Panduan_Nakita

Dunia Anak: Kiat Memilih Sekolah
Tumbuh Kembang 6-12 Tahun:"Payah, Udah Gede Masih Tidur Sama Papa-Mama!
Dunia Sekolah:Keamanan Dan Kenyamanan Toilet Di Sekolah

 

Dunia Anak
KIAT MEMILIH SEKOLAH

Sekolah yang terbaik bagi anak ternyata tidak harus unggulan, mahal, atau dilengkapi para pengajar asing. Sebab, yang terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Tahun ajaran baru segera datang dan itu berarti tiba waktunya kita "berburu" sekolah untuk anak. Bukan hal mudah, memang. Apalagi kini tiap sekolah berlomba menyatakan dirinya yang terbaik dan paling pas untuk anak kita. "Memang," ungkap Indri Savitri, Psi., "orang tua tak bisa sembarangan memilih sekolah bagi anak-anaknya. Seyogyanya, sejak awal orang tua punya perencanaan pendidikan bagi anak. Termasuk pendidikan dasar, karena inilah salah satu dari awal penentu keberhasilan anak."

Kendati begitu, pilihan tak boleh hanya berdasar selera pribadi. Kebutuhan anak pun harus jadi bahan pertimbangan. "Tiap anak punya kebutuhan masing-masing yang bisa dilihat dari gaya belajar dan karakteristiknya. Juga masalah lokasi dan biaya sekolah," saran Indri.

SESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN ANAK

Bicara soal kebutuhan anak, berarti harus dilihat pula apa minat dan bakatnya. Apakah ia condong ke arah kesenian, olahraga, atau murni bidang akademis. Karena itu menjadi sangat penting bagi orang tua untuk meninjau calon sekolah baik secara fisik maupun program akademis, kurikulum, fasilitas, cara mengajar, dan kualitas pendidiknya.

Cermati pula tingkat konsentrasi anak. Ini bisa diperoleh pula lewat bantuan guru TK-nya. Jika ternyata kurang, "Sebaiknya pilih sekolah dengan program belajar terstruktur serta jumlah murid per kelas yang sedikit. Jadi, guru bisa melakukan pendekatan individual dan anak bisa terpantau secara saksama."

Jika anak tergolong pendiam, menurut Indri, carikan sekolah yang memungkinkan adanya kerjasama kelompok, sehingga pelan-pelan ia mau berinteraksi atau mengungkapkan pendapat-pendapatnya secara lugas. "Lambat laun, rasa percaya dirinya juga meningkat dalam bersosialisasi dengan lingkungan."

Sementara jika anak tergolong jenius atau kemampuannya terlihat di atas rata-rata anak seusianya, "Sebaiknya masukkan ke sekolah yang bisa mendukung atau menyalurkan kemampuannya. Sekolah seperti ini biasanya mempunyai kelas khusus, yaitu kelas akselerasi."

Sedangkan sekolah yang memiliki sistem belajar semi bermain atau active learning, lebih pas untuk anak yang tipenya lebih suka main. Sekolah seperti ini juga sesuai untuk anak yang sebelumnya belajar di TK yang lebih menekankan aspek perkembangan motorik, sosial dan emosional, serta tidak menekankan penguasaan baca, tulis, dan hitung.

Jika TK-nya menerapkan komunikasi bilingual, tak apa dia dimasukkan ke SD yang menggunakan dua bahasa juga. "Tapi kalau tidak, lebih baik jangan. Bisa-bisa anak akan bingung dan sulit melakukan penyesuaian diri," ujar Indri. Beda halnya jika selepas SD kita berniat menyekolahkan anak ke sekolah yang menggunakan kurikulum internasional. "Lebih baik sejak SD sudah disekolahkan ke tempat yang menggunakan kurikulum internasional agar tidak keteteran, terutama dalam bahasa Inggris."

PILIHAN ANAK

Langkah berikut adalah "shopping" untuk mencari sekolah yang sesuai. Tentu saja dengan mengajak serta anak. "Tanyakan segala sesuatunya pada pihak sekolah." Minta penjelasan mengenai filosofi, visi, dan misi sekolah tersebut. "Jangan lupa cermati, bagaimana filosofi tersebut tercermin dalam kurikulum sekolah. Sebab, umumnya apa yang dikatakan sebagai filosofi, misi, dan visi tampaknya selalu baik dan memikat, tapi belum tentu sejalan dengan yang diterapkan di kelas. Kalau perlu, cari informasi dari sumber lain seperti kenalan atau kerabat."

Yang juga penting, pilih sekolah yang menjadikan orang tua sebagai partner yang sama-sama berperan aktif untuk memajukan anak didik serta sekolah. Adanya unit atau ahli yang mampu memberi penanganan khusus, misalnya anak-anak yang punya masalah perilaku atau anak yang cerdas, sebaiknya jadi bahan pertimbangan pula.

Umumnya kesempatan "shopping" sekolah bisa dilakukan ketika sekolah-sekolah mengadakan acara "open house" menjelang tahun ajaran baru. "Di sini kita bisa membuat sinkronisasi secara langsung data hasil investigasi dan wawancara dengan pihak sekolah." Malah akan lebih baik lagi jika kita bisa meneliti dengan cara bertanya pada anak dan orang tua yang telah menyekolahkan anaknya di sekolah itu.

Pada saat yang sama, lihat reaksi anak. Kalau memang dia sreg, akan jauh lebih mudah mengembangkan motivasi belajarnya. Kalau tidak, ajak terus anak melihat sekolah lain sampai ia menemukan yang dirasa pas baginya.

Indri juga menambahkan, orang tua juga bisa mendapat pandangan tentang sekolah yang pas bagi anaknya dari lembaga tertentu yang menyediakan jasa tersebut. Misalnya, di LPT UI. "Kami memiliki tes khusus untuk mengetahui kesiapan anak masuk SD," katanya. "Dengan begitu, semua aspek anak bisa terlihat secara jelas. Seperti kemampuan belajar, baca-tulis dasar, dan kepribadian anak."

Gazali Solahudin


Fisik Sekolah Ideal

Fisik bangunan sekolah juga penting diperhatikan. Menurut Indri, sekolah yang baik idealnya harus mempunyai:
· Laboratorium yang lengkap, mulai lab bahasa hingga lab pengetahuan alam dan matematika. Ini amat membantu proses belajar. Di lab, anak bisa terjun dan mencoba secara langsung teori yang diajarkan di kelas.
· Bangunan fisik kokoh. Khususnya kelas, harus memiliki ventilasi udara yang sangat baik. Jadi tak harus ber-AC.
· Pencahayaan pun harus diperhatikan. Kelas harus benar-benar terang.
· Bersih dan jauh dari polusi suara serta udara, semua ruangan, termasuk toilet dan kantin, harus bersih dan sehat.
· Banyaknya anak harus sebanding dengan jumlah guru. Idealnya, jumlah murid dalam kelas di tingkat SD antara 20-25 anak.
· Jika anak kita punya gangguan konsentrasi, jangan memasukannya ke sekolah yang memakai banyak warna dan gambar, baik di kelas maupun di luar kelas karena konsentrasinya akan semakin mudah terpecah.
· Halaman cukup luas, seperti lapangan untuk berolahraga dan taman.

Zali



PILIH SEKOLAH YANG KREATIF

Hasanes Idin, BA, Kepala Sekolah SDI Al-Ittihad, Jakarta Selatan

"Orang tua yang hendak memasukkan anaknya ke SD memang sebaiknya tak asal mendaftarkan anaknya ke sebuah SD. Harus dipilih dengan benar. Memang, bagi yang berasal dari keluarga kurang mampu, mereka tidak memilih-milih sekolah. Bagi mereka, yang penting anaknya sekolah dan biaya sekolahnya terjangkau. Memang itu sangat disayangkan, tapi, ya, mau bagaimana lagi.

Namun bagi yang mampu, sebaiknya tak seperti itu. Sebaiknya pula, dalam memilih sekolah tidak hanya yang favorit, tapi cari sekolah yang kreatif dalam mendidik anak. Biasanya sekolah seperti ini guru-gurunya pun kreatif. Pun sekolah yang bisa menyesuaikan dengan kemampuan anak. Maksudnya, jika ada murid yang daya tangkapnya kurang, sekolah akan memberikan waktu atau jam pelajaran tambahan bagi muridnya itu. Selain juga harus memperhatikan bangunan dan kelengkapan pendidikan di sekolah tersebut.

Nah, untuk itu, jauh-jauh hari orang tua harus sudah pasang mata dan telinga supaya tidak ketinggalan informasi aktual mengenai sekolah. Jadi rajin-rajinlah mencari tahu dengan cara membaca atau bertanya. Setelah itu, baru kita minta persetujuan anak. Biarkan anak memilih sekolah yang sesuai dengannya. Jadi, dalam memasukkan anak sekolah itu harus berdasarkan kesepakatan anak dan orang tua.

Pun dalam memilih sekolah tak usahlah keliling atau mendatangi setiap sekolah. Cukup rajin mencari tahu informasi mengenai sekolah yang ada di lingkungan kita dan tetapkan target sekolah mana yang bakal menjadi calon tempat belajar anak, setelah itu ajak anak untuk berdiskusi dan jangan lupa ajak pula anak untuk melihat-lihat dan membuktikan kebenaran dari informasi yang telah kita dapatkan."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

TERPAKSA PINDAH RUMAH

Syafitrie (37), ibu dari Anwar Ibrahim (7) kelas 1 SD Mentari, Cipete,Jakarta Selatan

"Karena Abi di TK-nya mengikuti sistem belajar active learning, saya mencari SD yang metode belajar-mengajarnya sama. Memang, yayasan yang menaungi TK itu memiliki SD juga. Tapi sayang, jaraknya sangat jauh. Karena itu saya cari SD lain. Malah Abi mengajukan syarat, sekolahnya harus menggunakan bahasa Inggris. Ya, apa boleh buat, karena Abi minatnya ke situ, saya pun berusaha mencari sekolah yang sesuai dengan keinginannya.

Dalam pencarian itu, saya sebatas mengarahkan, pilihan tetap diserahkan pada Abi. Akhirnya saya dan Abi menemukan sekolah yang sesuai. Ada pelajaran agama, menggunakan metode active learning, jumlah murid tak banyak, tak memakai sistem ranking, biaya terjangkau, tak terlalu jauh dari rumah, dan menggunakan dua bahasa.

Sayangnya, setelah dicoba, ternyata jarak dari rumah ke sekolah masih terlalu jauh buat Abi. Selain boros di ongkos, tiba di sekolah, ia sering kelihatan capek. Akhirnya, demi pendidikan anak, kami sepakat untuk pindah rumah mendekati sekolah, sekaligus juga mendekati tempat kerja suami.

Kalau saya terkesan "ngotot" menyekolahkan anak ke sana, karena Abi sudah kepalang nyebur mendapat pendidikan active learning. Memang, biayanya sangat mahal, tapi kualitasnya sangat bagus. Juga amat baik untuk perkembangan anak."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

PILIHAN ANAK

Adi Susilo (40), ayah dari Lalitya (7), kelas 1 SDN Monggang-Bendoharjo, Bantul-Yogyakarta

Saya memasukkan Lalitya ke SD-nya karena jaraknya dari rumah dekat. Transpornya enggak sulit, biayanya bisa ditekan. Pertimbangan saya, kalau sekolah jauh-jauh, kasihan si anak kecapekan di jalan.

Selain itu, sekolah itu merupakan SD favorit sekabupaten. Sudah banyak meraih prestasi, mulai prestasi kesenian, olahraga, hingga pendidikan. Sekolah itu juga menyandang predikat lulusan dengan NEM tertinggi sekabupaten, lo.

Sebenarnya saya tidak mengharuskan putri saya sekolah di SD X atau Z. Saya beri dia kebebasan memilih. Karena anaknya pun minta dimasukkan ke sekolah itu, saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Mungkin karena teman-teman TK-nya juga banyak yang bersekolah di sana."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

DISURUH PAPA

Ciccio (7), penyanyi, kelas 1 SD Pelita Harapan, Lippo Karawaci,Tangerang-Banten

"Aku sekolah di Pelita Harapan, yang guru-gurunya banyak orang bulenya. Tapi ada juga, kok, orang Indonesianya. Papaku juga orang Italia. Aku senang sekolah di sana karena di situ pakai bahasa Inggris. Aku juga bisa jadi pemimpin karena aku pintar matematika, bahasa Indonesia, olahraga, dan bahasa Inggris.

Enaknya lagi, gurunya baik-baik. Aku diajarkan banyak hal, dari menggambar, belanja, jalan-jalan, menghitung, baca, hingga menulis. Bolos sekolah? Enggak mau, ah! Enakan sekolah, enggak ngebosenin.

Sekolah di sana asyik, padahal TK-ku di Surabaya dan aku tidak tahu sama sekali apa itu SD Pelita Harapan. Aku baru tahu saat disuruh ikutan tes masuk oleh Papa. Ya, aku mau-mau saja. Kan,dia orang tuaku. Lagian Papa lebih tahu soal sekolah."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

TERSERAH MAMA SAJA

Tazia Maharani (8), kelas 3 SD Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan

"TK-ku di Al-Izhar, maka aku melanjutkan SD di Al-Izhar juga. Sekolah ini pilihan Mama, sih. Enggak tahu, tuh, kenapa Mama sukanya Al-Izhar. Kalau aku, sih, terserah saja. Walau begitu aku senang, kok, sekolah di sana. Habis enak, sih, selain halamannya luas, pelajarannya enggak ada yang susah, guru-gurunya juga baik-baik. Lagi pula, di situ aku sudah punya banyak teman yang dulu satu TK denganku."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

LIHAT-LIHAT SEKOLAH DULU

Qisthina Suhardy (8), kelas 2 SD Al-Syuqra, Ciputat

"Aku sekolah di sini senang sekali, karena pelajarannya enak, seperti bahasa Inggris dan komputer. Tapi yang paling aku senengin karena ada keterampilan tangannya, karena aku suka yang itu.

Selain itu, aku juga senang karena teman-teman nyenengin. Guru-gurunya pun baik-baik, kalau ada pelajaran yang aku enggak mengerti, aku suka dikasih tahu. Lapangan sekolah juga sangat luas, ada lapangan voli, basket, bahkan lapangan bola pun ada. Itu yang bikin aku senang pula.

Dulu waktu TK aku enggak tahu mau ngelanjutin ke mana. Tapi saat hendak lulus, aku ditawarin Mama sekolah di Al-Syuqra, ya, aku jawab, lihat-lihat dulu. Jadilah aku jalan sama Mama ke sekolah Al-Syuqra.

Selain itu, aku juga lihat-lihat sekolah lain. Walaupun menurut banyak orang sekolah itu bagus, tapi aku, kok, merasa biasa-biasa saja. Aku, kok, lebih suka Al-Syuqra karena sekolah Islam. Jadilah aku sekolah di sini."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

TAK PERLU BERANGKAT PAGI

Inez Sirait (8), kelas 3 SD Tirta Marta, Pondok Indah,Jakarta Selatan

"Karena Mama jago melukis, aku jadi tertarik ikutan melukis juga. Tapi aku bersekolah di sekolah yang tak ada hubungannya dengan melukis. SD-ku sekolah umum. Enggak apa-apa, sih, karena teman-temanku seru-seru, terutama anak cowoknya. Mereka mau saja diajak berkelahi. Malah aku pernah, lo, dikeroyok empat anak cowok di sekolah. Hahaha...

Aku masuk sekolah ini karena jaraknya dekat dari rumah. Jadi, aku enggak usah berangkat pagi-pagi benar. Mama, sih, yang milihin sekolah. Mungkin menurut Mama, aku masih anak-anak kali, ya."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

SAMPAI PINDAH SEKOLAH

Emir Pashabaskara Basharah Kisyanto (11),kelas 5 SD High/Scope Indonesia

"Aku baru pindah, lo, ke sekolah ini. Habis di sekolah lama aku enggak betah. Di situ kerjaannya cuma belajar dan ulangan mulu, aku kan jadi capek. Terus, udaranya enggak enak, dinginnya cuma sebentar.

Yang bikin aku betah sampai kelas 5, ya, karena teman-temanku baik. Tapi karena enggak kuat lagi belajarnya, aku minta pindah sekolah. Akhirnya Ibu cari-cari. Aku juga diajak melihat-lihat. Saat kelas 5, aku pindah ke sini.

Baru beberapa hari belajar di sini, aku merasa betah, tidak ada ujian, enggak belajar mulu, dan enggak kepanasan kalau lagi di kelas. Aku jadi lebih konsentrasi belajar. Teman-teman baruku pun enggak kalah asyik dengan yang dulu."

Zali.Foto:Zali/nakita


 

PILIH SENDIRI

Saddam Rizky Capri (7), kelas 2 SD Al-Azhar Sisingamangaraja-Jakarta Selatan

"Asyik, kok, sekolah di sini. Aku punya banyak teman. Guru-gurunya juga baik, sekalipun mereka sangat tegas. Kalau ada yang nakal, ya, setelah terbukti, dihukum sesuai dengan kesalahannya. Guru juga hanya suka marah pada murid yang bandel dan tak menuruti peraturan.

Aku masuk ke SD ini karena aku sendiri yang pilih. Aku ingin sekolah di situ karena TK-ku juga di situ. Jadi, aku sudah kenal teman-temanku dan tak canggung lagi. Enaknya juga, ujiannya tidak ada yang susah. Begitu juga PR-nya. Eh, Ibu juga ikut, kok, milihin sekolah untukku. Tapi aku maunya di situ. Kebetulan Ibu setuju dan suka aku sekolah di sana. Jadi, deh, aku bersekolah di tempat yang sesuai dengan seleraku."

Zali.Foto:Zali/nakita