Topik Utama

Ramai-Ramai Jadi Penulis Cilik

Yuk, Publikasikan!

Membangkitkan MInat Mengarang Pada Anak

Klub Penulis

YUK, Publikasikan!

Setidaknya dengan dipublikasikan dapat menjadi penambah semangat untuk menciptakan karya-karya selanjutnya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memublikasikan hasil karangan anak. Salah satunya melalui media khusus anak atau halaman anak di harian-harian. Khusus harian, umumnya memang disediakan halaman khusus untuk anak di setiap edisi yang terbit di akhir pekan.

Bila ingin mencoba mengirimkan ke media anak atau harian anak, cara praktisnya dengan mengirimkan hasil karya itu ke alamat redaksi. Alamat redaksi ini selalu dicantumkan di halaman redaksi pada setiap media. Selanjutnya, karya tersebut akan diteruskan ke bagian yang berwenang untuk diseleksi. Biasanya editor atau penyunting bahasa. Masing-masing media tentu memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

Menurut Kususani, Redaktur Pelaksana majalah Bobo, memang menerima karangan hasil karya anak untuk rubrik Arena Kecil dan Tak Disangka. Hanya saja karangan untuk kedua rubrik itu bukanlah karangan dalam bentuk panjang. Umumnya berupa karangan pendek, jumlah ketikannya kurang lebih 1 halaman. Maksudnya, untuk lebih mengembangkan kemampuan mengarang anak, terutama bagi siswa SD kelas 3 ke bawah.

Sementara karangan dalam bentuk cerita panjang, umumnya berasal dari penulis dewasa. Karena, dikhawatirkan hasil karya pengarang cilik belum bisa diandalkan rutinitasnya. Bisa-bisa saat tak ingin mengarang, maka tak ada karya yang dapat dimuat.

DIBATASI

Sedangkan bagi yang ingin hasil karyanya diterbitkan dalam bentuk buku dapat mencoba mengirimkan ke penerbit. Sayangnya, menurut pengakuan Anastasia Mustika, dari Gramedia Pustaka Utama (GPU), untuk saat ini penerbitan buku karya anak di GPU masih dibatasi alias belum menjadi perhatian utama. Jadi harap maklum, bila hanya sedikit hasil karya anak yang mendapat perhatian.

Beda halnya dengan penerbit Mizan yang secara rutin menerbitkan karangan hasil karya anak, yaitu 8 judul cerita anak dalam setiap bulannya. Syaratnya, jelas Windu Darlina dari Mizan, antara lain bertema Islam atau boleh juga umum asal tidak SARA, penokohan atau karakternya harus kuat, bahasanya tidak kaku dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Naskah sebaiknya dikirim dalam bentuk hard copy karena lebih mudah dikoreksi dan diseleksi, disamping dalam bentuk digital. Alamatnya ditujukan ke Koordinator Redaksi Balita, Anak dan Remaja, Jl Cinambo No. 135, Cisaranten Wetan, Ujung Berung, Buah Batu, Bandung, Jawa Barat (40294) dan nomor yang bisa dihubungi adalah (022) 783 4315. Namun, waktu menunggu kepastian seleksi cukup lama yakni mencapai 3 bulan. Naskah yang tidak lolos seleksi, tak akan dikembalikan.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah memublikasikan di dunia maya. Maksudnya, membuat sendiri website yang dikenal pula dengan istilah blog. Melalui media tersebut, hasil karya anak dapat dipublikasikan kepada para pemakai jasa internet. Bila berminat dapat berkunjung ke www.blogger.com

Untuk langkah-langkah pembuatannya. Pembuatan blog  ini tak dipungut biaya. Untuk membuatnya, diperlukan pertolongan orangtua karena tahapannya cukup rumit. Selain juga ada persyaratan, si pembuat blog harus sudah berusia 13 tahun.

Utami Sri Rahayu. Foto: Iman & Dok. NAKITA

PENGALAMAN ANAK

QURROTA AINI (10):

APA SAJA BISA DIJADIKAN IDE

Siswi kelas 4 SDIT Insan Mandiri, Jakarta Selatan ini menulis sejak usia 5 tahun. Pengarang sejumlah cerpen dan novel. Peraih anugerah penulis antologi cerpen termuda oleh MURI (Museum Rekor Indonesia) pada 2005.

"Sejak kecil, enggak ada yang nyuruh aku menulis. Tapi kata ibu, aku senang pegang buku dan coret-coret. Ceritanya, karena ibu dulu enggak punya pembantu, supaya beliau bisa beres-beres rumah, aku dimasukkan ke boks bermain sambil ditemani buku-buku dan majalah anak-anak. Katanya, kalau sudah dikelilingi buku, aku anteng banget.

Jadi ibuku bisa tenang bekerja. Lucu ya....

Umur 3 tahun, ini masih kata ibuku lo, aku mulai menunjukkan minat membaca dan menulis. Soalnya, aku sering tiba-tiba minta diajarin bikin huruf A. Setelah diberikan contoh, aku langsung meniru di kertas. Sampai akhirnya semua huruf selesai dipelajari. Makanya di umur 4 tahun, aku sudah lancar membaca dan menulis. Sejak itu, aku sering menulis perasaanku, seperti 'mama cerewet', 'ayah jahat', 'adik menangis terus'. Pokoknya, kalau aku kesal atau senang, aku tulis.

Karena aku senang membaca dan menulis perasaanku, mama menganjurkan aku menulis buku harian. Karena aku juga bisa menggambar, mama bilang, taruh saja gambarku di buku harian. Jadi aku menambahi gambar-gambar di sebelah tulisannya, seperti membuat komik sendiri.

Suatu hari, aku baca di majalah anak-anak tentang Faiz yang penulis cilik. Aku bilang sama mama, aku pengin kayak dia. Hebat banget. Mama bilang, bisa aja. Toh, tulisanku sudah banyak, tersebar di mana-mana di rumah. Akhirnya aku kumpulin, terus salah satunya aku kirim ke harian Republika. Eh, cerpen yang aku kirim, judulnya 'Pengalamanku Ikut Lomba', dimuat sebulan kemudian. Umurku waktu itu 6 tahun. Tentu saja aku senang. Akhirnya, aku menulis terus, apa saja, cerpen, novel, dan puisi. Tak terasa, kumpulan cerpenku sudah 3 buku, kumpulan puisiku 2 buku, dan ada 2 novel. Aku juga masih menyiapkan beberapa cerpen dan novel. Kebanyakan berdasar pada pengalamanku sendiri, tapi nama-nama tokohnya diganti. Untungnya, karena sejak 5 tahun sudah menguasai komputer, aku bisa menulis kapan pun dan melanjutkannya kapan pun juga.

Menurut aku, menulis itu bagus sekali untuk berbagi cerita. Kalau suka membaca, pada akhirnya pasti pengin dan senang menulis. Kalau soal ide, apa saja bisa dijadikan ide. Jadi jangan takut kehabisan ide. Yang penting, begitu ada ide, coba aja coret-coret dulu. Nanti keburu hilang. Contohnya aku, bangun tidur, kalau ada ide ya langsung aku tulis. Pulang sekolah juga. Kadang-kadang lagi main kalau ingin nulis, aku pulang terus tulis-tulis. Tapi kalau enggak ada, jangan dipaksa. Maen jangan lupa juga, dong."

Santi. Foto: Dok. NAKITA

ARIFIA SEKAR SEROJA (11):

JANGAN TAKUT MENULIS CERITA

Siswa kelas 6, SDN Cipayung I, Cibinong, Bogor, telah menerbitkan 3 buku, yaitu Gigi Kelinci (2004), Ketika Poter Hilang (2005), dan Razia Mainan (2007)

"Kata ibuku, sejak kecil aku suka buku. Kira-kira waktu umurku 3 tahunan. Karena belum bisa baca, ibu yang selalu membacakan buku. Aku enggak sabar pengin bisa baca. Lalu, ibu mengajarkan satu per satu abjad. Hasilnya, waktu 4 tahun, aku sudah bisa baca, lo. Aku makin sering baca buku. Ibu pun makin sering membelikan buku. Nah, waktu 5 tahun, aku mulai suka nulis cerita, yang singkat-singkat aja.

Masuk SD, aku makin sering membuat cerita-cerita pendek. Aku terus rajin membaca untuk menambah wawasan dan perbendaharaan kata. Aku juga mulai suka membaca novel-novel yang tebal. Aktivitas menulis pun makin lancar. Ibu dan ayah sepertinya tertarik dan terkesan dengan tulisan-tulisanku. Akhirnya, mereka mencoba menawarkannya pada penerbit. Eh, tanpa diduga, kumpulan cerpen yang kubuat ternyata diterima dan bisa diterbitkan.

Ide untuk menulis bisa muncul dari mana saja, misalnya, dari bahan bacaan, tapi tidak dicontek. Ku kembangkan sesuai imajinasi, Tapi, paling sering pengalaman sehari-hari. Aku berusaha peka terhadap lingkungan sehingga kejadian yang sepele pun bisa dijadikan ide cerita. Nah, buku cerpenku yang sudah diterbitkan, mungkin separuh ceritanya itu pengalaman pribadi. Umumnya, cerita-cerita yang sering terjadi di sekolah.

Ide juga bisa berawal dari khayalan sendiri. Memang terkadang ceritanya jadi enggak masuk akal. Aku sering membayangkan, kalau ada suatu kejadian, kira-kira bakal gimana ya kelanjutannya.

Untuk membuat satu cerpen prosesnya tidak lama. Bahkan bisa secepat kilat, cukup setengah jam selesai. Itu kalau idenya lagi mengalir. Tapi kalau sedang lambat atau merasa bosan, mungkin satu hari. Kalau lagi kehabisan ide atau proses menulis terhambat, biasanya aku melakukan sesuatu agar tidak bosan. Misalnya bermain piano, mendengarkan musik, menonton teve atau membaca. Setelah itu biasanya pikiran kembali tenang. Kegiatan menulis pun bisa disambung lagi.

Untuk memulai belajar menulis, ada tiga kiat. Pertama, tuangkan apa pun ide yang terpikirkan di atas kertas. Biarkan mengalir begitu saja. Kedua, coba untuk menyusun cerita dari ide tersebut. Jangan takut salah. Pokoknya sampai cerita itu selesai. Terus, direvisi ulang atau dibaca lagi untuk diperbaiki, baik tanda baca, ejaan, maupun bahasanya. Ketiga, bila kehabisan ide sebaiknya jangan dipaksakan. Coba baca buku, misalnya, untuk mencari inspirasi. Yang pasti, cerita yang kita buat enggak ada yang jelek, semuanya bagus. Tinggal bagaimana kita menyempurnakan tulisan yang kita buat itu."

Hilman. Foto: Dok. NAKITA