|
IBU
BEKERJA ASI SEDIKIT?
Ada
kiatnya agar produksi ASI tidak berkurang.
Ketika
masih mengandung putra pertamanya, Nancy Sidharta (27) bertekad
memberikan hanya ASI eksklusif. Guru bahasa Inggris yang tinggal
di Bandung ini ikut saja nasihat turun temurun untuk banyak makan
daun katuk agar nanti ASI-nya deras. Namun mau bilang apa, setelah
si kecil Oliver Benjamin lahir, produksi ASI-nya hanya sedikit.
"Padahal saya sudah berupaya keras. Setelah dicoba dan dicoba
lagi, tetap saja yang keluar hanya sedikit. Begitu juga saat di
kantor, saya mencoba memerah ASI. Tapi ya itu, lagi-lagi tak banyak
ASI yang keluar."
Bermacam
cara dilakukan Nancy termasuk minum susu khusus ibu menyusui dan
kaplet lancar ASI. "Sebelum ditinggal pergi, saya juga memerah
ASI untuk si kecil. Tapi sayang, karena produksi ASI sedikit, hasilnya
tidak maksimal." Ia hanya bisa menyusui buah hatinya selama
4 bulan.
"Barangkali
niat saya memang kurang kuat," aku Nancy. "Ada kendala
psikologis dalam menghadapi anak pertama; di satu sisi saya sudah
berusaha keras, tapi ternyata produksi ASI terbatas. Akhirnya mental
saya jadi turun. Saya jadi malas. Padahal awalnya semangat saya
menggebu-gebu. Saya juga mengalami kecapekan mengasuh si kecil.
Ujung-ujungnya stres dan ASI enggak banyak keluar. Kendala lainnya,
puting saya termasuk rata. Jadi Oliver juga kesulitan mengisap ASI.
Saya memang berusaha dengan cara memompanya. Tapi ya itu tadi, ASI
tetap saja mampet. Jadinya dia merasa kurang kenyang terus. Mau
enggak mau terpaksa saya kasih susu formula. Saya sebetulnya merasa
menyesal. Tapi apa boleh buat, kondisi yang saya alami memang begitu
adanya."
Neneng
Ningsih (26) yang bekerja di perusahaan pelayanan jasa jalan
tol bernasib lebih baik. Stok ASI perahnya terbilang cukup untuk
si kecil Andhika Ramadhani selama ditinggal bekerja sang bunda.
"Saya ingin memberinya ASI esklusif," kata Neneng.
Karena
si kecil memang 'rakus' ASI. Neneng membawa peralatan memerahnya
ke kantor. "Lumayanlah dari memerah ASI di kantor, saya bisa
dapat setengah sampai satu botol ukuran sedang. ASI tersebut lalu
disimpan di dalam kulkas. Saya bersyukur, enggak ada masalah ketika
memerah ASI. Produksi ASI cukup banyak, si kecil pun tak merasa
kurang. Saya ingin memberikan ASI hingga Andhika berumur 2 tahun.
Ya, sesuai yang dianjurkan dokter supaya tumbuh-kembangnya optimal.
Hingga di usianya sekarang, Andhika termasuk jarang sakit"
Cerita
Nancy dan Neneng memang berbeda. Yang satu merasa gagal, satunya
lagi merasa berhasil. Jadi, belum tentu ibu bekerja menyebabkan
produksi ASI lebih sedikit atau bahkan berkurang banyak. Kalau begitu,
di mana sulitnya bagi seorang ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif?
DI
TOILET
ASI
eksklusif harus dijalani selama 6 bulan tanpa intervensi makanan
dan minuman lain, sedangkan cuti hamil dan melahirkan hanya diberikan
selama 3 bulan. Jadi, memang tidak gampang bagi ibu bekerja untuk
memberikan ASI eksklusif bagi sang bayi mungil. Apalagi kalau untuk
mendapat tempat memerah ASI yang nyaman saja sulit. Mungkin seorang
ibu melakukannya di salah satu pojok ruangan kantor. Ibu lainnya
memilih ruang dokumentasi yang sepi pengunjung. Sebagian lagi memilih
menyendiri di ruang rapat yang sedang tidak dipakai, dan lainnya
memilih satu bilik dalam toilet perempuan karena dianggap menawarkan
lebih banyak privasi.
Nyatanya,
dengan perjuangan --mencari dan "mencuri"-- waktu bekerja
untuk memerah ASI cukup banyak ibu yang berhasil memberikan ASI
eksklusif. Namun, jumlah keberhasilan ini mungkin masih sangat kecil
jika dibandingkan jumlah ibu di Indonesia. Diba Jafar, Konsultan
Laktasi dari Sentra Laktasi Indonesia dan aktivis Kampanye ASI eksklusif
mengungkapkan hasil penelitian tahun 1995 terhadap 900 ibu di Jabotabek
kepada nakita; bahwa ibu yang dapat memberi ASI eksklusif
hanya sekitar 5% dari 98% ibu yang menyusui. Penyebabnya? Ternyata
37,9% reseponden sangat minim pengetahuannya tentang ASI eksklusif.
Bahkan 70,4% di antaranya tidak pernah mendengar tentang ASI eksklusif.
Mungkin
saja angka ini sudah bergeser ke arah yang lebih menggembirakan
seiiring dengan gencarnya kampanye pemberian ASI eksklusif. Namun
dapat disimpulkan hambatan utama dalam keberhasilan pemberian ASI
eksklusif adalah kurang sampainya pengetahuan tentang ASI dan cara
menyusui yang benar. Dijelaskan pula oleh dr. Utami Roesli, SpA,
MBA, CIMI, "Lancar tidaknya ASI sangat berkaitan dengan
kondisi psikis ibu."
POJOK
ASI
Stres
pekerjaan tentu saja dapat menghambat hormon oksitosin yang menentukan
keluarnya ASI. "Tanpa oksitosin, ASI dari pabrik susu tak bisa
jalan ke gudang susu. Meskipun ASI diproduksi, ia tetap diam tak
bisa mengalir. Oksitosinlah yang melakukan tekanan untuk menggerakkan
otot yang melingkar di dalam pabrik susu, sehingga terjadi kontraksi
dan gudang susu mampu mengalirkan ASI," kata Utami. Itulah
mengapa, faktor psikis sangat menentukan keberhasilan ibu bekerja
dalam memberikan ASI eksklusif.
Meski
demikian, bekerja bukan alasan bagi ibu untuk menghentikan pemberian
ASI eksklusif. Setelah cuti melahirkan selama 3 bulan, ibu harus
tetap bertekad memberikan ASI eksklusifnya hingga genap 6 bulan.
Alangkah membantunya jika tempat ibu bekerja menyediakan tempat
penitipan bayi. Dengan begitu, ibu lebih mudah menyusui bayinya
setiap beberapa jam.
Namun
setidaknya, beberapa kantor sudah menyediakan pojok ASI untuk ibu
menyusui. Tentu saja, ruangannya harus bersih dan sehat, dan dilengkapi
lemari pendingin serta kantong-kantong plastik higienis agar ASI
lebih mudah disimpan. Fasilitas ini tak hanya baik bagi bayi, tapi
juga bagi perusahaan. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI
eksklusif selama 6 bulan tumbuh lebih sehat sehingga ibu tak perlu
sering minta izin meninggalkan kantor untuk membawa si kecil ke
dokter.
Hilman,
Santi. Foto: Ferdi/nakita
|