|
|
|
|
Dunia
Anak
KIAT MEMILIH SEKOLAH
Sekolah
yang terbaik bagi anak ternyata tidak harus unggulan, mahal, atau
dilengkapi para pengajar asing. Sebab, yang terbaik adalah yang
sesuai dengan kebutuhan anak.
Tahun
ajaran baru segera datang dan itu berarti tiba waktunya kita "berburu"
sekolah untuk anak. Bukan hal mudah, memang. Apalagi kini tiap
sekolah berlomba menyatakan dirinya yang terbaik dan paling pas
untuk anak kita. "Memang," ungkap Indri Savitri,
Psi., "orang tua tak bisa sembarangan memilih sekolah
bagi anak-anaknya. Seyogyanya, sejak awal orang tua punya perencanaan
pendidikan bagi anak. Termasuk pendidikan dasar, karena inilah
salah satu dari awal penentu keberhasilan anak."
Kendati
begitu, pilihan tak boleh hanya berdasar selera pribadi. Kebutuhan
anak pun harus jadi bahan pertimbangan. "Tiap anak punya
kebutuhan masing-masing yang bisa dilihat dari gaya belajar dan
karakteristiknya. Juga masalah lokasi dan biaya sekolah,"
saran Indri.
SESUAIKAN
DENGAN KEBUTUHAN ANAK
Bicara
soal kebutuhan anak, berarti harus dilihat pula apa minat dan
bakatnya. Apakah ia condong ke arah kesenian, olahraga, atau murni
bidang akademis. Karena itu menjadi sangat penting bagi orang
tua untuk meninjau calon sekolah baik secara fisik maupun program
akademis, kurikulum, fasilitas, cara mengajar, dan kualitas pendidiknya.
Cermati
pula tingkat konsentrasi anak. Ini bisa diperoleh pula lewat bantuan
guru TK-nya. Jika ternyata kurang, "Sebaiknya pilih sekolah
dengan program belajar terstruktur serta jumlah murid per kelas
yang sedikit. Jadi, guru bisa melakukan pendekatan individual
dan anak bisa terpantau secara saksama."
Jika
anak tergolong pendiam, menurut Indri, carikan sekolah yang memungkinkan
adanya kerjasama kelompok, sehingga pelan-pelan ia mau berinteraksi
atau mengungkapkan pendapat-pendapatnya secara lugas. "Lambat
laun, rasa percaya dirinya juga meningkat dalam bersosialisasi
dengan lingkungan."
Sementara
jika anak tergolong jenius atau kemampuannya terlihat di atas
rata-rata anak seusianya, "Sebaiknya masukkan ke sekolah
yang bisa mendukung atau menyalurkan kemampuannya. Sekolah seperti
ini biasanya mempunyai kelas khusus, yaitu kelas akselerasi."
Sedangkan
sekolah yang memiliki sistem belajar semi bermain atau active
learning, lebih pas untuk anak yang tipenya lebih suka main.
Sekolah seperti ini juga sesuai untuk anak yang sebelumnya belajar
di TK yang lebih menekankan aspek perkembangan motorik, sosial
dan emosional, serta tidak menekankan penguasaan baca, tulis,
dan hitung.
Jika
TK-nya menerapkan komunikasi bilingual, tak apa dia dimasukkan
ke SD yang menggunakan dua bahasa juga. "Tapi kalau tidak,
lebih baik jangan. Bisa-bisa anak akan bingung dan sulit melakukan
penyesuaian diri," ujar Indri. Beda halnya jika selepas SD
kita berniat menyekolahkan anak ke sekolah yang menggunakan kurikulum
internasional. "Lebih baik sejak SD sudah disekolahkan ke
tempat yang menggunakan kurikulum internasional agar tidak keteteran,
terutama dalam bahasa Inggris."
PILIHAN
ANAK
Langkah
berikut adalah "shopping" untuk mencari sekolah
yang sesuai. Tentu saja dengan mengajak serta anak. "Tanyakan
segala sesuatunya pada pihak sekolah." Minta penjelasan mengenai
filosofi, visi, dan misi sekolah tersebut. "Jangan lupa cermati,
bagaimana filosofi tersebut tercermin dalam kurikulum sekolah.
Sebab, umumnya apa yang dikatakan sebagai filosofi, misi, dan
visi tampaknya selalu baik dan memikat, tapi belum tentu sejalan
dengan yang diterapkan di kelas. Kalau perlu, cari informasi dari
sumber lain seperti kenalan atau kerabat."
Yang
juga penting, pilih sekolah yang menjadikan orang tua sebagai
partner yang sama-sama berperan aktif untuk memajukan anak didik
serta sekolah. Adanya unit atau ahli yang mampu memberi penanganan
khusus, misalnya anak-anak yang punya masalah perilaku atau anak
yang cerdas, sebaiknya jadi bahan pertimbangan pula.
Umumnya
kesempatan "shopping" sekolah bisa dilakukan
ketika sekolah-sekolah mengadakan acara "open house"
menjelang tahun ajaran baru. "Di sini kita bisa membuat sinkronisasi
secara langsung data hasil investigasi dan wawancara dengan pihak
sekolah." Malah akan lebih baik lagi jika kita bisa meneliti
dengan cara bertanya pada anak dan orang tua yang telah menyekolahkan
anaknya di sekolah itu.
Pada
saat yang sama, lihat reaksi anak. Kalau memang dia sreg, akan
jauh lebih mudah mengembangkan motivasi belajarnya. Kalau tidak,
ajak terus anak melihat sekolah lain sampai ia menemukan yang
dirasa pas baginya.
Indri
juga menambahkan, orang tua juga bisa mendapat pandangan tentang
sekolah yang pas bagi anaknya dari lembaga tertentu yang menyediakan
jasa tersebut. Misalnya, di LPT UI. "Kami memiliki tes khusus
untuk mengetahui kesiapan anak masuk SD," katanya. "Dengan
begitu, semua aspek anak bisa terlihat secara jelas. Seperti kemampuan
belajar, baca-tulis dasar, dan kepribadian anak."
Gazali
Solahudin
|
|
Fisik Sekolah Ideal
Fisik
bangunan sekolah juga penting diperhatikan. Menurut Indri,
sekolah yang baik idealnya harus mempunyai:
·
Laboratorium yang lengkap, mulai lab bahasa hingga lab pengetahuan
alam dan matematika. Ini amat membantu proses belajar. Di
lab, anak bisa terjun dan mencoba secara langsung teori
yang diajarkan di kelas.
·
Bangunan fisik kokoh. Khususnya kelas, harus memiliki ventilasi
udara yang sangat baik. Jadi tak harus ber-AC.
·
Pencahayaan pun harus diperhatikan. Kelas harus benar-benar
terang.
·
Bersih dan jauh dari polusi suara serta udara, semua ruangan,
termasuk toilet dan kantin, harus bersih dan sehat.
·
Banyaknya anak harus sebanding dengan jumlah guru. Idealnya,
jumlah murid dalam kelas di tingkat SD antara 20-25 anak.
·
Jika anak kita punya gangguan konsentrasi, jangan memasukannya
ke sekolah yang memakai banyak warna dan gambar, baik di
kelas maupun di luar kelas karena konsentrasinya akan semakin
mudah terpecah.
·
Halaman cukup luas, seperti lapangan untuk berolahraga dan
taman.
Zali
|
|
PILIH SEKOLAH YANG KREATIF
Hasanes
Idin, BA, Kepala Sekolah SDI Al-Ittihad, Jakarta Selatan
"Orang
tua yang hendak memasukkan anaknya ke SD memang sebaiknya
tak asal mendaftarkan anaknya ke sebuah SD. Harus dipilih
dengan benar. Memang, bagi yang berasal dari keluarga kurang
mampu, mereka tidak memilih-milih sekolah. Bagi mereka,
yang penting anaknya sekolah dan biaya sekolahnya terjangkau.
Memang itu sangat disayangkan, tapi, ya, mau bagaimana lagi.
Namun
bagi yang mampu, sebaiknya tak seperti itu. Sebaiknya pula,
dalam memilih sekolah tidak hanya yang favorit, tapi cari
sekolah yang kreatif dalam mendidik anak. Biasanya sekolah
seperti ini guru-gurunya pun kreatif. Pun sekolah yang bisa
menyesuaikan dengan kemampuan anak. Maksudnya, jika ada
murid yang daya tangkapnya kurang, sekolah akan memberikan
waktu atau jam pelajaran tambahan bagi muridnya itu. Selain
juga harus memperhatikan bangunan dan kelengkapan pendidikan
di sekolah tersebut.
Nah,
untuk itu, jauh-jauh hari orang tua harus sudah pasang mata
dan telinga supaya tidak ketinggalan informasi aktual mengenai
sekolah. Jadi rajin-rajinlah mencari tahu dengan cara membaca
atau bertanya. Setelah itu, baru kita minta persetujuan
anak. Biarkan anak memilih sekolah yang sesuai dengannya.
Jadi, dalam memasukkan anak sekolah itu harus berdasarkan
kesepakatan anak dan orang tua.
Pun
dalam memilih sekolah tak usahlah keliling atau mendatangi
setiap sekolah. Cukup rajin mencari tahu informasi mengenai
sekolah yang ada di lingkungan kita dan tetapkan target
sekolah mana yang bakal menjadi calon tempat belajar anak,
setelah itu ajak anak untuk berdiskusi dan jangan lupa ajak
pula anak untuk melihat-lihat dan membuktikan kebenaran
dari informasi yang telah kita dapatkan."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
TERPAKSA
PINDAH RUMAH
Syafitrie
(37), ibu dari Anwar Ibrahim (7) kelas 1 SD Mentari, Cipete,Jakarta
Selatan
"Karena
Abi di TK-nya mengikuti sistem belajar active learning,
saya mencari SD yang metode belajar-mengajarnya sama. Memang,
yayasan yang menaungi TK itu memiliki SD juga. Tapi sayang,
jaraknya sangat jauh. Karena itu saya cari SD lain. Malah
Abi mengajukan syarat, sekolahnya harus menggunakan bahasa
Inggris. Ya, apa boleh buat, karena Abi minatnya ke situ,
saya pun berusaha mencari sekolah yang sesuai dengan keinginannya.
Dalam
pencarian itu, saya sebatas mengarahkan, pilihan tetap diserahkan
pada Abi. Akhirnya saya dan Abi menemukan sekolah yang sesuai.
Ada pelajaran agama, menggunakan metode active learning,
jumlah murid tak banyak, tak memakai sistem ranking, biaya
terjangkau, tak terlalu jauh dari rumah, dan menggunakan
dua bahasa.
Sayangnya,
setelah dicoba, ternyata jarak dari rumah ke sekolah masih
terlalu jauh buat Abi. Selain boros di ongkos, tiba di sekolah,
ia sering kelihatan capek. Akhirnya, demi pendidikan anak,
kami sepakat untuk pindah rumah mendekati sekolah, sekaligus
juga mendekati tempat kerja suami.
Kalau
saya terkesan "ngotot" menyekolahkan anak ke sana,
karena Abi sudah kepalang nyebur mendapat pendidikan active
learning. Memang, biayanya sangat mahal, tapi kualitasnya
sangat bagus. Juga amat baik untuk perkembangan anak."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
PILIHAN
ANAK
Adi
Susilo (40), ayah dari Lalitya (7), kelas 1 SDN Monggang-Bendoharjo,
Bantul-Yogyakarta
Saya
memasukkan Lalitya ke SD-nya karena jaraknya dari rumah
dekat. Transpornya enggak sulit, biayanya bisa ditekan.
Pertimbangan saya, kalau sekolah jauh-jauh, kasihan si anak
kecapekan di jalan.
Selain
itu, sekolah itu merupakan SD favorit sekabupaten. Sudah
banyak meraih prestasi, mulai prestasi kesenian, olahraga,
hingga pendidikan. Sekolah itu juga menyandang predikat
lulusan dengan NEM tertinggi sekabupaten, lo.
Sebenarnya
saya tidak mengharuskan putri saya sekolah di SD X atau
Z. Saya beri dia kebebasan memilih. Karena anaknya pun minta
dimasukkan ke sekolah itu, saya sebagai orang tua hanya
bisa mendukung. Mungkin karena teman-teman TK-nya juga banyak
yang bersekolah di sana."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
DISURUH
PAPA
Ciccio
(7), penyanyi, kelas 1 SD Pelita Harapan, Lippo Karawaci,Tangerang-Banten
"Aku
sekolah di Pelita Harapan, yang guru-gurunya banyak orang
bulenya. Tapi ada juga, kok, orang Indonesianya. Papaku
juga orang Italia. Aku senang sekolah di sana karena di
situ pakai bahasa Inggris. Aku juga bisa jadi pemimpin karena
aku pintar matematika, bahasa Indonesia, olahraga, dan bahasa
Inggris.
Enaknya
lagi, gurunya baik-baik. Aku diajarkan banyak hal, dari
menggambar, belanja, jalan-jalan, menghitung, baca, hingga
menulis. Bolos sekolah? Enggak mau, ah! Enakan sekolah,
enggak ngebosenin.
Sekolah
di sana asyik, padahal TK-ku di Surabaya dan aku tidak tahu
sama sekali apa itu SD Pelita Harapan. Aku baru tahu saat
disuruh ikutan tes masuk oleh Papa. Ya, aku mau-mau saja.
Kan,dia orang tuaku. Lagian Papa lebih tahu soal sekolah."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
TERSERAH
MAMA SAJA
Tazia
Maharani (8), kelas 3 SD Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta
Selatan
"TK-ku di Al-Izhar, maka aku melanjutkan SD di
Al-Izhar juga. Sekolah ini pilihan Mama, sih. Enggak tahu,
tuh, kenapa Mama sukanya Al-Izhar. Kalau aku, sih, terserah
saja. Walau begitu aku senang, kok, sekolah di sana. Habis
enak, sih, selain halamannya luas, pelajarannya enggak ada
yang susah, guru-gurunya juga baik-baik. Lagi pula, di situ
aku sudah punya banyak teman yang dulu satu TK denganku."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
LIHAT-LIHAT
SEKOLAH DULU
Qisthina
Suhardy (8), kelas 2 SD Al-Syuqra, Ciputat
"Aku sekolah di sini senang sekali, karena pelajarannya
enak, seperti bahasa Inggris dan komputer. Tapi yang paling
aku senengin karena ada keterampilan tangannya, karena
aku suka yang itu.
Selain
itu, aku juga senang karena teman-teman nyenengin.
Guru-gurunya pun baik-baik, kalau ada pelajaran yang aku
enggak mengerti, aku suka dikasih tahu. Lapangan sekolah
juga sangat luas, ada lapangan voli, basket, bahkan lapangan
bola pun ada. Itu yang bikin aku senang pula.
Dulu
waktu TK aku enggak tahu mau ngelanjutin ke mana.
Tapi saat hendak lulus, aku ditawarin Mama sekolah di Al-Syuqra,
ya, aku jawab, lihat-lihat dulu. Jadilah aku jalan sama
Mama ke sekolah Al-Syuqra.
Selain
itu, aku juga lihat-lihat sekolah lain. Walaupun menurut
banyak orang sekolah itu bagus, tapi aku, kok, merasa biasa-biasa
saja. Aku, kok, lebih suka Al-Syuqra karena sekolah Islam.
Jadilah aku sekolah di sini."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
TAK
PERLU BERANGKAT PAGI
Inez
Sirait (8), kelas 3 SD Tirta Marta, Pondok Indah,Jakarta
Selatan
"Karena Mama jago melukis, aku jadi tertarik ikutan
melukis juga. Tapi aku bersekolah di sekolah yang tak ada
hubungannya dengan melukis. SD-ku sekolah umum. Enggak apa-apa,
sih, karena teman-temanku seru-seru, terutama anak cowoknya.
Mereka mau saja diajak berkelahi. Malah aku pernah, lo,
dikeroyok empat anak cowok di sekolah. Hahaha...
Aku
masuk sekolah ini karena jaraknya dekat dari rumah. Jadi,
aku enggak usah berangkat pagi-pagi benar. Mama, sih, yang
milihin sekolah. Mungkin menurut Mama, aku masih
anak-anak kali, ya."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
SAMPAI
PINDAH SEKOLAH
Emir
Pashabaskara Basharah Kisyanto (11),kelas 5 SD High/Scope
Indonesia
"Aku baru pindah, lo, ke sekolah ini. Habis di
sekolah lama aku enggak betah. Di situ kerjaannya cuma belajar
dan ulangan mulu, aku kan jadi capek. Terus, udaranya
enggak enak, dinginnya cuma sebentar.
Yang
bikin aku betah sampai kelas 5, ya, karena teman-temanku
baik. Tapi karena enggak kuat lagi belajarnya, aku minta
pindah sekolah. Akhirnya Ibu cari-cari. Aku juga diajak
melihat-lihat. Saat kelas 5, aku pindah ke sini.
Baru
beberapa hari belajar di sini, aku merasa betah, tidak ada
ujian, enggak belajar mulu, dan enggak kepanasan
kalau lagi di kelas. Aku jadi lebih konsentrasi belajar.
Teman-teman baruku pun enggak kalah asyik dengan yang dulu."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
PILIH
SENDIRI
Saddam
Rizky Capri (7), kelas 2 SD Al-Azhar Sisingamangaraja-Jakarta
Selatan
"Asyik, kok, sekolah di sini. Aku punya banyak teman.
Guru-gurunya juga baik, sekalipun mereka sangat tegas. Kalau
ada yang nakal, ya, setelah terbukti, dihukum sesuai dengan
kesalahannya. Guru juga hanya suka marah pada murid yang
bandel dan tak menuruti peraturan.
Aku
masuk ke SD ini karena aku sendiri yang pilih. Aku ingin
sekolah di situ karena TK-ku juga di situ. Jadi, aku sudah
kenal teman-temanku dan tak canggung lagi. Enaknya juga,
ujiannya tidak ada yang susah. Begitu juga PR-nya. Eh, Ibu
juga ikut, kok, milihin sekolah untukku. Tapi aku
maunya di situ. Kebetulan Ibu setuju dan suka aku sekolah
di sana. Jadi, deh, aku bersekolah di tempat yang sesuai
dengan seleraku."
Zali.Foto:Zali/nakita
|
|
|