|
AYAH,
DUKUNG IBU, SELAMA MENYUSUI, YA!
Dukungan
ayah menentukan keberhasilan program ASI eksklusif.
Di
hari pertama seusai melahirkan, ibu pastilah mengalami kelelahan
fisik dan mental. Akibatnya, ibu merasa cemas, tidak tenang, hilang
semangat, dan sebagainya. Ini merupakan hal normal yang perlu diantisipasi
suami maupun pihak keluarga.
Namun
dalam beberapa kasus, terutama pada anak pertama, banyak ayah yang
lebih sibuk dengan bayinya daripada memerhatikan kebutuhan sang
istri. Jika kondisi ini terus-menerus berlanjut maka ibu akan merasa
bahwa perhatian suami padanya telah menipis sehingga muncul asumsi-asumsi
negatif. Terutama yang terkait erat dengan penampilan fisiknya setelah
bersalin. Tubuh yang dianggap tak lagi seindah dulu membuat suami
lebih mencintai anak daripada dirinya sebagai istri. Perasaan negatif
ini akan membuat refleks oksitosin menurun dan produksi ASI pun
terhambat.
HASIL
KERJA TIM
Karena
pikiran negatif ibu memengaruhi produksi ASI, maka dukungan ayah
sangat dibutuhkan. Pentingnya peran ayah dalam mendukung ibu selama
memberikan ASI-nya memunculkan istilah breastfeeding father atau
ayah menyusui. Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan,
maka akan muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon
oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai
proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai
catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan
kualitas ASI.
Bentuk
dukungan ayah menyusui sebenarnya cukup banyak, antara lain:
* Tetap
memberikan perhatian kepada istri.
* Membantu
istri menjaga anak-anak, termasuk kakak si bayi.
* Menciptakan
kesempatan agar istri punya waktu lebih banyak dengan si bayi selain
cukup waktu untuk beristirahat.
* Tidak
melontarkan kritik terhadap bentuk tubuh istri yang umumnya memang
melar setelah melahirkan.
* Menemani
istri bangun malam hari untuk menyusui, mengganti popok, mengambilkan
minum/makan setelah menyusui, menemani ke dokter dan hal-hal lain
yang membuat istri menjadi tenang.
Intinya,
ayah harus siap setiap saat bila ibu membutuhkan bantuan. Meski
secara lahiriah suami tak bisa hamil dan tak bisa memberi ASI, bagaimanapun
proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak terlahir sebagai
bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak haruslah dilakukan
secara bersama-sama pula.
Santi
Hartono. Foto: Dok. nakita
Narasumber:
Johanes
Papu, Psi.,
psikolog pada www.e-psikologi. com,
sekaligus
membagi pengalamannya sebagai ayah menyusui.
|