Ratih, boleh-boleh saja anak tidur dengan orang tua, "Tapi
begitu usia 6 tahun, sebaiknya ia sudah bisa tidur terpisah. Saat
usia masuk sekolah itu, anak, kan, sudah dituntut harus lebih
mandiri." Supaya anak tak kaget, siapkan masa transisi dengan
baik. Begitu sudah ada rencana anak bakal menempati kamarnya sendiri
alias proses penyapihan, beri ia penjelasan sejak balita. Misalnya,
sejak TK, ia sudah diperkenalkan untuk tidur sendiri. Maksudnya,
bukan pisah kamar, melainkan pisah ranjang dengan orang tua tapi
di kamar yang sama. "Bisa juga, kalau siang ia tidur di kamarnya
sendiri, malam boleh dengan ayah-ibu. Intinya, harus dilakukan
secara bertahap."
Toh,
kata Ratih, bila sudah tiba saatnya, tak jarang malah anak sendiri
yang minta kamar khusus untuknya. "Anak usia SD, kan, sudah
punya peergroup. Waktu main ke rumah salah seorang teman
yang punya kamar sendiri, biasanya anak jadi kepingin juga,"
ujar psikolog yang tergabung di Lembaga Psikologi Terapan Universitas
Indonesia Jakarta ini.
CARI
PENYEBAB
Ratih
juga menyarankan, jangan marahi anak kalau ia menolak tidur sendiri.
"Yang harus kita lakukan, mencari penyebabnya. Boleh jadi
ia pernah mengalami kejadian traumatis ketika tidur sendiri. Umpamanya,
ketika baru belajar tidur di kamar terpisah, tiba-tiba hujan turun
begitu lebat lalu semua lampu padam. Pengalaman menakutkan seperti
itu, tentu akan membekas pada dirinya." Jika itu yang terjadi,
tidurnya perlu didampingi dulu sampai pengalaman traumatisnya
hilang. Tenangkan juga dengan kata-kata misalnya, "Mulai
sekarang kalau hujan lebat lagi, Papa akan nemenin Dito
tidur, deh."
Penyebab
lain, mungkin karena orang tua menggunakan cara yang salah. Seperti
ketika tengah tidur nyenyak, tiba-tiba anak digotong ke kamar
barunya. Sementara anak, karena belum terbiasa dengan kamar itu,
bukan tidak mungkin akan syok, "Lo, aku di mana? Kok, aku
jadi tidur sendiri di sini?" Perasaan aman anak pun terkoyak.
Kebiasaan
menakut-nakuti anak, juga acap jadi biang keladi ia tak mau tidur
di kamarnya sendiri. "Kalau Dito masuk ke kamar sendirian,
nanti ada setannya, lo!" Enggak heran kalau anak jadi ketakutan.
"Secara tak sadar, orang tua sudah melakukan teror pada anak
yang bisa membuatnya jadi penakut hingga dewasa."
Ratih
mengakui, makin besar usia anak, kian susah pula pengalaman-pengalaman
traumatis tersebut dihapus. Kendati bukan tak mungkin sama sekali,
lo. Yang penting, lanjutnya, jika sudah tahu penyebab anak tak
mau tidur sendiri, segera cari penyelesaiannya. "Kalau karena
kebiasaan menakuti-nakuti semata agar anak selalu menurut, ya,
segera hentikan kebiasaan tersebut."
Untungnya,
anak usia 6-9 tahun sudah lebih bisa diajak bicara ketimbang balita.
Jadi, manfaatkanlah kemampuannya ini. Kalau perlu, cari tahu dari
buku-buku tentang hal-hal yang menjadi pemicu rasa takutnya. Dengan
begitu, anak dapat mengembangkan rasio untuk melawan ketakutannya.
Kalau dia takut petir, contohnya, jelaskan bahwa petir hanyalah
proses alam biasa yang tidak menakutkan.
ANEKA CARA JITU
Sekali
lagi, kata Ratih, ketika meminta anak tidur terpisah, yang harus
ditumbuhkan adalah rasa amannya. Berikut beberapa hal yang bisa
dilakukan orang tua:
*
Pahami perasaan anak. Misalnya, kenapa ia selalu ketakutan tatkala
lampu kamarnya dimatikan? Ini wajar saja karena ketika gelap semua
jadi tak bisa terlihat dengan jelas. Anak seperti kehilangan kontrol
terhadap lingkungannya. Akan lebih bijaksana bila penerangan diatur
sedemikian rupa, hingga mata si kecil masih dapat mengamati sekelilingnya
dengan cukup jelas. Nah, ketika ia terlelap barulah lampu dapat
dipadamkan total.
*
Ajarkan anak cara menangani rasa takutnya. Kalau anak takut setan,
contohnya, biasakan ia untuk berdoa sebelum tidur. Atau buat suatu
perjanjian yang bisa menentramkan hati. Semisal, "Kalau nanti
tengah malam kamu mimpi buruk, teriak saja, ya. Nanti Mama pasti
datang." Konsekuensinya, orang tua memang harus memenuhi
janji tersebut. Memang agak merepotkan karena itu berarti orang
tua mesti siaga sepanjang waktu. Akan tetapi ini lebih baik ketimbang
anak jadi merasa tak aman yang kemudian menyulitkan penyapihan.
"Tuh, kan, aku panggil-panggil, Mama dan Papa enggak datang.
Padahal, tadi malam ada setan di lemari. Pokoknya, aku enggak
mau, ah, tidur sendiri!" Kalau sudah begini, orang tua pasti
lebih repot lagi.
*
Persiapkan kondisi yang nyaman. Jika anak minta lampu tetap menyala
ketika tidur, tak ada salahnya dikabulkan. Jika perlu, temani
anak sampai ia tertidur sebelum ditinggal sendiri. Namun, jangan
mengharapkan anak dapat langsung berubah, lo. Apa pun, semua ini
tetap memerlukan proses penyesuaian hingga anak merasa berani
tidur sendiri. Kalau orang tua sering mengatakan, "Aduh,
Kakak gimana, sih? Payah, ah, Udah gede masak tidur sendiri aja
enggak berani!" Percaya, deh, tandas Ratih, yang seperti
ini malah tak akan menyelesaikan masalah.
Faras
Handayani.Foto:Iman Dharma/nakita