Edisi Tematis

Panduan Memberi ASI Eksklusif

 

01 : ASI Anugerah Sempurna Bagi Ibu dan Bayi
02 : Manfaat ASI: Ibu Sehat, Bayi Kuat
03 : Jangan Lupa, Siapkan Diri Sebelum Menyusui
04 : Pemberian ASI Pertama
05 : ASI Maksimal Berkat Posisi Tepat
06 : Masalah Yang Kerap Dijumpai Saat Menyusui
07 : 5 Langkah Memerah ASI
08 : Penyimpanan dan Pemberian ASI
09 : Ayah, Dukung Ibu Selama Menyusui, Ya!
10 : Pertanyaan Favorit Seputar ASI
11 : Ke Mana Berkonsultasi Tentang ASI?

 

AYAH, DUKUNG IBU, SELAMA MENYUSUI, YA!

Dukungan ayah menentukan keberhasilan program ASI eksklusif.

Di hari pertama seusai melahirkan, ibu pastilah mengalami kelelahan fisik dan mental. Akibatnya, ibu merasa cemas, tidak tenang, hilang semangat, dan sebagainya. Ini merupakan hal normal yang perlu diantisipasi suami maupun pihak keluarga.

Namun dalam beberapa kasus, terutama pada anak pertama, banyak ayah yang lebih sibuk dengan bayinya daripada memerhatikan kebutuhan sang istri. Jika kondisi ini terus-menerus berlanjut maka ibu akan merasa bahwa perhatian suami padanya telah menipis sehingga muncul asumsi-asumsi negatif. Terutama yang terkait erat dengan penampilan fisiknya setelah bersalin. Tubuh yang dianggap tak lagi seindah dulu membuat suami lebih mencintai anak daripada dirinya sebagai istri. Perasaan negatif ini akan membuat refleks oksitosin menurun dan produksi ASI pun terhambat.

HASIL KERJA TIM

Karena pikiran negatif ibu memengaruhi produksi ASI, maka dukungan ayah sangat dibutuhkan. Pentingnya peran ayah dalam mendukung ibu selama memberikan ASI-nya memunculkan istilah breastfeeding father atau ayah menyusui. Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan kualitas ASI.

Bentuk dukungan ayah menyusui sebenarnya cukup banyak, antara lain:

* Tetap memberikan perhatian kepada istri.

* Membantu istri menjaga anak-anak, termasuk kakak si bayi.

* Menciptakan kesempatan agar istri punya waktu lebih banyak dengan si bayi selain cukup waktu untuk beristirahat.

* Tidak melontarkan kritik terhadap bentuk tubuh istri yang umumnya memang melar setelah melahirkan.

* Menemani istri bangun malam hari untuk menyusui, mengganti popok, mengambilkan minum/makan setelah menyusui, menemani ke dokter dan hal-hal lain yang membuat istri menjadi tenang.

Intinya, ayah harus siap setiap saat bila ibu membutuhkan bantuan. Meski secara lahiriah suami tak bisa hamil dan tak bisa memberi ASI, bagaimanapun proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak terlahir sebagai bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak haruslah dilakukan secara bersama-sama pula.

Santi Hartono. Foto: Dok. nakita

Narasumber:

Johanes Papu, Psi.,
psikolog pada www.e-psikologi. com,

sekaligus membagi pengalamannya sebagai ayah menyusui.

 

BENTUK DUKUNGAN LINGKUNGAN:

* POJOK ASI DI MAL DAN TEMPAT UMUM

Saat ini belum banyak fasilitas umum yang menyediakan ruang untuk ibu menyusui. Ini tak lepas dari kebijakan pemerintah dan kesadaran ataupun kepedulian publik terhadap hak-hak anak, termasuk hak bayi untuk mendapatkan ASI. Padahal pemerintah bisa terlibat dengan berbagai cara, misalnya membuat peraturan yang mengharuskan setiap fasilitas umum dilengkapi dengan pojok ASI, sehingga ibu tetap nyaman memberikan ASI-nya meski sedang berada di tempat umum. Dukungan moral dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya.

* KANTOR SAYANG IBU

Kembali bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Tentu saja dibutuhkan fasilitas di tempat kerja yang memungkinkan proses ini tetap berjalan. Misalnya tersedia tempat untuk menyusui, memberikan toleransi waktu bagi ibu untuk menyusui bayinya, atau menyediakan ruangan yang memadai untuk memerah dan menyimpan ASI.

Kondisi ini bukan saja baik bagi bayi, tapi juga bagi perusahaan. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI eksklusif tumbuh lebih sehat. Artinya, ia jarang sakit sehingga ibu tak perlu sering izin dari kantor. Memang belum ada penelitian yang mengungkapkan adanya hubungan produktivitas ibu dengan aktivitas menyusui. Tapi satu hal pasti, jika ibu merasa "bersalah" terhadap anaknya karena tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka bisa saja produktivitas kerjanya menurun sebab si ibu sulit memusatkan perhatian pada pekerjaan.